
VOTE.
Mila melangkah mendekati Abi yang masih stay dengan posisinya, mungkin masih syok dengan kedatangan Jino tadi.
"Lo ngapain dah?" Mila menampol Abang nya sendiri sampai terjungkal ke ubin lantai. Abi langsung melotot tajam.
"Santai dong!" Pekiknya setengah emosi.
Mila malah cekikikan di tempatnya. "Hahaha iya deh sorry." Ujarnya lalu menjulurkan tanganya untuk menolong Abang nya.
Abi menautkan tangan mereka lalu mulai berdiri dan berkacak pinggang didepan Adik nya itu.
"Lo syok akud, kan?" Tanyanya dengan nada mengejek.
Abi mendengus kesal mendengar ejekan Adik nya itu. "Lagian kok lo bisa-bisanya sih ngundang Jino kesini, dia kan jadi tau rumah kita!" Omelnya.
"Orang dia udah tau kok dari dulu!" Mila menyahut santai.
"Serah lo!" Ucapnya lalu melenggang pergi meninggalkan Mila yang mendengus di tempatnya itu.
***
Gio melangkah memasuki rumahnya yang bahkan mungkin tidak bisa dibilang rumah ini. Keadaan sepi seakan menjadi teman Gio sehari-hari.
Gio membaringkan tubuhnya di ranjang king size nya dan mulai menerawang masa lalu.
FLASHBACK ON
"Ma jangan tinggalin Gio, Ma!" Teriak histeris seorang anak berusia 7 tahun.
"Udah Gio, Mamah mu sudah tenang disana, ayo kita pergi." Reza, Ayah Gio menggendong anaknya itu keluar dari tempat pemakaman.
2 tahun kemudian.
"Gio kesini, Nak!" Panggil Reza sambil mengayunkan tanganya ke depan.
Gio melangkah kecil ke arah Papah nya itu. "Kenapa, Pah?" Tanyanya setelah duduk di pangkuan Papah nya.
Reza mengelus sayang kepala Gio. "Gio bakal punya ibu lagi." Tuturnya pelan.
__ADS_1
Gio aslinya tidak terima tapi melihat kebahagiaan Papah nya dia tidak boleh egois, padahal umurnya baru tujuh tahun tapi Gio sudah sangat dewasa.
"Oh yaa ... wah asik!" Ujarnya dengan memaksakan senyum palsu.
Satu minggu setelah perbincangan itu Papah nya sudah resmi menikahi perempuan yang nantinya akan menjadi ibu nya.
Gio pikir hidupnya akan bahagia namun semuanya sangat bertolak belakang.
Yuni, ibu angkat Gio. Entah telah meracuni apa ke otak Reza, membuat Reza selalu selalu memarahi, bahkan memukuli Gio. Reza berubah drastis setelah menikah dengan Yuni. Bahkan setelah Yuni melahirkan anak pertamanya mereka tinggal dirumah barunya dan meninggalkan Gio sendiri.
Sejak hari itu Gio sudah menganggap keluarganya mati.
FLASHBACK OFF
Tanpa Gio sadari air matanya tiba-tiba saja meluncur bebas keluar. Gio langsung mengusapnya kasar. "Gue ga boleh lemah, mereka pikir dengan mereka buang gue, gue bakal nyerah hidup gitu? Ga akan!" Gio selalu menyemangati dirinya sendiri. Karna saat ini hanya dirinya sendiri yang dapat dia percaya.
Dia melangkah ke kamar mandi, setelah menyelesaikan ritual mandinya, dia memakai celana jeans hitam dengan atasan kaus hitam polos lalu dibaluti kemeja merah marun kotak-kotak tanpa dikancing lalu memakai sneakers hitamnya.
Gio menyambar kunci motornya lalu keluar. Namun anehnya dia mengarahkan motornya ke rumah Mila. Entahlah Gio juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
TOK! TOK! TOK!
Setelah pintu terbuka, menampilkan Bi Suti pembantu di sana. "Ada apa ya, Mas?" Tanyanya sopan.
"Bisa ketemu Mila?" Ucapnya dengan datar.
"Oh.. Aden temanya Non Mila? Silakan masuk biar Bibi panggilkan Non Milanya dulu." Bi Suti langsung tergopoh-gopoh pergi ke kamar Mila.
"Non Mila dicari temanya dibawah!" Ujar Bi Suti dari luar kamar lalu melangkah pergi setelah mendapat sahutan.
"Siapa ya, Bi?" Tanya Mila ke Abang nya yang kebetulan ada di sana.
"Mana gue tahu!" Ketusnya sambil terus bermain game di HP-nya.
"Temenin yuk, Bi!" Rengeknya sambil menarik kaos Abi namun langsung ditepis.
"Sana temuin sendiri, gue sibuk!" Usirnya membuat Mila mendengus sebal.
Mila melangkah gontai ke ruang tamu. "loh Gio?!" Ucapnya tanpa sadar.
__ADS_1
"Iya Mil, sorry gue ganggu, ya?" Gio merasa tidak enak kepada Mila.
"Eh, ga kok gue juga lagi santai-santai aja, mau ngapain?" Tanyanya setelah duduk.
"Gue juga ga tau mau ngapain." Ucapnya lesu sambil melihat kebawah.
Mila merasa ada yang aneh dari Gio, "lo ada masalah yha?" Tebaknya. "gue siap kok kalo lo mau cerita." Tawarnya melanjutkan.
Gio menatap Mila lalu tersenyum manis. Bahkan Mila sampai tidak percaya Gio tersenyum seperti itu. Sumpah! Makin ganteng.
"Gue ga pa-pa kok, tapi gue boleh ... peluk lo?" Gio bukan modus, tapi memang saat ini dia butuh pelukan seseorang yang dapat menenangkanya.
Dan itu ada di dalam diri Mila.
Mila tidak keberatan karna sepertinya Gio sedang ada masalah, lagian meskipun itu hanya modusnya Gio, Mila mah selow-selow aja. Orang ganteng gini, kok.
"Boleh, kok."
Gio menatap Mila sejenak lalu langsung memeluknya pelan. "jangan tinggalin gue, Mil." Pintanya lalu mulai mempererat pelukan mereka, entah ada apa dengan jantung Mila sepertinya dia harus memeriksakanya kedokter karna sedari tadi rasanya jantungnya ingin melompat keluar.
Mila membalas pelukan Gio tidak kalah eratnya. "Gue gak bakalan tinggalin lo, Yo." Ujarnya dengan tulus.
Sepertinya Mila mulai mengerti perasaan apa yang dimilikinya.
Di lain sisi, Abi yang masih dikamar Mila heran karna Adiknya belum kembali juga. "Ah .... gue samperin aja." Gumamnya lalu melangkahkan kakinya ke lantai bawah.
Setelah diruang tamu Abi langsung mematung, namun tidak lama dia langsung menyembunyikan tubuhnya di balik tembok. "Astaghfirullah, kalo bukan Gio gue bakal habisi tuh orang!" Abi geleng kepala melihat Adiknya itu.
Baru tadi ngobrol sama Jino dan sekarang sudah main pelukan aja sama Gio. Sok cantik banget emang!
Mila mengurai pelukan mereka. "Udah lo harus tenang, gimana kalo kita ke lapangan komplek?" Ajak Mila untuk menghibur Gio.
Gio menaikkan sebelah alisnya bingung. "Ngapain, Mil?"
"Udah pokoknya pasti lo seneng deh." Mila menarik lengan Gio tanpa mendengar jawabanya.
Saat Mila akan keluar rumah tanpa sengaja mata Mila bertubrukan dengan mata Abi. Dan Mila pun memberi isyarat 'nanti gue jelasin.' Lewat matanya lalu melangkah keluar rumah.
***
__ADS_1
TBC.