
VOTE.
Pagi ini Mila berjalan menyusuri koridor sekolah nya sendiri, temanya sudah berangkat lebih awal. Sambil terus menunduk memainkan HP-nya itu, Mila tidak mengetahui ada seseorang yang tengah berjalan di depanya.
Brak!
"Eh!!!" Pekiknya sambil mengelus jidatnya yang terbentur sesuatu di depanya itu.
Mila mendongak, melihat siapa yang ditabraknya dan ternyata dia ... Gio. Disampingnya pun sudah ada teman-temanya. Bram, Abi, dan Dino. Mila berjalan mendekati Gio yang masih berdiri sambil menatap tajam dirinya itu.
Mila meringis meratapi nasibnya, pagi-pagi sudah sial saja. "sorry ... yha Yo, gue tadi ga sengaja." Mila tersenyum kaku di hadapan Gio sambil menggaruk pipi nya yang aslinya tidak gatal itu.
"Hm." Gio hanya berdehem kemudian berjalan pergi.
Begitu saja? Mila melongo.
"Wah lo beruntung hari ini. Biasanya kalo ada yang berani tabrak Bos dia pasti langsung kesetanan hahaha ...
a-aduh!" Belum selesai Dino tertawa, Bram langsung menonjoknya kemudian menyeretnya pergi dari sana.
"Gue duluan. Lo hati-hati." Abi mengelus pucuk kepala Mila sejenak kemudian menyusul teman-temanya pergi.
Mila hanya tersenyum kemudian mengangguk.
Karna bel yang sudah berbunyi, Mila pun memutuskan untuk beranjak dari sana.
***
Lia menyeret tangan Mila tergesa-gesa. Mila sudah berulang kali menanyainya tapi diacuhkan oleh Lia.
"Sakit, Li!!" Teriak Mila berhasil membuat Lia berhenti menyeretnya.
Lia menatap Mila dalam-dalam dan kemudian matanya berkaca-kaca.
Mila yang menyadarinya langsung memeluk sahabatnya itu merasa bersalah.
"Gue ... gue ga berniat bentak lo tadi. Sorry yha." Katanya merasa bersalah.
"Hikss .. Mil ikut gue yha ...hiks, gue mau curhat ke lo." Lia melerai pelukanya kemudian menatap Mila serius.
Mila hanya mengangguk kemudian Lia menggandeng tanganya dan membawanya pergi.
.
.
.
"Bos, geng Bastar nantangin kita." Ucap Bram setelah melihat notifikasi HP-nya.
Gio yang tadi duduk santai di kursinya itu langsung menggeram kesal.
"Kapan?" Tanyanya dengan suara rendah yang sangat dingin.
"Minggu depan di lapangan kota. Jam 24:00." Bram berjalan mendekat.
__ADS_1
Gio hanya tersenyum sinis, "gue terima tantanganya." Kemudian beranjak keluar kelas entah kemana.
Abi hanya membaca buku tanpa berniat ikut campur urusan mereka. Meskipun nantinya pasti dia akan ikut tawuran juga, sih.
"Wah ... asik nih! Udah lama gue ga berantem!" Apaan lagi ini Dino, konyol benar otaknya. Ketika sahabatnya sedang serius-seriusnya dia malah tersenyum lebar.
Sinting kali tuh bocah!
.
.
.
Gio menyalakan pemantik api nya kemudian mulai menyesap rokoknya. Sekarang dia sedang berada di roftoop yang pastinya tidak akan ada guru yang akan mengetahuinya.
Gio mengepalkan tanganya kuat sampai buku jari nya berubah putih. Urat nya menonjol di sekitar pelipis dan rahangnya mengeras.
"Sial!" Desisnya lalu menonjok keras tembok sampai tanganya memerah.
Tanpa disadarinya sedari tadi Mila memperhatikanya. Mila berada di roftoop juga karna tadi Lia curhat kepadanya di roftoop namun Lia sudah pergi duluan. Mila masih stay disana karna harus meredam emosinya, gimana nggak emosi saat dia harus melihat Lia menangis sejadi jadinya karna telah diselingkuhi oleh pacarnya. Tapi kenapa jadi Mila yang marah, ya?
Dan tanpa sengaja Mila melihat Gio disana.
Mila berjalan mendekati Gio lalu memegang tanganya yang memerah itu.
Gio hampir terjungkal saking kagetnya.
"Harusnya punya tangan tuh dijaga bukan malah di sakiti." Ujarnya sambil menatap Gio sayu.
Gio reflek menarik tanganya dan membuang muka asal. Tidak lupa dia langsung menginjak putung rokoknya dengan sepatunya itu.
Mila menatap kedepan tanpa berniat membuka suara lagi.
"Ngapain lo disini?" Gio membuka suaranya.
Mila menatap Gio yang berada beberapa jengkal disampingnya itu lalu menghela napas pelan. "Lagu ngeredam emosi." Jujurnya.
Gio mengangkat alisnya bingung.
"Pokoknya ada lah. BTW lo kok kayaknya lagi kesel gitu, sih?" Mila mengganti topik pembicaraan karna takut emosinya akan memuncak lagi. Ngomongin soal keadaan Gio sekarang, bentukanya udah macam bad boy di pilem-pilem aja.
"Bukan urusan lo!" Gio tidak bisa jujur karna ini adalah hal yang kurang baik untuk diceritakan menurutnya.
Mila hanya manggut-manggut kemudian menarik tangan Gio.
"Ikut gue!"
Gio hendak mengelak namun sudah kedahuluan Mila. "Gak ada bantahan!"
Dan anehnya Gio hanya menurut saja.
Mila membawa Gio ke UKS tentunya untuk mengobati luka ditanganya. Dengan telaten dirinya mengobati luka di tangan Gio bahkan Gio pun sampai tidak berkedip menatap Mila.
Kalau dari dekat, mukanya tambah cantik astaga.
__ADS_1
"Udah selesai!" Seru Mila sontak membuat Gio membuyarkan lamunanya.
Mila duduk disebelah Gio lalu menatap cemas Gio. "Yo." Panggilnya.
Yang empunya nama pun menoleh kearah nya dengan bingung. "kenapa?"
"Gue boleh minta sesuatu nggak ke lo." Katanya dengan sangat pelan.
Gio hanya berdehem kecil untuk mengiyakan, meski aslinya dia sangat penasaran dengan apa yang akan Mila katakan nanti.
"Tolong lain kali jangan lukain diri lo sendiri. Gue tau gue bukan siapa-siapa lo, tapi ... nggak tau kenapa rasanya gue sedih aja kalo lihat lo sampai terluka." Mila dan Gio saling bertatapan. Bukanya mau modus atau apa, tapi memang pada dasarnya Mila tidak akan tega melihat siapapun yang terluka. Bahkan hewan di jalan yang terluka pun akan dia obati. Setulus itu memang dirinya.
Deg ... deg ... deg..
Sumpah demi apapun tubuh Gio rasanya mati rasa. Ini pertama kalinya Gio merasa seperti ini dengan cewek.
Gio hanya mengangguk karna mulutnya sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Mila yang melihatnyapun tersenyum senang. "Yaudah kalo gitu gue duluan ya, kayaknya bentar lagi masuk." Mila menuruni brankar kemudian berjalan keluar UKS meninggalkan Gio yang masih cengo itu.
Sedangkan ditempatnya, Gio masih tidak percaya dengan kejadian barusan.
"Anjing kenapa gue jadi lebay gini, deh!" Umpatnya sambil menjambaki rambutnya.
*****
Bel pulang sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Namun Mila masih berada di halte karna belum ada satupun kendaraan umum yang lewat.
Mila mendesah frustasi, dia sudah kelaparan badanya pun sudah pegal pegal tapi kenapa ga ada transportasi gini, sih! Salahnya juga sih tadi sok-sokan ghibah sama temanya dulu, kan jadi ketinggalan bus dirinya.
Tanpa sengaja Jino melewati jalan itu, tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang tak asing di halte itu. Dia kemudian memutuskan menepikan motornya untuk menghampirinya.
"Mil!" Panggilnya sambil berjalan mendekat.
Mila mendongak menatap orang yang berada satu meter di depanya itu. Mila sepertinya kenal dengan orang ini.
Yang ganteng gini, kayaknya Mila tau siapa namanya.
"Jino, kan?" Tanyanya untuk meyakinkan.
"Iya, ngapain lo disini?" Jino ikut duduk disebelah Mila yang kebetulan sedang kosong.
"Nungguin bus, angkot atau apalah gitu. Pokoknya bisa nganter gue pulang." Mila menggerutu sendiri karna kesal. Efek lapar kadang suka membuatnya jadi badmood mendadak.
Sedangkan Jino yang melihatnya malah terkekeh sendiri. "Yaudah gue anter mau?" Tawarnya.
Mila ingin sekali mengiyakan. Tapi dia kan ga kenal dengan Jino, gimana jika dia ... orang jahat. Ntar Mila di culik, dong.
"Udah mikirnya ga usah lama-lama. Gue bukan orang jahat." Jino seperti bisa membaca pikiran Mila. Atau memang karna ekspresi Mila yang terlalu ketara itu.
Mila mengangguk kaku karna memang dirinya sudah capek menunggu.
Mila menaiki motor sport yang tinggi itu dengan bantuan Jino. Lalu Jino pun melajukan motornya menuju rumah Mila setelah mendapatkan alamatnya.
Dan anehnya Jino merasa senang dengan kehadiran Mila, apa-apaan ini?!
__ADS_1
***
TBC.