
VOTE.
Mila berjalan memasuki kelasnya yang sudah ramai dengan santai.
"Mil, lo udah sembuh? Sorry yha kemarin gak sempet jenguk." Ujar Lia dengan nada sesal.
"Gue udah baikan kok, iya gapapa." Mila tersenyum santai menanggapi.
Tiba-tiba Jino datang menghampiri Mila.
"Mil lo udah baikan?" Tanyanya cemas.
Mila tersenyum manis. "udah kok."
"Yaudah gue balik ke kelas dulu yha." Jino tersenyum manis lalu melenggang pergi bersama teman-temanya. Sepertinya tadi dia hanya ingin memastikan keadaan Mila saja.
"***** Mil!!" Pekik Lia heboh. Sesaat setelah kepergian Jino.
Mila hampir mengumpat. "Apaan sih Ya, lo kalo ngomong gak bisa santai dikit apa!" Kesalnya.
"Astaga Mil! Jino tadi senyum, oh my god gue gak salah liat kan?!" Sumpah Lia lebaynya ngalahin bencong.
"Emangnya kenapa sih kalo Jino senyum? Biasanya juga sering senyum." Mila menyorot Lia dengan malas.
"WHAT?!" Pekik Lia kaget.
Mila langsung menutup telinganya. "Kayaknya Jino naksir lo deh, Mil." Pupil mata Lia nampak membesar.
Mila melotot tidak suka. "apaan deh, lo kalo ngomong ngasal aja. Jino gak mungkin suka sama gue." Mila melengos pelan.
Lia mendekatkan kursinya ke arah Mila. "coba gue tanya, emangnya lo pernah lihat Jino senyum ke orang lain?"
Mila menggeleng.
"Emangnya lo pernah lihat Jino ramah ke orang lain?" Tanya Lia lagi.
Mila menggeleng lagi.
"Trus lo pernah gitu lihat Jino perhatian ke cewek lain sampai rela datengin kelasnya kayak tadi?" Lagi-lagi Lia memojokkan Mila.
Mila terdiam, lalu menggeleng pelan.
"Itu tandanya Jino care sama lo, Jino tuh suka sama lo Mil. Lo tuh jadi orang peka dikit napa!" Cerocos Lia kayak emak-emak.
Deg.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Lia. Kenapa dirinya tidak pernah sadar? Dasar bodoh!
__ADS_1
"Tapi gue udah pacaran sama Gio!" Mila menyahut tegas.
"Yhaa gue juga tau kali, maksud gue tuh lo jangan kasih harapan kalo lo gak cinta. Apa tuh namanya, em ... PHP. Iya PHP! Lo jangan gitu." Lia memberi Mila wejangan seperti lbu dengan Anaknya.
Mila menunduk. "emang gue kayak kasih harapan?" Tanyanya polos.
Sumpah! Lia gregetan setengah mati. Mila ini kalo soal pelajaran aja mudah pahamnya, lha giliran soal cinta .... kolot banget.
"Ya iyalah! Cowok mana yang gak berharap kalo ceweknya selalu baikin dia, baikin disini bukan baikin biasa tapi lebih ke perasaan." Lia menjelaskan detail. Mila lagi-lagi tertohok, yang dikatakan oleh Lia ... benar juga.
"Yaudah gue bakal lebih jaga jarak sama Jino mulai sekarang!" Putusnya bulat.
***
\=GIO POV\=
Gue sama temen gue lagi asik makan, trus gak sengaja gue lihat Mila sama temenya masuk kantin. Gue panggil aja deh biar duduk samping gue, itung-itung kan bisa modus.
"Mil sini!" Panggil gue lantang.
Mila pun mencari asal suara dan ngelihat gue. Dia senyum lalu jalan ke arah gue. "Duduk sini aja." Gue lalu narik Mila duduk sebelah gue.
"Pesen apa biar aku pesenin?" Kalo boleh jujur aslinya gue agak geli dengan tingkah gue ini. Apa kalo udah bucin itu jadi gini yha?
"Mie ayam sama es jeruk aja deh." Jawabnya.
Setelah itu gue langsung pesenin Mila dan kasih ke dia. Tapi ini cuma perasaan gue aja apa gimana yha? Kok gue ngerasa kalo Mila rada ketakutan.
Setelah gio memesankan makanan untuk Mila. Tanpa sengaja tatapan Mila bertemu dengan Abi.
'******! Kok gue bisa lupa kalau disini ada Abi!' Gerutunya dalam hati.
"Ini Mil pesanan kamu." Gio menyodorkan pesanan Mila.
Mila hanya memandang Gio datar lalu mulai memakan makananya sambil menunduk.
"Mil?" Panggil Gio.
Mila bingung harus jawab gimana, Mila pun memutuskan hanya berdehem.
"Hm?" Sahutnya.
"Kamu kok kayak takut gitu sih? Ada apa coba cerita sama aku?" Tanya Gio menuntut penjelasan.
******! Gio kok peka banget, sih?
"Eh, e-enggak ada apa-apa kok." Jawab Mila gugup.
__ADS_1
Gio memicing curiga, Mila sangat ketara kalau berbohong. "oh yaudah." Gio berpura-pura percaya, tapi lihat saja nanti dia pasti bakal tau penyebab gadisnya ini risau.
"Gue pergi!" Abi berdiri lalu pergi begitu saja setelah mengatakan dua kalimat itu.
"Kenapa tuh Abi?" Celetuk Dino menatap kepergian Abi bingung.
Mereka semua hanya menggedikkan bahunya. "mungkin masih ada urusan kali." Sahut Bram santai.
"Tapi kok gue ngerasa kalau Abi kayak orang lagi kesel gitu deh?" Lagi-lagi Dino mengutarakan pikiranya.
'Sial lo Din, tuh mulut gak bisa apa diem sehari!' Kesal Mila membatin.
"Maksud lo?" Bingung Bram.
"Yha ini sih cuma pendapat gue aja yha, menurut gue dia tuh kayak orang lagi bad mood." Dino mulai menjelaskan.
"Emang kenapa tuh anak bad mood, tadi juga biasa aja?" Heran Bram mengernyit.
"Kayak lagi cemburu." Dino langsung nyeletuk asal.
"Uhuk...uhuk..."
Sepersekian detik Mila langsung tersedak makananya, Gio yang khawatir langsung memberikan Mila minuman.
Mereka semua menatap Mila bingung, kenpa Mila tiba-tiba tersedak.
"Em..gue duluan yha, kayaknya tadi ada tugas." Mila lalu berdiri dan melenggang pergi begitu saja.
"Tugas apa Mil, kayaknya ga ada deh?" Bingung Lia yang memang seperti patung daritadi karna hanya diam saja.
Mila mengkode Lia 'pura pura doang' lewat matanya. Lia yang mengerti pun langsung berdiri cepat. "Eh iya ada tugas, ayo Mil!" Lia sok menepuk jidatnya lalu menarik tangan Mila.
"Aku anter yha?" Tawar Gio.
"Ga usah, aku duluan." Mila dan Lia kemudian berjalan meniggalkan kantin dengan tergesa-gesa.
"Kok gue ngerasa ada yang aneh dari Mila yha." Celetuk Dino dengan pandangan aneh.
Bram dan Gio kompak menatapnya. "iya sih, kayak ada yang ditutupin gitu loh." Kali ini Bram menambahkan.
"Tapi kok menurut gue timing nya pas banget saat gue ngomongin soal Abi." Kali ini Bram dan Gio menatap Dino dengan bingung.
Dino yang mengerti pun mulai menjelaskan. "Gini loh, Abi tadi pergi pas Mila kesini, trus Mila kesedak waktu gue bilang soal Abi yang cemburu. Aneh gak sih menurut kalian?" Ternyata otak Dino cukup encer bila membahas soal beginian.
Gio diam, mencerna ucapan Dino yang menurutnya ada benarnya itu. Apakah Abi dan Mila ada sesuatu? Pikir Gio mulai was-was.
"Gue pergi!" Gio pun memutuskan akan mencari tahu kebenaranya sendiri. Apapun kebenaranya nanti ... dia akan terima konsekuensinya.
__ADS_1
*****
TBC.