Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
11. Air Mata


__ADS_3

Echa duduk di taman sambil menangis dan menutup kedua matanya dengan tangannya.


"Hikss...Gathaaa...maafin Echaa.. Semua ini salah Echa. Gatha kayak gitu karena Echa. Maafin Echa, Gatha.." suara isakan Echa.


Namun, tiba-tiba ada yang menyentuh bahu Echa dari belakang.


"Cha??" Panggil orang itu.


Echa pun menoleh untuk melihat siapa orang tersebut. Dan ternyata orang itu adalah...


"Sakka?" Kata Echa mengernyitkan keningnya dan menghentikan tangisnya seketika.


"Iya ini aku," ujar Sakka.


"Boleh duduk disini?" Tanya Sakka meminta izin, yang dibalas anggukan kepala oleh Echa.


"Aku tau kamu kenapa," tebak Sakka, sedangkan Echa hanya bergeming menghadap ke depan.


"Gatha pasti sembuh Cha. Bantu yakinin dan semangatin dia juga kalo dia pasti sembuh," kata Sakka menatap Echa dengan tatapan rindunya.


"Kamu tau darimana tentang Gatha?" Tanya Echa dengan suara yang serak.


"Kemarin aku ketemu Raya di Rumah Sakit ini. Dan katanya Gatha dirawat yah?" Ucap Sakka.


"Gatha gak cuma dirawat sak..hikss..tapi G-Gatha k-koma..hikss... Ini semua salah aku sak..salah aku yang gak pernah percaya kalo Gatha sakit. Aku sahabat yang jahat sak..hikss..hikss.." amuk Echa lagi sambil memukul-mukul dirinya sendiri.


Sakka pun memeluk Echa dengan erat untuk menghentikan pukulan Echa pada dirinya sendiri. Walaupun sedikit kesusahan karena tongkat yang dipakainya.


"Udah Cha udah! Kamu boleh nyesel karena perbuatan kamu, tapi jangan nyakitin diri kamu sendiri kayak gini," ujar Sakka menenangkan Echa dengan mengelus punggung Echa.


Amukan Echa akhirnya mereda dalam pelukan Sakka. Echa merasa sangat nyaman dan tenang saat dipeluk Sakka seperti ini.


"H-hikss..aku jahat sak..aku jahat," gumam Echa sedikit terisak sambil mencengkram baju pasien yang Sakka kenakan.


"Ssttt...udah ya, tenangin diri kamu. Kamu harus yakin kalo Gatha akan sadar secepatnya dan bisa kumpul lagi sama kalian," kata Sakka dengan mengelus rambut Echa.


Tangis Echa pun mereda. Ia mendongakan wajahnya dan melepaskan pelukannya pada Sakka.


"Makasih ya sak. Udah nenangin aku," kata Echa sambil tersenyum kecil.


Cup.


Sakka mencium kening Echa dengan lembut.


"Udah ya jangan nangis lagi," kata Sakka dengan senyum manisnya.


Echa kaget. Ia terdiam seketika dan menatap Sakka dalam. Sakka pun ikut menatap wajah cantik Echa. Menyalurkan kerinduan nya lewat tatapan nya itu.

__ADS_1


Namun, Sakka cepat tersadar dan menjentikan jarinya di depan wajah Echa untuk menyadarkan Echa.


"Hey! Udah kali natapin aku nya. Nanti lagi kalo mau kangen-kangenan," ledek Sakka tersenyum jahil.


"Apasih?!" Kata Echa dengan sinis. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pipi Echa memerah.


"Heheheh..bercanda," kekeh Sakka.


Tiba-tiba Echa tersadar akan keadaan Sakka yang memakai baju pasien rumah sakit dan tongkat di sampingnya.


"Loh sak, k-kamu kenapa?" Tak dapat dipungkiri bahwa Echa khawatir melihat keadaan Sakka yang seperti itu.


"Mau tau?" Tanya Sakka dan dibalas anggukan oleh Echa.


"Mau tau banget atau mau tau ajah?" Ujar Sakka dengan jahilnya.


"Ck. Bisa gausah rese ngga sih?" Bete Echa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kalo aku kasih tau alasannya.. Kamu mau gak rawat aku sampe sembuh?"


Sakka bukan mencari kesempatan dalam kesempitan, namun biarlah kali ini ia ingin egois karena saking rindunya dengan Echa.


***


By the way, entah sadar atau tidak. Sejak awal Sakka bertemu dengan Echa disini. Echa kembali mengubah panggilannya menjadi aku-kamu pada Sakka. Dan Sakka menyukai itu.


***


"Kan udah ada suster sama dokter disini buat ngerawat kamu," kata Echa memutar bola matanya dengan malas.


"Yaudah aku gak mau ngasih tau kalo gitu," ujar Sakka mengetes Echa, Apakah Echa benar-benar khawatir pada dirinya


"Ck,, gausah kayak anak kecil deh," sinis Echa.


"Tuh, malah diomelin. Yaudah aku pergi," kata Sakka pura-pura merajuk sambil bersiap berdiri untuk pergi.


"Ish! Yaudah iya-iya," kata Echa sedikit ngegas.


"Iya apa?" Tanya Sakka jahil.


"Iya aku yang rawat!" Kata Echa terkesan terpaksa dan Sakka pun tersenyum menang.


"Masih suka ngambekan kayak dulu ternyata," gumam Echa pelan.


"Kamu masih inget sifat aku ternyata," ujar Sakka yang mendengarnya sambil tersenyum.


"Cepetan jawab itu kenapa kaki kamu?" Tanya Echa mengalihkan

__ADS_1


"Tapi janji yaa jangan nyalahin diri kamu sendiri," ujar Sakka serius.


"Maksudnya?" Tanya Echa mengerutkan keningnya.


"Aku kecelakaan, beberapa hari setelah hari ulang tahun kamu," ucap Sakka hati-hati.


"Astagfirullah, kok bisa?" Kaget Echa sambil menutup mulut dengan tangannya.


"A-aku..aku stress banget Cha, karena kamu marah besar hari itu. Dan gak percaya sama omongan aku dan sahabat-sahabat kamu," Echa mengerutkan kening, tak mengerti arah pembahasan Sakka.


"Please, bisa gausah bahas masalah itu ngga? Aku gamau nambahin beban pikiran aku untuk sekarang," ucap Echa gelisah, namun Sakka tetap melanjutkan penjelasannya.


"Beberapa hari setelah itu, aku touring ke puncak sama temen-temen aku, niatnya untuk ngelupain kamu. Tapi, gabisa Cha. Entah kenapa di hari itu aku kangennn bangett sama kamu. Sampe akhirnya, pas pulang aku misah dari rombongan. Dan muter-muter sebentar lewat jalan-jalan yang pernah kita lewatin berdua. Dan..mungkin karena aku terlalu mikirin kamu di jalan saat itu. Singkat cerita, gatau kenapa aku bawa motornya ngebut banget. Sampe akhirnya aku nabrak sesuatu dan terpental ke tengah jalan. Makanya sekarang... kaki aku patah. Dan sejujurnya aku gatau ini sembuhnya kapan," jelas Sakka dengan sendu.


Echa sudah terisak sedari tadi. Ia merasa semakin bersalah atas apa yang telah dilakukannya kemarin-kemarin. Ternyata banyak orang yang telah terluka karena sikap egoisnya.


"H-hikss..hiks..m-maafin aku ya sak..hiks," kata Echa menangis kembali.


"Maaf kalo cerita aku jadi nambahin beban pikiran kamu. But please, jangan nangis lagi," kata Sakka ingin memeluk Echa lagi untuk menenangkan, namun Echa menolaknya.


"Ngga, ini semua salah aku. Aku udah banyak bikin orang menderita," tangis Echa pecah lagi. Ia pun bangkit dari duduknya untuk pergi dari sana, namun Sakka menahan lengannya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Sakka.


"Please, tolong biarin aku sendiri kali ini," ucap Echa dan berlalu meninggalkan Sakka.


Sakka membiarkan Echa untuk sendiri kali ini. Ia pun merasa bersalah karena menjelaskan semuanya pada Echa. Namun memang itulah yang terjadi sebenarnya. Dan Sakka tak berniat menutupinya dari Echa.


Di sisi lain, Echa menenangkan dirinya di dalam mobil seorang diri. Setelah cukup tenang, Echa menyalakan mobilnya menuju sebuah tempat. Di sinilah Echa sekarang. Berdiri di sebuah tebing yang ada di sebuah perbukitan.


"Aaaaaaa...!!" Teriak Echa melampiaskan semuanya.


Kebiasaan Echa ketika sedang ada masalah untuk menenangkan diri selain boxing adalah berteriak di atas tebing seperti ini. Ia merasa sangat lega setelah berteriak keras seperti ini.


Sebenarnya ini adalah tempat yang dulu sangat ingin Echa tunjukan pada Sakka. Tempat yang pas untuk melihat bintang dan stargazing-an bareng. Namun, takdir tak mengizinkannya sepertinya. Hubungan mereka sudah kandas lebih dulu sebelum itu tercapai.


"Gue benci banget sama diri gue sendiri!"


"Lo jahat Echaaa,"


"Lo egoisss,"


"Aaarrghhh!!"


Itulah kalimat-kalimat yang Echa keluarkan dengan berteriak.


***

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2