My Dating Story

My Dating Story
Story Four Right Timing (2)


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu sejak Wandy kembali ke jakarta dan kedua orang itu (Vira dan Wandy) sepertinya loose contact, paling tidak untuk sementara waktu dan ini seperti waktu yang tepat bagi Aby untuk masuk lebih dalam ke kehidupan Vira. Aby sekarang  jadi rutin mengajak Vira pergi malam minggu bahkan sering tanpa Pak Edo, dan kadang mereka pergi dari pagi di hari minggu, Aby dan Vira sama-sama pergi ke gereja, namun gereja mereka berbeda, meski tahu begitu Aby ya malah mengantar dan ikut berdoa di gereja Vira, kadang hal ini membuat Vira tidak enak sendiri, namun juga tidak ada alasan untuk menolak. Vira bingung, namun Vira cukup tahu kalau perasaanya ke Aby tidaklah special seperti itu, tidak pernah juga Vira membayangkan hubungan khusus yang lebih dari teman biasa atau paling poll ya kakak adek Zone. Entah sejak kapan atau memang dari dulu Vira ini cukup peka kalau ada cowok yang mendekatinya namun dia tidak tertarik, sepertinya perasaan tersentuh, ingin balas kebaikan bukanlah hal yang pas untuk memulai hubungan special dan Vira saat ini cukup yakin, apalagi Vira juga tidak sedekat itu dengan Aby, dan sepertinya mereka tidak memiliki Common Hobby.


Hari ini agak sedikit berbeda karena Aby mengajak ke pantai, biasanya mereka hanya makan dan paling jalan-jalan sedikit, Vira tidak begitu mengenal Aby, dan mungkin begitu pula Aby.


“Vir, kamu di makassar udah lumayan lama kan?”


“ya lumayan kak, 7 bulan apa 8 kayaknya? Tetap lamaan kakak kok.”


“hahahah, iya lah. Aku udah 2 tahun lo disini.”


“btw kk tumben ngajak ke pantai?”


“gak apa-apa, pengen ganti suasana aja, kenapa? Kamu gak suka ya? Terlalu panas ya?”


“eh? Aku gak bilang apa-apa lo kak, cuma tumben, ya artinya gak biasa, tapi bukan berarti gak suka.” dalam hati Vira pengen bilang di pantai ini Vira malah jadi mengenang Wandy, tapi Vira tidak berkata begitu, takut menyakiti perasaan lawan bicaranya.”


“kamu sama Pak Wandy gimana?”lah dia malah nanya, apa bisa baca pikiran yak pikir Vira dalam hati.


“gimana apanya?”


“lah bukanya kalian special?”


“hahaha, yakin nanyanya baru sekarang kak?”


“kentara banget ya aku lagi pdkt kamu?”


“hmm” Vira mengangguk seadanya.


Bersama Aby, Vira merasa cukup nyaman tapi tidak excited seperti bersama Wandy, duduk bersama mengobrol si ok ok saja yang lainnya gak tau d.


“tapi boleh kan aku pdkt sama kamu?”


“emangnya kalau aku larang kakak bakal berhenti?”


“gak si.”

__ADS_1


“yaudah percuma juga kan apapun jawabannya gak penting bagi kakak.”


”ya gak gitu juga, sori lo kalau kamu na jadi gak nyaman.”


“nyaman. Aku si nyaman-nyaman aja kak, kakak kan juga salah satu keluarga besarku disini dan seperti pak Edo wilayah asal kita paling dekat.”


“ya jadi kamu gak keberatan kak sering jalan-jalan sama aku?”


“ ya lumayan seneng si jadi hilangin penat juga kan?”


“jujur aku udah lama banget gak pacaran.”


“berapa lama emang kak?”


“mungkin sekitar 10 tahun yang lalu kayaknya.”


“wah lama itu.”


“waktu itu aku pacaran sama dia setelah lulus sma, dan kita sudah serius, sudah tunangan.”


“tapi semua batal, dia selingkuh.”


“heh? Selingkuh?”


“iya, itu bikin aku waktu itu ancur banget.”


“...” Vira tidak tau harus menjawab apa dan sekilas melihat wajah Aby yang memiliki bekas luka cukup besar di wajahnya, bekas jahitan di pipi yang ia dapatkan karena kecelakaan motor yang hampir merenggut nyawanya. So secara penampilan Aby tidak bisa dibandingkan dengan Toma si mulus macho atau pun Wandy yang juga mulus namun beda tipe. Ya mungkin kalau mau dibandingan, anggap Toma atlit basket? Atau atlit sepak bola ya? Sedangkan Wandy atlit catur. Sama-sama atlit tapi beda genre.


“udah ah kalau inget itu malah bikin suasana gak enak.”


“ya kakak pasti akan nemuin orang baik nanti, yakin d kak.” jawaban Vira sudah menyiratkan ke orang lain, tapi entah Aby sengaja pura-pura tidak tau atau memang tidak menangkap maksudnya.


“ya siapa tau orangnya udah didepan aku kan?” Aby tersenyum dan berdiri ke gerai es kelapa terdekat.”


“wah es kelapa, enak ni seger.”

__ADS_1


“yuk la disana aja lebih teduh.”


“eh ada gula gula kapas.”


“kamu mau?”


Tanpa menunggu Aby, Vira sudah mendekati abang gula-gula dan membelinya.


Aby tertawa melihat kegembiraan sederhana yang muncul di wajah Vira yang benar-benar terlihat seperti anak kecil. Dibanding cute wajah Vira tergolong terlihat seperti wajah anak-anak walaupun usianya mah sudah hampir 30. ya sudah lewat dari 26 tahun, jadi 20aaaaan. Namun orang-orang sering tertipu karena wajahnya dan apalagi kalau sifat polosnya muncul.


Dan tiba-tiba baru saja mau menikmati gula kapasnya ada dua anak kecil sepertinya anak jalanan mendekati mereka, lebih tepatnya mendekati Vira


“kak…” yang cewek mendekat dan menadahkan tangannya. Menurut Vira memberi uang pada mereka tidak akan baik karena uang akan diambil oleh pengurus mereka.


“maaf ya dek”


“minta itu kak.” si anak cowok ikut mendekat menunjuk gula-gula kapas Vira yang sudah di makan sedikit.


“mau ini?” Vira menyodorkan gula-gula kapasnya.


“dikit aja kak.” dan mereka pun masing-masing mencuil gula-gula kapas itu lalu pergi


“kamu gak apa-apa?” tiba-tiba Aby yang diam saja dari tadi bicara dengan nada agak bingung.


“ya gak apa-apa? Emang kenapa? Cuma anak kecil kan?”


“tapi bener gitu kamu lanjutin makan lagi?”


“emang kenapa si kak? Lah mereka dikasih semua gak mau kok.”


“bukan….” Aby ingin melanjutkan lagi tapi berhenti dan berpikir Vira ini benar-benar cewek langka, dalam artian positif dan Aby mengulas senyum di wajahnya.


Sesudah itu Vira hanya tersenyum melanjutkan memakan gula-gula kapasnya dan menikmati langit yang agak berawan diatas kepala mereka, sedangkan Aby melihatnya dari samping dan membuat jantungnya berdegub lebih kencang.


                                                                                                    *

__ADS_1


__ADS_2