My Badboy Boyfriend

My Badboy Boyfriend
Part 30: Segalanya Berubah


__ADS_3

VOTE.


Jino my boyfriend: Lagi apa?


19.34 PM Read.


Me: Lagi santay aja sih.


Kenapa?


19.35 PM Read.


Jino my boyfriend: Jalan


yuk, mumpung malming.


19.35 PM Read.


Me: Emmmm...


gimana yhaa


1


9.35 PM Read.


Jino my boyfriend: Ayo dong


plissss ...


19.36 PM Read. 


Jino my boyfriend: Yank...


19.36 PM Read. 


Me:Idih jijik tauk gak sih,


pake yank yank-an gitu!


19.36 PM Read.


Jino my boyfriend: Hehe...


biar romantis gitu.


19.36 PM Read.


Jino my boyfriend: Gimana?


19.37 PM Read.


Jino my boyfriend: Jadi yha?


19.37 PM Read.


Me:Oke deh buat pacarku


yang lebaynya minta ampun.


19.38 PM Read.

__ADS_1


Di seberang sana, Jino langsung terbelalak kaget membaca balasan chatt Mila. Sumpah! Rasanya dirinya seperti terbang melambung. Dia sangat bahagia. Sangat dan sangat! Demi apapun dirinya tidak akan melepaskan Mila sampai kapanpun .... sampai maut. Sumpahnya.


Jino my boyfriend: Makasih ya,


nanti aku jemput jam 20.00.


19.38 PM Read.


Mila meletakkan HP nya tanpa berniat membalas nya. Dia berjalan menuju balkon kamarnya, duduk di sofa pojok ruang yang langsung terhubung ke pemandangan luar.


Huft ... helaan napasnya terdengar lelah. Mila hanya ingin hidup bahagia saja, apa itu terlalu sulit?


Saat dirinya tengah dilambungkan oleh Gio yang notabenya firts love nya, namun dia juga yang menghempaskanya ... sakit. Mila memukul dadanya yang terasa tertusuk ribuan duri.


Bahkan sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri berkhianat kepadanya bahkan memfitnahnya. Sebenarnya apa salah Mila, kenapa takdir tidak adil kepadanya.


"Gue capek..." lirihnya tanpa diduga air mata yang dengan lancangnya itu merembes keluar.


Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. "ada gue." Ucapnya dan Mila tahu siapa dia. Abi.


"Keluarin semuanya Mil. Keluarin."blanjutnya semakin memepererat pelukanya dengan menopangkan dagu di atas kepala Mila.


"Hiks..hiks.. gue ca-capek Bi. Takdir gak adil, semuanya jahatin gu-" Abi membalik tubuh Mila cepat lalu membungkukan badanya agar setara dengan Mila.


"Ada gue, Mom, dan Dady. Semuanya sayang sama lo jadi jangan pernah berkata gitu lagi." Potong Abi cepat. Mereka bertatapan intens dengan tempo lama, tidak disangka air mata Abi menetes begitu saja. "sekarang lo harus lupain cowok brengsek itu. Ada Jino yang bakal jagain lo, dan gue harap lo nggak bikin dia kecewa." Tuturnya lembut sambil menyentuh pipi chubby Mila lembut.


Mila mengulurkan tanganya mengelap air mata Abi yang sempat menetes lalu tersenyum menenangkan. "yes l'm promise, thanks my brother." ucap Mila lirih.


Abi bernafas lega. "Makasih Mil. akasih banyak." Sahut Abi lalu memajukan wajahnya, mengecup dahi Mila lembut dengan tempo yang sangat lama. Untuk menunjukkan betapa sayangnya dia.


***


Mila memasuki mobil Jino saat mobil itu baru saja terparkir cantik di halamanya.


Mila menggeleng. "mereka pergi kondangan. Dirumah cuma ada Abi, tapi tenang aja tadi udah aku ijinin kok." Jawab mila sambil memakai selt belt nya.


"Kok tumben bawa mobil, No?" Heran Mila.


Jino terkekeh. "masa mau nge date pake motor kan gak romantis Mil." Ujar Jino sambil menjalankan mobilnya. Ini bukan mobil sembarangan karna ini mobil BMW keluaran terbaru yang harganya pasti selangit, Mila tidak mau membayangkanya. Lagian Jino sekaya apa, sih?


"Aku gak masalah kok mau pake apa aja." Sela Mila.


Jino tersenyum ... manis. Kenapa Mila baru sadar senyumnya begitu manis. "Gak pa-pa lah Mil. Nyenengin pacar sendiri juga." Balas Jino.


Mila merengut kesal. "Tapi ntar aku kesanya matrealistis banget." Ujar Mila pelan.


Jino langsung membuat guratan tegang. Dia tidak suka dengan apa yang diucapkan Mila barusan. Mila yang melihat Jino seperti itu jadi merasa bersalah, dia berpikir kalau mungkin Jino marah karna Mila tidak menghargai usahanya.


"No ... maaf." cicit Mila.


Jino menghentikan mobilnya karna kebetulan sudah sampai. Dia menyerong menatap Mila yang sedang menunduk, imut banget. Bukan marah Jino malah dibuat makin cinta olehnya. Bucin level overdosis parah dirinya.


Jino menarik dagu Mila menghadapnya. Tersenyum lalu berucap lembut. "jangan ulangin."


Mila mengangguk. "janji deh. Maaf yha." Pintanya dan Jino langsung memeluknya.


"Mil, aku boleh minta sesuatu sama kamu?" Tanya Jino perlahan.


Mila sedikit menegang saat Jino berujar demikian. Tapi Mila langsung mengangguk. "i-iya boleh, kok." Jawabnya gugup.


Jino mengurai pelukan mereka lalu menatap Mila lekat. "jangan pernah ninggalin aku apapun yang terjadi termasuk bila Gio memintanya sekalipun. Janji?" Katanya sedikit terdengar seperti orang yang berusaha menahan emosi, apalagi saat mengucap kata laknat itu, 'Gio'. Biarlah Jino egois. Hey ... ini bukan salahnya tapi salah Gio sendiri, karna dengan bodohnya membuang permata yang sangat berharga seperti Mila.

__ADS_1


Mila mendadak tegang ditempatnya.


Ini merupakan kalimat yang berusaha dia hindari sejak dulu.


***


Mila berjalan di koridor tapi langsung dihadang seseorang yang sangat-sangat dihindarinya.


"Apa?" Tanya Mila berusaha sabar.


"Jauhi Gio!" Katanya dengan nada marah.


"Emang ada gitu gue deketin dia. Gak!" Sembur Mila terbawa emosi.


Lia terkekeh pelan. "awas lo deketin dia!" Ancamnya.


"Lo tuh ada masalah apa sih sama gue Ya, gue ga ngerasa ada salah sama lo tapi kenapa lo gini amat sama gue coba?" Tanya Mila dengan nada bergetar.


"Gue tuh muak, dan iri sama lo. Lo punya keluarga harmonis, Abang yang sayang, dan bahkan pacar ganteng. Apapun yang lo mau lo bisa dapetin dengan mudah. Gue ngiri, Mil!!" Mila sampai berjengkit kaget mendengar bentakan orang didepanya itu.


"Trus jalan buat lo ga iri dengan cara rebut punya gue?!" Mila mengepalkan tangan emosi.


"Iya, gue rebut punya lo termasuk gue rebut gio!" Kata Lia kali ini terdengar lebih creepy. Lia yang dikenalnya saat ini bukan seperti Lia yang dikenalnya dulu.


Mila tersenyum remeh. "lo juga yang hancurin hubungan gue, kan?" Tebaknya.


Lia tertawa sumbang. Untung di koridor sepi.


"Iya dan kalo lo mau tau gue juga yang fitnah lo sama Jino." ungkap Lia bangga.


Mila menggeram, "brengsek!"


"Woah ... berani lo, yha!" Lalu Lia menjambak rambut Mila. Membuat Mila yang tidak terima pun membalasnya. Lia yang lebih dominan dipertarungan ini karna Mila tidak mau menyakiti Lia. Sangat bodoh memang.


Lia tanpa sengaja melihat Gio yang sepertinya baru datang. Ide briliant muncul diotaknya lalu tersenyum menyeringai. Tiba-tiba Lia menjatuhkan tubuhnya lalu mulai menangis. Mila melongo speechless di tempatnya.


"Akh!! Ampun Mil, gue minta maaf kalo udah ambil Gio dari lo.blo jangan sakitin gue, ampun.." ujarnya sambil menangis tersedu-sedu.


Gio berlari lalu menghampiri Lia, menolongnya untuk bangun. Sedangkan Mila hanya terperangah takjub melihat kelakuan sinting Lia barusan.


"Gi..hiks Gio sakit ...hiks hiks..." Lia berhambur ke pelukan Gio. Entah kenapa Mila masih merasa sesak melihatnya.


"Lo!" Geram Gio menunjuk wajah Mila.


"Jangan berani sentuh Lia dengan tangan busuk lo!" Bentaknya.


Tes..


Mila langsung mengelap air matanya cepat. "bukan gu--"


"DIEM!!" Teriak Gio murka, bahkan guratan tegang nampak di wajahnya.


"Ayo kita ke UKS." Lalu Gio menggendong Lia, meninggalkan Mila yang sangat-sangat merasa sakit itu sendiri.


"MILA!" Teriak Jino sambil berlari kearah Mila lalu memeluknya erat. "kamu gak pa-pa?" Tanyanya cemas.


Mila mengangguk lalu mempererat pelukanya. "ayo ke kelas." Ajak Mila dan mereka pergi ke kelas.


Sedangkan di sisi lain, tanpa diketahui siapapun ternyata ada seseorang yang bersembunyi di balik tembok merekam kejadian dari awal sampai akhir.


"Hmm ... menarik." Gumamnya menatap handphone nya lalu beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


*******


TBC.


__ADS_2