My Badboy Boyfriend

My Badboy Boyfriend
Part 13: Di Kantin


__ADS_3

VOTE.


"Ngapain kesini, Mil?" Tanya Gio setelah mereka duduk di rerumputan.


"Dulu waktu gue ada masalah gue selalu kesini. Lo tau ga alasanya?" Tanya mila sambil menatap Gio.


Gio hanya menggeleng.


Mila menidurkan tubuhnya diatas rumput, tidak peduli meski bajunya kotor. "Disini tuh gue selalu adem, tenang, senen deh pokoknya, gue bahagia kalo disini. Karna gue bisa liat anak-anak main rasanya kayak bernostalgia." Jelasnya panjang.


Gio tidak membalas dan hanya memandang wajah Mila dari samping sambil tiduran.


"Jadi gue mau lo kesini supaya bisa sedikit tenang, semua masalah lo lupakan dulu. Oke?!" Mila tersenyum manis, sangat manis sampai membuat Gio tidak bisa melepaskan pandanganya dari Mila.


"Gue seneng bisa kenal lo Mil, tolong jangan tinggalin gue." Gio menatap dalam Mila.


Mila terkekeh mendengarnya. "lo tadi juga udah bilang gitu Yo, lo kenapa sih kok kayak takut banget gue pergi?" Heranya. 


Gio duduk diikuti Mila. "gue ga mau aja lo ninggalin gue kayak Papah gue." Ujarnya sendu sambil menerawang. "eh emang masih pantes gue sebut tuh orang Papah ya? Ngurus anak aja ga pernah. Haha." Gio tertawa miris meratapi hidupnya.


Mila mengelus lembut lengan Gio. "gue ga tau masalah hidup lo apa. Tapi gue cuma ga mau lo sedih, plis jangan kayak gini." Entah dorongan dari mana tapi hati Mila tergerak saat melihat keadaan gio yang menyedihkan.


Gio menoleh kearah Mila lalu menautkan tangan mereka. "thanks Mil, cuma lo orang yang ngertiin gue." Gio tiba-tiba menarik Mila dalam dekapanya dan menyenderkan kepalanya diantara lekukan leher Mila. Gio menyukai aroma Mila yang wangi dan segar, aroma strawberry.


"Udah yuk balik udah sore!" Ajak Mila lalu menarik tangan Gio meninggalkan lapangan.


***


"Huwaaaaa!! OH MY GOD!!" Lia berteriak seperti orang sarap.


"Apasih lo Ya. Pagi-pagi bikin kepala gue mau pecah aja!" Kesal Mila.


Lia seperti biasa hanya cengengesen gaje. "gue kemarin ketemu Jino, MIL!!!" Ucapnya sambil berteriak ga jelas diakhir kata.


Mila bingung deh, sumpah ya bukanya mereka biasa ketemu Jino di sekolah. Lha trus kalo kemarin ketemu apa bedanya? Kali ini Mila merasa Lia lebih pe'a darinya.


"Trus apa bagusnya deh, Ya?" Tanyanya malas.


"Jino kemarin guanteng puakek buanget, Mil!" Ujarnya alay banget. Mila jadi bergidik geli mendengarnya.


"Sebahagia lo deh Ya. Gue iyain aja biar lo seneng!" Ujar Mila malas, lalu setelah itu bel berbunyi menandakan guru akan masuk.


.


.


.

__ADS_1


Bel istirahat sudah berbunyi membuat semua murid seperti biasa berbondong-bondong ke kantin. Padahal perpustakaan lebih penting daripada kantin tapi kenapa anak-anak lebih suka kantin? Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang.


Mila kebingungan sendiri pasalnya semua bangku sudah penuh. Aslinya sih masih ada yang kosong tapi itu diantara cowok, yha kali Mila dan Lia nyumpel-nyumpel? Orang ga ada yang dikenal gini!


"Duh Mil, yuk kita nyumpel aja deh. Masa kita mau makan sambil ngelesot di lantai kan ga lucu!" Ajak Lia.


Mila sih aslinya setuju dengan ucapan Lia, tapi ... harus nyumpel kemana coba?


"Ada yang lo kenal ga Ya diantara mereka?" Tanya Mila sambil melihat gerombolan laki-laki yang membentuk geng sendiri-sendiri itu.


Lia nampak melihat-lihat sekitar. "emm ga ada deh kayaknya. Eh Mil tuh liat di meja Jino ada kursi kosong, kita kesana aja yuk! Lo kan kenal dia." Lia tidak menunggu jawaban Mila dan malah langsung menariknya.


Setelah sampai di meja Jino, Lia mengkode Mila lewat matanya supaya meminta ijin. Padahal tadi Lia yang ngajak. Lah ... sekarang kenapa Mila yang harus ngomong deh.


"Ehm ... No, gue sama Lia boleh duduk disini ga? Soalnya semua kursi udah penuh." Jino menatap Mila datar.


Hening seketika.


Seisi kantin langsung sibuk melihat Mila yang dengan beraninya numpang duduk itu, padahal menyapa Jino saja mereka takut, lha ini ... Mila malah numpang duduk. Membangunkan singa tidur ini mah namanya.


Jino tidak menjawab dan hanya menatap Mila intens. Mila yang merasa dirinya diabaikan langsung memilih untuk pergi saja. Gara-gara Lia dirinya jadi tensi gini kan! "Kalo ga boleh yaudah, gue makan di kelas aja." Saat Mila hendak berbalik tanganya dengan cepat dicekal Jino.


"Siapa yang bilang ga boleh? Duduk aja Mil." Ujarnya datar.


WHAT?! Semua yang melihatnya langsung melongo seketika, yang benar saja biasanya Jino itu kejam ke semua orang yang mengganggunya, bahkan perempuan sekalipun. Tapi kenapa ini nggak?


"Eh Mila, inget gue ga yang waktu itu meluk lo. Hehe?" Tanya Boby.


Mila menoleh kearah Boby yang berada disampingnya. "lo Boby, kan?" Tanyanya.


"Iya, gue Boby. Duh gue seneng deh ketemu lo lagi. Lo sekolah disini?" Boby nampak antusias. Dia beneran ga tau Mila murid sini atau memang cuma basa-basi ya. Entahlah terserah dia saja.


Jino? Mulai menatap Mila dan Boby.


Mila menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "gue mah emang murid sini. Lo sendiri ngapain pindah kesini?" Heranya.


Boby hanya menjawabnya lewat mata yang melirik Jino. Mila pun seolah mengerti. "oalah ngikut doang toh. Kalian ini bestfriend banget deh hahaha!" Mila tertawa begitupun Boby. Mereka nampak asik sendiri.


Jino? Sudah kepanasan.


"Lo pindah sini Bob!" Perintah Jino dingin, yang langsung mengambil atensi semua orang.


Boby langsung kicep, tanpa penolakan dia pindah ke kursi Jino dan Jino menempati kursi Boby. "Lo jangan ketawa didepan cowok lain." Bisik Jino ke telinga Mila.


Lia, Roy, Leo, dan Boby penasaran dengan apa yang dikatakan jino, tapi tidak berani bertanya.


Mila mengernyit bingung. Sebelum sempat bertanya Jino sudah melanjutkan ucapanya. "soalnya gue ga suka lo ketawa buat orang lain. Ketawa lo itu manis hanya gue yang boleh liat." Setelah melancarkan gombalanya, Jino menjauhkan dirinya dari Mila.

__ADS_1


Mila blushing seketika. Bayangin perempuan mana yang ga ambyar kalo digombalin kutub es gini.


"Uhuk ... gue kesedak mangkok Mil. Kenapa tuh pipi kayak kepiting rebus?" Goda Lia membuat Mila reflek menutupi pipinya.


"Ah.. n-nggak kok, mana ada merah!" Elak Mila kelimpungan.


"Wah lo apain anak orang bos sampek blushing gitu?" Tanya roy dengan kekehanya.


Jino hanya menggedikkan bahunya. "gue cuma bilang kalo ketawanya manis dan cuma gue yang boleh liat." Terang Jino jujur. Mila terbelalak tidak percaya, Jino jujur sih boleh tapi ga segininya juga dong!


Mila mencubit pinggang Jino. "aw ... sakit Mil!" Ujar Jino memegang bekas cubitan Mila.


"Makanya jadi orang jangan jujur-jujur amat!" Kesalnya sambil mencebikkan bibirnya.


Jino tertawa kecil melihatnya. "berarti gue harus jadi pembohong dong?" Tanyanya sok polos. Ga sadar apa sama tampang.


Mila berdecak sebal. "sumpah lo kalo begini lebih pe'a daripada Lia." Mila tidak merasa takut menghina leader geng Bastar. Jino pun malah terkikik geli mendengarnya lalu sok merubah ekspresi nya menjadi marah.


"Lo berani hina gue?" Tanyanya menakuti Mila.


Mila menatap wajah dingin Jino namun entah kenapa dia tidak takut.


"Kalo iya kenapa?" Tantangnya.


"Gue bakal hukum lo!" Ujar Jino dengan suara beratnya.


Mila sekarang mulai takut. "kok di hukum sih No. Gue kan bercanda, pliss baikan yha..." pinta Mila seperti anak kecil sambil mengguncang tubuh Jino. 


Jino sudah tidak tahan melihat ekspresi Mila. Karna sejujurnya dia tadi hanya menakut-nakuti Mila saja.


"HAHAHA sumpah Mil wajah lo ngakak banget!" Jino tertawa lepas bahkan Boby, Lia, Leo, dan Roy sampai tidak percaya saat melihat Jino bisa tertawa seperti itu.


Mila yang tau kalau tadi dia dibohongi langsung menginjak kaki Jino keras.


"Rasain tuh! Bye gue ngambek. Jino somplak, nyebelin, jelek. Ayo Ya kita pergi!" Mila menarik Lia pergi dari kantin.


Jino sudah menghentikan tawanya. "anjirr Mila bisa ngelawak ternyata." Gumamnya sambil geleng-geleng kepala.


 


Apakah Jino sadar, kalau itu merupakan tawa lepas pertamanya sejak SMP.


   


***


TBC.

__ADS_1


__ADS_2