
Vira dan Wandi duduk dipinggir pantai sembari menikmati angin yang berhembus tidak terlalu kencang ke arah mereka, seolah laut dan angin memahami perasaan mereka. Mereka tidak seperti biasanya, berdua hanya menatap pantai tidak saling bicara. Satu-satunya suara yang terdengar sepertinya seolah mengalahkan suara ombak adalah hembusan nafas cukup berat berasal dari mereka berdua. Mereka tahu apa yang harus dilakukan tetapi tidak ada yang berani memulai pembicaraan yang akan membuat semua yang mereka rasakan harus berakhir dan mungkin menjadi tidak nyaman. Hari ini cukup cerah dengan awan yang menutupi matahari sehingga tidak terlalu terik. 1 jam berlalu tanpa bicara dengan sesekali menatap dengan memberikan senyum sedih satu sama lain.
“Vir.” akhirnya Wandy mulai berbicara
“yup.”
“kita harus bicarain ini kan?”
“ya, sepertinya.”
“kamu tau kan kalau kita beda.”
“ya.”jawab Vira sambil tanpa sadar air matanya turun begitu saja. Wandy tidak melihat ke arahnya dan terus menatap pantai.
“u know what I mean.”
“ya.” Vira menjawab pelan dan menghapus air matanya. Wandy mengulurkan tangannya dan mereka saling menggenggam tahu kalau hubungan ini harus berakhir sebelum memulai apapun, dan ini pertama kali Vira menangis karena perasaanya, karena sebuah hubungan dengan lelaki, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bagi Vira semua hal yang berhubungan dengan Wandy itu sempurna, Vira sadar Wandy adalah tipe idealnya. Dan Vira tahu, mereka pun mengakhirinya dengan pelukan yang seolah memberikan rasa damai untuk perasaan mereka yang tidak bisa dilanjutkan.
Hari-hari berlalu begitu saja tanpa memberikan mereka kesempatan lagi sampai akhirnya Wandy harus kembali ke Jakarta karena masa auditnya di makassar sudah berakhir, mereka mencoba menjadi teman baik walaupun sampai saat ini terlalu sulit. Dan mereka pun seperti tau harus memberikan waktu masing-masing untuk menetralkan perasaan mereka, apakah benar hubungan special ini yang seperti takdir namun ternyata hanya pelajaran hidup? Mencintai memang tidak salah tetapi ini realita kehidupan. Bisakah mereka mengendalikan perasaan dan hati mereka menjadi sahabat dan meredam segala perasaan lain yang ada? Waktu, mungkin itu satu-satu jawaban terbaik, karena waktu terus berjalan dan apa yang terjadi nanti tidak selalu sesuai dengan prediksi kita, namun siapa tau saat kita tetap positif semua menjadi baik.
*
__ADS_1
Wandy Point of View
Terkadang seolah nasib atau entah takdir mempermainkanku dan menguji keberanianku menembus hal-hal yang belum pernah aku tembus, namun banyak hal tidak bisa aku sesuaikan dengan kemauanku. Budaya, agama menjadi halangan yang besar dalam sebuah hubungan. Ini pertama kalinya aku merasakan hubungan yang terasa natural berjalan apa adanya tanpa tekanan, seperti mimpi, dan tidak kusadari tumbuh perlahan. Aku sungguh tidak menyangka akan bisa menemui dia lagi, aku sama sekali tidak mengira kami akan bertemu di pulau lain, dan aku bisa mengenalnya lebih. Jalan hidupku mempermainkan perasaan, sejak kesan pertama kami sering tidak sengaja bertemu di transjakarta, aku selalu merasa Vira orang yang positif, yang terlihat puas dengan hidupnya dan menyenangkan, namun mengenalnya lebih, menikmati hobi yang sama membuat aku takut dan keputusanku mengatakan aku harus mundur demi prinsip kami masing-masing, karena aku tau seberapa respectnya dia dengan aku dan agamaku, dan begitu pun betapa ia berpegang kuat pada keyakinannya. Kecocokan ini sangat disayangkan dan kuharap aku bisa kembali ke waktu sebelumnya atau mengubah hubungan kami ke persahabatan, mungkin kami dipertemukan kembali untuk menjadi sahabat hati yang saling memahami satu sama lain, bukan hubungan special yang melibatkan kata berinisial “C” itu. For now, I hope we can be happy.
Vira Point Of View
Bertemu dengannya membuat jantungku berdegup lebih kencang, entah karena kaget akan dia yang tiba-tiba muncul lagi, terlebih di pulau ini atau perasaan excited yang berlebih yang memperkuat adrenalinku dan membuatku jauh bersemangat bahkan tidak menyadari kelelahanku, aku hanya merasa semakin kuat dengan adanya dia, dan merasa bisa melakukan apapun. Perasaan ini pertama kali muncul, aku rasa ini yang dinamakan cinta pertama. Cinta pertama di usiaku saat ini aku rasa bisa memberikan tawa bagi banyak orang yang kukenal terkecuali orang terdekatku, aku tau aku lambat, dan terlebih aku memilih jalan yang membuatku sulit sendiri, yang membuat kami terperangkap dalam hubungan yang harus segera dihentikan. Aku tahu aku sering melakukan hal yang diluar akal sehatku namun bukankah pengalaman ini tidak akan selalu terjadi jadi aku memilih untuk menikmatinya. Dan lebih dari apapun aku selalu berusaha menghindari perbedaan ini LDR Type One, Love Different Religion. Keyakinan kami yang berbeda memaksa kami untuk berhenti karena itu yang terbaik, mungkin saja pelajaran hidup ini akan menjadi kenangan yang sangat indah bagiku suatu saat nanti. Saat ini aku hanya bisa berusaha untuk mengalihkan perhatianku dan berharap waktu menghapus perasaan tidak masuk akal yang ada di hatiku ini, aku yang bertindak, aku yang merasa, aku juga harus siap untuk menerima resikonya. Terimakasih telah datang dalam hidupku seperti takdir yang membuatku menyadari tipe idealku. Hope we will find our destiny and be happy.
*
“Aku tahu Son, aku tau.”
“aku gak mau menyesal, aku gak mau dia jadi hal yang gak jelas seperti Toma.”
“ya, bahkan kamu sendiri tidak tau perasaan apa antara kamu dan Toma, dan apalagi si Toma, yang cuma lari kayak pengecut.”
“lah kenapa jadi maki dia lu?”
“kesel aja.”
“hahahha….thanks ya son.”
__ADS_1
“apanya? Perasaan gw cuma nagging.”
“karena kamu udah jadi sahabat aku dan selalu ada buat aku seperti saat ini.”
“cuma chat doang, bisa lah.”
“hahahhaha, kadang aku ngerasa kamu itu sempurna, untuk teman curhat aku.”
“ngomong sama cermin.”
“hahahaha, tapi bisa jawab lho, seolah ngomong sendiri dijawab gitu enak kan?”
“ya ya ya, tapi kamu sebut soal tipe ideal, setelah usia segini nemuin juga ada untungnya kan?”
“iya juga. Ada hal positif lah kalau kita mikirnya positif.”
“kamu senang, sempat senang setidaknya, dan tidak menyesal.”
“gak bisa bilang gak si untuk itu.”
Mereka saling chat selama berjam-jam dengan lebih banyaknya nasehat dari Sony yang kadang merasa paling ahli dalam hubungan padahal ya Vira tahu semua hubungan Sony, cuman 2, yang kedua ya Winnie. Dan kedua ceweknya ya memang beda kepribadiannya walaupun diluar ya banyak kesamaan, mereka bright, mungkin itu yang bikin Sony tertarik, secara kami berdua berada di dark side, mungkin Sony butuh Light, sedangkan aku, aku rasa aku lebih memilih yang sedikit dark, gak bisa yang bright, karena mungkin aku takut silau.
__ADS_1