
Hari Sabtu
Vira mendapatkan notifikasi chat dari salah satu kakak panitia, Yogi yang ternyata sudah mendapatkan pacar dari salah satu peserta yang sempat ikut private blindate juga tapi gagal(ok, Vira juga gagal, tapi dia lebih cepat), terus Yogi memberanikan diri mendekatinya sesudah itu, dan mereka merasa cukup cocok, panitia ini mengatakan kalau dia menganggap Vira itu adiknya.
“Vir, kamu masih single kan?”
“iya kak, kenapa kak?”
“aku kenalin ke cowok mau gak?”
“kenalan mah gak ada salahnya kak.”
“oh beneran kamu mau ya, dia adeknya pacarku, adeknya rini.”
“wah kak rini kan cantik banget, adeknya pasti cakep tuh.”
“entar d aku kirimin fotonya ya, dia si udah lihat foto kamu.”
“ooo, boleh kak.”
__ADS_1
Malam itu Vira melihat Foto lelaki itu, si adik Rini dengan memakai baju batik, dari fotonya ia terlihat ceria,matanya yang besar terlihat berbinar seolah mengatakan aku senang, model rambutnya agak lucu dibelah tengah, wajahnya juga cukup lucu, 2 tahun lebih tua dari Vira, tetapi wajahnya juga awet muda, padahal usia Vira sudah 33 tahun dan dia 35, tapi mereka sama-sama terlihat lebih muda dari usia mereka seperti masih diusia 20an. Dia kerja dan tinggal di jakarta, jadi ya kalau memang cocok mereka bakalan LDR, karena Vira masih di jawa tengah, tapi konsep LDR sepertinya konsep yang cukup disukai oleh Vira. Selama kepercayaan dan komunikasi lancar semua bisa baik, apalagi sekarang memang pandemi lagi cukup naik daun, wah negara-negara di dunia banyak yang berubah seperti jadi kota mati dan pertemuan-pertemuan diminimalisir sampai dilarang.
Pandemi ini melanda siapa saja tanpa pandang usia dan menambah sibuk aktifitas sosial Vira dari grup perusahaan tempatnya bekerja. Penuh kesibukan kasus demi kasus lingkungan yang sekarang juga menjadi area kerja Vira membuatnya semakin sibuk di tengah pandemi ini dan memikirkan kalau punya hubungan LDR lebih baik sehingga punya kesibukan masing-masing. Laki-laki itu, adik dari Rini bernama Vide, agak lucu sebenarnya karena pandemi ini pandemi covid, dan panggilan kakak laki-laki chinese itu ko kalau Vira memanggil dia jadi Ko-Vid? Dan lebih hebatnya kita berkenalan saat pandemi Covid. Ko-Vid dan Covid akan terdengar sama.
Keesokan Hari
Permasalahan karyawan, permasalahan HRD, Masalah perbaikan-perbaikan di lingkungan pabrik, dan juga permintaan-permintaan dana sosial sampai kegiatan sosial yang diminta oleh Perusahaan dalam grup ini yang bergerak di bidang sosial begitu banyak yang harus diselesaikan oleh Vira. Sejak pindah ke jawa tengah mau tidak mau Vira harus terdaftar juga sebagai perwakilan untuk PT ini karena ia juga memegang CSR (Corporate Social Responsibility) dan merupakan satu-satunya orang yang dikenal oleh pusat selain direktur, terlebih lagi waktu di Serang Vira juga suka membantu acara yang sering dilakukan oleh GA (General Affair), dan sekarang GA juga menjadi bagian tanggung jawabnya. Bidang kerja yang banyak ini sering kali membuat Vira tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, namun untuk saat ini Vira masih menjalaninya dengan baik dan cukup menikmatinya, walaupun terdaftar di 3 PT bukanlah kemauannya dan juga tidak mudah, semua diluar ekspektasi sehingga lebih berat bagi Vira.
Sore hari tiba, Vira sedang menunggu laporan terakhir dari shift 2 tentang keadaan lingkungan yang kasus tadi, sembari menunggu Vira membuka chat-chat yang belum sempat dibaca, yang kebanyakan dari Grup non kerja, di aplikasi Chat Vira sudah ada lebih dari 20 Grup, dan hampir semua untuk kerja, karena terdaftar di beberapa PT dan sudah masuk sebagai salah satu petinggi yang sudah diperbolehkan mengambil keputusan cukup besar Vira juga dimasukkan ke grup kecil yang kadang sifat obrolannya belum official untuk nantinya menangani masalah-masalah yang mungkin bisa terjadi. Jadi sifat grup ini untuk preventif (pencegahan) dan kadang ada yang melibatkan politik petinggi di Grup, seperti orang-orang “special”, special disini maksudnya orang-orang yang datang dan dipekerjakan tidak dengan prosedur yang normal, bahkan ada beberapa yang tidak memenuhi syarat namun memiliki hubungan khusus atau titipan dari orang-orang penting yang bisa saja membantu atau setidaknya punya pengaruh terhadap perkembangan perusahaan, jadi tidak luput dengan anak-anak para petinggi di lingkungan yang merupakan CSR kita, walaupun dalam hal ini kadang kita juga mendapatkan pekerja yang ok, masih ada juga yang bahkan menyusahkan. Yang jelas lebih harus hati-hati. Dan konsep ini sebenarnya tidak begitu disukai oleh Vira karena tidak adil dan perusahaan harusnya bisa milih yang lebih produktif tapi dari sisi lain mau tidak mau Vira memahaminya karena demi menjaga keharmonisan perusahaan, khususnya menjalin hubungan baik, Ilmu politik seperti ini merupakan hal yang mau tidak mau dipelajari oleh Vira walaupun tidak suka.
Vira memang orang yang sangat kaku dalam pekerjaannya bahkan terkadang kurang berprikemanusiaan, nyaris semua pekerjaanya ia tekankan by the book, seolah seluruh emosinya hilang saat mode kerja, padahal biasanya bisa berakhir frustasi saat apa yang dilakukan sudah selesai. Di tengah mode kerjanya ini ia menemukan nomor asing yang menyapanya, dan menyebut namanya, serta tidak menanyakan lowongan kerja atau protes masalah lingkungan seperti umumnya chat nomor asing yang biasa Vira terima.
“Kenalin Aku Vide, adeknya Rini.”
“Kamu Vira kan?”
“salam kenal ya.”
Vira sampai membaca ulang chat itu karena agak tidak percaya dan jujur agak lupa juga karena kesibukan yang terjadi. Vira pun langsung menjawabnya
__ADS_1
“Hai hai.”
“udah pulang kerja ya?” Vira menchat sambil melihat ke jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul 18.34.
Dan tak lama chat itu dijawab
“ya udah pulang, udah sampai rumah malah, mau siap siap makan malam. Kamu masih di kantor?”
“iya nih, masih nunggu laporan terakhir.”
“oh yaudah lanjut aja dulu entar kalau udah pulang baru chat lagi.”
“ok ok, trims, lamken ya.”
Chat itu dibaca tapi tidak dibalas lagi, agak sedikit kagum Vira berpikir cowok ini sepertinya cukup pengertian dan bisa diajak chat. Chat-chat Vira dengan lawan jenis potensial sebelumnya tidak pernah semanis ini, kalau tidak Vira yang harus terus bertanya layaknya interview, obrolan yang terlalu serius, cowok yang tidak bisa bercanda sama sekali dan mudah marah, yang terakhir sebelum ini Finno si posesif yang membuat Vira bertanya-tanya apa ada yang salah dengan dirinya, mungkin memang Vira tidak memiliki tempat yang tepat.
Gadis itu jabatannya memang semakin tinggi, tanggung jawabnya pun semakin besar, begitupun kantongnya, namun kepercayaan dirinya sepertinya berbanding terbalik seolah semakin habis entah kemana yang membuat sedikit banyak hidupnya seperti robot tak bernyawa, ia mampu menjalani tugas-tugas dipekerjaannya dengan baik dan bangga serta peraya akan kemampuannya sendiri, bahkan bisa mempertahankan mentalnya dengan tekanan dan cemoohan orang sekitarnya, namun dia sangat payah soal hubungan dengan lawan jenis potensial. Vira memiliki banyak teman laki-laki yang cenderung menganggapnya laki-laki juga, atau orang mereka dan tidak memandang Vira sebagai cewek yang bisa mereka sukai, tetapi ini juga berlaku bagi Vira terhadap cowok yang menjadi sahabat maupun teman akrabnya, mereka bukan pasangan potensial, seperti Sony, hanya saja Sony bisa lebih dekat dengannya karena cara berpikir yang sering sama seperti bisa baca pikiran.
Dengan lelaki yang melakukan “flirting” dengan Vira, Vira kadang kebal atau bahkan merasa tidak pantas kalau pria itu berpenampilan baik, saat bertemu yang ideal sedikit hype sepertinya, contohnya ya dimulai pada saat Yui kayaknya, entah apa yang terjadi Vira seperti reborn sejak Yui. Vira merupakan cewek putih yang sebenarnya memiliki standard tinggi badan perempuan indonesia, jadi ya tidak bisa dibilang kecil juga, walaupun ia memang terlalu kurus pada jaman kuliah namun sejak bekerja berat badannya sudah banyak bertambah sehingga bisa dibilang sudah cukup bagus, tidak terlalu kurus atau pun gemuk.
__ADS_1