NIKAH PAKSAAN

NIKAH PAKSAAN
Di tembak


__ADS_3

Devan masih terus mengoceh dari luar kamar mandi sambil membawakan handuk dan baju ganti yang sempat ia beli tadi, meskipun baru satu saja.


Namun Isha tak kunjung menjawab ocehan suaminya, biasanya dia tidak akan pernah diam,Isha sangat keras kepala dan tak pernah mau mengalah terhadap Devan.


"Sha,,,Sha!? kamu kok diam aja?!Sha, kamu baik baik saja kan?!"Devan yang mulai curiga karena Isha tak lagi menyahuti nya,segera membuka pintu kamar mandi namun terkunci dari dalam,Devan terus menggedor gedor pintu ingin mengetahui jika Isha masih baik baik saja di dalam ,Devan sangat khawatir.


Namun tak kunjung ada jawaban dari dalam kamar mandi,Devan benar benar khawatir,ia takut Isha kenapa kenapa, bagaimana jika Isha mati kedinginan di dalam sana, atau ia pingsan karena terlalu lama berada di kamar mandi.


Devan bersiap untuk mendobrak pintu kamar mandi, dengan sekuat tenaga ia berubah keras untuk membuka nya.


Namun tiba tiba saja pintu nya terbuka sedikit, terlihat kepala Isha nongol keluar, lalu ia meraih handuk dan baju ganti yang terletak di bahu Devan sambil cengengesan, tanpa berkata apapun ia kembali menutup pintu kamar mandi nya itu.


Setelah beberapa saat ia pun akhirnya keluar,Devan yang marah dan kesal masih berdiri di depan pintu, tanpa rasa bersalah, Isha melewati nya begitu saja sambil mencemoohnya,Isha merasa puas karena sudah berhasil mengerjai Devan lagi.


"Kamu apa apaan sih! gak lucu tahu! bikin orang khawatir saja, jantung ku hampir copot karena takut kamu kenapa kenapa, Isha!"Bentak Devan,ia terlihat sangat marah dan kesal.


"Cie marah!emang enak dikerjain!hahaha!"Isha malah tergelak bahagia,tak sedikitpun ia merasa bersalah,ia malah puas karena sudah berhasil mengerjai suami nya itu.


Sepertinya Devan benar benar marah kali ini,,tak sedikit pun dia menoleh ke arah Isha dan tidak pula dia menyapanya.


Tidak ada pula candaan atau pun kejahilan yang biasanya selalu ia lontarkan setiap saat.


Devan mendiamkan Isha malam ini.


"Kamu masih marah ya?!"Tanya Isha,ia merasa tidak nyaman saja dengan suasana yang dingin kaya kulkas dua pintu dan semakin mencekam itu.


"Pikir aja sendiri!"Jawab Devan sambil mencuci piring bekas makan nya sendiri,malam ini dia melakukan apa apa sendiri,tak sedikit dia menyuruh atau meminta Isha untuk melakukan sesuatu untuk nya.


"Yaelah Dev! kayak yang kamu gak pernah ngerjain aku aja!sini biar aku yang cuci in!nanti malah gak bersih lagi!"Kata Isha sambil hendak mengambil alih piring dari tangan Devan.

__ADS_1


"Gak usah! aku bisa sendiri!"Jawab nya sewot.


"Ya udah, sekalian beresin semua nya aja ya!aku mau tidur duluan!"Kata Isha yang juga tetap tak mau mengalah.


Tapi Devan mendahului langkah Isha dan menerobos masuk ke dalam kamar terlebih dahulu dan menutup pintunya dengan begitu keras dihadapan Isha.


"Blugh!'


"Ya ampun Devan!apaan sih! lebay banget!"Gumam nya kesal.


Isha pun masuk ke kamar dengan perlahan lahan, bagaimana pun perasaan nya tidak enak di diamkan seperti itu, sebagai wanita yang tau sedikit nya tetap agama,dia tidak ingin di kutuk para malaikat malam ini sebelum suaminya ridho kepada nya.


Devan terlihat sudah berbaring membelakangi nya, kasur mini yang hanya cukup untuk berdua saja dan itu pun akan sangat sempit jika tidak berbaring saling menyamping, tidak ada sofa di kamar juga,jadi apa tidak mau tidur satu tempat tidur,salah satu dari mereka harusnya tidur dilantai,dan Devan sudah mendominasi tempat tidur mereka.


"Dev,,Dev,, jangan marah terus dong!aku gak mau para malaikat mengutuk ku malam ini,maafin aku ya!aku tahu bercanda ku berlebihan,,aku gak apa apa jika harus tidur di lantai, asalkan kamu tidak marah lagi!"Kata Isha sambil menggoyangkan tangan Devan yang tidak mau menatapnya.


Isha kehilangan akal, apa lagi yang harus ia lakukan agar Devan mau memaafkan nya.


Akhirnya Isha menerobos tubuh Devan yang menghadap ke dinding dan menyalip diantara dada bidangnya, namun Devan kembali memalingkan tubuhnya ke arah sebaliknya dan terus menghindari Isha.


Isha tak menyerah begitu saja,ia terus-menerus melakukan hal yang sama agar Devan mau menatapnya dan mau memaafkan nya.


Hingga akhirnya Devan menindih tubuh Isha dan menguncinya karena ia kesal dan ingin balik mengerjainya.


"Kamu ingin ku maafkan?"


Tanya Devan Deng sorot mata yang begitu tajam, seperti hendak memakan mangsanya.


Isha hanya mengangguk ketakutan, perasaan nya sudah mulai tidak enak.

__ADS_1


"Apa malam ini kamu mau menyerahkan tubuh mu kepada ku?"Tuh kan ujung ujungnya pasti kesana,batin Isha,dia mau blok mengerjainya.


Isha diam dan memalingkan wajahnya.


Sebenarnya itu adalah kewajiban yang harus ia tunaikan sebagai seorang istri, sejak mereka menikah Isha memang belum pernah menunaikan kewajiban nya yang satu itu.


Isha bimbang, kenapa sebenarnya ia harus bimbang, bagaimana pun mereka sudah menjadi suami istri dan mereka halal melakukan nya.


"Ya sudah kalau gak mau!aku gak masalah jika harus semi hidup menahannya,aku tidak mau memaksa seseorang jika ia tidak mau!"Kata Devan dengan nada kesal,dia pun menghempaskan tubuh Isha kembali dan segera beranjak.


Namun tiba-tiba saja Isha menarik baju Devan dan memeluk nya dari belakang,baru kali ini Devan merasakan debaran Jantung yang begitu hebat,ia merasa desiran darah nya terasa begitu mengalir di seluruh tubuhnya,Devan menahan senyumnya yang menyungging karena merasa bahagia.


"Maafkan aku Dev!aku,,aku,,aku hanya masih ragu tentang perasaan mu terhadap ku,bayang bayang kamu akan meninggalkan ku begitu terus menghantuiku,aku,,,!"


Devan berbalik dan menutup mulut Isha dengan jari telunjuk nya.


"Sutt!apa kamu masih ragu dengan keberadaan ku sekarang disini bersama mu?!lihat aku,,aku rela meninggalkan keluarga ku agar bisa tetap bersama mu,apa itu belum cukup,hemm?"Tanya Devan sambil menarik dagu Isha agar mereka saling bertatapan.


Isha hanya diam saja sambil menunduk lagi.


" Ternyata bahkan aku sudah menyukai mu dari pertama kita bertemu, namun aku tidak mau mengakuinya karena gengsi,dan aku baru sadar jika aku tidak bisa hidup tanpamu ,Isha!jika kamu sakit,aku ikut sakit,saat kamu berada dalam masa,aku selalu khawatir dan aku selalu merasa kehilangan saat kamu tidak ada disamping ku!"


Isha menatap mata Devan, terpancar ketulusan dari sorotan matanya, entah itu rayuan gombal ataupun sungguh sungguh dari ketulusan hatinya,tapi Isha cukup tersanjung dan terlena mendengar nya.


"Jadi Isha,maukah kamu mendampingi ku saat susah dan senang sampai ajal kita menjemput!?Aku berjanji akan belajar menjadi Imam yang baik untuk mu,bimbing aku agar mengenal agama lebih dalam lagi,,Aku mencintaimu Isha!"Devan menggenggam tangan Isha lalu mengecup nya mesra dan penuh kehangatan.


Hati perempuan mana yang tak akan luluh jika diperlakukan seperti itu oleh seorang pria.


Tapi tidak dengan Isha, keraguan masih terus menyelimuti nya,ia sudah bisa menebak bagaimana ending dari kisah percintaan seperti ini,Devan tidak akan mungkin bisa bertahan tanpa kedua orang tua nya,dan mereka tidak akan mungkin juga bisa bertahan hidup terus menerus seperti itu, bersembunyi dan lari dari kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2