
11 bulan tepatnya Vira berada di Makassar dan kali ini harus meninggalkan kota yang sudah lumayan ia cintai ini, dan para penghuni cabang ini pun merasa sedih dengan hal ini namun juga bahagia karena orang yang mereka sayangi promosi dan diharapkan menjadi lebih sukses dan bahagia.
“mbak jangan lupain kita ya.”
“gak mungkin lah mbak.”
“awas aja kalau lupa! kali ini Ray malah mengeluarkan ancamanya.
“kamu juga jangan nakal Rei, bentar lagi juga kamu bakal naik jabatan kalau gak nakal.”
“wahhhh..siap mbak, eh ci eh bu.”
“hahahha..” panggilan bermacam-macam Ray kepada Vira membuat tawa teman-teman yang lain.
“Ayo dek aku antar ke bandara.” kali ini Deryl si kepala cabang darurat yang bicara.
__ADS_1
“ia kak, thanks ya semuanya..kalau aku kesini disambut ya.”
“pasti kak. “ Hanifah mendekat dan memeluk Vira sambil menangis
“duh kamu jangan nangis dong fah, tisu-tisu.”
Tina yang mengambilkan tisunya
“aku titip Ifah ya mbak. Fah kamu juga semangat, kamu hebat kok, kabarin aku aja kalau ada apa-apa. Ok?”
Dan akhirnya Vira meninggalkan kota itu, kota yang tidak terduga yang membuat banyak kenangan dalam hidup Vira yang juga tidak terduga. Hidup tetap berjalan dan kenangan perlahan akan pudar dan mungkin hanya meninggalkan kepedihan atau pun senyum di wajah dan Vira menyayangi orang-orang di cabang ini yang juga tulus kepadanya.
*
Vira tiba di Surabaya dijemput oleh kepala cabang Surabaya 1, Ibu Erna, yang usianya sudah diakhir 40-an dan memang diawal terlihat biasa saja, hanya mengembangkan senyum seadanya, namun Vira merasa cukup nyaman, dan berterimakasih tentunya karena sudah dijemput bahkan dibantu menemukan kos. Walaupun kata Ibu Erna bukan dia yang mencarikan melainkan Pak Aby. Kali ini ia mendengar nama itu lagi setelah baru saja putus beberapa bulan dari Aby karena masalah yang kurang jelas, terbesar mungkin komunikasi dan untuk Vira sebenarnya agak bosan karena memang mereka tidak banyak menemukan common interest ditambah memang hubungan mereka juga belum stabil dan perasaan Vira juga tidak seperti yang diharapkan. Nasib mempertemukan mereka lagi karena Aby yang juga ditempatkan di Surabaya, tapi dicabang yang berbeda, hanya saja tetap akan berurusan dengan cabang yang Vira tempati, begitu pun sebaliknya, karena ternyata ada 2 hrd yang ditempatkan di Surabaya 1, dan sungguh takjub lagi Vira malah harus bertemu dengan seniornya dulu di kampus yang dianggap tidak “becus” menjalankan pekerjaanya padahal dia sudah dibantu seorang admin yang memang usianya sudah lebih dari 50 tahun.
__ADS_1
Vira kali ini mampir dulu ke cabang surabaya 1 dan berkenalan dengan teman-teman disini, ternyata disini ada audit juga, sifatnya lokal, kalau kasus besar Audit pusat akan turun tangan, bisa dikatakan mereka juga bawahan Wandy dan 2 orang audit ini memiliki tugas yang berbeda, kedua pria tersebut yang akan menemani keseharian Vira karena 1 ruangan, yang 1 akan banyak berada dikantor bisa surabaya 1 atau 2 tergantung mana yang lebih membutuhkan yang 1 lagi akan sering berada di lapangan, memeriksa rute sales, driver juga mengecek langsung ke para buyer. Di cabang Surabaya tentu Jumlah karyawan jauh lebih banyak, namun sejak awal Vira cukup bisa merasakan kehangatannya, admin disini cukup banyak yang perempuan dan sudah bekerja sangat lama sehingga usia juga bisa lebih dari 10 tahun diatas Vira, seolah mereka admin abadi.
*
Vira membiasakan diri dengan kedua cabang ini, karena sewaktu kuliah dia juga di surabaya selama 4 tahun, budayanya Vira cukup tahu sehingga tidak sekaget waktu pertama kali di Makassar. Hal-hal yang dipelajari Vira selama 2 minggu ini adalah HRD yang seniornya di kampus sepertinya memang memiliki ambisi yang kecil dan cenderung mudah menyerah atau malah berkompromi saat ada masalah, sepertinya sangat takut akan konflik, sedangkan adminya Pak Adli sudah sangat tua sehingga kadang lambat dalam hal teknologi dan kecepatan mengetik pun dibawah standar, sehingga ya agak lambat tapi beliau cukup dihormati teman-teman lain terlebih karena ada embel-embel specialnya, namun Vira lihat Pak Adli cukup rajin dan tidak berkeberatan berkerja lebih dari jamnya karena tau dirinya cukup lambat. Kemudian info berikutnya yang didapat adalah Ibu Erna orang yang sangat tertutup dan sering bermusuhan, dan selanjutnya pembicaraan negatif mengenai Ibu Erna yang tetap single di usianya dan hal ini Vira tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri.
So Far pekerjaan Vira sudah mulai bisa berjalan lancar dan dia berkoordinasi dengan cukup baik dengan cabang-cabang dibawahnya yang usia HRDnya juga ternyata tidak jauh dari dirinya, melihat komunikasi yang cukup sehat ini membuat Vira merasa nyaman dan bisa mengembangkan kemampuannya, sehingga ia tidak akan mengecewakan atasan yang telah mempromosikan jabatannya. Apalagi selama ini komunikasi sangat lancar dan beliau benar-benar sosok bapak yang baik, yang mengetahui kelemahan dan kelebihan Vira, ditambah adanya atasan langsung juga yang seperti kakak, Vira merasa sangat lega dan karirnya sepertinya sangat lancar.
Vira pernah mendengar kalau karir seseorang lancar akan ada lack di aspek lainya, dan untuk Vira mungkin di kehidupan pribadinya, Vira memang tidak mudah dekat dengan orang lain namun ia cukup ramah tanpa adanya ikatan dengan orang sekitarnya, sikapnya cenderung profesional sehingga ia juga disukai sekaligus disegani banyak orang, bahkan beberapa orang merasa kaget karena Vira mudah dekat dengan orang-orang yang cenderung di musuhi, mungkin karena Vira tidak menjudge orang karena statusnya atau apapun sehingga pemikirannya yang profesional mudah diterima.
Beberapa bulan ini selain menyesuaikan diri dan tetap bolak balik 2 cabang dan menganalisis banyak hal, dan cukup akrab dengan para atasan juga ini membuat dia harus sering komunikasi lagi dengan Pak Aby, Pak Aby pun sering ditugaskan menemani Vira untuk join sales atau untuk menghubungkan antar cabang karena memang semua tahu kalau mereka berdua saling mengenal dan mereka beranggapan itu akan nyaman sampai suatu saat Pak Aby yang sedang berkumpul dengan para Sales Supervisor dan Manager lain pun bersantai dan tanpa sengaja menyebutkan hubungan mereka sebelumnya, jadinya interogasi oleh orang-orang yang merasa peduli pada kami, Pak Aby yang memang selalu terkenal baik dan lemah lembut, serta Vira yang terlihat dingin diluar namun ramah dan selalu bersikap profesional merupakan kombinasi aneh yang menarik bagi para penghuni kedua cabang.
Dan seperti mimpi Vira merasa kejadian Makassar terulang lagi, hanya dengan versi yang berbeda dan lebih besar. Dan yang menjadi mak comblang dan sumber informasi yang akhirnya menyebar ke kedua cabang membuat Vira cukup sakit kepala, dan Aby malah merasa lebih bahagia, Vira terus saja mendapatkan dukungan yang membuat perasaannya aneh dan otaknya yang rasional lagi-lagi menganalisis kejadian sebelumnya. Namun berbeda seperti sebelumnya entah mengapa Vira melihat Aby tidak lagi seperti dulu, entah apa yang berbeda dan akhirnya mereka pun memutuskan kembali bersama dan melihat hal-hal yang membuat kegagalan sebelumnya.
Vira pun mencoba lebih terbuka kepada Aby dan selama berada di Surabaya mereka menikmati hubungan ini, mereka memang tidak selalu saling bertemu setiap hari dan pembicaraan mereka pun banyak berkaitan dengan pekerjaan dan suasana di masing-masing cabang, dan Surabaya memiliki banyak spot bagus juga untuk kencan sehingga Aby juga tidak kehabisan ide, apalagi bahasanya pun tidak terlalu berbeda dengan bahasa daerahnya sendiri, Aby pun melihat Vira lebih senang kali ini, dan perlahan walaupun sepertinya belum sepenuh hati, hati Vira yang beku mulai mencoba mencair untuk Aby dan dia mencoba menjalani hubungan ini dengan lebih sungguh-sungguh.
__ADS_1