
VOTE.
Berita tentang pacaranya Mila dan Gio dengan cepat menyebar seantero sekolah, membuat Mila yang berada di kelas pun risih mendengar berbagai gosip yang bikin pengang kuping.
"Siapa sih yang nyebarin berita pacaran gue?" Gumam Mila kesal.
Lia yang mendengarnya pun mencoba menghibur temanya ini. "Ish ... biarin aja ntar juga reda sendiri, BTW kuy ke kantin itung-itung buat PJ, hehe." Goda Lia dengan cengiranya.
Mila memutar bola matanya jengah, temanya ini selalu saja kalau soal gratisan tidak pernah lupa.
"Yaudah yuk." Jawab Mila malas.
Mereka berjalan ke kantin, sepanjang koridor pun tidak henti-hentinya Mila mendengar gosip mengenainya.
Mereka sudah memesan makanan tapi bingung harus duduk dimana karna semua bangku penuh. Lalu jino tiba-tiba menghampirinya.
"Duduk sama gue aja, Mil." Ajak Jino. Memang Jino sedari tadi sudah memperhatikan Mila.
Mila bingung sekarang, dirinya sudah punya hati yang harus dijaga, tapi disisi lain dia juga bingung harus duduk dimana.
"Ck! Lama!" Jino tanpa menunggu jawaban Mila langsung menariknya ke mejanya.
Mila duduk dengan nyaman, karna sudah mengenal teman Jino dia jadi tidak terlalu canggung lagi. Bahkan sesekali dia tertawa bersama.
Diambang pintu Gio dan teman-temanya yang baru saja memasuki kantin menghentikan langkahnya. Gio menggeram kesal, tanganya mengepal sudah siap untuk membogem Jino.
Gio melangkah besar lalu langsung menarik paksa tangan Mila membuat seisi kantin memperhatikanya, bahkan ada saja yang merekam atau sekadar memfoto adegan langka itu. Dasar kids jaman now!
"Loh Gio, kenapa sih?" Bingung Mila saat Gio tiba-tiba menariknya.
Gio tidak menjawab dan hanya menarik kasar tangan Mila. Mila sudah meronta tapi Gio tidak mengindahkanya. Abi ingin menolong tapi dia harus menjaga rahasianya.
Jino yang tidak rela Mila diperlakukan kasar pun menghadang Gio. "Banci lo beraninya sama cewek!" Sindirnya.
Gio yang memang amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun pun mencekram kerah seragam Jino kasar. "Apa hak lo buat larang gue hah?! Mila itu CEWEK gue!" Bentaknya dengan menekan kata 'cewek'.
Jino tertawa meremehkan. "lo sebut diri lo pacarnya?" Tanya Jino sambil menunjuk Mila. "emang ada pacar yang kasarin ceweknya!" Sudah cukup, amarah Gio sudah tidak dapat dipendam lagi.
Bugh!!!
"*******!!! Siapa lo berani nyampurin urusaan gue?!" Bentak Gio lalu kembali memukul rahang bawah Jino.
Jino yang tidak terima pun membalas nya sehingga perkelahian sengit tidak dapat terelakkan. Semua siswa tidak ada yang berani melerai bahkan teman Jino dan Gio sudah kewalahan dan angkat tangan. Guru pun berlarian menghampiri mereka dan mencoba melerai mereka tapi nihil, mereka berkelahi seperti orang kesetanan. Seakan tidak akan berhenti kalau salah satu diantara mereka tidak ada yang mati.
Sedangkan Mila? Oh ... dia hanya mematung menatap dua insam manusia yang saling adu bogem didepanya itu. Bahkan keadaan kantin sudah hancur, semua bangku sudah terbalik bahkan ada salah satu jendela yang pecah karna terkena lemparan bangku kantin. Hanya ada satu kata yang dapat menggambarkan keadaan sekarang. KACAU!!!
"Mil, cuma lo yang bisa ngelerai mereka." Ucap Lia dengan pandangan masih stay memandang Jino dan Gio.
Mila mencoba maju dan berteriak-teriak agar Gio dan Jino menghentikan perkelahian gila mereka. Tapi percuma suara kantin sangat gaduh bahkan sekalipun Mila berteriak suaranya tidak akan terdengar. Mila menghela napas frustasi, khawatir. Itulah yang saat ini Mila rasakan.
Akhirnya dengan tekad bulat Mila berlari kearah tengah tempat mereka bertengkar. Mila yang hendak melerai naasnya tidak sengaja terkena bogeman di wajahnya membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah dan hidungnya mimisan.
__ADS_1
Hening seketika.
Gio dan Jino langsung berhenti berkelahi bahkan semua siswa yang tadi menjerit-jerit langsung diam. Mila merasakan sakit yang teramat di kepalanya apalagi kemarin dia juga terkena tonjokan.
Mila memandang Gio dan Jino yang masih mematung melihatnya.
"Pliss cukup jang-" Belum selesai Mila dengan ucapanya, dia sudah terhuyung tidak sadarkan diri. Untungnya Abi berada disampingnya bisa menangkapnya.
Cukup sudah, kesabaran Abi sudah pada batasnya! Dia tidak rela Adik satu-satunya yang sangat disayanginya selalu terluka.
"*******!! ANJING, SETAN, ******, ****!!!" Abi sudah kehilangan akal sehatnya, dia tidak takut meskipun berbicara kotor didepan semua guru dan murid disana.
"GUE GA AKAN BIARIN MILA DEKET KALIAN LAGI!!!" Abi lagi-lagi membentak Gio dan Jino kasar.
Gio dan Jino hanya diam mematung mendengar umpatan Abi karna memang merasa bersalah. Abi langsung menggotong tubuh Mila ala bridal style dan membawanya ke rumah sakit setelah izin guru piket.
Sesampainya disana Mila langsung di masukkan ke UGD, Abi tampak kacau, seragam atasnya sudah terkena darah Mila tapi Abi tidak berniat berganti baju.
Abi mengacak rambutnya frustasi, dia tidak menyangka kalau Adiknya bakal berakhir dirumah sakit seperti ini, dia pikir Gio dapat melindungi Mila namun ekspektasinya melorot jauh.
Tidak lama dokter yang memeriksa Mila keluar dari ruangan, Abi pun langsung menghampirinya.
"Gimana Dok keadaanya?" Tanyanya to the point.
"Kondisi pasien sudah membaik, pasien hanya mengalami syok dan benturan di kepalanya, untungnya benturan tersebut tidak mengenai otaknya sehingga tidak berakibat fatal. Kalau begitu saya permisi." Pamit dokter tersebut setelah menjelaskan keadaan Mila.
Abi melangkah gontai memasuki ruangan Mila. Dia duduk di kursi dekat brankar dan langsung menggenggam erat tangan Mila.
What?! Abi menangis, sungguh sesuatu yang sangat langka.
"Enghh.." Abi langsung menatap Mila yang sepertinya mulai siuman.
"Mil lo ga pa-pa, kan? Ada yang sakit?" Tanyanya cemas sambil mengelus rambut Mila pelan.
"Ini dimana?" Mila malah balik tanya.
"Lo dirumah sakit." Jawab Abi.
Mila mencoba mengingat kejadian yang menimpanya, namun yang diingatnya terakhir kali saat Mila mengucapkan kalimat yang belum selesai karna pingsan. Dia tiba-tiba teringat Gio dan Jino. Bagaimana keadaan mereka?
"Bi, gimana keadaan Gio sama Jino?" Tanyanya karna penasaran dan cemas.
Abi menghela napas kasar, Adiknya kenapa harus sebaik ini coba. "lo ga usah usah urusin mereka lagi, dan mulai sekarang lo ga usah deket-deket mereka!" Abi mendadak tegas kepada Mila.
"Tapi-"
"Ga usah bantah!" Perintah Abi.
Deg!
Bila sudah seperti ini Abangnya pasti sudah dalam kondisi marah mode on, Mila tidak bisa membantah perkataan Abi karna jika Abi sudah marah bisa kayak singa belum makan setahun. Sangat mengerikan.
__ADS_1
Mila pun hanya bisa mengangguk lemah.
***
Di ruang BK.
"Kalian benar-benar ... ibu sudah tidak tahu harus berkata apa lagi." Ucap Bu Care frustasi menghadapi murid didepanya ini, siapa lagi kalau bukan Jino dan Gio.
'Ya ga usah ngomong lah Bu kalau ga tau, gitu aja repot.' Batin Jino.
'Ngomong aja bingung, katanya guru tapi pinteran juga gue.' Batin gio.
Gio dan Jino benar-benar murid durhaka, saat gurunya memberi nasihat eh ... mereka malah mengatai.
"Kalau kalian bukan anak dari donatur terbesar di sekolahan ini pasti sudah ibu Drop Out dari sekolah!" Kata Bu Care tegas.
Bingo!
Mereka adalah anak dari donatur terbesar di sekolahanya, namun hanya sedikit yang tau karna mereka memang tidak suka menyombangkanya. Sekedar info Ayah dari Gio dan Jino merupakan pengusaha yang sukses di Asia.
Bedanya perusahaan Ayah Gio bergerak di bidang batu bara, sedang Ayah Jino minyak bumi.
"Kalian bakal ibu hukum membersihkan semua toilet di sekolah!" Tegas Bu Care sambil melotot.
Gio dan Jino tampak biasa saja, padahal mah dalam hati sudah mengumpati guru didepanya ini. Memang semua lelaki itu sok-sokan cool.
"Tunggu apa lagi, cepat bersihkan sekarang!" Perintah Bu Care sambil memijit pelipisnya karna merasa pusing menghadapi murid didepanya ini.
Gio dan Jino melangkah gontai keluar ruang BK. Gio tidak terlalu memikirkan hukumanya, sekarang yang dipikirkanya hanyalah Mila dan Mila.
'Mil lo ga pa-pa, kan?' Batin Gio cemas.
Gio memutuskan untuk menghubungi Mila karna sudah sangat cemas.
Gio-Gio Burik: Mil kamu ga pa-pa?
Pulang sekolah aku mau ketemuan.
14.23 PM Read.
TING!
Membaca pesan itu Mila bingung harus bagaimana sekarang, tanpa aba-aba Abi langsung menyambar HP Mila lalu melemparkanya ke tembok sampai hancur berkeping-keping. Mila menganga tidak percaya. Abi yang sekarang bukanlah Abi, tapi .... Kidra. Yha itu adalah nama panggilan Abi dahulu sebelum pindah. Abi yang dulu terkenal gila, gimana ga gila jika Abi bahkan pernah membuat musuhnya buta sampai bunuh diri karna depresi.
"Jangan hubungi Gio atau Jino mulai sekarang!" Desis Abi dingin.
Mila hanya mengangguk pelan.
'Pliss gue mohon jangan balik jadi Kidra, Bi. Gue benci Kidra gue takut, gue lebih suka lo jadi Abi." Mila membatin sendu.
***
__ADS_1
TBC.