Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
37. Jogja


__ADS_3

Sesampainya di bandara, Echa yang mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan crop top serta blazer warna lime tengah berjalan seraya mendorong satu koper besar.


Dan diikuti oleh Reyhan yang mengenakan hoodie dibalut jaket varsity biru dongkernya serta celana panjang hitam dan sepatu snickers yang menambah kesan tampannya.


...



...



...


...


"Ka masih lima belas menit lagi kan? Gua ke Coffee Shop dulu ya," Ujar Reyhan, yang kemudian berjalan ke Coffee Shop tujuannya.


Echa pun mengangguk dan juga mengikuti Reyhan di belakangnya.


Sambil menunggu penerbangan yang lima belas menit lagi itu. Echa duduk di Coffee Shop tersebut sambil membuka laptopnya untuk sekedar mengecek pekerjaannya dengan ditemani ice matcha latte pesanannya. Sedangkan Reyhan yang memesan frappuccino duduk di seberangnya sambil memainkan game mobile di ponselnya.


"Lo gimana kak sama Bang Sakka?" Tanya Reyhan tiba-tiba.


"Gimana apanya?" timpal Echa seraya mengernyitkan keningnya heran.


"Hubungan lo," sahutnya sambil masih memainkan ponselnya.


"Kenapa lo peduli? Tumben," balas Echa heran.


"Lo pikir kejadian di rumah yang gue liat itu udah gue lupain? Nggak ya, itu masih terbayang-bayang di otak gue." sindirnya sambil mengalihkan pandangannya ke Echa.


Mendengar hal itu, Echa memutar bola matanya malas. "Hhhh.. Lupain, itu gue jatoh ga sengaja bukannya macem-macem." tuturnya.


"Well, untuk itu gue bisa percaya. Tapi lo harus nentuin secepatnya ka, Mas Gilang atau Bang Sakka. Jangan sampe nyakitin banyak pihak." ujar Reyhan yang terlihat serius menatap kakaknya itu.


Echa bergeming menatap Reyhan. Ia tak menyangka adik kecilnya yang sebentar lagi memasuki sekolah menengah atas ini, bisa berkata seserius itu. Namun, ia juga meresapi kata-kata yang dilontarkan Reyhan tersebut ada benarnya. Ia tak boleh terlalu mengikuti egonya dan berakhir menyakiti banyak orang.


Tak lama kemudian.


Selamat siang. Boarding untuk Maskapai ABC dengan nomor penerbangan 56K76 tujuan Yogyakarta akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang C2 dan persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. Terima kasih.


Mendengar pengumuman tersebut. Echa langsung menutup laptopnya untuk segera masuk ke pesawat.


***

__ADS_1


Setelah penerbangan sekitar satu jam lebih, tanpa singgah terlebih dahulu Echa langsung ke Rumah Sakit yang diberitahu orangtuanya masih dengan membawa koper.


"Lo udah tau alamatnya?" Tanya Reyhan saat didalam taksi.


"Ini bunda udah ngirimin," jawab Echa, kemudian memberitahukan alamatnya ke supir taksi.


Sesampainya di Rumah Sakit yang diberitahu bunda. Echa langsung melihat bundanya yang tengah menunggu mereka di depan pintu Rumah Sakit.


"Bun," Sapa Echa menyalami bunda, diikuti oleh Reyhan.


"Dimana bun ruangannya?" Tanya Echa sambil berjalan masuk ke dalam bersama bunda dan Reyhan.


"Oma masuk ICU," kata bunda pelan.


"Ya allah, terus keadaannya gimana?" ujar Echa.


"Oma kritis, kemungkinan bakal stroke kata dokter." Ujar bunda lesu.


Tanpa sadar mereka bertiga telah sampai di depan Ruang ICU. Di sana sudah terlihat ada beberapa orang, salah satu di antaranya, adalah Ayah Echa. Echa dan Reyhan pun menyalami mereka semua.


"Echa makin gede makin cantik ya," ujar salah seorang bibi Echa, yang dibalas senyuman oleh Echa.


"Ini kalian berduaan doang dari Jakarta langsung kesini?" Ucap bibi lainnya.


"Iya bi hehe," sahut Echa menanggapi.


"Gak ke Rumah Oma dulu mba tadi, langsung ke villa." sahut Bunda, yang dibalas anggukan oleh Mba Rani. "Kamu langsung ke villa aja bersih-bersih, nanti kesini lagi abis magrib. Tuh kunci mobilnya ada di ayah." lanjutnya.


"Yaudah. Bunda sama ayah gamau pulang ke villa dulu sekalian?" Ujar Echa seraya mengambil kunci mobil dari ayahnya.


"Enggak, ayah sama bunda gantian jaga disini dulu soalnya bibi-bibi mau pada pulang dulu," jawab bunda, yang dibalas anggukkan kepala oleh Echa. Kemudian menyalami semuanya kembali dan berlalu keluar Rumah Sakit untuk pulang ke Villa keluarga Echa yang ada di Jogja.


***


Saat ini, Echa baru saja selesai menunaikan ibadah solat magrib. Baru saja ia melakukan salam terakhir dan hendak berdoa. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Saat ia lihat, itu bundanya ternyata.


'Halo, Kenapa bun?'


'Echa kamu kesini sekarang nak, oma udah siuman dan nanyain kamu, cepet ya Cha.'


'Hah? Iya-iya bun Echa kesana sekarang,'


Setelah menutup ponselnya, Echa punĀ  melepas mukenanya dan bergegas menuju Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit. Echa langsung disuruh memakai pakaian steril yang ada di Ruang ICU dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Saat masuk ke dalam, Echa mendapati oma yang sudah membuka matanya.


"Oma.." panggil Echa pelan.


Terlihat oma merespon walau hanya dengan melirikkan matanya pada Echa.


"Keadaan oma gimana? Apa yang sakit oma?"


Kali ini oma merespon dengan mengedipkan matanya sekali dan mulutnya terlihat berusaha untuk terbuka.


"Gapapa oma istirahat aja, gausah ngomong dulu." Tutur Echa sambil memegang lengan oma.


"E-Cha.." gumam oma.


"Iya oma?" sahut Echa pelan.


"Oma mau.."


"Oma mau apa? Hm?" kata Echa seraya mengusap lengan oma.


"Echa nikah," singkatnya seraya perlahan menutup matanya kembali.


"Oma?? Omaaa? Dokk! Dokterrr!" Kata Echa panik.


Dokter pun langsung menyuruh Echa untuk keluar ruangan, agar mereka bisa memeriksa oma secara lebih jelas.


Echa syok mengapa tiba-tiba sang oma menutup matanya kembali. Ia kira oma sudah melewati masa kritisnya. Ia sangat takut oma-nya kenapa-kenapa. Namun di sisi lain, kalimat terakhir oma-nya itu juga terngiang-ngiang di otaknya.


Setelah Echa keluar dari ruangan, ia dikerubungi oleh saudara-saudaranya yang masih ada di depan Ruang ICU tersebut.


"Kenapa Cha? Oma kenapa itu?"


Echa mengambil napas panjangnya. Kemudian berucap, "Echa gatau, pas Echa masuk oma masih sadar dan buka matanya. Tapi tiba-tiba oma ngomong nyuruh Echa nikah, abis itu oma merem lagi. Echa gatau kenapa," Jelas Echa seraya menggelengkan kepalanya yang terlihat lesu dengan suara yang serak.


Setelah mendengar penuturan Echa, semuanya hening. Mereka berdoa dan berharap bahwa oma akan baik-baik saja.


***


Keesokkan harinya, Echa sekeluarga masih berada di Jogja entah sampai kapan. Yang pasti sampai oma-nya sadar dan pulih kembali.


Ditemani semilir angin sejuk kota Jogja di sore hari, Echa yang kini tengah duduk di pelataran villa masih memikirkan ucapan oma-nya kemarin. Oma ingin dia menikah. Sebenarnya wajar, karena memang Echa adalah cucu perempuan pertama di keluarga tersebut.


Namun, ia hanya bingung apakah ia harus mengabulkan permintaan itu atau tidak. Echa takut itu adalah permintaan terakhir sang oma. Akan tetapi, Echa juga merasa bingung karena ini terjadi secara tiba-tiba.


Apa yang harus dia pilih? Haruskah ia mengabulkan permintaan oma-nya? Tapi dengan siapa? Sakka, orang yang masih tersimpan di hatinya? Atau Gilang, yang sudah disetujui keluarganya?

__ADS_1


***


Tbc.


__ADS_2