
"Argh!!Devaaann! tutup matamu dan lepaskan aku sekarang juga!"Teriak Isha,ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Devan yang semakin kuat.
Devan malah tersenyum menyeringai penuh kejahatan,ia malah mendorong tubuh Isha ke dalam kamar mandi,,
"Dev,, apa yang akan kau lakukan! Cepat lepaskan aku sekarang dan pergi dari hadapanku!Aku mohon jangan sentuh aku!"Teriak Isha dengan putus asa, badannya begitu gemetar karena ketakutan.
Devan malah menggendong tubuh Isha dan meletakkan nya di atas bathtub yang sudah penuh dengan air hangat.
"Cepat lah mandi! memang nya kau pikir aku akan tergoda dengan tubuh mu yang biasa biasa saja! otak mu saja yang kotor!"Ejek Devan sambil beranjak keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Isha disana sendirian,kini Isha dapat bernafas lega,ia sempat berpikir jika Devan akan kembali memperlakukan nya dengan buruk,tapi Alhamdulillah nya kekhawatiran tidak terjadi.
Sedangkan di luar pintu kamar mandi Devan mengacak rambutnya frustasi, sudah berulangkali dia harus menahan diri agar tidak tergoda oleh istrinya itu,, ada sesuatu yang tegak di balik celananya,tapi bukan keadilan,dan itu membuat nya kesal bukan kepalang,,hahaha!
Ting tong ting tong!
Terdengar suara bel rumahnya berbunyi.
Ternyata delivery order makanan yang ia pesan sudah datang, setelah ia selesai melakukan pembayaran dan mengambil makanan nya,ia pun kembali masuk.
Namun tiba-tiba saja bel rumahnya kembali berbunyi,Devan mengernyitkan dahinya karena mereka tidak ada yang salah dengan pembayaran makanan tersebut,ia pikir tukang ojol nya mungkin kembali untuk meminta tip atau yang lainnya.
"Kenapa Bang , ada yang kurang?!"Tanya Devan sambil membuka pintu rumah nya.
Tapi Devan terkejut bukan kepalang setelah melihat siapa sosok yang berada di depan pintu rumah nya.
"Tissa,,! bagaimana kamu bisa berada disini?!"
Devan merasa heran bagaimana Tissa bisa tahu tempat tinggalnya bersama Isha, tidak ada orang yang tahu selain dirinya dan Isha juga kedua orang tuanya.
"GPS mu aktif,aku bisa melacak mu lewat itu! kamu kenapa ninggalin aku sendirian di apartemen, sekarang kamu benar benar sudah berubah Dev,kamu gak kaya dulu lagi!"Ucap Tissa sambil nyelonong masuk gitu aja ke dalam rumah.
"Aku kan sudah bilang kalau aku sudah menikah Tiss,jadi wajarlah jika aku berubah!"Jawab Devan sambil mengejar Tissa yang terus menerobosnya masuk ke dalam rumah nya.
"Oh,jadi gitu!?kamu sudah jatuh cinta sama istri pura pura kamu itu,dan kamu berniat membuang ku begitu saja,,iyaa?!"Tissa meradang,ia tak dapat membendung lagi perasaan marah nya, ia benar benar takut kehilangan Devan.
"Bukan begitu Tissa!aku sudah jelaskan semuanya kepada mu,aku mohon kamu mengerti,dan seharusnya kamu usah tidak datang kesini Tiss! kamu tunggu saja aku di apartemen,biar nanti aku yang datang menemui mu!"Devan berusaha menenangkan Tissa yang suaranya semakin meninggi,jika Isha mendengar nya,bisa berabe nanti.
"Sampai kapan aku harus menunggu Dev! sampai aku mati lumutan?!aku ini sakit Dev,dan aku butuh kamu di sampingku!"Tissa semakin meradang.
"Istri ku juga sedang sakit,Tiss!aku mohon pengertian mu!"
__ADS_1
"Jadi dia lebih penting daripada aku! aku yakin sakit ku lebih parah dibandingkan dengan nya,jadi aku harus lebih Kamu prioritas kan!"
"Oke,oke!aku minta maaf Tiss,tapi sekarang sebaiknya kamu pulang dulu ya, nanti aku nyusul ke tempat kamu!"
"Nggak mau!Aku akan pergi jika sama kamu!"Tissa semakin merajuk.
"Tissa, please!"
"Makanannya sudah datang?!aku harus minum obat sekarang!"Tiba-tiba saja Isha muncul dari kamar dan hadir ditengah-tengah perdebatan Devan dan Tissa, kepalanya di bungkus handuk tanda ia baru saja keramas,leher jenjangnya terpampang jelas terlihat banyak bekas tanda merah bekas kecupan yang cukup banyak,Isha memang sudah terbiasa berpenampilan tanpa cadar atau hijab di hadapan Devan.
Nada suara Isha semakin menurun begitu melihat ada tamu kejutan yang datang tiba-tiba.
"Wah ada tamu rupanya,siapa ini?!"Sapa Isha dengan ramah,ia ingat jika perempuan itu adalah Tissa, perempuan yang ia temui saat di restoran tempo hari,dan dia adalah cinta pertama Devan.
"Dia,,,dia adalah Tissa, wanita yang sudah aku ceritakan kepada mu!"Jawab Devan agak gugup,dia kaget karena Isha tiba-tiba muncul, asalnya dia khawatir saat kedua wanita itu bertemu,tapi Isha benar benar sudah dewasa dan dapat menguasai keadaan.
"Tiss,dia adalah Isha,, istriku!"
"Oh,, hai,Isha,,aku adalah Tissa,masa lalu Devan yang datang untuk mengambil nya kembali!"Ucap Tissa dengan begitu percaya diri,dia menatap tajam ke arah Isha dari atas sampai bawah.
Penampilan yang sederhana namun ia terlihat cantik natural dengan wajah berseri tanpa make up sedikit pun, berbeda dengan Tissa yang glamor, seksi dan modis.
Tissa langsung naik darah hingga ke ubun-ubun begitu melihat tanda merah yang banyak di leher Isha,ia langsung menatap tajam ke arah Devan dengan kemarahan yang tidak dapat ia sembunyikan.
"Apa maksud semua ini?! katanya kamu tidak mencintainya dan bahkan tidak pernah menyentuhnya sama sekali,lalu apa itu?! banyak sekali tanda merah di lehernya, kalian sedang bercinta ketika aku datang?! pantas saja kau seperti tidak senang dengan kedatangan ku Devan!kamu jahat!"
Tissa menunjuk ke arah Isha dan mengatakan hal itu di hadapan Isha langsung tanpa tahu malu,dia benar benar marah karena merasa sudah dikhianati oleh Devan.
"Itu tidak seperti yang kamu bayangkan,Tissa!aku bisa menjelaskan semuanya!"Sanggah Devan sambil memegangi bahu Tissa yang terlihat begitu marah.
"Jelaskan apa lagi?! semua nya sudah jelas, buktinya sudah ada, kamu tidak mencintai ku lagi,aku lebih baik mati saja!aku sudah mengorbankan karir dan hidup ku demi mengejar mu Devan,,dan ini balasan nya?!"Tissa semakin histeris,dia mengambil pisau yang tergeletak di meja makan dan mengarahkan nya ke pergelangan tangan kirinya,ia berniat untuk bunuh diri.
Sedangkan Isha dengan santainya duduk di kursi meja makan dan melihat drama yang sedang terjadi di hadapan nya, sesekali ia tersenyum miris dan terkadang menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua yang tidak dewasa dan seperti anak kecil saja.
"Rasakan,kamu sendiri yang mendapatkan akibat dari perbuatan mu kepada ku Devan!"Batinnya sambil tersenyum cengengesan.
"Tiss,kamu jangan begini dong!buang pisau itu,Tiss, ayolah!"Devan berusaha menenangkan Tissa yang tak berhenti histeris,dari dulu dia tak pernah berubah, selalu manja dan pemarah.
"Kalau begitu berjanji lah untuk segera menceraikan istri kamu itu,Dev,dan nikahi aku!"Teriak nya sambil menunjuk ke arah Isha yang tengah santai memakan makanan yang Devan pesan tadi.
__ADS_1
"Aku sudah bilang berulang kali kepadamu, hal itu sulit aku lakukan sekarang,,! tolong pahami aku!"
Ucap Devan sambil memegang tangan Tissa.
"Jadi kamu lebih memilih harta dibandingkan aku?!Aku tidak peduli jika kamu akhirnya jatuh miskin, Devan!harta ku masih akan cukup jika digunakan untuk hidup kita berdua!"
Teriak Tissa semakin menjadi.
"Tiss, tolong jangan begini,beri aku waktu untuk menyelesaikan semua nya!"
"Kalau begitu izinkan aku tinggal di sini!"
Keinginan Tissa semakin aneh saja.
"Sha?!"Devan memandang Isha seolah meminta pendapatnya,ia sudah kehabisan akal menghadapi sikap Tissa yang semakin keterlaluan.
"Aku sih terserah kamu saja,tapi kalau Mami kamu tiba-tiba datang dan melihat kalian berdua disini, menurut mu apa yang akan dia lakukan!"Jawab Isha dengan entengnya, sedikit pun dia tidak terpengaruh dengan sikap Tissa yang sulit dikendalikan.
"Benar kata Isha,Tiss,,! kamu bunuh saja aku sekalian,biar kamu puas!"Devan semakin frustasi,dia menodongkan pisau yang masih di pegang Tissa ke arah perut nya sendiri.
Tissa terkejut dengan sikap Devan yang tiba tiba, bagaimana pun ia tak ingin kehilangan Devan.
"Malam ini saja, izinkan aku tinggal!"Ucap Tissa dengan nada yang lirih akhirnya.
Devan kembali menatap Isha meminta persetujuan nya.
"Aku sih gak ada masalah,ya! tapi kamar kita kan cuman ada satu,kita gak mungkin tidur bertiga dalam satu kamar!"Ucap Isha masih dengan santainya.
"Kamu mengalah lah Sha, sekali ini saja!Aku akan dobrak pintu kamar sebelah dan kamu lah yang tidur di situ!"Ucap Devan.
"Ya suruh dia saja yang tidur disana!kamu terserah mau tidur dimana, kamar ini milik ku dari awal,dan aku tidak mau berbagi kamar dengan wanita manapun!"Tegas Isha sambil beranjak dari tempat duduk nya,ia membawa semua makanan yang ada tanpa menyisakan sedikitpun di atas meja makan, kemudian ia masuk ke dalam kamar miliknya lalu menutup nya rapat rapat dan menguncinya dari dalam.
"Kalian tidur satu kamar selama ini?!"Rengek Tissa membuat Devan semakin pusing.
Dia mengacak kepalanya frustasi,dan menjatuhkan dirinya di sofa.
Isha memang tidak mudah di kalahkan,dia tangguh dan jauh dari kata lemah.
"Ya
__ADS_1