
VOTE.
"Bi."
"..."
"Bi....."
"..."
"Ihh ABIIIIII!!!!!!" Pekik Mila di telinga Abi.
"Paan sih, Mil!" Balasnya ketus.
"Makanya kalo di panggil tuh nyaut!" Kesal Mila bersungut-sungut.
Abi hanya diam tidak merespon. Fix! Abangnya dalam mode marah.
Sepulang sekolah tadi Mila langsung menghampiri kamar Abi, namun Abi hanya mendiamkanya. Membuat Mila terus-terusan mengganggunya.
"Bi lo marah yha sama gue?" Tanya Mila pelan.
"Lo pikir aja sendiri Mil!" Suara Abi naik satu oktaf lalu berdiri dan pergi dari kasur.
Mila memeluk Abi dari belakang, Mila sudah sesenggukan di punggung Abi.
"Ma..maaf Bi, jangan marah hiks.." suaranya sudah sangat parau.
Abi menghela nafas berat, kalo sudah begini dia tidak bisa mendiamkan Adiknya lagi. Dia membalik tubuhnya lalu merengkuh tubuh mungil Mila, mendekapnya erat sesekali mencium puncak kepalanya.
"Jangan nangis lagi, biasanya lo ga cengeng kok sekarang jadi cengeng sih." Sindirnya.
Mila mengurai pelukan mereka. Menatap mata hazel Abi. "habisnya gue ga bisa kalo lo marahin gini." Jujurnya memberengut.
Abi yang gemas pun mencubit pipi Mila. "makanya sesekali nurut kek sama gue!" Ucapnya dengan nada sebal.
Mila mendengus kecil, "tapi kan gue cinta Bi sama Gio, lo sih ga tau rasanya jatuh cinta." Mila dengan nada sarkasnya itu lalu berjalan ke arah balkon.
Abi menghembuskan napas berat. "yaudah apa mau lo sekarang?" Tanya Abi pasrah.
Mila menatap Abi antusias. "gue boleh pacaran sama Gio?!" Tanya Mila terlampau semangat.
Abi yang melihat kesenangan Adiknya jadi tidak tega mengecewakanya, mungkin Gio tidak seburuk perkiraanya. Sepertinya dia harus memberi Gio kesempatan.
Abi menganggukan kepalanya yakin. Mila melotot tidak percaya. "SERIUS?" Pekiknya heboh.
Abi tersenyum lalu merangkul bahu Mila dengan sebelah tangannya. "tapi gue harus uji dia dulu." Katanya dengan senyum aneh.
Mila memicingkan mata curiga. "Lo ga bakal ngapa ngapain Gio, kan?" Tuduh Mila.
__ADS_1
Abi hanya mengangkat bahunya acuh. "Lo ngaku gak mau ngapain!" Mila sudah menarik-narik baju Abi.
Belum sempat Abi menjawab sudah terdengar suara Resti dari lantai bawah.
"ABI, MILA CEPET TURUN MAKAN MALAM!" Teriak Resti sudah menggemparkan seluruh rumah.
Abi memanfaatkan kesempatan ini untuk lari dari Mila.
"Dasar ****!" Kesal Mila sambil menghentakkan kakinya.
***
Mila berjalan memasuki kantin sambil fokus ke layar HP-nya. Tiba-tiba Abi datang dan menarik tangan Mila lalu membawanya duduk di kursi. Mila melongo, ada apa dengan Abangnya? Bahkan seisi kantin juga melongo, desas desus gosip miring sudah berhembus.
'Gila tuh Mila, udah pacaran sama Gio. Abi juga diembat.'
'Wah sok kecakepan emang Mila. Beraninya duain bebeb Gio'
'Wah kalo Gio tau pasti seru nih!'
Begitulah kurang lebih gosip yang dapat Mila dengar. Mila mulai merasa risih.
"Bi, lo ngapain sih ngajakin gue duduk berdua, kan jadi gosip!" Kesalnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lo inget kan rencana gue semalem, nah lo ngikut aja pokoknya!" Abi tersenyum aneh.
Mila hanya menggedikkan bahu acuh, yang penting Abangnya sudah merestui hubunganya.
"Oke rencana dimulai." Gumam Abi dengan senyum misterius.
Mila mengernyit bingung karna tidak tau menahu soal rencana Abi. "Hah?" Mila membeo bingung.
Tanpa aba-aba Abi langsung memeluk Mila dan mencium keningnya. WHAT THE HELL? Semua orang dikantin langsung syok bukan main. Tak terkecuali Mila sendiri yang berkedip-kedip linglung di tempatnya.
Gio melotot lebar, kemarahanya sudah meluap-luap. Dia lalu langsung melepas pelukan Abi dan Mila secara paksa dan menonjok wajah Abi keras. Dan Jino juga ikutan menonjok Abi. Jadilah Abi dikeroyok Gio dan Jino. Abi diam tidak melawan karna ini memang rencananya. Sedangkan Mila? Dia sudah megap-megap dengan mata yang melotot horor.
"*******! LO ITU SAHABAT GUE TAPI APA HAH?! LO HIANATIN GUE!" Bentak Gio sangat murka sambil terus menghujani Abi dengan tinjuanya.
Bugh! Satu pukulan mendarat di perut Abi membuat Abi sempat mengejang sesaat.
"GUE GA RELA LO SENTUH MILA!" Bentak Jino.
Bugh! Satu pukulan lagi mendarat di wajah Abi sampai membuat hidungnya berdarah. Anehnya meski tidak akur, tapi Jino dan Gio bisa sangat kompak disaat seperti ini.
Dan begitulah sampai seterusnya, guru-guru pun sudah mencoba melerai namun percuma, kekuatan mereka tak sebanding. Seisi kantin heboh. Bagaimana tidak heboh ketika most wanted mereka memukul sesama most wanted yang tidak lain tidak bukan adalah sababatnya. Memang cinta itu buta dan ... gila.
Mila yang tidak tega melihat keadaan Abangnya pun langsung berlari menembus kerumunan lalu memeluk tubuh Abi erat. Semua orang disana menatap Mila tidak percaya.
Pasalnya Mila memeluk Abi didepan pacarnya, dia sudah ketahuan selingkuh tapi masih membela selingkuhanya. Padahal yang mereka pikirkan sudah salah paham tingkat dewa.
__ADS_1
"STOP KALIAN PUKULIN ABI!" Bentak Mila menatap tajam Gio dan Jino yang sudah acak-acakan itu.
Gio menatap Mila tidak percaya. "kamu lebih milih dia daripada aku, Mil." Ujar Gio dengan nada lirih diakhir kalimatnya. Suaranya sudah sangat serak hampir tak terdengar.
"Jelas lah! Gue lebih pilih Abi ketimbang lo!" Ketusnya sambil menunjuk Gio. Bahkan Mila sudah memakai bahasa lo-gue dengan Gio.
Hati Gio langsung mancleos seketika. Rasanya sakit hati ternyata begini ya .... lebih sakit daripada di sayat pisau. Hatinya sudah sangat sesak.
"Apa Mil salahku sampek kamu selingkuh sama sahabatku sendiri?" Kali ini Gio meneteskan air matanya dan itu didepan semua murid dan guru. Gio sudah tidak memikirkan tentang harga diri atau apalah itu, karna hatinya sudah benar-benar sakit.
Dirinya sangat kecewa.
Semua murid menatap Gio kasihan dan tidak percaya, karna seumur-umur mereka tidak pernah melihat Gio menangis.
Abi yang melihat ketulusan Gio pun tersenyum tipis lalu mulai berdiri. Meski dengan tertatih-tatih.
"Gue restuin kalian." Ucap Abi tiba-tiba.
Semua orang bingung, heran, melongo, bahkan sampai mengira Abi sudah kesurupan.
"Hah?!" Gio menatap Abi bingung.
Abi mendekati Gio dan menepuk bahunya dua kali sambil tersenyum tipis.
"Gue Abangnya Mila, lebih tepatnya kembaran Mila." Jelas Abi dengan sedikit terbatuk-batuk karna perutnya sangat ngilu.
Deg!
Tolong lenyapkan Gio dari bumi saat ini juga!
"L-lo Abangnya Mila?" Gio hampir kehilangan rohnya.
"Ya, gue Abang kandungnya." Terang Abi.
Mila yang bingung pun ikut menyahut.
"Abi kan emang Abang gue, emangnya kenapa?" Tanya Mila dengan wajah tanpa dosanya.
Dan rasanya semua orang di kantin itu ingin menerkam Mila hidup-hidup.
Abi mendekati Adiknya itu lalu menggeleng kecil. "ga pa-pa kok, Mil." Balas Abi.
"Yaudah ayo Bi ke UKS, biar gue obati lukanya." Mila menarik Abi keluar kerumunan. Dan berhenti sejenak untuk menoleh kebelakang.
"KALIAN BERDUA AWAS AJA, GUE BAKAL KASIH PELAJARAN. BERANINYA KALIAN PUKUL ABANG GUE!" Mila lalu melangkah bersama Abi meninggalkan Gio dan semua murid dengan segala kekagetanya.
'Ini yha yang namanya cemburu salah alamat. Arghhh sial!' Batin Gio kesal dan malu yang menjadi satu.
*****
__ADS_1
TBC.