
VOTE.
"Bram lo pimpin anak-anak ke wilayah selatan, Dino lo pimpin anak-anak ke wilayah utara, Bi lo pimpin anak-anak ke wilayah barat, dan gue bakal pimpin ke arah timur." Jelas Gio.
Semua anggota Lion mengangguk dan mulai berpencar.
Gio seperti orang kesetanan saat mengetahui kalau Mila diculik, bahkan base camp Lion sudah porak-poranda akibat ulahnya.
Namun sekarang Gio harus menahan amarahnya karna yang terpenting saat ini ialah Mila .... hanya Mila saja.
******
Mila mengerjapkan matanya beberapa kali, hal pertama yang dilihatnya adalah gelap, Mila mengelilingkan pandanganya namun ruangan yang begitu gelap menyulitkanya, hanya ada satu lampu dan itu tepat di atas kepalanya sehingga Mila kesulitan melihat sekeliling.
Mila mencoba mengingat kejadian yang menimpanya dan ... iya! Benar saja sekarang dia sedang diculik.
Mila mencoba tenang, disaat seperti ini percuma bila dia panik, itulah hal yang Abi ajarkan padanya. Mila tidak mungkin teriak karna mulutnya dilakban, tidak mungkin juga bergerak karna tanganya diikat ke belakang dan kakinya pun juga diikat, bahkan perutnya juga dililit tali di kursi tempat ia duduk.
'Sial, kalo gini gimana gue bisa kabur coba!' Batin Mila mengumpat.
Kriett...
Suara pintu berhasil menarik perhatianya, tidak terlalu jelas siapa yang datang karna memang minimnya penerangan tapi satu hal yang pasti kalau dia adalah perempuan.
Tap.
Tap.
__ADS_1
Mila semakin jelas melihat nya karna dia berjalan mendekatinya sampai ia tepat berada di depannya.
"Hay sayang, bagaimana kabarmu pasti tidak baik, kan?" Tanyanya dengan seringaian setelah melepas lakban di mulut Mila.
Mila melotot, bukan karna apa yang diucapkanya tapi karna dia...
"Sa-sa.." Mila hampir kehilangan suaranya saking terkejutnya.
Ya dia adalah Sasa. Gadis yang selama ini mengejar-ngejar Gio tapi malah Mila yang pacaran denganya.
"Iya gue Sasa, kenapa emangnya HAH?!" Gertaknya.
"Lo kenapa culik gue? Gue salah apa sama lo?!" Mila histeris sendiri.
Sasa mendengus lalu terkekeh geli. "Gue salah apa sama lo?" Tirunya dengan suara sok manja. "Basi tau gak! Lo pengen tau apa salah lo?!"
"SALAH LO ITU KARNA LO UDAH AMBIL GIO DARI GUE! GIO ITU MILIK GUE, LO DENGER! MILlK GUE!!" Bentaknya dengan menekan kata terakhir.
Gio? Oke, Mila sekarang paham kemana alurnya. Okelah kalau Sasa sebut dia ambil Gio darinya, tapi kan Gio juga suka sama Mila trus salahnya dimana coba?
"Gio suka gue dan gue juga sama, lo kalo kayak gini itu sama dengan mempermaluin harga diri lo tau gak!" Mila balik membentak.
Sasa yang kalut mengambil cutter dari sakunya lalu menyayat pipi Mila dengan mata melotot lebar.
"ARGHHH!" Teriak Mila nyaring kesakitan.
"Lo udah ga waras yha?!" Bentak Mila dengan darah yang merembes jatuh ke mulutnya.
__ADS_1
Sasa tertawa sumbang. "Kalo gue ga waras lo mau apa? Sekarang gue bakal bikin lo nemuin Tuhan, biar gue bisa kembali miliki Gio. HAHAHA!" Sekarang Sasa nampak lebih menyeramkan ketimbang orang jahat sekalipun. Dia seperti orang kelainan jiwa.
"GILA LO!" Teriak Mila dengan nafas tersendat-sendat.
Sasa tidak mengindahkan ucapan Mila, dia mulai melakukan aksi gilanya lagi. Dia menggores leher Mila membuat darah segar mengucur lagi. Belum puas melihat keadaan Mila dia menggores kakinya yang mulus itu sampai membentuk garis-garis tidak beraturan. Mila sudah pasrah bila ini memang akhir hidupnya.
Sasa tertawa terbahak-bahak melihat Mila yang menangis dan kesakitan. Setelahnya dia mengambil pisau dari saku nya yang lain. Mila bisa menebak apa yang akan Sasa lakukan padanya.
'Gue ga akan takut kalau memang harus mati saat ini, tapi gue bakal sangat menyesal kalo saat-saat terakhir gue ga ada keluarga disamping gue.' Mila membatin sakit.
'Semoga ada yang nyelametin gue, gue mohon!" Harapnya dengan air mata yang tidak bisa ditahan.
"Hm.. oke Mil, sepertinya cukup sudah main-mainya. Sekarang kita sudahi semuanya." Sasa memutari tubuh Mila sambil memainkan rambut panjang Mila.
Perlahan Sasa mulai melayangkan pisaunya membuat Mila hanya bisa menutup matanya pasrah.
'Sepertinya ini akhirnya ...." Mila memejamkan mata rapat, rasa takut yang teramat itu sudah menyelimuti hatinya sampai membuat hatinya sesak.
BRAK!
"ARGHHH!!" Suara pekikan itu adalah hal terakhir yang diingat Mila. Dirinya yang sudah tidak kuat pun pingsan ditempat.
Namun satu hal yg harus Mila syukuri, yaitu ada seseorang yang menyelamatkanya.
******
TBC.
__ADS_1