My Dating Story

My Dating Story
Story Two Si Rooftop Prince (Last)


__ADS_3

Vira dan Toma memiliki hubungan yang membuat mereka berdua sama-sama nyaman entah sahabat atau friend with benefit. Toma sudah diterima di sebuah perusahaan teknologi di jakarta dan Vira pun masih bekerja di tempat yang sama, Toma berhasil lolos tes saat itu dan interview di perusahaan tempat Vira bekerja namun memutuskan untuk menolaknya karena perusahaan tempat Toma bekerja saat ini lebih bisa


menjanjikan karirnya dan berskala internasional.


Di suatu hari Sabtu siang


Toma dan Vira sedang duduk bersama menatap matahari sore yang tidak terlalu terik, Vira mendengarkan Toma yang curhat tentang cewek yang ia taksir di kantornya, tetapi sudah punya pacar, terlebih Toma juga mengenal pacarnya. Vira yang memang jarang menggunakan perasaannya, hanya mendengarkan Toma yang terlihat sedih, sebagai sahabat Vira berusaha memberikan semangat, namun Vira tau tidak banyak yang bisa ia lakukan selain tetap berada bersama Toma dan entah kenapa merasakan merananya perasaan Toma, Vira juga merasakan sakit dihatinya. Vira merasa mungkin karena kedekatan mereka, dia seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Toma, dan begitu pun sebaliknya.


Toma selalu memiliki image “playboy” karena selain memiliki wajah yang tergolong tampan, ia juga sangat mudah bergaul, saat di tempat yang ramai, biasanya ia sering dikelilingi oleh para cewek yang nyaman


berbicara dengannya, karena cara bicaranya menarik dan sering sekali mengeluarkan candaan yang membuat semua disekelilingnya tertawa, namun pada dasarnya ia jarang jalan hanya berdua saja dengan cewek-cewek lain, yang jalan setiap libur juga cuma Vira, dan kini Toma sepertinya malas untuk memikirkan soal perasaan setelah unrequited love-nya gagal, dan mungkin hal itu membuat dia memiliki prestasi yang bagus dikantornya, tidak jauh berbeda dengan Vira yang sekarang lagi kebingungan karena akan dicalonkan menjadi supervisor.


1 tahun kemudian


 Vira dan Toma tetap menjadi sahabat yang saling mendukung dan memiliki fokus tinggi terhadap karir masing-masing, Vira memutuskan resign dari perusahaan tempat ia bekerja memiliki jam kerja yang semakin panjang. Vira kerap pulang sangat larut, dan berangkat pun tetap sangat pagi, tidak pernah


bertemu dengan matahari, ini membuat ayah Vira geram dan memintanya untuk resign. Walaupun Vira tidak langsung melakukannya saat ayahnya minta karena adanya tanggung jawab yang harus diselesaikan dahulu, namun kemudian Vira melakukannya karena merasa Vira ingin mencoba hal lain dan mencari Zona lain


yang bisa mengembangkan diri dan karirnya, keluar dari zona nyamannya. Sedangkan Toma bisa dikatakan sangat sukses, dan kalau semua lancar maka Toma akan di promosi dan mutasi ke kantor pusat yang ada di Singapura. Saat ini Vira merasa agak sedih namun tau kalau itu hal yang sangat baik untuk Toma.


Toma pun mengajak Vira pergi ke suatu tempat dengan pemandangan yang sangat indah, tempat ini berada di Banten, seperti sebuah bukit dimana kita bisa melihat matahari terbenam.


“Vir, gw bakal ke singapura.”


“yup, congrats ya.”


“yup, thanks ya.”Toma pun membelai pelan kepala Vira

__ADS_1


Dan Vira hanya terdiam, agak merasa heran juga dengan


kelakuan Toma


“just, thanks for all ya Vir, semoga kamu bahagia.”


“wow, thanks juga.”


“yaudah makan yuk. matahari udah terbenam juga.”


“yuk.”


Vira dan Toma banyak terdiam selama perjalanan pulang, tidak seperti biasanya, mereka bahkan tidak berdebat dan juga tidak tertawa dan sesampai di depan rumah Vira, tidak seperti biasanya Toma ikut turun dari mobilnya dan mendekati Vira, menatap Vira sekilas, mengusap pelan lagi rambut Vira dan


tiba-tiba berkata


“jangan pernah message aku ya, jangan telepon aku juga.”


“denger kan aku bilang apa, jangan pernah call atau message aku lagi. Bye.”


Toma pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Vira yang masih mematung dan tanpa sadar air mata Vira turun dengan sendirinya dan selama 30 menit ia berdiri di luar pagar rumahnya baru


kemudian masuk.


Vira Point of view


Toma adalah sahabatnya, teman kecilnya yang sewaktu

__ADS_1


kecil memiliki kenangan yang tidak terlupakan lalu bertemu kembali saat mereka


sama-sama dewasa, mereka menghabiskan waktu hampir 2 tahun bersama dengan saling


mengisi hari mereka masing-masing, Vira tidak pernah berpikir akan ada harinya


tanpa Toma, Vira juga tidak pernah berpikir mengenai makna Toma dalam hidupnya,


Namun Vira sadar Toma bukan hanya sekedar teman dihatinya, Toma adalah


satu-satunya orang yang kehadrannta seperti nafas, tidak ia sadari kalau


kehilangannya bisa menghilangkan warna dan lagi-lagi hati Vira, Vira juga tidak


tau kenapa dia mengiyakan saja permintaan selamat tinggal itu tanpa memberikan


jawaban selain anggukan pasrah dan bahkan tidak meminta penjelasan. Vira tidak


mampu memahami pemikirannya sendiri, dan hatinya sepertinya merasakan hal yang


berbeda. Saat Vira sadar otak dan hatinya tidak lagi satu, namun semuanya


mungkin sudah terlambat.


Toma Point of View


Vira adalah orang yang berharga bagiku, sangat dan aku pertama mencarinya disaat aku kembali ke kampung halaman kami sewaktu aku libur dan akan mempersiapkan kuliah, tetapi Vira tidak ada di rumahnya dan aku pun tidak berani menanyakan kontaknya, sampai kemudian ada reuni TK, dan aku pikir ini takdir yang bisa mempertemukan aku lagi dengan Vira, dan aku bisa menduga kalau aku akan cocok dengan dia, kami pun menjadi teman yang sangat dekat, kami selalu jalan-jalan saat weekend atau saat liburan bersama dan juga bagiku dia soulmate, saling memahami satu sama lain, aku selalu bisa menjadi diri sendiri bersama dia, dan aku takut, aku takut kalau memiliki perasaan spesial ini membuat aku bisa menyakiti dia, atau membuat dia menjauh dariku, aku berusaha melupakan perasaanku dengan segala cara, bahkan aku mulai mencoba tertarik dengan rekan kerjaku yang ternyata sudah memiliki pasangan, aku menceritakan ini pada Vira, dan aku merasakan Vira lebih tersakiti, lebih sedih daripada aku yang membuat aku merasa lebih sakit, ini seperti lingkaran setan, semakin lama aku menjadi takut dengan perasaanku sendiri, seperti menggenggam pasir, kalau terlalu erat maka akan kehilangan semua, aku suka hubunganku dengan Vira, sampai pada saatnya aku harus memilih karir dan dia, ketakutan menjadi hal bodoh dan menjadi ketakutan lagi membuatku menyakitinya dengan ucapan selamat tinggal yang kusesali tapi tidak bisa kutarik lagi, karena aku terlalu takut

__ADS_1


untuk menjelaskanya, aku takut perasaanku bisa melukainya dan aku pun akan terluka lagi, lingkaran setan berikutnya dan aku berpikir tidak tau tentang dia sama sekali lebih baik, seperti seolah menghapusnya dalam hidupku, aku pun memblock semua hal mengenai Vira sehingga membuat seolah-olah Vira tidak pernah


ada dalam hidupku. Aku tau ini seperti perbuatan kejam dan aneh terhadap perasaanku sendiri dan juga Vira yang menjadi bagiannya, tapi ketakutanku telah mengubur semua rasional yang bisa aku pikirkan, maafkan aku Vira dan jadikan aku angin yang hanya berhembus sebentar ke arahmu.


__ADS_2