
VOTE.
"Kamu gak usah sedih lagi, ya." Kata Jino dengan mengelus kepala Mila.
Mila mengangguk lalu tersenyum setelahnya memeluk Jino. "makasih, No." Mila menyandarkan kepalanya di dada bidang Jino. Hangat dan nyaman.
Jino terkekeh pelan, "pacar aku jadi manja gini." Godanya.
Mila yang kesal digoda pun mendusel duselkan kepalanya membuat Jino terkikik geli sendiri.
"Hahaha ... udah dong." Jino terbahak-bahak karna merasa geli.
Mila jadi makin semangat malahan. Dia sekarang jadi mengusel-usel leher Jino dengan wajahnya. Membuat Jino jadi makin terbahak dibuatnya.
"ASTAGFIRULOHALADZIM MATA DEDEK TENODAI!"
"ADEGAN 17++."
"WOY WOY SEKOLAH SADAR!"
"DASAR!"
Teman-teman Jino yang baru datang itu langsung merusak suasana.
Nama hewan kebun binatang sudah diabsen satu satu dalam hati Jino. Dia sungguh ingin membunuh mereka terutama si pembuat onar. BOBY!
"No!" Peringat Mila melihat gelagat aneh Jino.
Jino menoleh kearahnya lalu tersenyum kecil, "iya iya sayang." Lalu mengelus kepala Mila lembut.
"EKHEM!"
"Aku masih jomblo. Kasihanilah aku.."
"Gue berasa jadi nyamuk DBD."
Lagi lagi dan lagi.
"Shit!" Umpat Jino sudah tidak tahan.
"Noooo!" Mila melotot kesal.
__ADS_1
"Habisnya sih, mereka kayak gitu." Rengek Jino dengan wajah muram.
Yassalam! Teman-teman Jino pengen muntah seketika. Apa benar ini Jino?Leader Bastar?
"Udah-udah, kenapa pada ribut gini sih?" Kesal Mila. "Aku duluan ke kelas yah." Pamitnya pada Jino namun Jino pun ikut beranjak.
"Ngapain?" Bingung Mila
"Nganterin pacar." Katanya membuat teman-temanya mau muntah seketika.
Blush.
Sialnya tidak dengan Mila, dia malah blushing dibuatnya. "y-yaudah ayo." Ajak Mila tanpa disadarinya dia menarik tangan Jino.
'Entah kamu nariknya sadar apa enggak aku tetep seneng kok.'
*****
Ting!
08523615****: Ke rooftop sekarang.
Kalo lo ga mau nyesel!
Gio langsung mengernyit heran, siapa kira-kira yang mengiriminya pesan ini. Akhirnya Gio memutuskan untuk pamit pada temanya dan mengikuti alur pesan tersebut.
"Gue cabut duluan, ada urusan!" Lalu tanpa menunggu persetujuan teman-temanya Gio langsung melangkah pergi. Yah ... Bram dan Dino sudah biasa diperlakukan begini juga toh. Keputusan yang diambil Abi kemarin tidak main-main karna dirinya sekarang sudah bukan anggota Lion lagi. Abi keluar dari gengnya.
.
.
.
Sesampainya di rooftop Gio yang tidak menemukan siapapun mendecih pelan. "Sial! Siapa yang berani main-main sama gue?!" Desisnya geram.
Sejak dia putus dengan Mila, sifat nya mulai berubah. Sedikit-sedikit marah, kesal, dan bahkan temanya hanya bisa geleng kepala dibuatnya.
Namun saat akan berputar untuk keluar dari sana, tepat di pintu ada seseorang yang cukup membuatnya terkejut.
"Ngapain lo disini?!" Sentaknya tak santai. "oh ... gue ngerti sekarang, lo yha yang kirim pesan itu? Mau jebak gue, heh?" Gio terkekeh remeh diakhir kalimatnya.
__ADS_1
Orang itu melangkah mendekat lalu tersenyum tipis. "sifat lo buruk sejak putus sama Mila." katanya datar sambil berjalan mendekat.
Gio mendesis kesal. "tau apa lo soal gue? Jangan ikut campur lo!" Gio menunjuk-nunjuk orang itu dengan jari telunjuknya.
Orang itu hanya menampilkan ekspresi sedatar mungkin. "lo bakal nyesel udah sakitin Mila." Katanya tenang.
Gio terkekeh sendiri. "nyesel? Sampek kapanpun gue gak akan nyesel. Bahkan gue lebih bahagia sekarang!" Bantahnya tidak terima.
"Bahagia sama cewek uler kayak Lia? Yang udah nusuk sahabatnya sendiri?" Ejeknya remeh.
Gio melotot tajam lalu mendorong bahu pemuda itu keras. "Lia itu baik. Gak munafik kayak Mila!" Bentaknya murka. Bahkan otot wajahnya tampak menegang.
Pemuda itu tersenyum sinis. "oh ya?Mungkin persepsi lo bakal terpatahkan setelah liat ini." Pemuda itu lalu menyodorkan HP kearah Gio.
Gio mengernyit namun tak ayal menerima nya. "apa maksud lo?" Tanyanya tidak mengerti.
Pemuda itu tersenyum tipis. Lagi dan lagi. "Liat aja sendiri." Titahnya santai.
Meski bingung tapi Gio tetap menerima saran orang itu. Dia mulai menyalakan HP dengan logo apple itu, dan langsung terpampang sebuah video disana.
Dengan ragu dia mengklik video itu, Gio sedikit tersentak saat yang ada disana adalah Lia dan Mila. Jika dilihat dari pengambilanya sepertinya video ini diambil dari samping karna hanya sebagian tubuh mereka yang terekspos kamera, namun tetap jelas.
Berbagai ekspresi menunjukkan guratan hati Gio. Antara kesal, marah, sedih, dan penyesalan.
Setelah dirasa sudah selesai orang itu merebut kembali HP nya. "gimana?Nyesel gak?" Katanya dengan tawa mencemooh.
Detik itu juga Gio langsung terjatuh ke lantai. Air matanya merembes keluar dengan cepat. Pandanganya kosong bahkan dia seperti jiwa tanpa raga. Benar-benar hampa!
"Kenapa diem, ha?!" Bentak orang itu dengan mengguncang bahu Gio.
"Lo nyesel, kan!!" Lanjutnya masih dengan emosi yang mencuat.
Gio menoleh kearah pemuda itu dengan mata yang merah. "gue nye....sel." katanya tersendat-sendat. Rasanya kerongkonganya bahkan sulit untuk mengeluarkan suara.
Pemuda itu tersenyum sinis memandang Gio. "telat! Sekarang Mila sudah dengan Jino, mending penyesalan lo yang bodoh itu lo simpen sendiri aja." Ujarnya enteng.
Gio mulai bangkit. Mata sembab, hidung merah, bahkan tatapan yang hampa tampak lengkap diwajahnya.
"Tolongin gue," mohon Gio untuk pertama kalinya kepada orang lain.
"Leo." Gio menatap lurus wajah pemuda itu.
__ADS_1
**********
TBC.