
"Sial!aku lupa meniggalkan Isha di rumah sakit! bagaimana jika terjadi sesuatu lagi terhadap nya!bisa mati aku di bunuh Papi!Astaga bagaimana aku bisa lupa dan meninggalkan nya disana sih!"Gerutu Devan di dalam hatinya.
Sudah hampir satu jam Devan menunggui Tissa di kamar hotel nya,dia tidak bisa kemanapun karena Tissa tertidur sambil memeluk nya erat,Tissa bilang dia terkena penyakit leukimia,dan hidup nya tidak akan lama lagi, Devan semakin kebingungan meninggalkan Tissa, mengingat kondisinya yang sakit parah dan ia tidak memiliki keluarga yang memperhatikan nya.
Dengan perlahan Devan melepaskan tangan Tissa yang melingkar di perutnya, ia harus segera menelpon Isha dan memastikan jika dia kembali pulang dengan selamat.
"Tut Tut Tut!"
"Ckk,,kok gak aktif sih!arghh!"
Devan merasa sangat frustasi, ia pun segera meninggalkan apartemen Tissa dan berniat mencari keberadaan istrinya kini.
Ia berhenti di depan rumah sakit tempat tadi ia meninggalkan Isha tadi, meskipun sebenarnya tidak mungkin jika Isha masih menunggu nya disana,tapi tetap ia ingin memastikan keberadaan nya.
"Sus, lihat perempuan bercadar yang memakai baju dan kerudung warna biru tua tadi nggak disini!?"Devan mencoba bertanya kepada petugas resepsionis rumah sakit tersebut.
"Oh, beliau tadi sudah pergi dengan terburu buru pak, beliau juga sempat menanyakan bapak kepada saya!"Ucap suster itu begitu ramah.
"Oh jadi dia sudah pergi ya,apa suster lihat dia pergi naik apa?!"
"Sepertinya taksi deh pak,dan dia pergi ke arah sana!"Jawab suster itu sambil menunjuk ke arah jalan pulang.
"Terimakasih atas informasinya Sus,,ini sekedar buat jajan!"Ucap Devan sambil menyodorkan uang seratus ribu kepada suster tersebut dan ia pun tergesa-gesa menuju rumah nya.
Sesampainya di rumah, Devan tidak menemukan siapapun disana, rupanya Isha masih di luar dan tidak langsung pulang ke rumah mereka.
Devan semakin panik,ia benar benar khawatir terjadi sesuatu kepada Isha, mengingat sudah berulang kali Isha berada dalam bahaya dan hampir kehilangan nyawanya,ia tak ingin kembali terbebani jika kembali terjadi sesuatu kepada istrinya itu.
Devan berpikir keras, kemana kira kira Isha pergi, Devan ingat, mungkin ke panti asuhan.
Devan pun segera menelpon panti untuk menanyakan keberadaan Isha disana.
__ADS_1
"Tadi Isha sempat kesini,tapi baru saja ia pulang dianter ustadz Irsyad karena sepertinya dia agak kurang sehat,nak Devan!"Ucap Bu Salma ketika Devan menelpon nya.
Devan pun segera menutup ponselnya dengan geram,ia marah setelah tahu Isha pulang dengan pria lain,ia tak sabar menunggu kepulangan Isha dan ingin segera memarahi nya.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah nya,itu pasti Isha,Devan mengintip dari balik tirai dan benar saja, Isha pulang diantar ustadz Irsyad,Devan mengepalkan tangan nya saking kesalnya, sebenarnya ia ingin keluar dan meninju wajah ustadz Irsyad karena sudah berani mengantarkan istri orang,tapi ia berubah menahan dirinya sendiri,ia tak ingin terlihat cemburu di depan Isha.
Terlihat Isha menolak saat ustadz Irsyad hendak mengantar nya sampai depan rumah, Ustadz Irsyad hanya bisa menatap Isha dari depan gerbang kemudian ia pun kembali setelah melihat Isha masuk ke dalam rumah.
Terlihat jelas dari tatapan matanya, Ustadz Irsyad menyimpan perasaan yang begitu mendalam dan pengharapan yang begitu tinggi terhadap Isha.
Devan sangat tak suka dengan cara menatap Ustadz Irsyad kepada istrinya.
"Oh,jadi begini kelakuan mu di belakangku?!"Suara Dengan yang tiba-tiba membuka Isha begitu terkejut,ia tak menyangka jika Devan ternyata sudah pulang terlebih dahulu.
Tatapan mata nya begitu terlihat sangat menakutkan,ia berdiri sambil berkacak pinggang seperti ingin memakan Isha bulat bulat.
"Kamu sudah pulang?!Aku pikir kamu masih bersama kekasih mu itu!kamu bahkan sampai lupa meniggalkan ku di rumah sakit,aku hanya mampir sebentar ke panti,maaf jika aku tidak izin dulu sebelum nya, ponsel ku habis baterai sejak tadi!"
Wajah nya terlihat agak pucat dan tubuhnya pun lemas.
"Lalu begitu cara seorang wanita shalihah berlaku langkah?! pergi tanpa izin kepada suami, pulang diantar pria lain,apa saja yang kau lakukan dengan laki-laki itu di dalam mobil berduaan hah?! ternyata kau sama saja dengan perempuan murahan lainnya!"
Maki Devan dengan amarah yang membuncah di dadanya, jujur ia merasa kecewa dengan sikap Isha kali ini.
"Apa kalian melakukan hal ini tadi!"
Dengan tiba tiba Devan mendorong tubuh Isha supaya masuk ke dalam kamar,ia menjamah tubuh Isha dengan kasar, mulut nya membabi-buta menyasar wajah dan mulut Isha dengan brutal.
"Devan hentikan!Devan, Istighfar, tolong jangan lakukan ini kepada ku,Devan,, berhenti!"
Isha meronta ronta ingin melepaskan dirinya dari cengkeraman Devan, namun apa daya, kondisi tubuhnya yang sangat lemah bahkan tak mampu mendorong tubuh Devan agar menjauh.
__ADS_1
"Diam!! Kenapa aku harus berhenti,kita adalah pasangan suami istri,Isha!dan aku lebih berhak memiliki mu dan menjamah tubuh mu seperti ini daripada Pria manapun! sudah saatnya kau menyerahkan tubuh mu kepada suami mu sendiri Siti Rumaisha!"
Tangan Devan semakin merajalela,,,
dia melepaskan hijab Isha dengan kasar dan menghempaskan nya sembarangan.
Kemudian tangan nya beralih menarik kancing baju Isha sampai terlepas berantakan dan terlihatlah dada mulus Isha yang putih bersih seperti kapas,dua gunung kembar nya pun terlihat begitu indah menyembul di balik bra berwarna hitam yang ia pakai, Devan semakin bersemangat merenggut kehormatan Isha yang selama ini ia jaga.
Isha menangis terisak sambil terus berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangan nya, perlawanan yang dilakukan Isha malah semakin membuat tubuh kedua nya bergesekan begitu intens, gelora Devan semakin memuncak.
Tubuh Devan menindih tubuh Isha yang kecil mungil, membuat Isha semakin kesulitan bergerak dan bernapas.
Devan malah semakin gencar melakukan aksinya, mulutnya semakin menyasar ke area terlarang yang seharusnya tidak ia lewati,tak sedikit pun ia melewatkan kesempatan emas ini,ia benar benar menikmati setiap jengkel dari tubuh sang istri yang ia bahkan sudah berjanji tak akan pernah mau menyentuhnya.
Isha semakin tersedu tanpa bisa melawan lagi keganasan kejantanan sang Devan Mahendra, meskipun kini Devan adalah suaminya yang sah dan sudah kewajiban baginya untuk melayani nafkah batin Suaminya itu, tapi ia merasa tidak rela jika kehormatan nya direnggut paksa oleh seorang pria yang bahkan tidak mencintainya sama sekali.
"Dev, aku mohon, setidaknya perlakukan aku dengan baik,,Aku hanya akan melepaskan kehormatan ku kepada pria yang mencintai ku dengan tulus,,,Aku rela kehilangan apapun asalkan lepaskan aku sekarang Dev!aku mohon!"Dengan suara yang bergetar dan airmata yang berlinang, Isha memohon belas kasihan dari seorang Devan Mahendra.
"Kau bahkan akan sangat menikmati nya setelah kita melakukan nya, sayang!dan kau akan ketagihan dan meminta nya lagi dan lagi kepada ku,hehehe!"bisik Devan dengan tawa nya yang terdengar mengerikan.
Devan menatap wajah Isha yang penuh dengan air mata, tanpa berperikemanusiaan,ia terus saja melancarkan aksi nya,ia ******* habis bibir merah Isha samping ia kesulitan bernapas.
Tiba tiba dada Isha seolah naik ke atas,ia memukul mukul bahu Devan meminta agar segera melepaskan mulut nya dari mulut Isha, perlahan pukulan Isha melemah dan akhirnya berhenti.
Namun tubuh nya akhirnya terkulai lemah, wajah nya pucat juga suhu tubuh nya semakin panas, Isha demam dan langsung tak sadarkan diri.
Karena tak lagi merasakan pergerakan tubuh Isha seperti saat melawan nya tadi, Devan menghentikan aksinya untuk memastikan kondisi nya.
Ia menepuk nepuk pipi Isha agar segera terbangun, namun sepertinya Isha benar benar pingsan dengan kondisi tubuh nya yang setengah telanjang.
Devan panik,ia tak menyangka jika akibat nya akan jadi seperti ini.Ia menutupi tubuh Isha dengan selimut dan mengambil air hangat untuk mengompres tubuhnya yang demam.
__ADS_1
Ia gagal melancarkan aksi nya,bahkan ia menyesal karena sudah menyakiti istrinya itu.