
"Malam ini saja, izinkan aku tinggal!"Rengek Tissa dengan nada yang lirih akhirnya.
Devan kembali menatap Isha meminta persetujuan nya.
"Aku sih gak ada masalah,ya! tapi kamar kita kan cuman ada satu,kita gak mungkin tidur bertiga dalam satu kamar!"Ucap Isha masih dengan santainya.
"Kamu mengalah lah Sha, sekali ini saja!Aku akan dobrak pintu kamar sebelah dan kamu lah yang tidur di situ!"Ucap Devan.
"Ya suruh dia saja yang tidur disana!kamu terserah mau tidur dimana, kamar ini milik ku dari awal,dan aku tidak mau berbagi kamar dengan wanita manapun!"Tegas Isha sambil beranjak dari tempat duduk nya,ia membawa semua makanan yang ada tanpa menyisakan sedikitpun di atas meja makan, kemudian ia masuk ke dalam kamar miliknya lalu menutup nya rapat rapat dan menguncinya dari dalam.
"Kalian tidur satu kamar selama ini?!"Rengek Tissa membuat Devan semakin pusing.
Devan mengacak kepalanya frustasi,dan menjatuhkan dirinya di sofa.
Isha memang tidak mudah di kalahkan,dia tangguh dan jauh dari kata lemah.
"Dev, kalian tidur satu kamar selama ini?!"Tissa mengulangi pertanyaan sambil duduk di samping Devan yang wajahnya terlihat kusut.
"Iya,,!memangnya kenapa?! kami sudah menjadi suami istri,ada masalah?!"Bentak Devan,dia benar benar pusing menghadapi tingkah Tissa yang kekanak-kanakan.
"Dev!kamu kok gitu sih!?"Tissa kembali menangis karena sudah di bentak oleh Devan.
"Ya lagian kamu,bikin pusing kepala ku saja! Ayo aku antar kamu pulang sekarang!"Kata Devan sambil berdiri dan mengambil jaket nya.
"Tapi Dev!"Tissa bermaksud untuk protes.
"Ayo pulang, aku antar!"Ucapan Devan terdengar datar namun sedikit tenang,ia masih kesal kepada Tissa dengan sikap nya yang mengacau.
Ia pun berjalan menujunya kamar Isha lalu mengetuk pintunya.
"Tok tok tok,,Sha!Isha!"
"Kenapa lagi?!"Jawab Tissa sambil kepala nya saja yang nongol dari pintu.
"Aku mau antar Tissa pulang,kamu gak apa-apa kan di rumah sendirian?!"Devan sedikit khawatir mengingat banyaknya kejadian yang menimpa Isha akhir akhir ini.
__ADS_1
"Terserah! blugghh!"Ucap Isha pendek sambil menutup kembali pintu kamar nya dengan cukup keras dan hampir mengenai kepala Devan.
Hati Tissa sedikitpun teriris melihat adegan Devan yang terlihat khawatir kepada Istrinya,, Tissa yakin Devan sudah mulai terpengaruh oleh pernikahan nya itu, setiap hari bertemu bahkan mereka satu kamar berdua tidak menutup kemungkinan jika akhirnya mereka akan saling jatuh cinta, Tissa tak akan membiarkan semua itu terjadi,ia harus segera melakukan sesuatu agar Devan kembali berpaling kepada nya dan hanya mencintai nya saja.
Tak ada obrolan apapun selama mereka berdua berada di dalam mobil, suasana begitu ambigu,Tissa hanya sesekali menatap kekasihnya itu,ia tak berani merongrong nya lagi dengan berbagai pertanyaan yang begitu menyesak kan dada nya,masih banyak sebenarnya berbagai pertanyaan yang terus berputar putar di kepala nya,tapi Tissa tahu Devan sedang kesal karena ulahnya.
"Malam ini aku ingin tidur ditemani sama kamu!kamu tidur di apartemen ku ya?!"Rayu Tissa dengan wajahnya yang berseri,ia berusaha menutupi kesedihan dan kekhawatiran nya karena takut Devan semakin menjauh dari nya jika ia terus-menerus marah terhadap nya.
drrrt drrrt drrrt
Tiba-tiba saja terdengar suara ponsel Devan berbunyi.
"Iya,halo,,, kenapa Pih!"
Ternyata Tuan Mahendra yang menelpon nya.
"Segera datang ke rumah Papi,ada yang harus kita bicarakan, sekarang juga!"Ucapnya dengan begitu tegas,ia pun menutup telponnya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Devan.
"Kayaknya aku gak bisa,Tiss! Aku harus menemui Papi ku segera!"Devan langsung memberi jawaban kepada Tissa sambil memperlihatkannya ponselnya yang masih ia pegang.
"Kalau aku tidak sibuk, akan aku usaha kan,ya!"Devan tak bisa terus memberi janji manis kepada Tissa ,kini ia benar benar sedang dalam dilema, apalagi Papi nya kini memanggilku nya, entah apa yang ia ketahui tentang apa yang terjadi di dalam rumah tangganya,ini benar benar gawat.
Tissa hanya mengangguk sambil cemberut karena kecewa dengan jawaban dari Devan,kini ia bukan prioritas nya lagi,ia pun turun dari mobil setelah mengecup pipi Devan tanpa ada balasan dari nya,kini Devan begitu dingin terhadap nya.
...---------------...
"Ada apa Pih?!kok manggil aku malam malam, emang nya ada masalah yang serius?"Tanya Devan kepada Tuan Mahendra yang sedang duduk di sofa ruang keluarga didampingi istrinya yang baru pulang dari luar negri.
"Duduklah dulu Dev!"Ucap Mami nya , wajah mereka berdua terlihat begitu serius dan tegang.
"Ada apaan sih, serius banget!"Gumam Devan sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa yang berhadapan dengan kedua orangtuanya.
Mereka tak langsung berbicara kepada Devan, kedua nya malah menatap Devan dengan tatapan tajam yang menakutkan.
"Barusan Papi ditelpon oleh kenalan Papi di kepolisian,dia menanyakan keadaan menantu Papi yang katanya tempo hari hampir tenggelam di laut, apa yang sebenarnya terjadi Dev?!"
__ADS_1
Tuan Mahendra pun mengutarakan alasannya memanggil Devan malam malam.
"Degh!"
Devan terkejut,bagaimana Papi nya bisa tahu tentang hal itu?
arghhh!Devan ingat, Papinya yang sangat berkuasa itu memiliki mata dan telinga di manapun,tentu saja akhirnya dia akan tahu segalanya.
"Mami juga baru tahu jika kamu ternya menolak asisten rumah tangga yang sengaja Mami kirim untuk menemani istri mu itu!Devan, apa kau sengaja ingin melenyapkan istri mu itu demi mengambil hartanya dan kamu bisa terbebas dari nya, begitu? apa ini semua adalah rencana mu?!"Nyonya Mahendra langsung menginterogasi Putera nya dengan berbagai pertanyaan,ia takut jika sampai Devan terlibat kasus pembunuhan istrinya sendiri dan akhirnya ia akan berakhir di penjara.
"Tunggu tunggu tunggu! apa teman Papi tidak menceritakan jika pelaku Keja nya anda Vanessa, mantan pacar Devan, bahkan dia sudah di tahan oleh pihak kepolisian dan kasus ini dianggap selesai!"
Devan berusaha Melur masalah yang dituduhkan orangtuanya itu.
"Apa kau yakin kau tidak terlibat?! lalu apa penjelasan mu tentang photo yang ini? photo ini diambil saat kejadian Isha diserang oleh para penjahat itu!"Ucap tuan Mahendra sambil melemparkan sebuah photo ke wajah Devan dengan begitu kesal.
"Sial! Bagaimana aku bisa ketahuan terus oleh Papi sih!ini semakin kacau, bahkan Papi tahu jika Tissa kembali lagi!"Batin Devan begitu melihat photo yang Papi nya berikan, itu adalah photo saat dirinya menggandeng Tissa masuk ke dalam hotel miliknya sendiri.
"Ini,ini, ini tak seperti yang Papi bayangkan, waktu itu aku hanya mengantar Tissa ke kamar hotel yang ia pesan setelah ia kembali dari luar negeri karena kakinya keseleo, setelah itu Devan langsung pulang kok!"Dalih Devan berusaha membela dirinya.
"Kau pikir aku sebodoh itu!jika malam itu kau langsung pulang, kejadian mengerikan itu tidak akan menimpa istri mu, Devan!"Teriak Tuan Mahendra sambil berdiri dan menunjuk nunjuk Putera nya dengan kekesalan yang begitu besar.
"Pih , sabar Pih! ingat kesehatan mu!"Nyonya Mahendra berusaha menenangkan suaminya yang tengah marah itu.
"Apa kau berniat kembali kepada kekasih mu yang sudah meninggalkan mu itu,apa kau tidak punya harga diri, Devan!Kau tahu kenapa dia akhirnya kembali dan merayu rayu kamu lagi?Di Paris dia di tipu habis habisan oleh seorang pria bule hingga ia bangkrut dan terpuruk,pria bule itu pergi meninggalkan nya begitu saja setelah mantan mu itu kehabisan harta nya disana, lihat saja!sebentar lagi dia akan menjerat mu dengan mengaku bahwa dia hamil oleh mu, padahal sesungguhnya dia sudah hamil oleh Pria brengsek yang sudah menipu nya itu!apa kau se naif itu,Devan Mahendra, hahaha! sungguh kasihan!"Tuan Mahendra menertawakan Putera nya yang hampir saja tertipu oleh Tissa jika saja ia tak memberitahu kebenaran nya.
Devan diam seribu bahasa, apakah yang dikatakan oleh Papinya itu benar adanya, atau hanya sekedar akal akalan nya saja untuk memisahkan nya dari Tissa.
Ini
"Papi jangan mengada-ada!"Ucapnya terdengar pelan dan sendu.
"Jika tak percaya,coba kau tanyakan saja sama temen Mami yang dari Paris, Mami juga tahu dari dia! Kamu jangan bodoh,Devan, jangan sampai kamu menyesal akhirnya! meninggalkan istri mu yang sempurna itu demi mendapatkan perempuan yang sudah hancur dan bekas orang lain!"
Nyonya Mahendra pun tak kalah kesal nya terhadap Devan.
__ADS_1