
VOTE.
Mila mengerjapkan matanya perlahan, dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Putih bersih, aroma obat. Mila yakin pasti sekarang dia ada di rumah sakit.
Mila tersenyum saat melihat Abi yang sedang tidur di sofa. Lalu dia menolehkan kepalanya kesamping dan dilihatnya Gio juga terlelap di kursi sebelah brankarnya dengan kepala diatas tanganya.
Senyuman tulus tiba-tiba saja mengembang sempurna di wajahnya.
'Gue bersyukur karna masih bisa selamat.' Batinya senang dan lega.
Tangan Mila reflek mengelus kepala Gio dengan pelan. Gio yang merasa tidurnya terusik itu pun membuka matanya dan seketika pandangan mereka bertubrukan.
Mila tersenyum sedang Gio langsung memeluk tubuh Mila erat, seolah Mila akan pergi darinya jika dia melepaskan pelukanya.
"Kamu bikin aku cemas. Kamu gak pa-pa, kan? Ada yang sakit? Kamu baik-baik aja? Aku khawatir setengah mati Mil. Kamu jangan pernah tinggalin aku." Gio memberondong Mila berbagai pertanyaan.
Mila terkekeh lalu mengurai pelukan mereka. Mila hanya diam memandang wajah Gio sambil tersenyum. "Kamu pengen tau apa yang aku rasain sekarang?" Tanya Mila.
Gio mengangguk cemas.
"Haus..." lanjutnya.
Apakah boleh jika Gio karungin Mila. Demi apapun Mila sangat menyebalkan. Tapi meskipun begitu Gio langsung mengambilkanya air dan membantunya untuk meminumkanya.
Abi? Masih tidur tenang.
"Mil, kamu kok habis siuman nyebelin sih!" Kesalnya.
Mila tertawa kecil lalu mengacak rambut Gio sayang. "Kamu kok makin ganteng sih," gemasnya lalu mencubiti pipi Gio.
__ADS_1
Gio mendengus tapi tak bisa dipungkiri seulas senyum terukir begitu saja.
"Kamu kok jadi tukang gombal sih?" Heranya.
Mila menampilkan wajah sok polosnya. "Masa?" Godanya.
"Terserah deh!" Gio memalingkan wajahnya kesal.
"Kamu gak kangen yha sama aku, kok aku nya dicuekin sih, yaudah deh lebih baik aku ga usah bangun sekalian." Canda Mila.
Meski menurut Mila itu sebuah candaan namun menurut Gio itu serius. Gio langsung memeluk Mila erat. "Jangan pernah ngomong gitu lagi, aku hampir gila waktu kamu hilang. Stay with me." Mila merasakan basah di lehernya, apakah Gio menangis? Sungguh Mila tadi hanya berniat bercanda saja.
"Ssttt... aku gak akan pernah ninggalin kamu. I'am promise." Janjinya.
Mila melepaskan pelukan mereka lalu mengusap lembut air mata Gio. "Mulai sekarang kita ga usah ngomong lagi yha." Ungkap Mila tiba-tiba.
Mila menampilkan raut sok serius, "karna tanpa ngomong pun kita bisa komunikasi lewat hati." Mila tersenyum menunjukkan jejeran gigi rapinya.
Gio membeo di tempatnya, dia menatap Mila tanpa berkedip. "kamu ngerjain aku?" Tanyanya.
Mila menggeleng, "aku kan gombalin kamu, hehe." Lalu meringis kecil.
Gio mencubit hidung Mila membuatnya langsung memekik kaget.
"AWW....ish kamu, mah!" Kesalnya mencebik.
Abi langsung terlonjak kaget lalu menatap ke arah Mila.
"Mila!!!" Pekiknya lalu beranjak memeluk Mila sayang.
__ADS_1
"Abang khawatir."
Mila melepas pelukan mereka dan tersenyum simpul. "gue udah baikan kok, Bang." Yakin Mila. Padahal perban yang melilit tubuhnya sangat banyak.
"Beneran?" Tanya Abi tidak yakin.
Mila yang gemas pun menoel-noel pipi abi, "iyaaa Abikuh sayang...." lalu tertawa senang.
Gio mendadak cemburu melihat mereka. Gila sih, tapi Abi kan juga lelaki, gimana kalau dia khilaf. Oke Gio mulai keterlaluan lebay nya.
"Ekhem!" Dehamnya sengaja di keras kan.
Mereka menatap Gio lalu menghentikan aktivitasnya. "kalau gitu Abang hubungin Mom, Dad dulu yha. Kayaknya ada yang kebakaran jenggot disini." Ujarnya tidak lupa dengan sindiran diakhir kalimatnya, Abi lalu melangkah keluar kamar.
"Awas lo, Bi." Gumam Gio kesal.
Mila malah terbahak melihat mereka. Mila sangat bersyukur karna masih diberi kesempatan hidup.
Gio mendadak menatap Mila serius membuat Mila berhenti tertawa.
"Sekarang kamu ceritain semuanya dari awal!" Mila awalnya bingung namun setelah melihat tatapan Gio dia mulai paham alurnya.
Mila menarik napas dalam lalu mulai menghembuskanya.
"jadi begini..."
******
TBC.
__ADS_1