My Dating Story

My Dating Story
Story Five Chaos (2)


__ADS_3

Dugaanku tentang candle ligh dinner itu ternyata benar dan spontan membuat aku dan Yui saling melihat dan melemparkan tawa geli. Lokasinya tepat berada di taman yang ada 3 gazebo besar, 2 gazebo bisa muat 3 pasangan,  dan 1 gazebo paling besar memuat 4 pasangan, sisanya di lapangan , disediakan kursi-kursi berhadapan saat ini, tanpa meja. Karena aku dan Yui tidak excited untuk rebutan tempat ya kami pun mendapatkan tempat dengan pasangan yang paling banyak berdekatan, gazebo dengan 4 pasangan, disana dan di gazebo lainnya tidak ada kursi, hanya meja, dan bantal duduk tipis, kami pun duduk berhadapan dan panitia mendatangi kami membawa lilin-lilin palsu itu yang sebenarnya lampu warna warni berbentuk lilin kecil, masing-masing perserta mendapatkan 1 kemudian panitia pergi. Dan aku serta Yui pun tertawa terbahak-bahak sampai air mata kami keluar, untuk pencahayaan tempat itu tidak bagus, jadi kami tidak malu, 3 pasangan lain bagaimana ekspresinya aku tidak tau, kami hanya saling menatap tertawa sampai puas.


 Setelah tawaku berhenti aku mulai berbicara


“ini candle ligh dinner? Lilinnya aja palsu.”


“terus dinner katanya lho, mana makanannya ya?minimal snack gitu?” Yui juga menimpali


“ini fake candle date?”


“kayaknya gak cocok juga d, fake candle meeting?”


“jadinya meeting ya?”


“yoi….btw ini yakin kita mau canda terus sampai akhir?”


“ya, aku si terserah aja.”


“lah seenaknya terserah, kamu lo yang nyeret aku ikut ginian….”


“lah kenapa juga milih aku hayo? Ada 2 cewek lagi lo mau sama kamu.”


“gak mau.” jawab Yui tiba2 cemberut dan melipat kedua tangannya didepan dada


“hahaahaha….lah ya udah klo gak mau gak usah protes, kamu kayaknya masih muda, kenapa ikut acara ini?”


“dipaksa.”


“siapa yang maksa?”


“bokap.”


“lah kok mau?”


“ya gimana lagi aku kan kerja juga ikut bokap katanya daripada pulang ke rumah gak jelas suruh cari istri aja, biar hidupnya lebih teratur.”


“berarti hidup lu kacau dong ya sekarang.”


“gak lah, udah bener. Menurut gw, tapi menurut bokap gak.”


“kamu pernah punya hubungan special sama cewek yang lebih tua?”


“pernah tapi gak setua kamu, gak nyangka kamu ternyata tua banget.”

__ADS_1


“asem lo..gak usah sok muda d…”


“haha.”


Sisa percakapan kami malam itu nyaris tidak ada yang serius, penuh candaan dan air mata karena terlalu banyak tertawa, sampai waktu habis kami baru sadar kalau 3 pasangan sekitar kami tidak seberisik kami, jadi kami juga agak tidak enak dengan mereka. Sesudah private blindate pasangan te rsisa hanya tinggal 10, yang lain sepertinya setelah mengobrol merasa tidak lagi cocok, aku menjadi 1 dari 10 pasangan itu terntunya yang akhirnya membuatku agak berpikir serius tentang jarak usia kami yang cukup jauh, 6 tahun, dia 27, aku 33. Dan dia pun memikirkan hal itu, jadi akhirnya kami saling memisahkan diri di malam itu dengan pikiran masing-masing.


 Keesokan paginya diacara itu kami pun masih tidak saling bicara, dan malah Yui terlihat menghindariku, sampai Finno yang kayaknya cukup dekat dengannya dan pernah 1 grup date denganku sebelum private blind date itu datang menghampiriku.


“Vir, aku boleh ngobrol sama kamu?”


“Oh kak Fin, kenapa kak?”


“soal Yui.”


“oooh, kenapa dia? Menghindar kan dia?”


“ya, dia bingung, ragu, takut juga, kayaknya dia susah terima jarak usia kalian.”


“oh gitu ya kak, aku juga susah sebenarnya kak, tapi kalau cocok kan gak apa sebenarnya dicoba, ya kan?”


“ya terserah kamu, si, eh iya ntar kan kita pulang, aku boleh minta nomor kamu gak?”


Agak curiga dan aneh tapi aku tetap memberikan nomor teleponku.


 Aku tipikal cewek yang tidak suka meninggalkan sesuatu tidak jelas, paling tidak untuk saat ini, aku sudah berani sekali, kenapa tidak lebih memberanikan diri lagi. Jadi setelah ia terus menghindariku dan berusaha duduk sejauh mungkin dariku padahal kami adalah 10 pasangan blindate lanjut, dan dimana 9 pasangan lain selalu nempel kayak perangko, membuatku berpikir ini berhasil tapi gagal gara-gara angka yang tidak bisa kami apa-apakan, kemarin iman sekarang angka? Jadi aku harus meluruskan dan memastikan semua, mumpung masih berani ya aku benar-benar mencari dia.


“Yui…” Aku memanggilnya sambil mendekat dan rasanya detak jantungku terlalu keras padahal aku tidak habis lari lari.


“hei Vir.”


“kamu pulang naik apa?”


“bus itu palingan ke bandara.”


“kamu gak mau ikut aku aja? Disana kan sempit banyak orang yang ikut, biar yang lain bisa lebih lega kan?”


“emang gak apa-apa kalau ikut kamu? Kamu naik apa?


“aku dijemput kok, ada yang bareng juga sama aku.”


“oh ok deh kalau gitu, tapi aku ke toilet dulu ya.”


Aku pun menunggu didepan aula bersama teman-temanku yang juga rela menunggunya cukup lama sampai aku minta 1 temanku yang laki-laki untuk cek toilet dan ternyata telah kosong, dan pikiranku langsung berkata dia “kabur” lagi. Kemudian aku melihat Finno berlari ke arahku turun dari bus.

__ADS_1


“Vir..”dia memanggil cukup keras padahal jelas-jelas aku sudah melihat ke arahnya


“ya kak. Kenapa?”


“Yui bilang dia naik bus, kamu jalan aja.”


“dia harus kayak gitu, gak bisa bilang sendiri.” sahutku agak kesal.


“aku gak tau Vir.” wajah Finno bingung, kasihan juga pikirku dia cuma juru bicara Yui.


Entah keberanian dari mana atau sudah tidak punya malu, aku menchat Yui lagi


 “aku gak tau kamu kenapa, terserah sih kalau mau milih bus.”


“sorry vir.”


“aku dan yang lain nunggu kamu, apa gak bisa gitu bilang sendiri, aku rasa kita perlu bicara.”


“ok, ntr aku info deh, aku turun nanti, aku kabarin, kita mungkin bisa ngobrol bentar.”


“ya paling gak selesein baik-baik dengan sama-sama enak dan wajar.”


 1 jam kemudian


 Semua teman yang ikut dengan mobil yang sama denganku sudah turun semua dan aku serta Yui akhirnya memutuskan bertemu sekitar 5 menit karena dia tidak mau ketinggalan pesawat juga dan aku tidak mau bertanggung jawab atas itu, dan entah kenapa malah hari yang tadinya cerah dan baik-baik saja, sekarang hujan setelah tempat pertemuan kami semakin dekat. Apa langit menangis?


 Kami pun akhirnya bertemu di sebuah tempat seperti ruang tunggu yang kecil, disekitar kami hujan deras dan karena tempat itu bagian depannya terbuka maka kami masih bisa merasakan cipratan-cipratan air hujan.


 “Hai Yui.” aku berusaha seceria mungkin walaupun sepertinya harga diriku mulai terluka


“halo.” jawabnya dingin.


Suasana saat ini sangat berbeda dengan pertemuan kami sebelumnya saat kami bercanda bebas seperti tak ada batasan, dan sekarang kami hanya saling melihat.


 “aku gak bisa Vir, terlalu jauh.”


“ok, thanks udah bisa ketemu dulu.”


“ya, aku rasa ini yang terbaik, sori kalau aku pengecut.”


“yup aku tau. Thanks.” kali ini entah kenapa rasanya air mataku akan turun


“aku pergi dulu ya.”

__ADS_1


 Dan ia mengambil payungnya pergi tanpa membalikan badan ke dalam hujan yang cukup deras meninggalkanku yang menatap punggungnya menjauh dan tanpa kusadari air mataku turun, aku membiarkannya dan setelah sekitar 5 menit aku berusaha menstabilkan emosiku lagi, aku kecewa tapi juga memahaminya, mungkin aku juga pernah menjadi pengecut seperti dia, entah lah yang jelas aku memahaminya dan karena ini bukanlah hubungan, move on pasti juga tidak akan lama, 5 menit saja cukup untuk menangisinya dan aku pun kembali ke duniaku lagi, duniaku, dunia karir. Maybe there is where I belong.


                                                                                            *


__ADS_2