
Perjalanan Pulang
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore dan akhirnya Vira pulang bersama dengan Wandy
“eh tadi aku bilang aku hafal jalan ke kosku lo, bukan kosmu.”
“lah kos kita kan sama.”
“kok kamu tau?”
“tadi Pak Abi bilang, kalau HRD yang dari jakarta juga kos ditempat yang sama, dan ada BM juga. Tapi aku gak nyangka sih kalau HRD nya ternyata cewek awalnya.”
“terus taunya tadi gitu pas sampai terus kaget berlipat ganda?”
“hahhaha, gak gak, udah tau dari Pak Abi pas cerita di mobil dia nyebut nama kamu, aku kaget aja sampai aku nanya, cewek?”
“terus reaksi Abi gimana?”
“ya dia bilang pada anggap aneh dan hebat gitu karena cewek berani ke kota asing sendirian.”
“jaman sekarang kayaknya udah biasa deh, malah banyak yang sebaliknya kan, yang cowok gak berani jauh-jauh dari orangtuanya.”
“yup”
“oh ya audit rencana berapa lama disini?”
“wah kenapa?ngusir?”
“gak lah, Kan gw seneng ada lu.”
“really?”
“yup”
“why?”
“lu mau gw jawab alasan yang manis atau yang jujur?”
“yang manis dan jujur ada gak?”
“ada.”
“itu aja deh kalau gitu, yang jujur gak manis belakangan aja.”
“karena duniaku kembali ada kamu.” dan mereka merasa cringe sendiri dan sulit berhenti tertawa.
“OMG, mulut lu manis amat yak. Jadi yang jujur apa?”
“itu jujur lo” jawab Vira seraya menahan tawanya.
“ok, yang jujur tapi gak manis.” kali ini Wandy harus menelan ludahnya untuk menghentikan tawanya sendiri.”
“karena gw dapat teman yang sama-sama punya profesi tidak disuka.”
“oh I see, got it.”
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka seraya melewati jalan super rusak yang bikin keadaan didalam mobil terombang ambing dan membuat Wandy mengomel
“ini jalanan asli yak, gak bisa lebih rusak lagi apa?”
“nikmatin aja pak, anggap aja kamu lagi berada di tengah-tengah laut, ada ombak yang ombang-ambing gitu, nunggu terdampar.”
__ADS_1
“lah kok makin serem yak?”
“hahaha, iya juga ya, kalau ada hiu bisa jadi santapan kita.”
“lu ya khayalan tingkat tinggi.”
“eh serius lo pertanyaan gw tadi belum dijawab.”
“yang mana ya?”
“ah parah lo, berapa lama?”
“oo, biasanya si 1-3 bulan, tergantung juga, cuma makassar belum pernah di audit sebelumnya, bisa aja lebih lama.”
“waw. Lumayan lah ya.”
“lumayan bikin ketegangan di cabang.”
“hahahhha, eh itu kos kita, awas kelewat.”
Mereka sampai di kos mereka dan ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap-siap karena rencana akan makan bersama.
30 menit kemudian
Vira melihat Pak Edo dan si bapak TNI sedang diruang tengah didepan TV sambil merokok dan minum kopi.
“Eh bapak-bapak lagi nyantai ya?”
“iya dong, sesama bapak-bapak yah nongkrongnya gini.”
“hahaha, udah pada makan malam belum?”
“udah tadi sekalian balik kantor, bareng abi juga, kamu tumben aja gak bareng, udah makan belum?” Pak Edo yang menjawab
“terus mau cari makan dimana kah?”
Belum sempat menjawab lagi Vira melihat Wandy yang kamarnya terletak dekat ruang tengah keluar dari kamarnya, dan menoleh ke arah Vira.
“udah siap?”
“udah, ayo.”
“oh ternyata udah ada yang nemenin to.” kali ini pak TNI yang tiba-tiba nyahut sambil senyam senyum memberi kode juga ke Pak Edo.
“yaudah aku pergi dulu ya, bapak-bapak jaga rumah baik2.”
“Pak Edo, Pak Maman, pergi dulu ya.” Wandy berpamitan dengan kedua bapak-bapak itu
“hati-hati ya, sampai malam juga gak apa-apa, pulangnya kesini kan?” Pak Edo pun menambahkan dengan usil.
Aku dan Wandy hanya saling melirik dan kemudian tersenyum dan kami pun berangkat. Melalui Google map kami diarahkan ke tengah kota, dimana disana ada tempat makan yang berada di lapangan besar dengan tenda-tenda non permanen yang hanya buka pada malam hari. Kami memilih tempat yang memiliki cukup banyak variasi makanan.
“eh so far kita cuma baru tambah tau nama aja lo.”
“plus perusahaan kan? Klo profesi kurang lebih udah tau lah ya.”
“emang u usia berapa sekarang?”
“27, jalan 28.”
“oh tahun ini 28 ya. Aku panggil kak aja deh, usia kita gak beda jauh kok.”
__ADS_1
“emang kamu berapa?”
“mau 26. tahun ini, tapi masih belum. Masih sisa berapa bulan lah.”
“sama kalau gitu.”
“apanya yang sama?”
“sama2 belum nambah usia ikutin tahun.”
“ya ya..terus kamu di makassar lama gitu, cewekmu gak nyariin?”
“cewek? Udah lama gak ketemu, biasanya pulang bareng naik bus di rute 8, eh tiba-tiba hilang.”
“heh?” Vira sempat bingung sebentar dan kemudian tertawa memahami maksudnya.
“ahhaaha.”
“aku serius lo, gak enak aja kan kalau kamu punya cewek atau malah istri trus entar curiga yang gak gak.”
“tenang aja, aman, lagian baru nanyanya sekarang gitu kalau emang kamu beneran takut?”
“hahhahah, basa basi.”
“kamu sendiri, gimana cowok kamu? Yang biasa bikin kamu senyam senyum sampai tertidur di bus?”
“yang mana ya?” Vira menjawab sekenanya, menghindar tidak mau lagi mengingat Toma.
“oh gak ada ya..bagus deh.”
Sambil makan mereka mengobrol banyak dan Vira suka cara bicara Wandy, dan Wandy pun sepertinya menikmati makan malam ini dengan baik.
“eh sekarang jam berapa ya?” Vira bertanya pada Wandy karena ia sadar jam tangannya tertinggal di kos sehabis mandi tadi.
“tumben kamu gak pake jam.” Tidak menjawab jam berapa Wandy mendekatkan tangan kanannya ke arah Vira agar bisa melihat sendiri jam tangannya. Karena jarak yang semakin dekat, aroma tubuh Wandy ikut tercium dan Vira menyukainya.
“baru jam 8 ternyata.”
“kenapa? terasa lama ya makan sama aku?”
“gak, malah pengennya itu waktu gak usah bergerak lagi biar bisa jam 8 terus.”
“hahahha, kenapa harus jam 8?”
“gak tau, pengen aja karena 8 tidak punya ujung.”
“ya angka 8 satu-satunya angka yang tidak memiliki ujung, selain angka 0.”
“seperti 2 0 yang ditumpuk, ya gak?”
“seperti aku dan kamu.”
“haiz haiz, stop it, cringe tau gak?”
“hahahha, sama….”
“sama, tapi kok diterusin.”
“lah kamu juga lo, gak sadar?”
Dan mereka menghabiskan malam itu dengan tertawa dan bercanda sambil mengenal satu sama lain lebih dalam, dan mereka tidak kehilangan topik bahkan diperjalanan dan sampai balik ke kos, saking serunya pak Edo dan Pak Maman yang masih nongkrong tapi sudah pindah tempat ke depan kamar Pak Maman melihati kita berdua dengan heran sambil makan kacang.
__ADS_1
*