
M**alam yang sama di kamar masing-masing**
Message chat notif di HP Vira.
“Vir udah tidur kah?”
“belum lah, baru juga jam segini…”
“hahhaa, emang biasanya tidur jam berapa?
“gak tentu si, rata-rata jam 2 kayaknya.”
“wah sama dong..”
“karena kantor deket makanya tidur jam segitu ok. Klo jauh bisa kurang tidur.”
“hahahha..eh btw ini kita 1 rumah harus banget ngobrol lewat chat gini?”
“hahahha…nah kan u duluan yang chat, gw mah cuma bales doang.”
“kalau belum ngantuk ngobrol langsung aja yuk.”
“ok, depan kamarku aja ya, ada kursi tuh, mayan juga agak dibelakang jadi jauh dari kamar ibu bapak kos, kalau pak maman kebo kok aman…”
“hahahha, udah hafal bgt ya kayaknya kamu.”
Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar Vira, dan Vira pun keluar dan menemui Wandy.
“duduk yuk situ.”
“yuk.”
“btw kamu gak ngerokok kah?”
“gak.”
“emang gak atau udah berhenti?”
“emang gak. Kamu liat dong warna bibir aku.”
“kenapa?”
“ya gak suka aja, lagian gak bagus juga kan buat kesehatan.”
“wah hebat kamu.”
“apa hebatnya?”
“biasanya anak cowok pada suka ikut-ikutan ngerokok sama temennya pas nongkrong gitu kan?”
“hahaha, gak ngaruh si. Lagian entar warna bibir aku gak bagus lagi”
“gile gile hebat, jempol 2, eh 4 deh.”
“sama jempol kaki, apa jempol gw?”
“kalau gitu 8.”
“lah jempol kaki gw dibawa juga dah.”
“hahahaha.”
“ kamu belum ngantuk kah?”
“aku mah belum, kamu tuh gak capek? Kan hari ini baru sampai terus langsung nyetir sendiri juga jalan ama aku.”
“mayan si, cuma paling ngerasa jam kok kayaknya cepet amat gitu.”
“kan emang lebih duluan 1 jam, kita sekarang WITA.”
“oh iya juga ya, sekarang berarti baru jam 11 WIB yak.”
“yup, anda benar sekali.”
“eh iya kamu lagi suka baca buku apa sekarang?”
“oh novel si tetep, kenapa?”
“siapa tau ada yang bisa direkomendasiin gitu ke aku.”
__ADS_1
“kamu suka genre apa emangnya? Lebih suka novel apa komik?”
“semua si, cuma komik kayak terlalu sedikit dan imajinasi kita juga jadi dipengaruhi, iya gak si?”
“jadi susah ya mikir cakep kalau menurut kita gambar itu gak cocok dibilang cakep, makanya aku lebih suka novel, karena imajinasiku ya milik aku.”
“itu makanya hebat juga lo penulis yang novelnya dijadiin Film.”
“membawa imajinasi ke dunia nyata tapi ya gak semua orang bisa puas juga si.”
“susah lah kalau mau memuaskan semua orang kan?”
“yup2.”
Mereka mengobrol tentang buku dan novel bahkan sedikit bicara tentang mobile games juga dan waktu terus berlalu tanpa terasa, mau tak mau mereka harus menghentikan pembicaraan mereka dan berisitirahat karena besok masih hari kerja.”
Keesokan harinya
Wandy membuka pintu kamarnya dan mendapatkan Vira sudah duduk manis di sofa bersebelahan dengan Pak Edo yang sedang makan sarapannya sambil menonton TV.
“wah kamu beneran on time asli ya.”
“iya dong.”
“good girl, biasanya mah cewek lain mintanya ditunggu, kamu malah nunggu, 2 jempol.”
“pelit lah, aku kasih 8, kamu cuma 2.”
“hahaha.”
“kalian berangkat bareng kah?” kali ini pak Edo yang bicara.
“iya pak, rencana mau sarapan bareng dulu baru ngantor si.”
“ooo.”pak Edo cuma mengangguk.
“Pak Edo kita duluan ya, ntar ketemu dikantor.”
“oh siap Pak.”
Vira pun masuk ke dalam mobil dan mereka berangkat menuju kantor.
Di luar pekerjaan mereka pun memiliki banyak kesamaan sehingga mudah saling mengerti satu sama lain, mereka bahkan asyik pula menghabiskan waktu bermain mobile games seperti saat ini
“main duo apa squad?”
“duo aja dulu gimana?”
“ok, lu ambil class apa?”
“trickster aja kali ya? Kamu?”
“coba ninja dulu deh.”
“ok ok.”
“btw aku grand master lo.”
“sama”
“wah bakalan susah dah, turun diujung aja ya.”
“tipe marathon kamu ya?”
“hahaha, iya juga. Lagian ngapain banyak bunuh kalau bisa menang dengan sedikit membunuh.”
“ok ok, ayo start.”
“ok.”
“awas-awas ada mechanic”
“lari…”
“aihhhh trap master….kesetrum setrum..help.”
“wah salah pilih kelas kalau lawannya gini dah.”
“ hahahha….udah lolos untung dia gak liat.”
__ADS_1
“awas anjing, gw tembakin.”
“eit tinggal 3 ni.”
“iya. Ngumpet dimana lagi tuh orang 1?”
“semoga ja kena shrink dia.”
“yes winner.”
“lagi?”
“ok, squad ya?”
“gw pake hacker.”
“gw pake spotter.”
“temen kita ada poltergeist.”
“sama 1 lagi rewind kayaknya itu.”
“go go.”
“ah gw mati. Ambil tagnya.”
“udah ada yang ambil kayaknya.”
“ok, 1 menit lagi gw balik ke peta.”
“tinggal 25 orang, bisa winner lagi ni.”
“gw ambil tengah ya.”
“5 orang lagi.”
“wah beneran ini menang lagi.”
“baru turun langsung winner.”
Vira dan Wandy selalu asyik bersama di waktu luang dan ini membuat Vira jarang bersama-sama dengan Aby, kalau dengan Pak Edo karena masih 1 kos jadi sering juga ngobrol bareng Wandy juga. Bagi Vira ,Pak Edo seperti sosok kakak yang kadang memberikan nasehat dan wejangan tapi juga usil.
Saat ini lagi tumben-tumbenya Vira dan Wandy gak kayak amplop sama perangko, dan Pak Edo pun memanggil Vira.
“Vir, sini bentar d.”
“ya pak…tumben ni manggil kangen ya udah lama gak ngobrol?”
“hahhaha…ya perasaan adek cewek satu dimonopoli lo.”
“gimana-gimana pak?”
“kamu sama wandy kayaknya udah deket banget ya? Inget aby gak?”
“lah inget lah, masak 1 kantor tiap hari ketemu gak inget? Ya walaupun aku emang pelupa tapi gak separah itu juga si.”
“jadi Aby masih punya kesempatan dong”
“kesempatan apaan?”
“ya jadi saingan wandy.”
“lah emang ngapain kan beda bidang, yang ada wandy meriksa aby, tapi gak berlaku sebaliknya.”
“bukan itu..”
“udah pak gak usah mikir yang aneh-aneh, enjoy life aja.”
“ya just hati2 aja, apapun pilihan kamu yang penting happy ya.”
“sip sip, makasih lo pak udah dinasehatin.”
“tuh wandy keluar tuh dari kamarnya, paling bentar lagi nyari kamu.
Dan lagi-lagi mereka nempel mengobrol asyik sampai malam, keseharian mereka membuat mereka terbiasa bersama, di kantor maupun dikosnya. Sedangkan hubungan Vira dan Aby tetap sama dengan lebih jarang pertemuan, kenyamanan dalam hubungan ini membuat Vira tidak berpikir panjang, namun Vira menyadari kalau Wandy mungkin orang yang special baginya, karena Vira merasa Wandy is too perfect to be true.
*
Hari ini hari libur dan mereka jalan-jalan berdua ke Transtudio, mereka menikmati hampir semua permainan yang ada, dan bahkan menonton teater juga, dan berbagi makanan, bahkan tanpa sadar mereka beberapa kali bergandengan tangan, Vira sangat menyukainya sehingga waktu Wandy melepasnya ia ingin sekali menggenggamnya lagi. Terlebih lagi di tengah keramaian Wandy kerap memblock orang lain dengan tubuhnya agar Vira merasa nyaman. Vira sadar ada perasaan lebih yang tumbuh dalam hati Vira, Vira bahkan tanpa sadar sering mengorbankan waktunya seperti menunggu stock opname atau closing audit yang selesainya hampir saat matahari terbit, bahkan kadang Vira membantu pekerjaan Wandy dengan sukarela. Vira takut dengan perasaannya, dan Wandy mulai menyadarinya dan meragukan hubungan yang semakin aneh ini, Vira yang nekat dan karena baru merasakan perasaan yang sekuat ini dan tidak mau kejadian lagi seperti Toma, namun Wandy tau halangan yang ada diantara mereka terlalu besar dan harus menghentikan semuanya segera sebelum terlalu dalam dan menjadi terlambat.
__ADS_1