My Dating Story

My Dating Story
Story one Si Table Manner (2)


__ADS_3

Di hari jumat.


     Steven pun memberanikan diri mengajak Vira untuk pergi bersamanya di hari sabtu dan Vira mengiyakan, bahkan Vira yang biasanya hobi lembur di hari sabtu (hari sabtu merupakan hari off, tapi tim Vira tidak pernah off dan masuk bergantian, kebiasaan si selalu Vira karena yang lain selalu punya acara dan Vira tidak, so Vira suka juga) pun hari ini khusus tidak kerja. Mereka mengawali kencan dengan makan di sebuah restoran fastfood untuk menghemat waktu, biasanya disitu Vira selalu membeli nasi dan ayam, tetapi entah kenapa hari itu Vira ingin sekali memakan burger di kencan pertama ini.


Didepan counter


“kamu mau makan apa?”


“beef burger aja kak, sama rootbeer”


“yang ini ya.” Steven menunjuk gambar di brosur menu yang ada di depan kasir dan Vira menganggukan kepalanya.


“ya udah kamu cari kursi aja dulu gih, duduk.”


“ok kak, disana ya ada yang kosong tuh. Vira menunjuk kursi didekat kaca.


     Steven dan Vira sama-sama memesan makanan mereka dan Steven langsung membayar semuanya tidak peduli dengan Vira yang sedang mengambil dompet dari tasnya, steven memesan nasi dengan ayam. Waiter yang merangkap kasir menyatukan makanan dan minuman kami dalam 1 nampan, dan Steven membawanya ke meja kami. Aku yang sudah duduk disitu langsung mengatur makanan di meja, sedangkan Steven pergi  ke arah wastafel untuk cuci tangan, saat steven kembali Vira sudah mulai membuka bungkus burgernya dan steven pun bertanya


 “kamu gak cuci tangan dulu?


yang dijawab santai Vira “gak, tanganku bersih kok, kan aku juga makan sendiri entar habis makan baru cuci tangan”


mendengar itu Steven menggelengkan kepalanya  dan sedikit berdecak lalu mulai mengatur makanannya sendiri, kali ini melihat Vira memakan burgernya yang menimbulkan sisa-sisa mayo menempel di sekitar bibir Vira, Steven pun berkata “kamu makan kok gitu banget si, belepotan kayak anak kecil.”


(Harapan bakal dilapin kayak di drakor kandas ya)

__ADS_1


Mendengar perkataan Steven,  Vira pun terdiam sejenak dan mengambil sehelai tisu untuk mengelap mulutnya lalu melanjutkan memakan burgernya dengan hati-hati yaitu memakan roti bagian atas terlebih dahulu lalu isinya secara pelan-pelan , irisan tomat, selada, dan kemudian dagingnya yang ditengah. Dan steven pun melihat itu berkata lagi


“kamu kok makan burger aneh gitu?masak makannya satu-satu kayak anak kecil.”


Kali ini Vira menarik nafas panjang dan ingin memaki rasanya (kenapa juga anak kecil disalahin mulu, kasihan kan), namun dia tahan dan melanjutkan makan dengan cuek dan cepat menghabiskan sodanya, kemudian ke wastafel terdekat untuk cuci tangan lalu duduk manis melihat steven yang makan cukup lambat.


Setelah itu Steven mengajak Vira jalan-jalan di mall dan melihat pakaian-pakaian di beberapa toko yang pakaiannya kebanyakan bawahanya rok atau  dress one piece (bukan anime ya, hehehe), bukannya tidak bagus ya, namun Vira merasa kurang cocok memakainya,, kemudian Steven juga mengajak melihat tas-tas yang kalau bagi banyak wanita katanya bagus dengan merk2nya yang harganya juga “wow” tapi Vira gak tertarik, dia saja masih asyik menggunakan tas yang punya gantungan monyet dan berwarna biru dongker itu, pantas saja dikira masih sekolah, sukur-sukur si sekarang udah jadi anak sma, dulu pas kuliah kan anak SMP. Kemudian ke counter sepatu high heel (yang gak mungkin bisa vira pakai, she just love sneakers and boot) dan barang-barang khusus ke “ciwi-ciwi”-an lainnya yang tidak disukai Vira. Vira mengajak ke toko buku dan toko mainan serta action figure namun steven cuma mau ke toko buku itu pun tidak membiarkan Vira berlama-lama disitu. Sesudah itu pun Steven mengantarkan Vira pulang dan kencan mereka berakhir dan Vira kapok sekapok-kapoknya.


Keesokan harinya


Notif chat tiba2 muncul di HP Vira dari Steven


“gimana pagi ini? Gak nyangka ya udah hari senin lagi


“iya”


“lumayan sibuk ni kak, chat nanti lagi ya, aku mau siap-siap tes dulu.”


Dan chat steven pun masih terus masuk yang membuat Vira meninggalkanya hpnya di kantor lantai 2 dan kemudian ke kelas di lantai 1 untuk memandu psikotes. Setelah tes semua beres sudah pukul 6 sore dan tadi Vira makan pukul 3 sore karena temanya yang mengantar catering baru datang, dia makan saat temannya menggantikan tes.


Cukup lelah dan puas dengan hari ini Vira meraih hp-nya kembali


Dan chat sudah banyak sekali beruntun, semua dari steven


“ kamu semangat ya, masih pagi lo.”

__ADS_1


“tadi udah sarapan kan?”


“jangan capek-capek ya.”


“entar pas istirahat makan siang aku call boleh gak?”


“udah siang ini, kok chat aku gak dibales? Kamu gak istirahat?


“jangan lupa makan lo, kerja boleh makan jangan lupa.”


“udah siang banget udah makan belum?”


“bentar lagi jam pulang kerja, udah makan kan? Udah siap2 pulang?”


Vira membacanya sambil menelan ludah dan mencoba menjawab semua pertanyaan


“hari ini 2 kelas, tapi kelas pendek, tadi pagi udah sarapan kok dirumah jam 5, makan siang jam 3 an tadi soalnya Rino baru dateng jam segitu, sori-sori baru baca ya. Aku masih lumayan lama pulangnya soalnya harus buat kesimpulan dulu terus administrasi tes lagi untuk tes yang siang. Mayan ada yang lolos lah, semoga interview juga ok nanti.


 Dan hampir sekejab chat itu pun dibales


“wah akhirnya dibales, sibuk banget ya kamu, semangat ya.”


“ya, aku selesein kerjaanku dulu ya”


“ok, nanti kalau udah pulang kabarin ya, aku mau vcall.”

__ADS_1


Chat terakhir steven tidak dibaca Vira saat ini dan Vira kembali sibuk dengan kerjaannya dan kemudian print semua berkas untuk siap dibawa ke kantor pusat besok oleh rino, dan Vira juga menyiapkan psikotes pagi, kemudian Vira pun pulang naik traja (transjakarta) yang haltenya persis ada di tengah jalan seberang kantor.


Hari berikutnya sampai hari jumat Vira terus berada di kantor cabang, dan Steven tetap selalu intens dengan chatnya yang hampir sama setiap hari, dan selalu mengeluh karena merasa chatnya diabaikan dan hanya dijawab sekaligus, merasa bukan prioritas di minggu kedua Steven tidak lagi menchat Vira.


__ADS_2