
"Plakkk!"
"Kamu yang mencari kesempatan, singkirkan tangan kotor mu itu dari tubuhku Tuan Devan Mahendra!"
Dengan segera Devan menurun kedua tangannya yang berada tepat di gunung kembar milik Isha.
Isha pun segera bangun dan berlari meninggalkan Devan sendiri di ruangan tersebut.
"Heyy, tunggu aku! jangan tinggalkan aku sendiri!"Teriak Devan sambil berlari mengikuti langkah Isha menuju ruangan utama.
Isha mencuci tangan nya dengan kesal di wastafel,ia marah karena Devan sudah memegang bagian penting dari tubuh nya yang selama ini ia jaga.
Devan berdiri dibelakang Isha,kemana mana ia selalu mengikuti langkah Isha, jujur ia takut ditinggal sendirian,suara suara aneh kadang terdengar,ini sudah hampir tengah malam,dan Isha sedang membuat mu rebus karena merasa lapar.
"Aku minta maaf untuk yang tadi, itu tidak disengaja!"Ucap Devan akhirnya, meskipun bibir nya terasa kelu untuk mengucapkan nya,tapi ia terpaksa harus melakukan nya,ia tahu Isha pasti sangat kesal dan marah akibat kejadian tadi.
Isha tak menjawab nya,ia menyodorkan semangkuk mi instan yang dicampur telor lengkap dengan saos sambal nya.
Tanpa berkata sepatah kata pun,Isha melahap makanannya meskipun masih panas,Devan memperhatikan cara makan Isha yang sama sekali tidak terlihat kesulitan meskipun cadar menutupi mulut nya.
"Kenapa kau harus semarah itu,kita kan sudah menjadi suami istri!"Ucap Devan sambil memulai melahap makanannya yang begitu terasa nikmat meskipun hanya semangkuk mi instan biasa saja, bahkan ia tak pernah memakan makanan seperti itu selama ini.
"Apa,, Suami istri?sejak kapan kau menganggap ku sebagai istri mu?!"Kata Isha dengan ketus nya,ia masih sangat marah dan kesal, apalagi tidak terlihat ada penyesalan dari Devan,dia segera meninggalkan Devan di meja makan dan berlalu ke dapur untuk mencuci mangkok bekas makan nya.
"Hei,hei, hei,,,aku belum selesai makan! tidak sopan tahu meninggalkan suami yang belum selesai makan di meja makan! katanya tahu tentang agama!"Teriak Devan,ia benar benar takut ditinggal sendirian di ruang makan.
"Ya, walaupun kita hanya nikah paksaan! kau harus tetap berbuat baik kepada ku bukan!?"
"Lalu bagaimana dengan mu, apakah kamu tidak perlu berbuat baik kepada ku!"Tidak ada panggilan Kakak di setiap ucapannya,Isha tak ingin kalah terus dari suaminya itu.
"Aku lelah,, sebaiknya kita tidur,,aku tak suka rumah ini kotor dan banyak debu, besok kau harus membersihkan nya,,apa kau mengerti?!"
"Terserah!"Kata Isha sambil masuk ke dalam kamar Devan namun ia kembali keluar sambil membawa satu bantal dan selimut,ia berniat tidur di ruang tamu.
"Kamu mau kemana?!"Tanya Devan begitu ia berpapasan dengan Isha di pintu kamar.
"Ya tidur lah!"Jawab Isha sambil membenahi sofa ruang tamu.
"Ya aku tahu!siapa yang menyuruhmu tidur di ruang tamu!?"Ucap Devan,ia tak akan bisa tidur malam ini jika tidur sendirian, setelah banyak nya suara suara aneh yang ia dengar.
"Terus kita mau tidur satu kamar gitu?!ih aku mah ogah!"Jawab Isha tak mau berbaik hati,kini ia tahu kelemahan Devan.
"Siapa juga yang mau tidur sama kamu!ih ge er kamu! Maksud ku kamu tidur nya di sofa kamar ku, jangan disini, kalau ada orang jahat gimana!atau bagaimana jika Mami memata matai kita,aku gak mau kelihatan jahat terhadap kamu ya!"
"Gak mau! pokok nya aku mau tidur di luar aja!"Jawab Isha tetap pada pendiriannya,ia pun segera berbaring di atas sofa di ruang tamu kemudian membelakangi Devan yang memaksa nya untuk tidur di sofa kamar nya.
__ADS_1
"Keras kepala sekali kamu!"
Tiba tiba saja Devan mengangkat tubuh Isha dan memindahkan nya ke sofa dikamar nya.
"Jangan pernah melawan ku,jika aku menyuruh mu melakukan sesuatu maka kau wajib melakukan nya tanpa bantahan sedikitpun,atau aku akan memaksa mu dengan cara kekerasan!"Ancam Devan sambil menjatuhkan tubuh Isha di atas sofa, kemudian ia mengambil selimut dan bantal dari sofa ruang tamu dan melemparnya ke wajahnya Isha lalu ia pun mengunci pintu kamar tersebut kemudian ia mulai berbaring diatas tempat tidur nya.
"Tidur dan jangan berisik!"Perintah nya sambil melihat ke arah Isha.
Isha hanya menurut saja, karena kelelahan akhirnya keduanya pun tertidur pulas tanpa ada lagi argumentasi yang melelahkan jiwa dan raga.
......................
Terdengar suara Iqomat dari mesjid terdekat sudah berkumandang,,
Dengan segera Isha bangkit dari tidur nya,ia bangun kesiangan pagi ini.
"Astaghfirullah sudah Qomat,,,!"
Gumam Isha sambil beranjak ke kamar mandi, terdengar dengkuran halus dari mulut Devan,ia masih tertidur begitu pulas nya.
Dengan segera Isha mengerjakan sholat subuh, setelah selesai berdzikir sebentar ia pun mencoba membangun kan Devan
"Kak, bangun Kak! sudah waktunya sholat subuh!Kak ,Kak Devan!"Isha menggoyang goyangkan tubuh Devan dengan agak keras.
"Kakak gak solat subuh? ini bahkan sudah hampir siang kak!"Isha tetap berusaha mengajak dan suami nya.hii
"Gak ah!sana sana ah! berisik,aku masih ngantuk!"
Bentak Devan sambil menarik selimut nya kembali.
"Kunci kamar nya mana!Aku mau keluar!"Kata Isha sambil menarik narik selimut yang dipakai Devan.
"Aduhh ,,apaan lagi sih!? ganggu aja deh!"Devan mengacak ngacak rambutnya sendiri karena kesal,ia pun melempar asal kunci kamar yang diminta Isha.
Isha pun keluar dari kamar dan menuju dapur,ia mengubek ubek isi kulkas yang kosong,kali aja ada sesuatu yang bisa dijadikan bahan untuk sarapan.
Tapi tak ada apapun disana, hanya ada mi instan dan telur,,nah!ada telur,,dia bisa bikin omelette yang lezat pagi ini, seadanya saja dulu.
"Emmm,wangi apa ini,bau nya sangat lezat!"Gumam Devan , matanya masih terpejam namun ia terganggu dengan wangi makanan yang menggugah selera,dan tiba tiba saja perutnya menjadi sangat keroncongan.
Ia berjalan menuju ruang makan, sesuatu sudah tersedia disana,dua piring omelette dan dua gelas susu panas sudah tersaji dan masih mengepul dengan panas, seseorang berjalan menujunya,,
"Apakah dia seorang bidadari?!"
Batin Devan, sepertinya dia lupa jika kini ia sudah menikah dan tinggal satu atap dengan seorang perempuan, entah karena ia masih ngantuk atau masih linglung, entah lah!
__ADS_1
"Cuci tangan dan cuci muka terlebih dulu sebelum makan!"
Tiba tiba saja bidadari itu menepuk tangan nya yang hendak menyuap kan makanan ke dalam mulut nya, membuyarkan ke terpesona an nya dan ia pun kini tersadar,yang dia anggap bidadari itu adalah istrinya yang selama ini ia benci.
Devan pun menurut saja saat di suruh cuci tangan,tapi tidak dengan mencuci mukanya.
Mereka pun sarapan bersama tanpa bersuara.
"Setelah ini bersiaplah!kita belanja kebutuhan sehari-hari!"Ucap Devan sambil menghabiskan suapan terakhirnya.
"Masakan mu tidak enak!"Entah sengaja ingin menyakiti hati Isha atau maksud ucapannya adalah yang sebaliknya, yang jelas tidak mungkin makanan nya tidak enak jika tidak dihabiskan sampai bersih seperti itu.
Isha tidak peduli,,
Isha dan Devan pun bersiap untuk pergi ke supermarket, mereka berniat belanja kebutuhan sehari-hari,Devan diberi cuti satu Minggu oleh sang Ayah untuk berbulan madu.
"Morning!!"
Sapa seorang Pria tampan seumuran Devan yang sepertinya berkewarganegaraan Korea,ia tengah joging sambil membawa anjingnya yang lucu.
Devan tidak menjawab nya sama sekali,Isha yang malu dengan kelakuan suaminya yang jutek dan arogan itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit,ia tidak boleh berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
"Kenapa tidak dijawab,dia sudah sopan dengan menyapa!"
Kata Isha mencoba mengingatkan sambil jalan.
"Bukan urusanmu,dan aku tidak suka kau terlalu ramah dengan pria lain!bukan karena cemburu,tapi penampilan mu harus sesuai dengan kepribadian mu!"Ucap Devan dengan nada cukup tinggi dan agak marah.
"Aku tidak ramah,aku hanya malu karena Kak Devan tidak menjawab sapaan nya!"Jawab Isha.
"Ckiiiitt!"
Devan mendadak mengerem mobil nya.
"Apa kau merasa paling pintar dan paling benar?!Kau selalu saja membantah ucapan ku!jika kau merasa pria tadi lebih baik dariku, pergi saja bersama nya sekalian!Turun!!"
Bentak Devan sambil menyuruh Isha untuk turun dari mobilnya.
Isha hanya terdiam sambil menatap Devan dengan perasaan aneh, kepribadian nya sangat aneh, terkadang manja, kadang terlihat perhatian, tapi juga kejam.
"Turuunnn!"
Bentak Devan dengan nada yang lebih meninggi,dia sangat serius dengan ucapannya.
Karena kesal, Isha pun turun di tengah jalan yang sepi,jauh kemana mana dan tidak ada tempat untuk singgah,mobil pun jarang yang melewati jalan tersebut, karena rumah mereka berada di wilayah yang ekslusif dan hanya orang orang elite saja yang tinggal di kawasan itu.
__ADS_1