
Vira mendapatkan dampak negatif saat pandemi dan membuat ia akhirnya merenungi dirinya sendiri, dan menyadari bahwa hidupnya hanya seperti bongkah yang tidak ada isinya, kosong. Ia semakin tidak memahami dirinya sendiri dan kalau dia tidak bisa lagi menikmati apa yang ia lakukan, ia mengalami kesulitan tidur karena awalnya kebiasaan buruk karena sempat harus bekerja sampai 24 jam, dan apabila tertidur pun dia bermimpi sedang bekerja, hidupnya hanya berisi pekerjaan bahkan dalam mimpi. Ia menjadi kurang istirahat dan mudah sakit (fisik dan mental), merasa kehilangan dirinya dan menyadari kalau selama ini ia tidak mencintai dirinya sendiri bahkan agak membencinya, oleh karena itu akhirnya ia ingin mencari jalannya sendiri, jati dirinya dan untuk itu ia membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, oleh karena itu Vira mengajukan resign kepada atasannya yang sangat mempercayai Vira. Alhasil pengunduran diri itu tertahan cukup lama, dan Orang tua Vira malah sakit yang membuat Vira bingung, karena ia yang membiayai orangtuanya, apakah bisa kalau ia memulai dari 0 dan meninggalkan pekerjaanya. Ah tiba-tiba Vira teringat akan Sony lagi dan kali ini ia curhat dengan cerminnya.
(Son, entah kenapa keputusan mengundurkan diri ini susah banget ya.aku si yakin kalau kita bisa ngobrol sekarang mungkin kamu bakal bilang akhirnya Vir, kamu harus coba lebih memikirkan dirimu sendiri, kamu hidup buat diri kamu juga lho, kamu selalu ingin orang sekitarmu bahagia selalu seperti itu, kamu selalu ingin membuktikan kalau kamu bisa diandalkan, tapi apakah mereka benar-benar peduli akan hal itu? Dan apa untungnya bagi kamu kalau ujungnya kamu gak bahagia. Ah Son, aku bener-bener kangen kamu bakal ngomel kayaknya, karena aku tidak melakukan ini sejak dulu kan? Aku takut son, tapi sekarang aku punya gambaran kehidupanku nanti walaupun mulai lagi dari 0 kamu bakal selalu dukung aku kan?) Vira terus menatap cerminnya berharap mendapatkan benar-benar jawaban Sony bukan hanya suaranya sendiri dan tanpa sadar air mata Vira turun hanya dari sebelah matanya, ini adalah salah satu kebiasaan Vira yang aneh saat menangis hanya mata kirinya yang mengeluarkan air mata.
POV Vide
__ADS_1
Sudah sejak dulu aku tau aku orang yang berbeda, cara pikir maupun tindakanku apabila dibandingkan dengan orang lain pada umumnya, bisa dikatakan aku outsider, aku selalu berpikir dengan cara orang lain tidak memikirkannya, dan soal perasaan aku sangat deep, tapi untuk sampai kesitu butuh waktu yang lama, aku tidak percaya ada yang instant untuk apapun. Dan suatu hari kakakku yang mengetahui bahwa aku terlibat hubungan dengan seorang cewek yang berbeda agama khawatir pada diriku dan karena dorongan dari ortu juga untuk mengenalkanku dengan yang se-agama.
Saat itu kakakku Rini membawa kabar gembira ke rumah setelah mengikuti suatu acara yang memiliki tema agama kami dan juga semi blind date, dia bertemu dengan seorang pria baik dari jawa tengah, dan mereka memutuskan berpacaran jarak jauh. Sebenarnya agak kaget juga aku sama keputusannya yang terasa sangat cepat. Tapi apabila dia bahagia, aku pasti akan mendukungnya.
Sore itu aku dengar suara tertawa dan sedikit obrolan di ruang tengah antara ibu dan kakakku yang akhirnya membuat rasa ingin tahuku muncul karena mendengar namaku pun disebut, jadi aku mendatangi mereka yang tentu saja mereka malah memaggilku. Kakakku ingin mengenalkanku dengan salah satu teman pacarnya. Dia lebih muda 2 tahun dariku, dan menurut ibuku sepertinya anak yang baik, latar belakangnya gak ada yang terlihat special. Sisanya aku kurang tau juga, dan foto itu dikirimkan ke aku juga oleh kakakku, kakakku memintaku untuk berkenalan dengannya, dan menurutku ya tidak ada salahnya, perbanyak teman, apalagi kalau akan menyenangkan kenapa tidak? Walaupun aku introvert aku kadang suka mengenal orang secara private. Dan sebelum aku diberikan nomornya kakakku meminta foto terakhirku. Aku bingung juga mau foto sekarang sepertinya aku tidak lagi terlihat bagus, bisa jadi kesan pertama yang buruk nantinya. Aku men-scroll foto-foto di galery hapku dan akhirnya menemukan foto yang lumayan baru yang agak pantas, foto yang diambil oleh teman dekatku dan sekaligus rekan kerjaku, saat itu hari jumat dan aku sedang memakai baju batik baru.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk men-chat gadis itu sore ini, karena ini hari sabtu mungkin juga ia tidak terlalu sibuk. Tetapi ternyata aku salah, dan ini malah membangkitkan rasa penasaran, cewek ini, Vira namanya dari chatnya sepertinya cukup ceria namun kelihatan kehidupannya penuh dengan pekerjaan, mungkin karir adalah prioritas hidupnya, so aku merasa dia akan slow pace juga dalam perasaan. Dan kami menikmati hampir setiap chat, aku bahkan sangat menikmatinya saat kami bisa bermain bersama dan ia meminta bantuanku untuk menyelesaikan misi.
Vira memang berbeda dengan cewek-cewek yang lain yang pernah aku kenal pada umumnya, dan terlihat prioritasnya akan perkerjaanya, pengetahuannya cukup luas dan benar-benar punya keinginan belajar yang tinggi, bahkan aku tidak bosan setiap hari melakukan chatting dengannya dan bahkan menghabiskan weekend dengan vcall dengannya selama berjam-jam.
Vira cukup lucu dan semakin suka flirting kalau aku rasakan belakangan ini yang awalnya membuatku tertawa tetapi lama-lama agak membuatku bingung dengan kesungguhannya, sesungguhnya aku cukup takut juga kalau ternyata kami ini tidak compatible. Dia berkali-kali mengatakan kalau dia orang yang absurd, dan aku tidak tau bagaimana harus menyangkalnya, kalau aku bercerita pada teman-temanku yang perempuan mereka kadang penasaran dan aku hanya bisa mengatakan Vira itu unik dan absurd, yang membuat mereka cuma saling menatap dan tidak berkata apapun lagi.
__ADS_1
Aku benar-benar merasa mungkin kita memang memiliki kecepatan yang sama dengan jalan yang berbeda sampai suatu saat seperti Vira merasa dirinya ketakutan dan dia sangat tidak suka keadaan itu, ia mengatakan padaku, namun semua yang ia ceritakan tidak lengkap, seolah memang sengaja ia lewati entah kenapa, mungkin ia takut, mungkin ia terlalu kalut, jadi aku menunggu penjelasannya dan merasa chat dia dan aku seperti ke arah yang berbeda, sepertinya kami sudah berada di frekwensi yang berbeda, dan aku pun lelah menunggu ditambah sepertinya ia memang ingin menyudahi semuanya dengan mengatakan takut, sebelum jarak kami semakin menjauh yang membuatku mundur sendiri ia berkata kalau ia takut, ia takut akan menyesal atas apa yang akan ia lakukan padaku. Aku terus bertanya apa itu, tapi dia terus berkata tidak bisa karena takut, lama-lama aku berhenti bertanya dan dia kembali terus menerus berusaha membuatku tertawa, dan entah kenapa aku merasa ia sedang membangun tamengnya, ia seperti merasa harus membuatku tertawa sampai aku tidak tau lagi harus berkata apa dan akhirnya aku mengatakan kalau yang hanya aku bisa ingat tentang kamu, kamu absurd, please just do something, I just don’t want to remember the absurd you. Dan aku bilang ia terlalu tertutup, ia pun mengatakan hal yang sama dan kami pun sama-sama tahu kalau tameng yang kami miliki masing-masing mungkin lebih tebal dari yang kami kira, aku mundur setelah ia memang membangun tameng itu untuk menutup dirinya dengan alasan takut yang tak pernah dijelaskan. Dan kami pun hampir seketika seolah menjadi orang asing, saat dia chat jawabanku tidak bisa panjang dan lama-lama kami tidak lagi saling chat.