
Tidak terasa sudah hampir 3 tahun Aby dan Vira menjalin hubungan, namun hubungan mereka malah terasa makin datar saat tidak bertemu, Vira yang tidak suka dengan orang yang suka ingkar janji sudah sangat lelah dengan Aby yang terus menerus tidak menepati janjinya karena alasan yang tidak masuk akal, dan mereka hampir selalu berdebat yang berujung pertengkaran atau toleransi Vira.
“Halo kak.” Kali ini Vira menghubungi Aby yang tidak memberi kabar di malam sebelumnya.
“halo Vir.”
“Kakak pulang jam berapa semalem?”
“ooo jam 9, kenapa emangnya?”
“kok gak info? Bukannya udah janji ya? Komunikasi kan penting kak, kalau kakak ada apa-apa aku juga bisa khawatir kak.”
“oalah kemaren aku ketiduran.”
“ketiduran? Kemarin lagi juga kakak bilangya ketiduran? Apa gak bisa gitu kirim pesan aja ke aku?”
“ya aku lupa.”
“sekarang kakak bilang lupa? Kakak kan tau aku paling gak bisa toleransi orang yang ingkar janji apalagi orang terdekat.”
“ya aku lupa gimana? Aku pulang kerja ya aku mandi terus mau telpon kamu tapi nyalain TV dulu, eh malah TVnya yang nonton aku…hehehhe.” canda Aby
“ok, terserah kakak aja, emang janji gak perlu ditepati kan kak.”
“bukan gitu…”
Kesal dengan alasan tidak masuk akal Aby Vira langsung mematikan sambungan teleponnya dan entah telepati atau apa malah ada telepon masuk dari Wandy, dan ternyata sudah menelepon beberapa kali.
“ weits Vir, busy busy.”
“hahaha.” tawa datar Vira pun menyambut
“kenapa lu? Jangan bilang Aby lagi deh?”
“yup siapa lagi? Nah kalau emang gak cocok kenapa kamu bertahan si?”
“entah, logikaku bilang dia ok.”
“lagi-lagi kamu dengan logikamu.”
“hahahha, apa bedanya sama kamu?”
“hahahaha….udah lah nge game gak?”
“ok deh, ayo….”
Dan malam itu Vira menghabiskan waktunya bermain shooter game dengan Wandy.
*
Aby datang ke Jakarta dan bertemu dengan keluarga Vira, keluarga Vira jarang mengekspresikan dirinya, bahkan saat ini, saat Vira yang tidak pernah membawa lelaki yang diakui sebagai pacar sebelumnya, reaksi mama papa hanya datar saja, tidak excited dan juga tidak sinis. Namun Vira merasa Aby menjadi agak pasif dan lagi-lagi Aby menolak saat Vira mengajaknya bergabung dengan sepupu Vira dan pasangannya.
“kamu aja yang kesana, aku disini aja.”
“lah aneh dong kak, kesanya aku jadi nelantarin kakak.”
“ya ini acara keluarga kamu, ak juga kan gak ada yang kenal.”
“maka itu aku kenalin kak.”
“tadi kan udah kenalan.”
__ADS_1
“kakak susah banget si ya buat kenal lebih keluarga aku.”
“hahaha, gak kok, hmm kita nikah aja gimana?”
“kakak? Yakin ngelamar aku?”
“iya lah, mending kita nikah aja yuk.”
“belakangan kita selalu bertengkar terus kakak pikir kita bisa nikah?”
“besok deh kita bicarain ini lagi ya, kamu jangan marah.”
“ok.”
Keesokan harinya
Aby menginap di rumah Vira sehingga keesokanya mereka pergi bersama ke tempat yang cukup tenang untuk mereka bicara, mereka ke sebuah arena ice skating tetapi tidak masuk ke dalam, hanya menonton dari luar sambil makan. Vira menyukai tempat ini karena melihat para profesional ice skater kadang menari diatas es mmbuat Vira tenang dan senang. Dan walaupun Vira mudah kedinginan, ia sangat menyukai es, seperti yang ada di area ice skating. Sedangkan Aby tidak terlalu memperhatikan itu, lagi-lagi memang mereka hanya 2 orang yang berbeda dan sulit mencari kesamaan.
“Vir, gimana yang aku bilang kemarin?”
“apa kak? Nikah?”
“yup, aku gak perlu berlutut untuk melamar kamu kan?”
“ are u sure you say that to me now?” Vira pun menatap tajam Vira dengan wajah cemberut menahan marah dan frustasi
“ kamu tau aku gak bisa bahasa inggris, aku gak ngerti kamu ngomong apa.”
“Forget it.”
“apa? Forget?”
“sebenarnya aku tau kamu selingkuh Vir.”
“aku?” kali ini Vira menunjuk dirinya sendiri dan tidak percaya ia mendengar perkataan itu dari Aby.
“iya kan?”
“sama siapa?”
“Wandy lah siapa lagi?”
“heh? Kamu kan tau hubungan aku sama wandy gimana dan aku selalu cerita ke kamu, kenapa malah aku dituduh selingkuh?”
Aby terdiam
“dan kalau emang gitu menurutmu kenapa kamu gak mutusin aku kak?”
“aku gak bisa mutusin cewek.”
“WTH.…” Vira memaki
“kalau itu alasan anda, yaudah aku aja yang putusin anda.”
“ok” jawab Aby cukup cepat dan jawaban itu seperti memang sudah ada disana hanya menunggu kata putus dari Vira.
“kamu ngajak aku nikah dan aku putusin kamu, jadi sekarang aku kan Villain-nya.”
“gak ada villain Vir, gak ada yang jahat.”
“ya itu kata anda, anda membuat saya seperti sekarang, terimakasih, mari aku antarkan anda ke bandara, sore ini anda harus kembali kan?”
__ADS_1
“santai aja Vir, dari kantor pusat kebetulan ada yang mau ke bandara juga jadi aku sekalian ikut.”
“ok,kalau gitu hati-hati dijalan.”
Aby meninggalkan Vira sendirian yang sekarang menempelkan dirinya ke dinding luar area skating dan memandang pelatih ice skating yang sedang menari diatas es dan melihat sekilas ke luar ke orang-orang yang menontonya. Dancing in the ice, dan saat itu juga hati Vira mengeras seperti es yang ada disitu.
*
Vira tidak menangis namun tiba-tiba ia kehilangan akan rasa apa pun, tidak bisa merasa senang atau pun sedih atau rasa lainnya. Kemarin setelah 2 jam menonton ice skating Vira menelepon kedua sahabatnya, Sony dan Wandy. Entah sejak kapan Vira tidak ingat Wandy dan Sony yang tidak pernah saling bertemu juga telah menjadi teman baik yang sama-sama peduli pada keadaan hati Vira dengan cara yang berbeda.
“ya akhirnya aku putus.”
“bukannya memang seharusnya kamu udah tau ya, kalian tidak memiliki similiaritas.”
“kalau itu yang aku cari, kamu lah jawabanya Son.”
“gak bisa full juga kali, males yang ada gak excited pacaran sama cermin.”
“Son, itu Vira lagi sedih, hiburnya kok jahat banget si. Kali ini Wandy yang dari tadi menjadi pendengar ikut menengahi.”
“kamu kak, kayak gak tau Vira aja, ya harusnya si kamu, kamu jahat si kak.”
“lah kok jadi aku yang jahat? Aku disini pendengar yang baik lon gak jahat.”
“hahahha.” mendengar perdebatan gak penting sahabatnya Vira mencoba tertawa, namun terdengar getir dan datar.
“tapi bener aku gak terima kamu dibilang selingkuh, sama aku pula.”
“ya aku juga gak terima yang ada kamu yang selingkuh sama Ab itu.”
“kenapa namanya jadi dikit gitu si Son?”
“pengen maki aku.”
“maki aja, aku dukung.” sahut Wandy
“kenapa gak kamu yang maki aja kak, kan kamu jadi objek selingkuhnya.”
“tapi kok aku punya firasat dia yang selingkuh ya?”
“heh? Vira pun jadi penasaran
“nah beberapa hari yang lalu kan aku ke ruangan Reli, HRD pusat yang baru itu, terus aku kayak liat foto Aby di wallpaper hpnya.”
“wah kamu serius kak? Kok gak cerita?”
“lah aku gak yakin, aku liatnya cuma sekilas, jadi ya aku pikir aku salah liat tapi tadi aku ya kaget pake banget.”
“apalagi si..” kali ini Vira mulai makin gemas dengan cerita lambat Wandy
“jadi kan Aby kembali ke Bali ya, Reli juga tugas kesana, nah aku kan mau ke makassar jadi ke bandara juga, aku berangkat sama Reli, tau-tau ada Aby juga.”
“waw” Sony mewakili rasa takjub yang dirasakan mereka berdua.
“dan mereka seperti kenal cukup lama, walalupun kayak pura-pura gak terlalu kenal kalau pas aku dekat tapi beberapa kali aku liat mereka bisik-bisik gitu, asli mencurigakan banget.”
“walah ini si namanya emang maling teriak maling.”
Pembicaraan mereka berlanjut lagi setelah Vira sampai di rumah dan Vira pun tertidur ditengah pembicaraan mereka yang semakin membuat Vira merasa tidak adil.
*
__ADS_1