My Dating Story

My Dating Story
Story Two Si Rooftop Prince (2)


__ADS_3

Keesokan harinya


HP Vira berbunyi dan ada notif Chat Rooftop Prince


Tersenyum sendiri sambil sedikit bergumam “Vampire” Vira pun membuka chat dari Toma


“Whats up?”


“WTH?”


“wah harus banget ya pagi-pagi nyebut hell.”


“Evil Toma”


“hahhahaha…pendendam kamu, udah hampir 20 tahun lo. Umur kita waktu itu 3?”


“sampe 5 tahun. Kita sekarang msh 24, jadi 19.”


“yaelah beda dikit doang, perhitungan amat.”


“yaya ya. Ada apaan chat?”


“siap-siap, 1 jam lagi gw jemput.”


“haiz…apa apaan?”


“siap-siap, atau mau ak siapin?”


Dan Vira pun bersiap-siap seperti yang dikatakan Toma.


Bagi keluarga Vira, Toma adalah teman kecil Vira, orangtua Toma dan orangtua Vira juga berteman karena rumah mereka sempat sangat dekat, lalu Toma pindah ke jalan lain tapi masih 1 perumahan dan kemudian dia dan keluarganya pindah ke luar negeri, hanya oma (nenek Toma) yang tetap ada disitu, dan Vira sendiri juga baru tidak lama kembali ke rumahnya, selama kurang lebih 1 tahun ini.


1 jam kemudian


Bunyi motor terdengar cukup keras didepan rumah Vira yang membuat mama keluar dan menyambut Toma, mama sepertinya terlihat senang sekali melihat Toma dan mengobrol dengan tertawa, Vira sedikit mendengarkan dari kamarnya sebelum akhirnya Vira keluar.


“udah siap kan?”


“udah.”


“ayo”


“ma, Vira pergi dulu ya.”


“tante, Toma jalan ya.”


Mama pun tertawa dan membiarkan kami pergi bahkan tanpa bertanya kita mau kemana, Vira pun keluar mengambil helm dari Toma dan bertanya


“mau kemana si?”


“udah ikut aja napa?”


“ye, masak suruh ikut gak tau kemana, pemaksaan namanya.”


“hahahah, yang dipaksa juga ngikut kok, nurut gitu.”


Dan mereka pun pergi dengan motor Toma


Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih satu jam, mereka sampai disuatu tempat yang belum pernah didatangi oleh Vira sebelumnya, letaknya lumayan sulit dicari, sehingga mustahil bagi Vira yang orientasinya jalannya emang udah buruk untuk mengingatnya dan tadi sempat masuk ke gang yang agak kecil, namun tempat ini indah, ada sebuah gedung atau entah rumah yang berlantai 4. semua dikelilingi kaca khas gedung-gedung perkantoran. Benar-benar tempat yang indah yang tidak mudah ditemukan.


“ini kantor siapa?”


“ini bukan kantor.”


“terus?”


“ikut aja, percaya sama gw.”

__ADS_1


“he? Kenapa gw harus percaya sama lu.”


Berkata begitu tingkah dan apa yang dikatakan Vira berbeda jauh, Vira tetap mengikuti Toma menaiki tangga yang lumayan banyak kemudian masuk ke pintu emergency dan menaiki tangga lagi.


Lalu Vira dan Toma sampai diatap gedung itu. Vira ragu dan bertanya


“kita boleh kesini?”


“tebak aja.”


Tapi entah apa yang merasuki Vira, Vira berjalan hampir berlari ke arah yang terbuka ke pinggir gedung dan membuat Toma berteriak dan menarik Vira


“woi.”


Jarak mereka sangat dekat membuat Vira menahan nafasnya tanpa sadar


“duduk situ aja.” Toma menunjuk ke ujung tempat yang teduh dan disana ada tikar, sepertinya memang ada yang suka berada disini juga.


“oh ini jadinya kamu bilang kamu rooftop prince?”


“hahahha…kamu tau gak reaksi kamu ke aku tuh beda.”


“beda gimana?”


“aku sering kangen dengan perlakuan orang yang memperlakukan aku sebagai temannya “manusia” juga.”


“manusia? Emang kamu manusia?”


Toma pun menoyor kepala Vira sambil geleng tertawa


“kamu masih aneh ya?”


“bukan aneh, tapi unik.”


“yang unik mah di museum.”


Mereka saling bercerita tentang tahun-tahun yang tidak mereka lewati bersama, dan mereka mulai lebih saling memahami, hampir 20 tahun berlalu Toma tumbuh sebagai pria yang terlihat ceria, memiliki banyak teman namun sesungguhnya sering merasa kesepian dan sangat mudah terluka karena perasaanya yang sangat peka sehingga mudah terbawa suasana dan tersentuh, sedangkan Vira yang terlihat dingin dan kuat diluar tidak mau menggunakan hatinya untuk waktu yang lama karena pernah terluka dan tanpa sadar Vira sudah lupa cara menggunakan hatinya sendiri. Hal ini membuat Toma ingin mengajarinya, mengajari untuk menggunakan hati. Dan entah kenapa tatapan Toma seringkali membuat Vira tidak bisa berkutik dan seperti robot yang kontrolnya dipegang oleh Toma, hanya mengikutinya.


Hari itu mereka sama-sama merasa senang, tertawa bersama, bahkan hanya diam mendengarkan musik dan lagu-lagu kesukaan Toma yang terus memaksakan Vira agar memahami makna lagu-lagu itu membuat mereka berdiskusi dan berdebat hebat, tidak ada orang lain disitu dan mereka hanya duduk bersama menikmati angin diatas atap, tanpa terasa berjam-jam berlalu sampai matahari terbenam dan mereka memutuskan pergi dari situ.


“pir, makan yuk.”


“ayo lah, disini ada tempat yang enak.”


Vira dan Toma sampai disebuah rumah makan yang unik dengan tampilan dari luar sama sekali tidak seperti rumah makan, malah terlihat seperti toko buku, banyak rak-rak dipenuhi buku juga saat masuk kedalam kios yang tidak terlalu besar dan hanya terlihat 4 meja didalamnya, Vira pun tidak bisa menyembunyikan kesenangannya.


”waw, pir, hebat kamu tau tempat gini.”


“always.”


“gak usah narsis juga, bener ini tempat bagus, tapi makananya apa ya?”


“noodle.”


“seriously?”


“yup, why?”


“my favourite.”


“what?me?” seru Toma sambil menunjuk dirinya sendiri dan memamerkan cengiran kesukaaannya


“No, Noodle. I love Noodle”


“ok lah, tapi I think I am your favourite too, since a long long ago.”


“you wish.”

__ADS_1


Melihat reaksi Vira yang agak sinis Toma yang memang jelas menggodanya hanya menaikan kedua bahunya sambil menahan tawa.


Vira dan Toma menikmati hari itu dan pulang bersama dengan hati yang sama-sama senang. Bahkan mereka berjanji akan berjalan-jalan lagi saat Vira tidak bekerja. Toma sendiri karena baru tidak lama berada di jakarta lagi sekarang masih mencari pekerjaan.


Sepertinya pertemuan mereka hari minggu ini yang berlangsung selama kurang lebih 10 jam belum cukup, bahkan mereka masih seru saling chat di kamar masing-masing


“udah sampe rumah?”


“yup udah, udah puas ngeluyur sama lu jadi sekarang ya pulang.”


“Oma udah bobo ya?”


“iya, oma sekarang tidurnya cepet banget, bangunnya pagi banget.”


“kenapa ya mayoritas lansia gitu?”


“wah mungkin karena metabolisme tubuh yang udah beda? Dan aktivitas juga?”


“yup yup.”


“Btw bokap nyokap u gak apa-apa kan lu baru pulang jam segini?”


“ jam segini? Ini baru jam 10 lo, dari kantor biasa gw nyampe lbh malem”


“berarti kita kurang lama yak ngeluyurnya...”


“hahahhaha, yup.”


“besok lu kan kerja, mesti berangkat pagi kan? Jam berapa berangkat besok?”


“jam 5”


“buset, kayaknya lu bangun barengan oma itu, jam 4?”


“yup.”


“mau gw anter?”


“gak”


“buset langsung nolak gitu ya, segitunya.”


“bukan gitu Tom, itu pagi banget lu gak perlu ngorbanin tidur lu buat gw juga, dan kasihan juga lu mau ngapain nanti pagi-pagi gitu, kantor gw jg gak deket kan?”


“santai, gw becanda kok.”


HP Vira pun berdering, Toma


“gw udah mulai ngantuk, u gak ngantuk?


“bentar lagi palingan.lu kalau ngantuk tidur lah”


“denger suara lu biar bobo.”


“haiz. Lu kira gw pendongeng apa?”


“iya kan? Lu pendongeng pengantar tidur buat gw”


“tapi emang si gw kalau lagi cerita gitu orang-orang suka ngantuk, segitu ngeboseninnya kali ya gw”


“hmm..”


Vira tau Toma sudah tertidur karena bisa mendengar nafasnya yang pelan dan teratur namun Vira tetap saja penasaran


“Heh, Tom, pir? Lu tidur beneran?”


Dan tidak ada jawaban, namun Vira tetap membiarkan telepon tersambung untuk beberapa saat dan mendengarkan nafas toma baru kemudian mematikan dan pun berharap tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2