
Malam itu Vira menepati janjinya dan menchat Vide
“hai hai, sorry lama ya balesnya.”
Jawaban dari Vide pun tidak lama dari itu
“santai aja. Kamu baru pulang kerja? Udah makan belum?”
“iya baru pulang ini mau makan sambil chat.hehehehe”
“sip-sip, tapi kamu emang selalu makan jam segini?”
“gak juga si gak tentu benernya.”
“ooo..hari sabtu kamu emang masuk sampe malem gini ya?”
“gak si harusnya cuma karena beberapa kali ada kasus dan aku baru gak lama di jabatanku jadi ya gitu, tapi ini udah mendingan dulu lebih parah.”
“hah? Gimana tu?lebih malam?”
“iya sampai ada cerita lucu security takut sama aku karena dikira hantu pas aku pulang sekitar jam 2 an gitu.”
“serius? Lah kamu pulang kantor jam segitu naik apa?”
“jalan kaki, kan aku tinggal di mess, rumah gitu, lokasinya masih didalam pager, cuma lumayan jaraknya, sekitar 1 km.”
“wah mayan itu work out banget ya dini hari.”
“iya betul sekali. Kamu sendiri sabtu emang masuk kerja.”
“gak si harusnya, ini juga lagi WFH tapi tadi ngantor soale ada yang harus dikerjain disitu.”
“ribet juga ya kayaknya WFH.”
“iya betul, pandemi nyebelin banget.”
“hahhha, kayak namamu lo?”
“heh namaku?”
__ADS_1
“iya kalau aku panggil pake ko?”
“wkwkwkwk….iya si…..”
Chat mereka yang santai membuat mereka saling mengenal dengan cukup baik dan slow pace yang cukup cocok. Sepertinya Vide pun tidak keberatan dengan chat.
Hari-hari berlalu Vira semakin mengagumi Vide yang memiliki cara berpikir yang menarik dan memperluas pengetahuan Vira. Namun tiba-tiba Finno yang ternyata sudah selesai ngambeknya beberapa minggu kemudian menchat Vira yang sudah semakin dekat dengan Vide.
“Hai Vir, apa kabar?”
“halo kak. Baik si, ada apa ya kak?”
“aku boleh telepon gak?”
“chat aja ya kak.”
“oh, kenapa? Kamu udah ada yang punya ya?”
“iya.” jawabku singkat supaya pembicaraan ini cepat selesai
“oh, jadi aku udah gak punya kesempatan lagi dong ya”
“wah kamu udah yakin banget kan sama dia ya, semoga lancar ya sampai pelaminan.”
“ok, thanks.”
Dan Vira berharap sudah tidak ada lagi chat seperti ini dari orang-orang seperti Finno yang membuat vira salah berpikir tentang hubungan.
*
Vira bahkan menceritakan juga tentang Finno kepada Vide, dan tanggapan Vide cukup menyenangkan dan menenangkan.
“ya ko, terakhir ini sebelum kenal kamu ada cowok yang deketin aku.”
“terus?”
“gampang banget ngambek ko”
“ngambek gimana?”
__ADS_1
“ini ya aku cuma kenal dia 2 minggu, dan dia udah ngambek 3 hari coba ko? Gara-gara aku gak jawab vcallnya, padahal aku udah chat aku lagi makan, nanti ya.”
“wah itu si namanya posesif Vir.”
“terus nah menurut koko pas kita telponan gimana?”
“gak gimana-gimana juga si, asyik-asyik aja kita bisa obrolin apa aja.”
“nadaku gak apa-apa kan ko? Terlalu cepat gitu? Kayak orang mau marah?”
“cepet si iya, tapi masih bisa diikutin, di jakarta banyak gitu, marah gak si, paling kalau lagi semangat tambah keras sedikit suaranya, tapi asyik aja si. No problem at all so far”
“nah itu aku dibilangnya suka marah-marah, trus dia kan sukanya teleponan, waktu telepon aku diminta pelan-pelan gitu ko ngomongnya, ya aku ikutin si, tapi saat aku tiba-tiba terlalu bersemangat, wah dia marah e ko, bisa ngambek.”
“kok gitu amat? Belum mature dia kayaknya itu.”
“padahal usia udah lebih tua 4 tahun juga dari aku ko, mana awalnya dia pas kenalan juga banyak bohong lo ko.”
“perkenalan bohong? Itu si udah gak bener Vir.”
“iya dia bohong soal nama kampusnya dengan alasan takut kalau sebut nama kampusnya nanti gak ada yang tau, dia juga bohongin usia awalnya ko?”
“heh? Emang ngaku awalnya gmn?”
“awalnya cuma ngaku 1 tahun lebih tua dari kita, kebetulan pas di grup itu yang cewek semua sama usianya.”
“wah wah, dah gak bener banget si itu, harus hati-hati kalau udah banyak nipu gitu.”
Vira menyukai respon positif Vide yang kadang juga memberikan gambaran baru tentang beberapa hal, Vide biasa bekerja dengan data sehingga saat memberikan penjelasan pun juga bisa tertata sangat rapi, panjang dan mudah dimengerti bagi Vira.
POV Finno
Aku mengingat dan melihat nomor-nomor baru yang kusave di hpku, karena memang dari awal aku niat untuk mencari jodoh harus jaring seluas mungkin kan? So far Vira potensinya lumayan gede ni, Yui juga udah give up, usia Vira lebih muda dari aku, asal tempat tinggal banten, gak terlalu jauh walaupun kerjanya di jawa tengah. Anaknya juga keliatan ramah dan suka bercanda. Dan waktu aku menelepon dia sepertinya dia sangat senang dan mau mengikuti apa yang kumau, hanya saja aku sama sekali bukan prioritas dia ternyata, padahal pasangan harus jadi prioritaskan? Dia selalu bilang lagi kerja atau apa lah dan menolak vcallku, kadang juga terlalu galak dan ketus kalau bicara, ya membuatku kesal, tapi dia sepertinya sangat tertarik padaku, aku balas saja tidak mau angkat teleponya dan tidak membalas chat tapi kubaca semua sudah, awalnya gak nyangka dia bakal say sorry gitu kirain gak mungkin, tapi kok aku ngerasa dia sengaja berbuat gitu lalu minta maaf. Jadi aku memutuskan untuk berhenti dulu dengan Vira dan mencoba menghubungi Lily yang malah menanyakan hubunganku dengan Vira. Tentu saja aku menolaknya, apa-apaan ini kenapa mereka saling cerita si? Apa akunya aja milihnya salah. Tapi emang si so far kayaknya Vira doang yang gampang aku taklukin, apalagi dia bilang juga sudah lama gak punya hubungan.
Setelah 1 mingguan tidak chat dengan Vira aku mencoba menchatnya lagi dan jawabanya benar-benar gak nyangka si aku, udah punya pacar dia sekarang, wow, cepet ya padahal baru 2 minggu lalu. Ah bummer.
*
Vira menyadari kalau ia tipe orang yang lebih mudah kagum dengan orang-orang yang penuh pengetahuan, mungkin cocok juga disebut sapioseksual, otak lebih menarik daripada sekedar fisik, tapi kalau ada yang punya keduanya, wah itu sempurna namanya, yang mau mencari tau saat tidak tau, bukan hanya terus bertanya tanpa henti sehingga Vira seperti menjadi guru. Sejak awal Vira paham dia bukan tipe pengajar, kesabaran Vira agak tipis dan mengajar orang sangat membutuhkan itu. Walaupun dimata banyak orang Vira adalah gadis yang banyak pengetahuan dan sebagian besar selain amaze bisa sampai takut juga dengannya.
__ADS_1
Ada lagi satu hal yang sering jadi keinginan terpendam Vira, ia ingin punya pasangan yang juga suka main games, dan bisa main games bareng, artinya selera games ya harus sejenis juga buat main bareng, kan pasti seru. Namun diantara semua cowok yang dikenal Vira ya tidak ada yang suka main games. Cowok yang dimaksud disini yang bisa dikategorikan potensial pasangan, dan games disini adalah games yang disukai Vira yang biasanya bergenre adventure, atau shooter game. Disaat begitu banyak cowok yang suka main game yang sama dengan Vira malah sering sembunyi main game dari pasangannya, padahal Vira selalu menginginkan main bareng, mereka malah dapat cewek yang gak suka main games, mantan Vira juga tidak suka malah menganggap game itu buang-buang waktu, ini sangat menghina kan bagi penggemarnya.