My Badboy Boyfriend

My Badboy Boyfriend
Part 10: Murid Baru


__ADS_3

VOTE.


Abi menurunkan tubuh mungil Mila di ranjangnya. Untunglah kedua orang tuanya lagi keluar kota jadi mereka tidak akan memberondong nya dengan ribuan pertanyaan.


"Kamu ga pa-pa, Mil?" Tanya Abi khawatir sambil mengelus rambut halus Mila pelan.


Mila hanya mengangguk, tapi sejujurnya kepalanya sangat pusing. Abi yang mengerti dengan keadaannya langsung mengambil obat di nakas dan menuangkan air putih ke gelas yang ada di atas meja lalu menyodorkanya kepada Mila.


"Minum obatnya, jangan sok kuat kalo jadi orang." Mila langsung menelan obatnya setelah itu mendengus sebal karna habis dicibir.


"Emang aku kuat, aku kan anak sehat tubuhku kuat." Mila malah menjawabnya dengan candaan. Masih saja bercanda di saat begini.


Abi hanya geleng-geleng melihat sifat Adik satu-satunya ini. Setelah lumayan lama diam Abi memutuskan untuk bertanya sesuatu yang sedari tadi mengganjal di otaknya.


"Lo kok bisa kenal Jino?" Tanya Abi sambil memicing aneh.


Mila menoleh kearah Abi dengan sebelah alis terangkat. "Emang kenapa ?" Mila malah balik tanya.


"Dia kan leader geng Bastar, lo tau, kan?"


Mila hanya mengangguk sekilas.


"Trus?" Tanya Mila masih tidak mengerti maksud Abi.


"Dia itu terkenal bringas, dingin, kejam, brutal, dan setahu gue dia ga pernah dekat dengan cewek manapun karna dia emang ga suka hal semacam itu, tapi kenapa dia kayaknya dekat sama lo?" Jelas Abi dengan pertanyaan diakhir kalimatnya.


Mila berpikir sejenak. "Yah mana gue tau kalau dia sejahat itu, tapi menurut gue sih kita nggak bisa menilai orang hanya dari luarnya aja, kan kita ga tau kehidupanya." Jelas Mila yang memang termasuk orang yang selalu positive thinking itu.


Abi hanya menghela napas panjang, memang beginilah Adiknya ... terlalu baik. "Oke terserah, tapi gimana lo bisa kenal Jino?"


Mila menerawang kejadian saat pertama kali bertemu Jino dan menjelaskan semuanya kepada Abi, yang dapat Mila amati dari raut wajah Abang nya itu adalah kesal.


"Lo pikir main-main sama nyawa itu lucu?! Jangan pernah ulangi lagi kalo ga gue bakalan marah besar sama lo!" Omel Abi dengan wajah yang mengeras.


"Hehe, iya Abangku...." hormat Mila dengan cengiran khasnya.


Abi tersenyum lalu memeluk tubuh ramping Adiknya itu. "Gue sayang lo, good night."


"Night too."

__ADS_1


'Semoga lo baik-baik aja Mil, gue ga tau kenapa lo bisa terlibat dalam masalah seperti ini, tapi gue janji bakal selalu jagain lo.' Batin Abi sambil menatap wajah teduh Mila yang mulai terpejam itu.


***


Pagi ini Mila sedang asik membaca novel di kelasnya, namun tiba-tiba Lia datang dengan napas ngos-ngosan.


"Habis jogging lo?" Cibir Mila saat melihat Lia yang sedang mengelap keringat di wajahnya.


"Yeee enak aja lo ngomong!" Balasnya mendengus.


"Trus ngapain lo lari-larian, hah? Kan bel masuk masih lama?" Bingung Mila.


Seketika Lia langsung berhenti mengelap keringatnya dan menatap Mila dengan mata melotot.


"Mil! Mil! Mil! Gawat sumpah gawat!!" Pekiknya heboh sendiri, untunglah kelas masih sepi.


"Apaan, sih?!" Mila jadi ikut panik sendiri.


Lia menarik napas panjang sebelum menceritakan apa yang akan diberitahukan pada Mila. "Lo tau Jino leader geng Bastar dan temen-temenya yang gue ga tau namanya, mereka itu pindah kesekolah ini. Kalo sampai ketemu Gio alamak sekolah kita pasti bakal hancur!" Jelas Lia panjang kali lebar kali tinggi.


Mila langsung panik apalagi setelah kejadian semalam dimana mereka bertarung mati-matian.


"Kok bisa sih, kenapa mereka pindah kesini?" Tanya Mila entah kepada siapa.


Mila diam memikirkan kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.


***


Bel istirahat telah berbunyi, semua murid berbondong-bondong pergi ke kantin.


Mila dan Lia sedang berjalan memasuki kantin namun seketika suasana nya sangat mencekam.


'lni kantin apa kuburan sepi amat!' Batinya.


Bagaimana bisa ramai jika didalamnya dihuni dua singa yang sedang murka. Yap! Gio dan Jino.


Mereka saling pandang dengan tajam meskipun jarak meja mereka lumayan jauh, dan anehnya murid lain tidak ada yang berani duduk di meja kantin karna takut kena imbasnya, mereka hanya membeli makanan lalu membawanya ke kelas masing-masing. Sebesar itu kah pengaruh mereka?


Bayangkan satu kantin hanya diisi delapan orang. Yaitu geng Gio dan geng Jino. Tapi entah mengapa justru banyak murid yang mengerubungi kantin hanya untuk sekedar melihat mereka. Mila mendengus geli, aneh.

__ADS_1


Mila berjalan tegang, entahlah tiba-tiba tubuhnya menegang apalagi saat melewati meja mereka. Mila sebisa mungkin bersikap biasa saja agar tidak ada yang mencurigainya, Lia pun sama tegangnya meskipun Mila jauh lebih tegang.


Mila memesan nasi goreng untuk dibungkus sama seperti murid lain, bagaimanapun juga Mila juga merasa takut.


Saat Mila dan Lia hendak keluar kantin seseorang mencekal tanganya.


"Lo disini temenin gue!" Perintah Jino tak terbantahkan.


Jino melirik Lia tajam seolah mengusirnya.


"Eh, a-anu..Mil gue kay..kayaknya mau ke toilet deh." Ucap Lia gagap lalu ngacir pergi begitu saja.


Jino menarik tangan Mila lalu membawanya duduk disalah satu meja yang berbeda dengan meja sahabatnya, sontak itu menimbulkan tanda tanya besar untuk semua siswa disana yang sedari tadi menyaksikanya.


Gio nampak tidak terima kalau Mila duduk berdua dengan Jino alhasil dia pun bangkit dan berjalan ke bangku Jino lalu duduk di sebelah kiri Mila karna disebelah kananya ada Jino.


"Ngapain lo kesini?!" Tanya Jino nyolot.


"Lah ... suka-suka gue lah, emang ini sekolah nenek moyang lo!" Ketus Gio kurang santai.


"Meja masih banyak, pergi lo!" Usir Jino.


"Gue bilangkan su-ka-su-ka gue!" Jawab Gio dengan mengeja akhir kalimatnya.


Semua orang disana sudah menerka-nerka kalau mereka pasti akan berkelahi, bahkan sahabat Gio dan Jino sudah mengambil ancang-ancang untuk saling pukul.


Mila malah jengah sendiri disini, yang paling dirugikan adalah dirinya.


BRAK!


Suara gebrakan meja itu sontak menjadi pusat perhatian semua orang.


"Gue ga peduli ya kalian itu leader geng Bastar dan Lion. Tapi selama disekolah kalian itu cuma murid biasa, dan kalau mau tawuran jangan disekolah, sana di luar sekolah kalian bebas tawuran sesuka hati. Dan disini gue mau makan kalo kalian ga bisa tenang pergi sana!" Akhirnya Mila mengeluarkan unek-uneknya, entah kerasukan setan dari mana tapi sungguh Mila sendiripun juga hampir tidak percaya dengan apa yang dilakukanya.


Semua orang disana langsung melongo tidak percaya, baru kali ini mereka melihat dua orang leader geng motor yang paling disegani dimarahi seorang cewek.


Sedangkan Gio dan Jino mereka langsung diam dengan raut wajah yang sulit diartikan, tapi mereka tidak berniat membalas ucapan Mila dan malah duduk anteng seperti anak anjing yang patuh pada majikanya. Semua murid yang melihat itu hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, mereka pikir setelah ini Gio dan Jino bakal memarahi Mila namun nyatanya salah besar.


Sedangkan Mila sudah bodo amat dengan tatapan semua orang padanya, yang penting saat ini dirinya harus segera menghabiskan makananya dan segera pergi dari tempat terkutuk ini.

__ADS_1


***


TBC.


__ADS_2