
VOTE.
"Mil lo gak pa-pa kan kalo ketemu Gio?" Tanya Jino cemas setelah mereka turun dari motor.
Mila menghela napas lelah. "ga tau juga." Balasnya lempeng.
Jino tersenyum lalu menggenggam tangan Mila erat. "tenang aja, mulai sekarang lo bakal gue jagain!" Tegas Jino.
Mila mengangguk kecil, pasrah saja saat Jino menariknya.
Sialnya di tengah koridor mereka berpapasan dengan Gio. Mila mencoba menguatkan dirinya, Jino pun bisa merasakan genggaman tangan Mila mengerat.
Saat tepat bersimpangan Gio langsung berkata. "Udah pacaran, nih?"
Mila mendadak berhenti lalu menoleh bersamaan dengan Gio. "kamu cuma salah paham aja." Jelas Mila masih mencoba sabar.
Gio terkekeh sinis lalu melihat ke arah pergelangan mereka. "salah paham kok diumbar gitu." Sinisnya.
Mila yang sadar pun dengan cepat melepas genggaman tanganya. "tadi--"
"Udahlah!" Tegas Gio masa bodo.
Mila membeo. Pasalnya mana mungkin Gio bisa berubah sedrastis ini dalam sekejab.
"Yo, kamu kenapa bisa berubah se drastis gini, sih?" Tanya Mila hampir tidak percaya.
Gio memandang datar Mila. "gue capek Mil," Gio nampak mengalihkan pandangan. "gue selalu berjuang buat lo tapi lo biasa aja ke gue. Its oke gue ga permasalahin---"
"Tapi selingkuh? Sorry gue paling benci sama cewek murahan. Lagian ada yang lebih baik buat gue dari pada lo." Jelasnya santai seolah bukan apa-apa langsung membuat dada Mila sangat sesak.
__ADS_1
"Si--siapa?" Tanyanya terbata-bata.
Gio hendak menyahut namun langsung kedahuluan sebuah suara.
"GIO!" Pekiknya.
Semua orang langsung menatapnya. Mila melotot tidak percaya melihatnya.
"Dia." Jawab Gio menjawab pertanyaan Mila tadi.
Mila menggeleng tidak percaya. "gimana bisa? Lia kamu..."
lya! Kekasih Gio sekarang adalah Lia. Sahabat yang sudah dianggapnya saudaranya sendiri.
Gio merangkul Lia mesra. "kenapa emang? Lia jauh lebih baik ketimbang lo!!" Ketusnya lalu mereka pergi.
Dino dan Bram yang sedari tadi menjadi penontan mendatangi Mila.
Mila menggeleng tidak menyangka. "Lia ternyata.."
"Muka dua!" Sahut Dino dengan serius. Kali ini pemuda yang biasanya selalu tampil dengan guyonanya itu mendadak menjadi serius.
"Gue yakin akar permasalahan semua ini itu dia." Sahut Bram.
Bram tersenyum tipis lalu menepuk pundak Mila dua kali. "Mil, lo berhak bahagia. Kalo Gio udah ngecewain lo, lo berhak cari yang lebih baik." Ujarnya dengan melirik Jino disamping Mila.
"Kita duluan." Lalu mereka pergi meninggalkan Mila dan Jino berdua.
"Ayo gue anter ke kelas." Kemudian Jino menggandeng tanganya.
__ADS_1
***
"Mau kemana?" Tanya Mila begitu sampai dihadapan Jino.
Jino mengetuk jarinya lambat ke dagu seolah berpikir keras. "Ke hati kamu boleh, gak?"
Mila mencuatkan bibirnya kesal lalu menjitak Jino sambil tertawa. "Dih kok jadi raja gombal gini sih, lo." Ledeknya.
Jino tersenyum karna berhasil membuat Mila tertawa. "Seriusan mau ke kantin atau mau ke mana?" Kesal Mila.
"Ke belakang sekolah aja yuk!"
"Tapi laper.." rengek Mila sambil memegangi perutnya yang rata itu.
Jino mencubit pipi chubby Mila. "Liat nih, pipi lo udah kaya bakpao."
"Oke, gue gak jadi makan!" Sungut Mila.
Jino terkekeh kecil melihatnya. "Bercanda Mil. Jangan gak makan dong, ntar kekurangan gizi loh, HAHAHA!" Ledeknya lalu dia terpingkal-pingkal sendiri.
Mila menjambak rambut Jino geram. "Jino jelek! Nyebelin!" Kesalnya menggebu. Namun bukanya marah Jino malah lebih terbahak.
'Ini yha yang namanya jatuh cinta? Indah banget.' Batinya sambil memandangi wajah Mila yang sedang merengut itu.
"Aku laper, No." Ulang Mila.
"Tenang aja, tadi gue udah suruh Boby beliin makanan kok." Jelasnya membuat Mila langsung bersorak.
Dan Jino hanya tersenyum lalu mengacak rambut Mila .... dengan sayang.
__ADS_1
***
TBC.