My Dating Story

My Dating Story
Story Four Guilty Inside


__ADS_3

Hampir setiap hari Aby selalu memberikan perhatian khusus kepada Vira, seperti halnya menanyakan makanan yang diinginkan dan yang pasti mengantarkan dan menjemput juga kali ini padahal biasanya Vira menikmati menunggu siapa saja yang lewat depan kosnya (kalau tidak menebeng pak Edo), yang mayoritas para sales dan dengan membawa helm bisa saja berganti-ganti orang setiap saat. Namun karena entah apa ada suatu perintah tidak tertulis para sales sudah tidak mau mengantar Vira, kalau Vira tanya jawabannya takut sama bapak, atau kan ada bapak. Hubungan Vira dengan para Sales jadi tidak begitu enak dan seperti agak menjauh terutama dengan Sales yang berada dibawah Aby. Mbak Tina juga hampir setiap hari memberikan pujian tiada henti mengenai pak Aby seperti sekarang ini, Vira serasa di doktrin menjadi serba salah dan malah makin bingung dan takut sendiri.


“iya lo Vir, ketemu yang kayak Pak Aby susah lo.”


“...” Vira mendengarkan sambil  tetap mengetik.


“dia kan baik gitu, lembut juga terus suka bercanda, perhatian juga kan sama kita, coba yang gitu bisa ditemuin dimana?”


“ya…”


“ya kalau wajah kan bukan segalanya, lagipula pak Aby juga gak jelek kan, ya jangan dibandingin sama Pak Wandy juga, ganteng emang dia, tapi kan kalau gak sesuai susah, kita jadi cewek jangan terlalu cerewet juga, ntar yang ada kitanya suka dianya gak, trus gigit jari.”


“ya mbak, bukan wajah juga si, tapi kan bukannya kita cari yang cocok ya?”


“kecocokan bukannya juga bisa dicari ya Vir, u can adapt, kamu kan jago dalam hal itu, kebukti disini, dari dimusuhi sampai paling disukai. Jadi favorit.”


“tapi..”


“kalau pake tapi panjang Vir, ini ya sekarang kalau kamu ada apa-apa disini si aku juga jamin pak Aby yang bakal nolong, dia juga selalu baik kan sama kamu?”


“...” Vira berpikir apakah ada yang salah dalam langkah Vira selama ini, kenapa begini?


“Aku lihat kamu juga nyaman kan sama Pak Aby, jangan dimainin juga kasihan lo.”


“wah mbak gak lah, mainin perasaan orang mah gak boleh.”


“nah itu kamu tau. Kamu kan juga pernah bilang kan mama kamu bilang mendingan dicintai daripada mencintai?”


“ya mama emang bilang gitu, katanya kalau begitu kita gak akan sakit.”


“ya tuh kamu tau, lagian gak ada yang salah dengan Pak Aby kan?”


Kalau mau jujur Vira sudah muak dengan pembicaraan seperti ini, seakan Otak dan hati Vira tidak bisa sejalan, hati Vira mengatakan tidak, otak Vira mengatakan gak salah kan? Mungkin malah ini bisa jadi baik. Salahnya dimana, begitu kata otak Vira, apalagi tiap hari selalu diceramahin sama Mbak Tina yang memang Aby adalah bapak favoritnya. Vira ingin dibiarkan berpikir sendiri tapi sepertinya sulit, Vira takut, takut salah langkah, namun Vira juga merasa bersalah, Vira tidak ingin memperalat Aby, tapi kok seolah seperti itu, seperti memberikan harapan palsu, Vira merasa menjadi orang jahat, dan Vira tidak mau itu.


                                                                                            *


Hari Minggu

__ADS_1


Hari ini entah kenapa Vira merasakan ada firasat yang aneh tapi tidak bisa tau apa dan itu membuatnya sedikit gelisah, Aby menjemputnya dipagi hari untuk pergi ke gereja dan setelahnya mereka pergi ke sebuah taman yang pada dasarnya Vira cukup suka, ada gazebo dan ada jajanan disekitar situ. Dan entah mungkin karena hari minggu orang malas keluar pagi atau apa, sekarang pukul 9.00 WITA dan tempat itu cukup sepi sehingga bisa mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman dan tidak ada orang lain disitu, oh mungkin ini tidak banyak yang tau Vira memiliki sedikit phobia keramaian dan Aby pun terlihat agak gugup dan serius.


“Vir, aku boleh ngomong serius gak?” Vira tau arah pembicaraan ini dan biasanya selalu menghindar kalau Aby mulai bicara begini, tapi firasat Vira hari ini benar dan Vira sudah tidak bisa menghindar lagi.


“kenapa kak.”


“kamu tau kan kalau aku suka sama kamu.”


“ya kak, tapi aku gak suka sama kakak, kakak kan juga tau itu.”


“kamu benci sama aku?”


“gak kak, aku suka kakak, sebagai kakak, aku gak ngerasa bisa lebih special dari itu.” Vira kali ini berkata sejujur mungkin berharap Aby mengerti dan tidak sakit hati serta mau melepaskannya.


“simple kan kalau gitu, kita pacaran aja.”


“hah? Tapi aku kan gak suka sama kakak.”


“lah tapi kamu masih peduli sama aku.”


“ya kak. Tapi…”


“..”Vira terdiam


“kamu setuju kan? Udah gak akan ada perbedaan juga kok kayak biasanya.”


Vira pun akhirnya mengangguk pasrah, hatinya penuh kegelisahan dan rasa bersalah, namun otaknya melakukan rasionalisasi dan mengatakan tidak ada salahnya mencoba, Trial and error or trial and success.


 Kabar Vira dan Aby yang telah menjadi pasangan cepat sekali menjadi pembicaraan hangat di kantor makassar, sebagian besar memiliki reaksi positif, sisanya netral. Mbak Tina yang merasa menjadi salah satu mak comblang heboh.


 “wah akhirnya.”


“akhirnya apa?”


“bisa kan pak, jangan lupa lo pajak…”


Tina heboh minta ditraktir sama pak Aby dan tidak terlalu menghiraukan ucapan Vira. Semua orang menganggap Vira senang dengan ini padahal pada dasarnya Vira hanya berusaha positif dengan menampilkan senyumnya yang sebenarnya tidak tulus.  Entah kenapa Vira juga semakin merasa para sales menjauhi dia, sudah tidak ada yang mau diajak ngobrol lagi, pas ketemu yang agak baru Vira jadi penasaran.

__ADS_1


“Za, kalian kenapa si?” Vira bertanya pada Eza salah satu sales baru rekrutannya


“takut bu.”


“takut apaan?”


“ibu kan punya bapak, ntar kalau bapak cemburu kan gawat.”


“lah aku tetap aku lah, gak ada punya siapa juga.”


“tapi kita tetep takut bu, gimana juga bapak kan atasan kita.”


Dengan jawaban itu Vira cuma bisa tarik napas dan akhirnya duduk terdiam sendiri didepan pintu masuk kantor sampai Aby menghampiri.


 “kamu ngapain disini?”


“nunggu.”


“nunggu apaan?”


“nunggu ada yang mau diajak ngomong.”


“hahhaha, kamu kok lucu si.” Aby memegang pipi Vira dan membuat Vira agak kaget walaupun tidak menghindar.


“apa lucunya kak?”


“tuh kan malah cemberut.”


“sales-sales mu itu loh kak.”


“lah mereka kenapa?”


“gak ada lagi yang mau ngobrol sama aku, bahkan join sales juga jadi susah.”


“masak si? Paling becanda doang mereka.”


Vira merasa membicarakan ini dengan Aby terang-terangan juga tidak mendapatkan titik terang. Vira melihat Aby menikmati semua euforia ini, Vira awalnya mengatakan kalau hubungan ini dirahasiakan dulu, tapi entah kenapa besoknya semua orang kok kayaknya sudah pada tau, jadi ya Vira cuma bisa pasrah.

__ADS_1


Hari-hari Vira berlalu dengan cukup lambat dan Vira tidak terlalu menikmatinya namun sepertinya aby menikmatinya, bahkan kadang Vira masih merasa tidak nyaman saat tangannya digenggam oleh Aby atau bahkan sampai memegang wajahnya. Vira jadi bertanya-tanya akankah Vira bisa terbiasa dengan ini semua, bisa beradaptasi. Aby memang tidak banyak ada perubahan yang drastis selain dia terlihat sangat senang dan lebih banyak senyum. Namun akankah Vira mampu bertahan dengan ini semua, Vira percaya kalau ada kemauan pasti akan selalu ada jalan.


                                                                                          *


__ADS_2