
VOTE.
Mila menunduk dalam. Di depanya ada Jino yang kini tengah memandangnya intens. Setelah kejadian super duper memalukan tadi Mila langsung berlari ke halte, bodoh! Karna Jino dengan mudah langsung menemukanya dan membawanya ke tempat yang entahlah Mila juga baru pertama kali datangi, seperti di bukit.
"Mil dari tadi kok nunduk mulu sih, aku kayak sama patung aja." Jino menghela nafas pelan.
Mila makin menunduk dalam.
"Padahal tadi aja udah berani ci--ADUH!!" Mila langsung menjambak rambut Jino, benar-benar dijambak sungguhan. Biar tau rasa!
"ADUH..MIL SA..KIT!" Teriak Jino merintih-rintih.
"MAKANYA JANGAN DIBAHAS LAGI!" Pekik Mila sangat keras setelah melepaskan jambakanya, mungkin setelah ini Jino harus pergi ke dokter THT.
Jino tidak marah ataupun kesal, dia malah terkekeh sambil mengelusi kepalanya. Mungkin yang sedang jatuh cinta itu begini. Sudah buta, lama-lama edan.
"lya iya, aku gak bakal bahas soal ci--iya iya gak dilanjut." Melihat ancang-ancang dari Mila, Jino pun langsung memotong ucapanya sendiri.
Mila mendengus keras. Biar denger sekalian tuh orang. "tau gini aku gabakalan cium kamu tadi!" Kesalnya sambil bersidekap.
"Tadi siapa yang suruh gak bahas, kok kamu jadi bahas soal itu." Jino menatap Mila yang ada disebelahnya. Mereka kini duduk tergelosor di tanah memandang langit senja yang berwarna jingga.
"Terserah aku dong. Wanita selalu bener kalo salah kembali ke pasal utama!" Jawab Mila tegas tidak lupa dengan pelototan mautnya, yang malah membuat Jino tambah gemas, aduh ... jadi pengen cepet halalin, kan.
"Iya deh iya, yang salah selalu cowok." Kata Jino ngalah.
Mila mengangguk setuju. "tuh tau!"
Hening.
__ADS_1
Mendadak suasananya jadi awkward begini.
"Mil.."
Mila menoleh cepat. Jino memandang Mila intens dengan raut serius, berbeda 180 derajat dari yang tadi.
"Iya?" Jawabnya. Meski dengan menahan gugup.
Jino tersenyum lalu memeluk Mila erat. Diletakkanya kepalanya di ceruk lehernya, aroma strawberry yang selalu memabukkan merupakan candu utamanya.
"I love you.." bisiknya parau.
Mila sedikit tersentak, kenapa Jino mendadak romantis begini sih. Apalagi suasana yang sangat mendukung sebab hanya ada mereka di sini, kan jadi horor.
Mila menarik napas nya dalam. Kenapa jantungnya jadi diskoan begini coba.
Mila bisa merasakan Jino semakin mempererat pelukanya. Jino mengangkat tubuh Mila lalu mendudukanya di atas pahanya. Dengan sangat mudahnya, memang kekuatan leader geng Bastar ini tidak bisa dianggap remeh. Jino lalu memundurkan kepalanya dari ceruk leher Mila namun masih enggan melepaskan pelukanya sehingga wajahnya sangat dekat dengan Mila, bahkan mereka bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing.
Wajah Mila sudah sangat merah dengan posisi seintim ini. Bahkan Mila juga bisa melihat wajah Jino yang sedikit merah muda. Apakah Jino blushing? Entahlah.
Jino mengangkat sebelah tanganya mengelus pipi Mila lembut namun sebelah tanganya lagi masih mendekap pinggang ramping Mila.
Perlahan Jino memejamkan matanya lalu mulai mendekatkan wajahnya ke arah Mila. Pelan-pelan dan semakin dekat.
Mila bisa merasakan gedoran jantungnya yang sedang menggila. Jangan bilang Jino mau ...
Cup.
Akhirnya bibir lembut Jino berhasil menubruk bibir mungil Mila. Tangan Jino perlahan naik ke belakang leher Mila.
__ADS_1
Bibir mereka hanya menempel, jangan harap ada panggutan atau hisapan. Karna Jino juga hanya ingin menempelkanya saja. Jino melakukan ini atas dasar cinta, bukan nafsu.
Mila mulai memejamkan matanya rapat. Dicium pria tampan dengan suasana begini bisa membuat pikiran Mila bahaya seketika.
Jino yang merasa cukup mulai memundurkan bibirnya lalu menempelkan dahi mereka. Mila yang perlahan membuka matanya bisa melihat mata Jino yang jaraknya sangat dekat denganya kini tengah memandangnya lembut.
"You're mine." Ucapnya lirih. "Selamanya kamu gak akan pernah bisa terlepas dari aku." Lanjutnya.
Mila tersenyum lalu melingkarkan tanganya ke leher Jino.
"Yes, l am mine's you." Jawab Mila lembut, "dan selamanya aku gak akan pernah ninggalin kamu." Lanjutnya lalu menenggelamkan kepalanya ke leher jenjang Jino.
Yang bilang kalau pria berdada lebar merupakan peluk-able benar sekali. Mila bisa merasakanya sekarang, padahal dia sering dipeluk Abi tapi bawaanya tidak pernah begini. Efek cinta memang luar biasa.
Aroma khas Jino yang sangat manly sungguh membuatnya nyaman.
"Aku gak nyangka bisa suka sama gadis apalagi setelah prinsipku tidak akan jatuh cinta setelah melihat kedua orang tuaku." Jino berbisik parau.
"Tapi setelah melihat kamu, semua persepsiku berubah seketika. Kalo gak selamanya cinta menyakitkan, buktinya sekarang aku bahagia. Sangat bahagia!" tambahnya.
"Aku juga gak nyangka bisa ada disini sekarang sama kamu. Padahal dulu aku pacaranya sama Gio, tapi malah sekarang sama kamu." Mila meringis sendiri saat membayangkanya.
"Kita seperti takdir yang sudah digariskan dari awal." Terusnya lalu mempererat pelukanya dan mulai memejamkan matanya. Sungguh ini sangat menyenangkan. Dipeluk pacar tercinta di antara tenggelamnya matahari senja. Apakah ada yang lebih menyenangkan dari ini? Mila rasa tidak.
Dan ke dua anak adam dan hawa itupun terus mempertahankan posisinya, menikmati masa muda yang penuh lika-liku namun semuanya tentu menghasilkan sesuatu yang sangat indah nantinya. Seperti saat ini.
AND
(Thanks semua ... )
__ADS_1