NIKAH PAKSAAN

NIKAH PAKSAAN
cenat cenut


__ADS_3

Drrrt drrrt,,


"Ya halo!?"


"Dev, kamu tahu dimana Revan sekarang?udah tiga hari dia gak ada kabar! ponsel nya pun mati , Dev!kamu bisa cari tahu dimana dia?!"


Muthia, istri dari Revan menanyakan keberadaan suami nya.


Devan yang sedang beres beres karena hari ini Isha di perbolehkan pulang cukup terkejut karena akhirnya semua orang menyadari hilangnya Revan,ia menoleh ke arah Isha yang tengah menatap nya penuh penasaran.


"Ah, i,,iya ,kak!nanti Dev coba cari tahu,ya,nanti Dev kabarin lagi kalau sudah ketemu kak Revan!"Jawab Devan agak gugup,ia bingung harus berkata apa kepada Kakak iparnya itu, jelas ia tahu dimana Revan saat ini.


"Kenapa kamu tidak terus terang saja tentang Kak Revan! lambat laun nanti pasti akan ketahuan juga!"Ucap Isha, dia langsung mengerti kebingungan Devan saat ini.


Devan menghela nafas dan membuang nya berat,ia duduk di hadapan Isha sambil menyimpan tas berisi pakaian di samping mereka.


"Bagaimana pun dia adalah kakak ku,aku tidak ingin merusak hubungan kekeluargaan kami dengan masalah yang ia buat, biarlah dia menyelesaikan apa yang dia perbuat sendiri, aku tidak ingin melibatkan diri!"Jawab Devan ,baru kali ini Isha mendengar hal masuk akal yang di ucapkan Devan,dia terdengar begitu bijaksana namun Isha merasa geli mendengarnya.


"Kenapa kamu malah tertawa?"Devan tahu jika Isha sedang menertawakan ucapan nya barusan.


"Tidak,,aku tidak tertawa!"Jawab Isha sambil membuang muka ,ia bahkan tak bisa menahan dirinya ingin mengejek Devan, namun ia urungkan.


"Kau menertawakan ku,kamu sengaja mengejekku kan!"Devan meraih wajah Isha dan mendekatkan ke wajahnya,Isha semakin cengengesan karena tangan Devan menggelitik di perut bagian sampingnya.


Bahkan Devan malah semakin berani,ia merengkuh pinggang Isha agar semakin mendekati nya,kini mereka saling berhadapan,mata mereka saling beradu pandang,hati mereka sama sama berdebar,, perlahan bibir Devan di darat kan di bibir Isha,, mereka pun saling berpagut menikmati setiap kecupan mereka yang semakin dalam,Isha pun tak menolak nya lagi,dia malah balik membalas kecupan Devan dan saling menikmati momen itu.


"Drrrt drrrt!"


Terdengar suara ponsel milik Devan berdering, namun mereka malah mengabaikan nya, mereka terus asyik bermesraan, sepertinya mereka sudah mulai saling menyadari perasaan mereka masing-masing.


drrrt drrrt!


Ponsel milik Devan tak berhenti berdering,,, karena Devan tak kunjung melepaskan bibirnya,Isha mendorong tubuh Devan dengan paksa, namun Devan malah semakin erat merangkulnya.


"Aww,aduh! sakit!!"Isha berteriak kesakitan karena tangan Devan tak sengaja menyentuh punggung nya yang masih terluka.


"Aduh maaf maaf! sakit ya,,!?"


"Angkat tuh telpon nya, berisik banget dari tadi!"Kata Isha dengan malu malu,,ia pun turun dari ranjang rumah sakit sambil menutup wajahnya dengan cadar kembali.


""Hallo,,iya Pih,,,?"

__ADS_1


Ternyata Tuan Mahendra yang menelpon nya.


"Papi sudah mengirim mobil untuk menjemput kalian ke rumah sakit,, segera keluar dari sana dan temui Papi di rumah sekarang juga!"Dengan tegas Tuan Mahendra memerintahkan Devan untuk segera membawa Isha ke rumah nya.


"Tapi Pi,,,!"


Tut Tut Tut,,,


Tuan Mahendra segera menutup sambungan telepon nya sebelum Devan beralasan.


"Ada apa?!"Tanya Isha sambil mendekati Devan.


"Papi menyuruh kita untuk segera menghadap nya, entah dari mana dia bisa tahu kalau kamu sedang berada di rumah sakit,,dia kan sedang berada di luar negeri!"Jawab Devan merasa keheranannya,Devan yakin Papi nya pasti sudah tahu lebih banyak lagi, bahkan dia tahu jika Isha masuk rumah sakit.


"Aku bilang juga apa,, suatu hari pasti akan terbongkar juga, kenapa harus terus ditutup tutupi!?"


"Hemm,aku males menghadapi Papi, tadinya aku mau langsung pulang aja ke rumah kita,aku hanya ingin berduaan terus sama kamu!"Ucap Devan manja,ia memeluk perut Isha yang posisi tubuhnya berdiri dihadapan nya, sedangkan ia duduk di atas sofa.


"Sebaiknya kita turun sekarang! sebelum para pengawal suruhan Papi kamu menyeret kita!"


...****************...


Sepertinya Tuan Mahendra sudah tahu semuanya tentang Revan, entah darimana ia tahu dan bagaimana ia akhirnya sampai mengetahui semua nya.


"Bagaimana Papi bisa tahu?"


Devan malah balik bertanya.


"Beberapa perusahaan relasi kita yang ditangani Revan menuntut kita dan meminta ganti rugi karena mereka merasa Revan sudah menipu mereka dan parahnya dengan mengatasnamakan perusahaan!apa kamu belum melihat berita? korban korban investasi bodong yang dilakukan kakak mu melaporkan nya ke polisi dan kakak mu sekarang sedang dicari oleh media juga pihak kepolisian!"Tuan Mahendra menjelaskan semuanya kepada Devan dengan suaranya yang rendah tanpa semangat berapi-api yang biasanya ia lakukan,ia seakan kehilangan wibawa akibat kasus yang tengah terjadi.


"Pih,,,,!"Devan ingin berusaha menenangkan Papinya,tapi ia bingung harus berkata apa.


"Papi tanya kan sama Reno,dia bilang katanya kamu sudah tahu sejak lama, kenapa kamu diam Dev dan malah menutupi semua nya, mungkin jika kamu kasih tahu Papi, Revan tidak akan bertindak sejauh ini!"Tuan Mahendra malah menyalahkan Devan,ia merasa kecewa karena seharusnya Devan dapat mencegah perbuatan Kakak nya.


"Devan tidak yakin Papi akan percaya dengan ucapan Devan, selama ini Devan selalu buruk di hadapan Papi,dan Revan lah yang terbaik,,Devan tidak mau mengecewakan Papi dan juga tidak mau merusak hubungan keluarga kita akibat ulah Revan,,Devan tidak berdiam diri dan membiarkan semua ini terus berlanjut,Devan juga sudah berkali kali memperingatkan Papi tentang kinerja Revan, tapi Papi tetap hanya percaya kepada Revan, maafkan Devan Pih, jika selama ini Devan selalu bikin Papi kecewa!"Dengan lirih Devan mengutarakan isi hatinya,dan membuat Isha cukup terharu mendengar nya,baru kali ini dia melihat Devan begitu rapuh, terlihat kesedihan yang mendalam di mata nya yang berkaca kaca menahan air matanya agar tidak jatuh,dia tetap tegar meskipun hatinya ternyata serapuh kapas.


"Papi minta maaf, Papi merasa sudah gagal membesarkan kalian berdua, seharusnya dari awal papi mau dengerin kamu,Dev!"


Penyesalan memang selalu datang terlambat, namun selalu ada hikmah dari setiap kejadian.


Tap tap tap,,

__ADS_1


Terdengar suara sepatu menghampiri mereka,dan ternyata itu adalah nyonya Mahendra yang baru datang sambil menenteng sebuah dokumen,dari raut wajahnya, terlihat ia sedang penuh dengan amarah.


"Plakk,!"


Tiba tiba saja Nyonya Mahendra menampar wajah Isha,begitu dia berada di hadapan mereka.


"Mih,apa yang Mami lakukan,apa salah Isha?!"Devan langsung menarik Isha ke dalam pelukannya,ia sangat terkejut kenapa tiba-tiba Mami bersikap seperti itu.


"Sejak dia masuk ke dalam keluarga kita,, semuanya hancur berantakan,gara gara dia Revan terkena masalah,andai saja dia tidak hadir diantara kita, semuanya akan baik baik saja! dasar perempuan pembawa sial!"


"Mih,,,! hentikan Mih! kenapa Mami malah menyalahkan Isha,,dia tidak ada hubungannya sama sekali!"Devan menangkap tangan ibunya yang kembali akan menampar Isha.


"Kamu membela perempuan sialan ini?! bukan kah selama ini kamu sangat membencinya?! tunggu, tunggu! jangan jangan kau juga malah mulai menyukai nya?kau ingin berakhir seperti kakak mu, Revan,hah?! kalian berdua sudah kena guna guna dia, sadar gak sih kamu!"Entah apa yang membuat Nyonya Mahendra berpikir semua yang terjadi adalah kesalahan Isha,, yang jelas saat ini ia sangat frustasi, perusahaan milik suaminya akan terancam bangkrut karena banyak pihak yang minta ganti rugi gara gara ulah Revan.


"Mami apaan sih?! coba Mami bersikap rasional sedikit,apa apa selalu menyalahkan orang lain, sudah jelas ini semua ulah Revan, kenapa Mamih menyalahkan Isha,kan tidak ada hubungannya sama sekali!"


"Karena sejak ada dia semuanya jadi hancur berantakan, sekarang kita terancam bangkrut dan,,"


"Sudah sudah! hentikan kalian berdua!gak tahu apa kepala ku sudah mau pecah gara gara masalah ini,di tambah dengan kalian yang malah saling menyalahkan, seharusnya sebagai keluarga kita saling menguatkan di saat seperti ini!"Teriak Tuan Mahendra,dia sangat kesal karena Istrinya datang datang malah bikin pusing.


"Pokoknya Mami tidak mau tahu, kalian berdua tandatangani surat cerai ini,dan kau bebas melakukan apapun mulai saat ini,Devan! seharusnya kamu senang kan, karena akhirnya kamu bisa lepas dari perempuan yang tidak pernah kamu sukai!"


Kata Nyonya Mahendra sambil melemparkan berkas perceraian ke hadapan Isha dan Devan.


"Pih,apa maksud semua ini?!"Tanya Devan sambil memegangi surat tersebut sambil membacanya.


"Setelah Papi ngobrol dengan Tuan Lee, Papi sadar jika selama ini Papi sudah egois dengan memaksakan kehendak Papi sendiri tanpa memikirkan perasaan kalian berdua, terutama Isha, Papi yakin Isha memiliki impian sendiri yang ingin ia capai,jadi mulai sekarang kalian boleh berpisah tanpa ada syarat apapun,dan kalian berdua bisa melanjutkan hidup kalian masing masing sesuai keinginan kalian!"Ucap Tuan Mahendra,ia yakin ini adalah keputusan terbaik untuk Isha, karena yang dia tahu baik Devan ataupun Isha tidak pernah saling menyukai.


Devan dan Isha saling berpandangan,ada rasa sakit di dada keduanya setelah mendengar keputusan Tuan Mahendra yang mendadak tentang pernikahan mereka berdua.


Mereka berdua merasa berat hati jika harus dipisahkan.


"Tapi Pih,kita berdua sudah komitmen untuk belajar saling menerima satu sama lain!"


Devan mencoba memberi pengertian kepada sang Ayah, jujur ia tidak ingin berpisah dari Isha.


"Kalau kamu tidak menuruti keputusan kami,aku tidak akan menganggap mu sebagai anak ku lagi!"


Nyonya Mahendra sudah dapat menebak jika Putera nya itu sudah mulai menyukai Isha,tapi itu tidak akan pernah terjadi, kebencian nya kepada Isha sudah mendarah daging, entah bagaimana caranya Isha merayu kedua anaknya,dia juga tahu Revan tergila gila juga kepada Isha,dan ia tidak ingin hubungan anak anaknya hancur hanya karena seorang wanita.


"Baik,, akan saya tanda tangan!"Potong Isha ketika Devan hendak mendebat kembali sang Ibu.

__ADS_1


__ADS_2