
"Mandi sana di kamar mandi ku!aku tidak suka sesuatu yang kotor, jangan berantakan dan jangan pake barang ku dengan sembarangan!"Kata Devan sambil melempar handuk basah bekas pake nya ke wajah Isha.
Isha yang sudah sangat kelelahan, hanya memungut handuk itu lalu berjalan tertatih sambil menarik kopernya ke dalam kamar milik Devan.
Devan terheran dengan cara berjalan Isha yang terpincang-pincang,dan ia pun melihat ujung gaun milik Isha ada noda darahnya, sepertinya kakinya terluka akibat menggunakan heel terlalu lama.
"Dasar kampungan!"Umpat Devan tanpa rasa iba,ia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa, kemudian memeriksa ponsel nya.
"Lama banget sih,dia!ngapain aja coba!"
Ucap Devan dengan kesal, tubuhnya sudah sangat ingin berbaring di tempat tidur yang nyaman.
Devan berjalan menuju pintu kamarnya untuk memeriksa Isha yang menurut nya sudah terlalu lama berada disana, namun begitu ia hendak membuka pintu tersebut, Isha sudah membuka nya terlebih dahulu sehingga mereka pun bertabrakan.
"Aduh!! ngapain aja sih di dalam,lama amat!"
Bentak Devan sambil mengusap keningnya, begitu juga Isha.
"Maaf!Aku mau sholat isya, kiblat nya ke arah mana ya?!"Tanya Isha sambil menenteng mukena dan sajadah miliknya.
"Hemh!"
Jawab Devan pendek sambil menunjuk ke arah yang asal,dia tidak tahu kemana arah kiblat di tempat itu karena tidak pernah mengerjakan ibadah sholat.
Isha ragu dengan jawaban Devan, namun ia tetap menghamparkan sajadah miliknya lalu melaksanakan sholat isya yang sudah hampir terlewat dari waktu nya, sedangkan Devan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur miliknya.
"Kak Devan gak sholat Isya!?"Tanya Isha setelah ia selesai sholat sambil melipat mukena nya.
"Bawel!tidur sana di luar!"Ucap Devan dengan kasar.
"Gombrang!"
Tiba tiba saja terdengar suara seperti ada barang yang terjatuh entah dimana.
"Apaan tuh!"Devan terlihat terkejut dan sedikit ketakutan begitu juga dengan Isha.
"Coba di cek Kak!"
Bisik Isha.
"Ya kamu lah yang cek, pergi sana lihat!"Bentak Devan sambil mendorong tubuh Isha agar pergi melihat apa yang terjatuh tadi.
Isha menggelengkan kepalanya,ia tak menyangka jika Devan ternyata seorang penakut, Isha berjalan perlahan dan memberanikan diri mencari sumber suara.
Namun tiba-tiba saja semua lampu mati dan keadaan menjadi sangat gelap gulita, namun anehnya, Devan lah yang paling panik dan ketakutan.
__ADS_1
"Astaga! Kenapa bisa mati lampu sih!"Ucapnya sambil berjalan merayap mendekati Isha.
"Coba kita cek rumah yang lain, apakah sama mati lampu,atau hanya rumah kita saja, ponsel Kakak mana,coba nyalain senter nya!"Kata Isha berusaha tetap tenang,ia justru geli dengan tingkah Devan yang begitu ketakutan seperti anak kecil, Devaluasi memang paling takut dengan kegelapan, meskipun kini ia sudah dewasa.
"Yah, ponsel ku lowbat lagi!"kata Devan dan terdengar suara nut nut dari ponsel nya yang hampir mati.
"Ponsel mu mana?!"Tanya Devan sambil memegang ujung kerudung Isha.
"Sama, habis baterai nya!"Jawab Isha
"Apa disini tidak ada senter?!"
"Aku gak tahu!Aku jarang datang kesini!"Jawab Devan sambil mengikuti Isha yang berjalan merayap dengan memegangi dinding supaya tidak jatuh.
"Krek krek krek!"
Suara sesuatu yang seperti di buka, menambah ketegangan keduanya yang tengah dilanda ketakutan, apalagi Devan.
"Suara apaan tuh!"Devan semakin erat memegangi lengan Isha,ia tak peduli lagi saking takutnya,padahal ia sangat tidak menyukai Istri nya itu.
"Mungkin angin Kak!"
Jawab Isha tetap berusaha tenang,ia akhirnya sampai ke depan jendela dan membuka sedikit tirai nya agar bisa mengintip ke rumah lain, apakah sama mereka juga mati lampu atau tidak.
"Hanya nyolokin charger hp ku saja,tiba tiba saja lampu nya mati!"
"Oh, pantas! charger ponsel Kakak pasti tegangan nya tinggi,jadi kilometer listrik nya langsung mati!"
"Masa sih, perasaan kWh listrik rumah ini besar kok!"
"Gak tahu juga deh! terus dimana letak kilometer nya, kita harus nyalain lagi jika lampu nya ingin kembali nyala!"Mereka berbicara dengan setengah berbisik, padahal gak ada yang bakal denger juga.
"Kalau gak salah sih di belakang, tapi jalan ke sana serem, gelap dan melewati lorong lorong kaya gitu!"
Jawab Devan, mendadak mereka terlihat begitu dekat dan akrab, hanya karena mati lampu, Devan lupa kebencian kepada wanita di depan nya itu yang sudah berubah statusnya menjadi Nyonya Mahendra.
"Ya terus gimana!?Kak Devan mau terus terusan gelap kayak gini?!ya udah,, tunggu aja Kakak disini,biar aku cari sendiri kilometer listrik nya!"
"Ih,,ogah!ya udah ,ayo!"
Kata Devan,jelas saja ia pun tak mau ditinggal sendiri disana dalam kondisi gelap gelapan seperti itu, apalagi dari tadi terdengar suara suara aneh yang entah muncul dari mana.
"Ya udah tunjukin jalan nya,kan Kak Devan yang tahu!"Ucap Isha.
"Iya iya,, ayo senterin dong ke arah sana,kan gelap!"
__ADS_1
Jawab Devan,kini ia berjalan di depan, namun tangan nya semakin erat memegangi lengan Isha, perlahan ia berjalan menuju lorong paling belakang bagian rumah itu, memang terlihat menyeramkan karena kurang terawat dan seperti berada di ruang bawah tanah gitu.
"Dimana ya?! perasaan di sebelah sini deh!"Gumam Devan sambil mencari cari kilometer listrik di ruangan yang gelap tersebut.
"Cepetan dong Kak,disini serem tahu!"Isha mulai merasakan hawa yang kurang enak di sekitarnya, jelas saja , disana banyak sekali terdapat barang barang yang tidak terpakai begitu menumpuk, pasti disana menjadi sarang tikus dan binatang menjijikan lainnya,itu nampak seperti gudang ruang bawah tanah yang benar benar tidak pernah dirawat.
"Nah itu dia!"Ucap Devan kegirangan, akhirnya ia pun menemukan apa yang ia cari cari, Devan pun menarik tangan Isha agar mengikuti nya.
Namun sayangnya ternyata kilometer listrik tersebut dipasang agak tinggi di tembok, hingga Devan pun kesulitan menggapai nya.
"Kamu coba yang nyalain,biar aku yang angkat tubuh kamu!"Kata Devan Karen tidak ada jalan lain lagi.
"Kakak serius?!"Isha terlihat ragu,ia merasa risih aja jika harus di gendong Devan, meskipun mereka sudah halal sebagai suami istri,tapi mereka tidak mungkin bisa sedekat itu.
"Terus gimana,apa ada cara lain?gak mungkin kan jika kamu yang gendong aku! Aku juga terpaksa melakukan ini!"Kata Devan dengan wajahnya yang kembali jutek.
"Ya udah, terserah!"Isha juga merasa terpaksa tapi ini harus dilakukan,ia berbalik menghadap tembok, kemudian Devan pun mulai mengangkat tubuhnya yang mungil.
"Gimana, tangan kamu nyampe gak!?"Tanya Devan dengan suaranya yang agak berat karena menahan tubuh Isha yang ia angkat sampai tangannya menggapai ke atas.
"Dikit lagi,,,masih susah nih!"Jawab Isha sambil tangan nya berusaha menggapai tombol kilometer listrik yang masih tinggi di atas kepala nya.
Devan pun mengangkat tubuh Isha semakin tinggi.
"Udah bisa?berat nih!"Katanya sambil terengah, meskipun tubuh Isha kecil, tapi tetap saja jika terlalu lama menahan badannya seperti itu, lumayan berat juga.
"Bentar,,,nah!"
Jetrek!
Terdengar suara tombol yang di pencet, listrik pun kembali menyala seperti sedia kala.
Namun tiba-tiba saja seekor kecoa melewati kaki Devan dan terasa geli,Devan begitu ketakutan karena masih paranoid akibat gelap barusan.
"Ihh, apaan tuh!"Teriak Devan, tubuhnya tiba tiba oleng karena masih memegang tubuh Isha, tubuh Isha pun ikut oleng dan mereka pun terjatuh menimpa lantai.
"Akhh!Aw!aduuuh!"
Tubuh Isha pun terjatuh tepat menimpa tubuh Devan yang menimpa lantai, sejenak mata mereka beradu pandang sebelum akhirnya Isha tersadar karena Devan meringis kesakitan.
"Aww, punggung ku sakit! Apa kamu mau terus berbaring di atas tubuhku seperti itu!?kamu sengaja ya, mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Ucap Devan sambil menatap tajam ke arah mata Isha yang tepat berada di hadapan nya, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan jika saja Isha tak memakai cadar nya.
Dan ia pun tak sadar jika kedua tangannya tak sengaja memegang dua benda kenyal milik Isha.
__ADS_1