
Aku sudah bekerja di perusahaan ini selama 4 tahun, usiaku sekarang sudah 30 tahun dan aku menikmati pekerjaanku bahkan menjadi sangat workaholic, perusahaan ini telah memberikanku banyak sekali kepercayaan, sejalan juga dengan pendapatanku yang terus naik setiap tahunnya dan sampai akhirnya aku ditawarkan untuk promosi dan akan pindah ke kota lain. Kali ini masih di pulau jawa. Aku pun pindah ke jawa tengah dan menjalankan tugas baruku yang memberikan tantangan baru untukku. Karirku yang melebihi ekspetasiku membuat aku semakin percaya diri dan bangga pada diriku sendiri, dan kali ini keluargaku mulai menanyakan tentang pilihan hidupku.
Aku banyak sekali mendengar biasanya orang yang sukses di karirnya maka akan mengalami kesulitan dalam hal lainnya. Ini bukan mitos, kalau kita pikirkan ada logika disana, saat kita terus bekerja kita tidak memiliki waktu untuk yang lain, bahkan trekadang kita kehilangan self-time/me-time, apalagi saat kita terlalu addicted, bahkan teman saja selain rekan kerja atau mungkin bawahan akan sulit untuk dimiliki. Dan terkadang juga kalau rekan kerja tidak ada yang tau apa dipikiran mereka, tulus atau tidak? Tapi aku jarang memikirkan hal itu, bahkan aku juga jarang memikirkan diriku sendiri, sampai aku merasa ingin memiliki tempat dimana harusnya aku berada sebagai manusia yang dihargai dan disayangi, bukan hanya sebagai pekerja yang di gaji.
Keberadaanku di Jawa Tengah membuat aku memahami budaya lain dan rasa toleransi yang sangat tinggi membuat aku shock juga, tidak seperti makassar yang mengagetkan lalu melunak, kalau disini semua lunak (lemah lembut), kadang membuat aku salah tempat karena dengan sedikit nada tinggi atau pengabaian saja bisa membuat orang lain takut atau dianggap tidak respect. Aku sangat berhati-hati mempelajari semua ini, so far aku tidak mengalami masalah yang berarti terkait hal ini dan aku masih tetap dekat dengan Wandy maupun Sony my mirror best friend.
“eh kalian diem aja ni sejak aku disini.” aku pun mengetik chat di grup kami yang isinya cuma tiga orang, aku, Sony dan Wandy.
“emangnya kita harus bilang apa, wow gitu?” sahut Sony
“ ya apa lah itu tanya kek gmn disana?”
“kayaknya gak perlu, lebih aman disana daripada disini.”
“hahahhahaha..” kali ini Wandy yang tiba2 tertawa
“napa lagi ni 1 lake tiba2 ketawa, anda sehat?” sahut Sony kepada Wandy
“lake? Gw bukan danau tau, gw orang…..orang beneran bukan orang-orangan sawah.”
“lah ini 2 orang kenapa kambuh si, gw lo lagi cari perhatian, caper, perhatiin dikit napa…padahal satu2nya cewek lo di grup ini.”
“yaelah ini grup cuma bertiga doang.”
“kan tetep aku cuma satu2 na cewek kesayangan kalian.”
“uekkkkk….”
“ yaudah aku tanya deh, enak disana?”
“nah gini dong baru kak Wandy yang paling care sdunia….”
“ya terserah dah, jadi mau dijawab apa gak? Kalau gak yaudah.”
“beuh gak niat nanya dia ternyata, ak tarik d cuma pura-pura care.” aku pura-pura ngambek.
__ADS_1
Hidup kami bertiga dipenuhi dengan percakapan yang kadang tidak bermutu namun terasa menyenangkan dan cocok dengan karakter kami yang memang aneh semua. 3 orang aneh yang sering ngobrol, curhat, dan seperti ini terasa murni, Vira sangat menyayangi kedua sahabatnya itu dan merasa sepertinya ada mereka saja sudah cukup menemani hari Vira.
*
Malam itu Vira masih sibuk menjawab chat dari security jaga karena ada tamu yang akan datang malam ini untuk menginap, ini peak season, dan telah terjadi pandemi yang melanda seluruh dunia, ini mempengaruhi kinerja banyak orang. Tiba-tiba saja handphone ditangan Vira berdering dan nama Winnie muncul disitu, heran karena Winnie yang tidak pernah tiba-tiba menelepon dimalam hari, apalagi sekarang sudah lewat pukul 00.00, namun Vira pun langsung mengangkatnya dan terdiam mendengar yang dikatakan Winnie
“Vi.…” Winnie memanggil dalam tangisnya
“Win, tenang dulu, kamu kalau nangis gitu aku gak bisa denger, kamu kenapa?”
“Sonny Vi.”
“Sony? Kenapa dia? Nyakitin kamu?”
Menanti jawaban Winie, Vira malah mendengar tangis Winie yang semakin keras dan kemudian ada orang lain yang menjawab telepon itu.
“Halo, kamu temennya Winie ya, winie kayaknya gak sanggup jawab telepon.”
“ini siapa ya? Kenapa dengan Sony?
“ya, kok kamu tau? Kamu siapa?”
“aku Xion, kakaknya Winie, Sony sudah berpulang.”
Kalimat itu seketika seperti sumpah serapah yang mengutuk Vira dan malah Vira terdiam dan hanya air matanya turun dari sebelah matanya namun seketika Vira tidak bisa merasakan apapun, ia kembali mati rasa. Hatinya seperti sangat kosong dan hampa.
Vira tidak percaya dan tadi juga sudah tidak bisa mendengar lagi yang Xion katakan dan hanya tau tiba-tiba sambungannya sudah mati.
Vira langsung membuka grup chat mereka
“Son, Son, kamu dimana sekarang?”
Tidak ada jawaban dari Sony.
“please jawab aku son.”
__ADS_1
“Vir, Sony palingan udah tidur kali.”
“gak dia gak boleh tidur selamanya.” tanpa sadar Vira menjawab Wandy
Dan kesadaran Vira kembali, ia pun mencoba menelepon Winnie lagi. Xion yang menjawab dan mencoba menjelaskan semua, Vira tidak tau lagi apa yang terjadi ia menelepon Wandy dan menyampaikan kabar duka itu, mereka pun langsung memesan tiket untuk menuju ke makassar dan mengetahui alamat rumah duka dari Xion yang langsung di save oleh Vira.
Di Bandara Sultan Hasanuddin
Vira duduk terdiam di bandara dekat pintu keluar bersama tas ranselnya, karena sudah biasa bepergian dan bukan termasuk kategori cewek yang memiliki banyak aksesoris, tas ranselnya masih cukup kosong, karena perkiraan mungkin ia akan menginap maksimal 3 hari karena juga tidak bisa cuti lebih dari itu, dan ia pun membawa laptopnya dan Tab-nya untuk electric sign dokumen yang dibawah tanggung jawab dia, karena biasanya dokumen yang menjadi tanggung jawab GM operasional kalau berhubungan dengan budget dan karyawan harus ditanda tangani bersama, dan Vira tidak memilki perwakilan yang cukup dipercayai untuk hal ini. Dan dengan ini pun kehampaan hatinya dan rasa mati rasanya terobati dengan bekerja.
30 menit berlalu dan Wandy pun muncul, terlihat lebih casual namun tampan seperti biasanya. (namun kini hatiku tak lagi berdesir untuknya, dia hanya cowok tampan yang ada dalam hidupku)
“Vir..” Wandy mendekat sambil melambaikan tangannya.
“ Kak.”
Wandy pun membawakan ransel Vira dan mereka pergi dengan mobil sewaan yang telah di booking Vira sebelumya dengan bantuan dari mantan teman-teman kerja Vira di makassar sebelumnya. Memang hubungan baik yang terjaga pasti bisa digunakan saat dibutuhkan, maka itu bagi Vira pantang meninggalkan kesan buruk di tempat kerja. Perjalanan darat mereka diperkirakan akan memakan waktu sekitar 3 jam, karena Sony tinggal di Bone. Di perjalanan kebanyakan Vira dan Wandy tidak banyak bicara, salah satunya karena Vira yang cukup sibuk dengan telepon dari kantornya dan juga menjawab pesan yang sepertinya tidak ada henti, sesekali Wandy memandang ke arah Vira, dan melihat Vira yang sibuk tanpa ekspresi seperti itu membuatnya khawatir
“Vir, kamu udah makan?”
“kakak laper?” kali ini Vina melihat ke arah Wandy
“yah lumayan.”
“belum sempet sarapan pasti.” kali ini Vira sudah kembali ke handphonenya
“tuh kamu paling tau emang.” jawab Wandy agak terlalu ceria dengan maksud mau menghibur Vira
“ntr pas udah didaerah Bone aja kali ya kak. Pak, tau tempat makan yang gak jauh ya dari alamat?” Vira berbicara dengan driver yang membawa mereka dan tentu saja driver itu menjawab ok, karena memang dia orang lokal.
“kamu sibuk banget ya sekarang Vir.”
“ahahha, ya gimana lagi kak, ak upgrade na diluar expektasi jadi ya gini banyak kurangnya jadi harus belajar lebih banyak.”
Wandy cuma menganggukkan kepalanya saja dan kemudian mereka pun hanya diam di perjalanan dan sekali-kali saling melihat dengan senyum yang seolah mengatakan aku tau kamu sedih.
__ADS_1
*