
VOTE.
Mila mengalihkaan pandanganya, enggan menatap Gio yang kini tengah memandangnya intens.
Tadi saat Gio meminta untuk dipertemukan dengan Mila, Leo menolak keras. Dirinya tidak ingin ikut campur lebih dalam urusan orang lain, apalagi yang menyangkut Jino, Bosnya. Cukup tadi saja Leo membuka kebusukan Lia.
Sehingga Gio dengan terpaksa menyeret Mila sepulang sekolah ini menuju rooftop, untungnya Jino entah kemana karna jika ada mungkin akan terjadi perang dunia.
"Kenapa?" Tanya Mila pertama kalinya saat Gio sepertinya tidak berniat mengeluarkan suaranya.
"Mil...." lirih Gio terdengar sangat sedih. Ada sedikit getaran di hati Mila saat Gio berkata seperti itu, namun dia berusaha mengenyahkanya.
"Maafin aku .... aku nyesel udah jahat sama kamu." Lanjutnya masih memandang Mila lalap-lalap.
Mila sedikit tersentak. Ah ... jadi ternyata Gio sudah mengetahuinya. Tapi darimana Gio mengetahuinya?
"Mil tolong.." Gio berusaha menggapai tangan Mila namun langsung ditepis kuat, sayangnya percuma karna kekuatanya sangat tidak seberapa.
"Mil maafin aku, aku sadar aku salah tapi aku janji gak akan ulangin lagi." Gio tetap berujar meski tau Mila tidak meresponya.
"Kamu boleh tampar, pukul, atau lakuin apapun ke aku. Yang penting jangan pernah tinggalin aku Mil. Aku benar-benar nyesel."
Bruk.
Gio berlutut didepan mila. BERLUTUT!Membuat Mila sangat terkejut bukan main. Gila saja leader geng Lion berlutut kepada seorang gadis begini.
Mila langsung menatap tajam Gio yang sedang memegang lututnya. Diraihnya lengan Gio lalu memaksanya berdiri.
"Apa?!" Sentak Mila kesal. "apa dengan lo ngelakuin ini, lo pikir gue bisa dengan mudah nerima lo. HAH?!" Lanjutnya masih menggeram.
"Wanita itu rapuh seperti kaca yang apabila pernah pecah tidak akan bisa kembali seperti semula." Sejenak Mila mengeluarkan unek-uneknya.
"Untuk maafin ... meski berat gue udah maafin lo." Mila menatap Gio dengan dada sesak.
"Tapi untuk balikan maaf gue gak bisa." Lanjutnya lalu mengalihkan pandanganya dari Gio. Rasa sesak dihatinya menjalar sampai ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Grep.
Gio langsung memeluk erat Mila. "enggak Mil, hiks..kamu gaboleh pergi hiks dari aku." Ujar Gio tersendat-sendat karna isakanya.
Mila bahkan merasakan basah di ceruk lehernya. Kenapa jadi begini!
"Kamu..hiks kenapa gak mau balikan sama aku. Sebutin alasanya hiks Mil" kata Gio masih dengan terbata-bata.
Mila menghembuskan napas sejenak. Mungkin dia harus tegas kali ini.
"Karna-" jawab Mila terhenti karna didetik itu juga Mila langsung tersentak saat melihat Jino sedang berdiri diambang pintu tengah menatapnya kecewa, Mila melotot kaget. Pasti dia salah paham karna dia tidak bisa mendengar percakapan Mila dengan Gio dari tempatnya.
Mila langsung mendorong keras Gio saat melihat Jino berbalik lalu pergi. "Sorry gue harus pergi!" Tanpa menunggu perkataan Gio, Mila langsung berlari keluar. Memang dengan posisinya tadi Gio tidak akan bisa melihat kalau Jino tadi sedang memergoki mereka.
Tes!
Gio terduduk lesu namun didetik itu juga dia terkekeh lalu kemudian tertawa sumbang.
'Ini yha yang namanya karma. Gue emang pantes dapetinya!' Batinya terkekeh namun sangat tidak sinkron dengan tubuhnya yang tengah bergetar hebat meredam tangisnya.
Mila berlari menyusuri koridor, dilihatnya Jino tengah berjalan menuju motornya yang ada di parkiran. Saat menyadari kalau Jino hendak pergi, dengan kekuatan penuh Mila melesat menuju Jino yang tengah memakai helmnya itu.
"JINO!" Teriak Mila lantang lalu langsung menyambar tanganya. Untung keadaan sepi karna semua siswa sepertinya sudah pada pulang.
Jino menatap Mila datar dengan kekecewaan yang sudah pasti.
"Aku mau pulang duluan, kamu sama Gio aja." Kata Jino hendak memakai helm full face nya namun langsung dicegah Mila.
"Aku gak ada apa-apa sama Gio." Jelas Mila membuat Jino memandangnya.
"Gio tadi bilang maaf ke aku setelah tau semuanya, dan ngajak balikan juga." Lanjutnya dengan memandang Jino yang tengah memandangnya juga.
"Trus kamu terima. Yaudah kamu sama dia aja." Kata Jino dengan kesal.
Mila mendengus keras keras. "iya--"
__ADS_1
"Yaudah kalo udah pacaran sana sama dia aja. Kita udahan!" Potong Jino cepat tanpa menunggu lanjutan ucapan Mila.
Melihat gelagat salah paham dari Jino, Mila pun buru-buru melanjutkan ucapanya. "iya aku maafin dia, tapi aku tolak permintaan balikanya."
Seketika Jino langsung memandang Mila seolah meminta penjelasan lebih lanjut. Tapi melihat Mila yang tidak melanjutkan ucapanya Jino pun akhirnya angkat suara.
"Kenapa?"
Mila diam. Memandang Jino lekat, Mila harus memastikan kalau pilihan hatinya benar.
Cup.
Sapuan lembut mendarat di pipi kiri Jino. Pelakunya tentu saja Mila. Bahkan helm full face yang dipegang Jino tadi langsung terjatuh dan menggelinding entah kemana.
Blus..
Wajah Mila langsung memerah seperti kepiting rebus.' aku gak nyesel. Ini memang pilihan yang tepat.' Batin Mila senang.
Mila mendongak menatap Jino yang terlihat sangat sangat kaget itu. Astaga ... tindakan Mila ini sangat memalukan, ini merupakan sejarah pertamanya mencium lelaki kecuali keluarganya.
"Eh, hehe... emm dadah!" Mila yang sedang gelagapan pun dengan absurdnya melambai dengan wajah watadosnya lalu langsung berlari menjauh. Meninggalkan Jino yang masih mematung ditempat.
Setelah lumayan sadar dari keterkejutanya, Jino tersenyum lebar. Sampai lebarnya membuatnya terlihat sangat menyeramkan.
"YEAH!!! AKHIRNYA!!" Teriaknya lantang dengan kepalan tangan meninju angin.
Begitu menyadari hilangnya Mila, dia buru-buru melajukan motornya menuju kearah Mila.
"Pacar manisku bikin pengen di usel-usel aja." gumamnya sambil terkekeh sendiri.
Tapi apakah ada yang ingat kalau helm full face seharga 3 juta nya itu masih tergeletak naas di lantai. Ah ... sudahlah, orang kaya bebas!
****
TBC.
__ADS_1