My Dating Story

My Dating Story
My Mirror Gone


__ADS_3

Sesuai prediksi Vira, mereka menginap 3 hari 2 malam di Bone. Dan itu pertama kalinya Vira bertemu Winnie, Winnie hanya terus menatap peti mati yang berisi jenazah Sony, tidak percaya, Vira mendekati dan memegang tangan Sony yang memakai sarung tangan tapi masih bisa terasa dingin dan melihat wajahnya yang diam dan tenang. Vira tidak percaya dan tetap tidak bisa merasakan apapun, sedangkan Winie sama sekali tidak mau berbicara, dia hanya diam dan melamun, jadi akhirnya Xion yang menemui kami mengenalkan kami dengan keluarga Sony. Sony meninggal tiba-tiba, ia yang jarang berolahraga,malam itu bermain basket bersama teman-temannya dan kemudian beristirahat di pinggir lapangan, dan Sony memejamkan matanya, lalu tidak bangun lagi, saat dibawa ke rumah sakit ia telah dinyatakan tiada.


  *


Sudah lama aku tidak berkumpul dengan keluarga besar keluarga mama, dan hari ini aku berkumpul dengan mereka untuk merayakan tahun baru bersama. Karena mamaku merupakan keluarga besar dan anak termuda, alias anak bungsu, beliau cukup dimanja oleh kakak-kakaknya yang juga membuat terkadang mama cuma diam saja kalau ada komen-komen tidak enak mengenai aku. Tapi entah karena dari kecil aku sudah terbiasa dengan omongan yang kurang sedap dan aku yang memang berbeda dari mayoritas perempuan seusiaku di keluarga ini yang dianugrahi wajah super cantik dan tubuh yang lebih tinggi, rata-rata sepupu atau saudara perempuanku yang lain yang ada di keluarga ini tingginya di 170 cm, ada yang diatas rata-rata, namun jarang yang jauh dibawahnya seperti aku yang 160 cm saja tidak sampai, tinggiku 159 cm, 1 cm kurang untuk 160 cm, dan sejak muda aku dianugrahi kemampuan logika yang sangat bagus sehingga aku cukup jago dibidang yang berhubungan dengan itu, terutama matematika, sedangkan para gadis cantik itu sangat lemah. Sebenarnya menurutku Tuhan adil, namun jadinya tidak adil karena kritikan yang terus menerus ditujukan padaku.


Namun sekarang aku agak bangga karena aku punya posisi disaat saudara perempuanku yang lain bergantung full pada suaminya. Aku tidak berkata mereka semua tidak bahagia, walaupun ada juga sih yang mengalamai hal yang tak diinginkan juga tapi boleh kan aku bangga, aku merasa hidupku cukup bahagia saat ada yang mengacungkan jempol atas posisi dan pendapatanku saat ini, dan tatapan iri kepadaku kali ini membuatku lebih sedikit sombong. Namun tetap ada saja yang selalu salah pasti di aku, di usiaku, aku tidak terlihat dengan pendamping, sampai-sampai aku diragukan, apakah aku tidak menyukai lawan jenis? Atau malah dianggap terlalu pemilih karena sudah sukses. Kalau dipikir lagi pemilih pasangan hidup kan memang sudah seharusnya, ya masak harus asal cabut seketemunya, memangnya undian? Sekarang aku lagi ditengah-tengah mereka menjawab seadanya atau hanya tersenyum seadanya juga.


“Vi, tante denger lo kamu sekarang udah sukses banget, mama kamu enak tuh udah dapat uang banyak dari kamu.


“iya tante.” aku menjawab dengan tersenyum canggung, sedangkan mamaku hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya, ada bangga tapi juga merasa tidak enak mungkin.


“kalau anak tante mah gak kerja jadi gak bisa kasih duit.”

__ADS_1


Omongan ini membuatku bangga


“iya, tapi kan udah pada punya pasangan hidup, gak kesepian lagi. Kamu mana calonnya?”


(Nah kan muncul pertanyaan kayak gini, habis dipuji dimaki ini mah namanya rutukku dalam hati.)


“kamu jangan mentang-mentang udah sukses juga jadi terlalu pemilih, pilih aja yang nyaman, udah cukup, gak usah yang terlalu ganteng.”


Belum lagi aku menjawab kakak kandung mamaku yang lain menambahkan.


(Kali ini aku berkata dalam hati lah yang jelek juga banyak yang bikin makan hati, nah kalau ganteng makan hati setidaknya wajahnya masih bisa dinikmati kan?)


“jadi kapan kamu rencana nikah?”

__ADS_1


“ya coba aja dicariin tante.” jawabku seenaknya


“beneran ya entar tante cariin.”


Dan ini perkataan terakhir, sepertinya jawaban ini yang paling ampuh.


* * *


 Pertemuan saat itu hanya berlangsung beberapa jam tapi rasanya sangat lama dan melelahkan untukku, dan aku melihat wajah mama dan papaku yang seperti khawatir karena anak tunggalnya masih memilih jalan menjadi jomblo. Dan akhirnya demi mengurangi rasa khawatir mereka aku pun mendaftarkan diri disebuah biro jodoh berbayar cukup mahal yang memiliki kontrak 1 tahun dan juga mulai rajin mencari perkumpulan-perkumpulan muda mudi yang seiman denganku, karena kalau tidak seiman bisa kena hujat keluarga papa yang cukup fanatik.


 Aku mengikuti kegiatan itu dan kegiatan itu bagiku tidak membuatku mendapatkan jodoh atau sekedar pasangan, bahkan sebagai teman sepermainan saja sepertinya sulit, aku menyukai mereka hanya sebagai individu dan merasa mereka berbeda kelas denganku, gaya hidup mereka agak terlalu mewah bagiku dan aku terlalu sederhana bagi mereka, so pergaulanku dengan mereka berlangsung biasa saja dan lama-lama menghilang seiring dengan waktu. Namun aku mendapatkan hadiah yang cukup baik dari kegiatan tersebut, yang mungkin secara tidak sadar ada traumaku yang belum sepenuhnya pulih dan akhirnya bisa membaik, sehingga rasa curigaku pada orang-orang mulai berkurang, ketakutanku pada keramaian juga membaik, dan aku menyadari, walaupun cukup sukses dan diandalkan, aku tidak pernah mempercayai diriku sendiri, dan aku yang selalu merasa biasa saja. Aku selalu merasa penuh dengan kekurangan dan tidak memiliki tempat disini atau disana dan terus menjadi outcast dimanapun juga mulai lebih aku pahami sebabnya. Dan tentu saja tidak ada lanjutan hubungan special dengan siapapun dan aku yang semakin addicted dengan pekerjaanku membuatku sering sekali berada dalam businness trip, walaupun areanya masih pulau jawa tetapi sepertinya itu membuat biro jodoh yang aku daftar tidak kunjung mendapatkan calon untukku.


 “wah aku disidang son, harapan kamu ni bisa diajak chat kayak biasa. Kamu pasti bakalan maki mereka kan? Kamu selalu tau apa yang hati aku inginkan,  my mirror, kali ini aku jadi malah beneran ngomong sama mirror kan. Kapan kita chat lagi di grup mirror less? Hahhhaa lucu si nama grup itu kurang cermin, dan bener aja aku jadi kehilangan kamu, kamu yang nyablak dan suka gak ada saringannya, yang mengerti kalau aku juga sering begitu, aku juga gak tega terakhir lihat winnie, aku sempat call dia dan yang jawab Xion, Xion bilang Winnie depresi, Xion berharap kalau aku tinggal sekitar sini mungkin bisa bantu adik kesayangannya itu tapi karena jauh aku malah jadinya ngobrol dengan Xion. Xion seumuran denganku, ia juga cukup dekat dengan Sony yang 1 tahun lebih muda. Aku sampe ikut biro jodoh yang aku yakin kalau kamu tau harganya pasti bakalan maki aku juga, apa gak ya? Hahahhaha.”

__ADS_1


 Sejak kehilangan Sony aku sering curhat dengan cermin betulan yang tidak pernah menjawab, hanya aku sendiri yang menjawabku. Mungkin ini cara aku menghapus kehilangan satu-satunya cermin hidupku itu, sudah 8 bulan lalu Sony pergi, Winnie masih dalam depresinya, Xion yang menjaganya. Dan aku merasa duniaku benar-benar berubah, karena aku pikir ada kamu yang bisa hidup di dunia ini dan merasa “belong” maka pasti aku bisa begitu juga, namun sekarang maah kamu yang nyari dunia lain, dunia yang belum bisa aku datangi saat ini, kamu pasti sudah bahagia disana ya Son.


* * *


__ADS_2