
VOTE.
"Ini..." ucapan Mila menggantung begitu saja.
"Base camp gue." Jelas Gio seolah tau pikiran Mila.
Mila hanya manggut-manggut, lalu Gio menariknya masuk kedalam, tidak jauh beda seperti di base camp Bastar tadi semua orang diruangan ini juga menatap Mila dengan tatapan tidak bisa diartikan.
'Kenapa gue daritadi ketemu orang banyak mulu, yha?'
"Hay." Sapa Mila sambil tersenyum kikuk.
Semua orang diruangan itu langsung heboh, ada yang menggodanya, memujinya, penasaran, dan sebagainya.
"Kenalin Mil, mereka anggota geng gue." Gio memperkenalkan mereka yang langsung dibalas anggukan oleh Mila.
"Kenalin gue Mila Kinara, panggil aja Mila." Ucap Mila memperkenalkan diri.
Wih pacarnya si bos inimah!!!
Eh ... kalo ngomong suka bener.
Dasar lo nyet!
Cantik ****, coba pacar gue kayak gitu.
Makanya ngaca sono!
Anjing!!!
Mungkin begitulah sedikit banyak omongan mereka yang bisa Mila dengar. Entah kenapa tapi Mila lebih nyaman di tempat ini ketimbang di tempat Jino. Alasanya? Mila juga ga tau.
"Mil duduk." Mila menuruti dan duduk di sofa panjang yang berada ditengah. Semua orang sudah sibuk dengan kegiatanya masing-masing.
Tidak lama Bram, Abi, dan Dino datang.
Mereka menatap Mila aneh lalu beralih ke Gio yang malah asik bermain ML itu.
"Wih si Bos gas poll!!" Pekik Dino lalu duduk di depan Mila.
"Emangnya lo cemen!" Cibir Bram yang langsung ditoyor oleh Dino.
"Kutu kupret lo!" Kesal Bram lalu beralih ke Mila.
"Kenalin Mil gue Bram." Ucapnya ramah.
"Gue Dino trus nih..." tunjuk Dino pada Abi yang sedang sibuk dengan bukunya.
"Si kutu buku Abi." Lanjutnya.
"Gue Mila." Mila tersenyum ramah seperti biasa.
Mila memandang Abi dan ingin sekali berbicara kepadanya tapi Abi mengisyaratkan seolah tidak ingin diajak bicara, jadi mau tidak mau Mila harus pura-pura tidak kenal dengan Abi.
"Ikut gue!" Gio menarik tangan Mila mendadak membuatnya kaget.
"E-eh kemana?!"
Gio tidak menjawab dan hanya menarik tangan Mila, sehingga mau tidak mau Mila mengikutinya.
Gio membawa Mila ke motornya lalu mulai melajukanya membelah jalan ibu kota yang tidak macet itu untungnya.
Gio dengan kencang melajukan motornya membuat Mila reflek memeluk perut six pack Gio erat dengan mata yang sudah terpejam rapat. Gio yang melirik dari spion malah merasa gemas sendiri.
__ADS_1
Sekitar 15 menitan akhirnya motor Gio berhenti. Mila turun dari motor dan langsung mengedarkan pandanganya.
"Mall?" Tanya Mila bingung.
"Gue mau beli sesuatu." Jelas Gio lalu menggenggam tangan Mila masuk ke toko buku yang ada di sana.
Gio sangat serius mencari buku sedangkan Mila malah mengagumi ciptaan tuhan yang sangat indah ini, wajah Gio semakin dekat semakin terlihat pula mulusnya.
Gio yang merasa diperhatikan pun menoleh kearah Mila.
"Gue tau gue ganteng tapi ga usah di lihatin gitu juga kali." Cibir Gio membuat Mila reflek mengalihkan pandanganya ke rak buku.
"Pede!" Kesalnya.
Gio hanya terkekeh lalu mengambil satu buku yang sedari tadi ia lihat.
"Ayo kekasir gue udah dapet bukunya."
Setelah mendapatkan bukunya Gio membawa Mila ke restaurant yang tidak jauh dari sana. Mereka kok kayak orang kencan, ya.
"Pesen apa?" Tanya Gio menatap Mila yang tengah mengedarkan pandangan itu.
Mila diam sejenak menatap menu,
"Kentang goreng sama vanilla latte aja." Jawabnya lalu menatap Gio.
"Kentang goreng dua, vanilla latte satu, sama jus mangga satu." Jelas Gio pada pelayan yang menunggunya.
Tidak lama makanan pun datang, Mila langsung memakanya dengan lahap karna memang dirinya belum makan sejak pagi.
Gio yang melihatnya hanya geleng kepala, pasalnya Mila adalah gadis yang tidak jaim seperti gadis lain. Dan Gio suka itu.
Eh ... apa tadi katanya?!
"Gue tuh kelaperan, dari pagi belum makan." jawab Mila masih asik mengunyah. Gio hanya tersenyum singkat melihatnya.
Setelah menyelesaikan ritual makanya mereka bergegas pergi dari mall itu.
"Pulang?" Tanya Mila sambil mendongak menatap Gio yang jauh lebih tinggi darinya itu.
"Iya udah sore juga."
Mila hanya mengangguk setelahnya motor Gio melaju menuju rumah Mila.
Eh, sekali lagi Mila lupa. Darimana Gio tau alamatnya?
***
Mila memandangi langit malam yang bertaburkan bintang dan bulan dari balkon kamarnya.
Mila mengingat kejadian sehari ini.
Jino yang baik tapi gengnya kayaknya serem, tapi ramah juga. Emm ... kalo Gio dia cuek tapi baik juga, sih. Eh Jino juga cuek yha? Baiknya cuma ke Mila aja.
Eh tunggu-tunggu ... kenapa tiba-tiba Mila jadi memikirkan mereka sih, Mila langsung menggelengkan kepalanya saat sadar kalau otaknya mulai aneh.
"Tapi kenapa gue bisa berada diantara dua cowok yang sifatnya sama coba?" Mila mendengus sendiri membayangkanya.
Kriet.
Tanpa ketukan, pintu terbuka menampilkan wajah Abangnya, Abangnya memang sesuka hatinya masuk keluar kamar Mila. Dia kira kamar Mila apa coba?
"Bang, ngapain?" Mila mendekati Abangnya yang duduk di kasur king size nya itu.
__ADS_1
"Tumben panggil Abang, biasanya juga panggil nama gue." Mila mendengus mendengar penuturannya itu. Dipanggil nama katanya ga sopan, giliran dipanggil Abang malah diejekin.
Apasih maunya? Pikir Mila kesal.
"Yaudah Abiku sayangku cintaku~ ngapain lo kesini?" Ucap Mila dengan nada sumbangnya lalu diakhiri dengan pertanyaan.
Iya, Abi yang anggota geng Lion itu, dia adalah Abang kandung Mila. Abang kembar tepatnya.
"Najis! Gue kangen lah sama lo." Jawabnya jujur, Abi memang super duper cuek bebek kalo disekolah, tapi kalo sudah berdua dengan Mila begini manjanya masyaallah ga ketulungan.
"Uluh ... uluh .. bisa kangen yaaa." Nadanya dibuat seperti anak kecil kemudian memeluk Abi dari samping. Anehnya bukannya menolak karna risih, Abi malah membalas pelukanya.
Hm, sifat di rumah dan di sekolah bisa beda gitu, ya?
"Mil..."
"Hm."
"Gue mau ngomong serius." Abi melerai pelukanya, kemudian menatap manik Mila intens.
"Kenapa?"
"Lo kan tau, gue sembunyiin identitas lo dari yang lainya supaya lo aman." Mila hanya mengangguk sekali.
"Trus lo kok bisa-bisanya kenal sama Gio?" Lanjutnya.
"Yaiyalah! Gio kayaknya udah kepincut sama gue karna kecantikan gue!" Mila mengibaskan rambutnya sombong.
Abi mendecih, pede amat!
"Trus lo suka sama Gio?" Goda Abi dengan senyuman jahilnya.
Mila terhenyak. Apakah dia suka Gio? Ga deh kayaknya.
"Kok diem, sih?!" Abi memukul lengan Mila membuat lamunanya buyar seketika.
"Eh?!" Kaget Mila.
Abi hanya mendengus sebal.
"Kalo lo suka sama Gio sebenarnya gue masalah sih karna musuh dia banyaknya ga ketulungan."
"Tapi ... bahagia lo adalah bahagia gue, jadi gue ga bakal ngelarang lo sama Gio karna gue percaya Gio pasti bakal selalu jagain lo."
"Dan kalaupun dia berani sakitin lo, dia akan berhadapan sama gue!" Diakhiri desisan oleh Abi.
Mila sampai speechless mendengarnya, itu ... kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Abang nya.
Abi memang over protective terhadap Adik satu-satunya ini. Bahkan disekolah Abi tidak pernah mengatakan kalimat sepanjang ini. Bayangkan Abi yang seorang ice boy, most wanted, cuek, dan
kutu buku bisa secerewet ini? Sungguh ikatan persaudauraan yang kuat.
Cup
Mila melotot kecil karna terkejut mendapat sapuan lembut di dahinya itu.
"Good night, dan gue harap lo pikirin baik-baik keputusan lo nanti." Ujarnya lalu pergi keluar kamar Mila.
Mila diam sesaat lalu lengkungan bulan sabit terbit dari bibir manisnya itu.
"Night too Abangku tersayang."
***
__ADS_1
TBC.