My Dating Story

My Dating Story
Story Four Right Timing


__ADS_3

Pak Edo melihat Vira lebih pendiam dari biasanya, padahal hampir 3 bulan ini sejak adanya Wandy, Vira terlihat sangat senang dan ini membuat Pak Edo agak khawatir akan adiknya satu ini.


“Vir, kenapa melamun? Mau ditinggal bapak Audit ya?”


“ hmm….ya minggu depan lancar semua balik dia, selesai.” balas Vira dengan memaksakan sedikit senyum.


“ya kan tetap bisa komunikasi, LDR gak apa-apa lah, saya aja LDR sama istri saya, yang penting komunikasi dan kepercayaan selalu dijaga.”


“Hahahha, lah kok tiba-tiba jadi bandingin saya sama Wandy dengan bapak sama istrinya?”


“lah walalupun belum, ke arah situ juga kan?”


“hahah, saya cuma teman aja kok, santai pak.”


“yaudah daripada kamu murung aja si bapak audit juga makin sibuk pasti, sekali kali ngumpul lagi lah nongkrong kayak dulu sama kita.”


“sama siapa pak?”


“pak maman, sama aby juga, biasa. Yuk.”


“ok lah pak, saya ganti baju dulu deh pak.”


“ok, tak tunggu d, 30 menit cukup kan?”


“kelamaan pak, 7 menit.”


“buset, yaudah d terserah kamu aja.


Mereka berempat pun pergi makan ke sebuah foodcourt yang mayoritas makananya ayam, Aby tidak suka makan seafood, dia hanya makan ayam padahal shionya juga ayam, serasa ayam makan ayam. Dan Vira tidak ada kata jaim kalau makan apalagi dipepan bapak-bapak yang untung usianya gak terlalu jauh masih bisa dianggap kakak, kalau lebih tua lagi ya bakal jadi bapak. Apalagi mereka selalu penuh dengan nasehat, terutama pak Edo dan Pak Maman yang Vira tau mereka memiliki niat baik dan ingin yang terbaik juga untuk Vira, mereka pun mencoba menasehati tanpa terlalu ikut campur terlalu dalam. Sedangkan Aby, bagi Vira Aby ya rekan kerja yang cukup baik dan bisa berkerja sama, dan karena Vira juga sering nebeng motor Aby kalau pulang otomatis ya mau gak mau kerasa kayak kakak juga. Tetapi menurut bapak-bapak sepertinya Aby tidak begitu dan kadang dua bapak-bapak itu punya tingkah kayak mak comblang kesasar. Apalagi sekarang ini saat mereka tau tidak ada lagi Wandy.


“enak ya ayamnya?”


“enak pak.”jawab Vira cuek sambil menjilati ke 10 jarinya yang belepotan bumbu ayam, sayang pikir Vira.


Di sebrang Vira melihat Aby yang mulai meledek dengan ikut pura-pura menjilati jarinya


“kurang? Ni jariku sekalian.”

__ADS_1


“enak lo.”


Aby hanya melihat Vira dan tersenyum.


Mereka makan bersama dengan mengobrol berbagai macam hal, kadang tidak menyambung satu sama lainnya dan banyak tertawa membuat Vira lebih relax dan menikmati malamnya kali ini.


                                                                                          *


Hari-hari tanpa Wandy berlalu begitu saja, dunia Vira seperti tidak ada yang berubah, hanya hati Vira yang biasanya ada walaupun jarang dipakai kali ini terasa. Rasa yang bisa dirasakan hati Vira kali ini adalah hampa, namun Vira pun masih menikmatinya, karena ini sekalinya dia merasakan semua perasaan sekaligus dan tidak tau kapan lagi bisa merasakan itu. Jadi Vira memilih untuk menikmati, indah, luka kah ini? Rasanya sakit tapi bukan luka, karena ini keputusan yang harusnya membuat semua lebih baik dan akan indah pada saatnya.


Malam ini Vira merenung sendiri didalam kamarnya, memikirkan segala hal yang berlangsung dalam hidupnya, kepergian Wandy yang sebelumnya terasa dekat dengan Vira, bersama Wandy, Vira tidak banyak berpikir tentang kehidupannya, hanya happy, namun Wandy telah menjadi orang yang tidak lagi bisa ia miliki dan waktu akan menjawab semuanya. Kini Vira agak memikirkan Kak Aby yang mulai secara terbuka lagi mendekatinya, sepertinya sebelumnya ia memberikan kesempatan kepada Vira dan Wandy. Sekarang kembali mulai beraksi, apalagi Aby juga dekat dengan Pak Edo dan kedua Admin Sales yang merupakan adminnya yang notabene juga 1 ruangan dengan Vira, sebelumnya si Mbak Tina sering sekali memuji Aby didepan Vira, Aby itu cowok yang sangat baik, susah mendapatkan cowok kayak gitu, baik, lembut dan juga humoris, tapi kalau mau jujur Vira tidak punya perasaan itu, Vira hanya merasakan rasa terimakasih kepada Aby, karena selalu baik dan membantu Vira, mengantarkan Vira juga pulang dan suka membelikan snack.


Suatu Pagi di kantor


 “Bu, ini kita bakal ke barat,agak jauh, ntar pulangnya bakal agak lama.” seru Ray sales Modern Trade, yang jangkauanya ke market-market non conventional.


“lah lu napa jadi manggil bu si, biasanya kagak.”


Ray adalah salah satu Sales yang etnisnya sejenis sama Vira yang lumayan langka juga dan dia sales termuda.


“terus apa? Kak? Ci?”


“nah abis kan nanti gak enak sama bapak.”


“bapak sapa? Gw kan gak kenal bapak lu, lu juga gak kenal bapak gw.”


“heh…..”Ray pun greget denger jawaban Vira.


Hubungan mereka sebenarnya cukup akrab, perbedaan usia 9 tahun kadang tidak begitu terasa, mungkin karena etnis mereka yang sejenis teman-teman lain sering menganggap mereka seperti saudara, dan Ray adalah sales terganteng versi Vira, badannya tinggi, warna kulitnya yang kuning langsat, namun hidungnya mancung dan matanya tergolong besar, ganteng yang bukan tipe Vira namun yang kayak gini emang biasanya dekat dengan Vira.


“makanya jangan mulai.”


“kamu ya….”


“nah gitu dong kan enak.”


“tapi serius kamu sama bapak ada hubungan kan?”

__ADS_1


“bapak sapa?”


“pura-pura lagi, pak Aby lah, bapak-bapak saya yang lain kan udah pada nikah, tinggal 1 tuh belum.”


“gak tau, gak si kayaknya mah.”


“oh, belum ditembak ya?”


“semoga gak si.”


“hahaha, lah kok kayaknya malah takut gitu, kayaknya waktu pas sama Pak Wandy muka gak gitu-gitu amat.”


“aku gak mau nyakitin orang Ray.”


“lah? Kok nyakitin? Lah emang kamunya gimana?”


“gak tau, gaje, males juga mikirinnya.”


“jangan nyerah lah, cinta itu indah kalau tepat saatnya.”


“ini lagi anak kecil ngomongin cinta.”


“wei mana ada aku anak kecil..udah gede tau.”


“mana buktinya.”


“beneran mau liat buktinya?”


“jangan ngeres deh, KTP.”


“KTP kan banyak yang nembak, ada yang lain yang pasti bisa buktiin, coba ta?” muka nakal Ray bikin Vira otomatis menjitaknya, namun tinggi badan Ray buat dia mudah banget buat menghindar.


“eh dilarang jitak-jitak, aku udah gede…”


“badannya doang.”


Join sales hari ini merupakan salah satu pilihan tepat untuk Vira menghabiskan waktunya dalam bekerja, ini tugas tambahan bagi HRD representative di semua cabang, karena banyaknya karyawan lapangan, maka HRD harus menjadwalkan untuk join sales atau pun driver. Ini juga bagus bagi Vira karena membuatnya mudah akrab dengan orang-orang yang tadinya asing bagi Vira. Dan mungkin bisa dikatakan karena cukup dekat untuk modern trade Vira sering memilih Ray, namun sales lain juga suka nyodorin Ray, mungkin karena pada dasarnya mereka takut atau segan pada Vira.

__ADS_1


Saat ini sudah lebih dari setengah tahun Vira berada di Makassar, dan perasaan takut pada mereka yang dulu ada sudah hilang menjadi nyaman, karena mereka semua baik dan menjaga Vira. Vira seperti mempunyai keluarga besar di cabang ini. Di cabang ini hanya ada 2 orang yang tidak berasal dari Makassar selain Vira, Willi dari Bali dan Aby dari semarang, sisanya orang lokal. Namun sempat terjadi kesalahpahaman antara Vira dan tim lain yang ada di cabang itu di bulan pertama ia berada di situ. Hal itu telah terselesaikan dengan sangat baik, yang membuat ikatan mereka terasa lebih kuat, memang benar kalau kata orang-orang terkadang pertengkaran atau perdebatan membuat ikatan bisa semakin kuat, karena kita semakin paham perbedaan yang terjadi dan komunikasi yang salah atau benar bisa terjadi kalau ada saling pengertian, dan mencapai itu pertengkaran kadang diperlukan. Jadi Proses awal-struggle-nyaman, sepertinya simple walaupun lumayan deg-deg-an pas ngalamin, dan membuat Vira memberikan kesimpulan kecil, mereka adalah orang yang apabila kita tulus dengan hati kita, akan membalasnya lebih.


                                                                                                        *


__ADS_2