Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
22. PMS


__ADS_3

"Ekhem, semuanya. Kenalin, Echa ini..." Ucap Sakka menggantung.


"Calon istri Sakka," Lanjut Sakka seraya melirik ke arah Echa.


Jangan ditanya! Echa terkejut bukan main. Tapi Echa sadar situasi saat ini. Jadi, Echa hanya diam saja dan akan menanyakan penjelasannya pada Sakka nanti.


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka kembali diselingi gelak tawa dan celotehan dari zayn. Serta sesekali menggoda Sakka dan Echa yang baru saja memberitahu statusnya.


***


"Cha, sini sebentar deh," panggil Tania pada Echa yang asyik bermain dengan Zayn dan Clara serta ditemani oleh Sakka disampingnya.


"Tante Echa kesitu sebentar ya Zayn, Clara," ujar Echa seraya melirik Sakka, yang dibalas anggukan kecil olehnya.


"Jangan lama-lama ya tante," kata Zayn cemberut.


Belum sehari kenal dan bermain dengan Echa, Zayn sudah sangat lengket dan nyaman saja bersama Echa. Sepertinya, jiwa lemah lembut Echa pada anak-anak masih melekat padanya.


"Iya sayang, gak lama kok," Pamit Echa sambil mengusap kepala Zayn.


Echa mengikuti Tania yang berjalan ke balkon dengan segelas minuman di tangannya.


"Emm, ada apa ya kak?" Tanya Echa hati-hati.


Glekk..


"Sakka pasti udah cerita alasan aku ngundang kamu kesini," kalimat pertama Tania setelah meneguk minumannya.


"Sakka bilang kak Tania mau jelasin sesuatu," Ujar Echa seraya mengangguk kecil.


"Kamu bakalan percaya sama apa yang akan aku omongin nanti?" Tanya Tania melirik Echa


"Heem.. Kalo ada bukti yang jelas," jawab Echa mengangguk lagi.


Tania pun menceritakan semuanya secara jujur dan tak ada yang ditutup-tutupi. Ia juga memberikan foto-foto saat pemakaman almarhumah mama Sakka dan foto pakaian yang ia kenakan saat itu, sebagai bukti.


Tania juga menceritakan semua dari awal. Dari mulai mengapa Sakka tak pernah mengenalkan Echa pada keluarganya sampai Sakka yang uring-uringan tak bertemu Echa setelah lelaki itu sembuh.


Berbagai ekspresi Echa tunjukan disepanjang cerita Tania. Namun, semua rasa penasaran Echa terjawab sudah. Kecuali, satu! Mengapa Sakka memperkenalkannya sebagai calon istri tadi? Pikiran Echa masih berkelana tentang hal itu.


"Sekarang kamu percaya kan?" Tanya Tania setelah menyelesaikan ceritanya.


Echa meneguk salivanya. Menundukan kepalanya, lalu menatap Tania dengan lekat.


"Heem.. Echa percaya kak. Echa bener-bener minta maaf udah nuduh kakak yang enggak-enggak selama bertahun-tahun," tulus Echa.


"Hmm, kamu juga harus minta maaf sama Sakka. Walaupun aku tau kalian sama-sama tersiksa," Sahut Tania memegang sebelah pundak Echa.


"Pasti kak, aku pasti akan minta maaf sama Sakka. Makasih ya kak udah mau ceritain semuanya sama aku," ujar Echa tersenyum.


"Sama-sama, bentar lagi kan kita bakal jadi keluarga," Kata Tania seraya memeluk Echa.


Echa hanya bisa tersenyum canggung menanggapinya.

__ADS_1


"Emm..kak, aku boleh nanya?" Tanya Echa ragu.


"Boleh dong, tanya apa?" Ramah Tania.


"Eung... Kakak tau gak maksud Sakka ngomong gitu tadi apa?" Tanya Echa penasaran.


"Loh?? Aku pikir Sakka emang udah ngelamar kamu?" Kata Tania mengernyit heran.


Baikan aja belom, gimana mau ngelamar? -ujar Echa dalam hati


"Emm.." Gumam Echa seraya menggelengkan kepalanya.


"Kalo gitu, coba kamu tanya langsung sama Sakkanya aja," Saran Tania yang dibalas anggukan kepala oleh Echa.


"Yaudah yuk kedalem lagi. Disini dingin hihi.." Ucap Tania sambil mengusap lengannya dan berlalu ke dalam, diikuti dengan Echa.


"Loh, ini kok pada tidur disini sih Sak?" Tanya Tania saat melihat Zayn dan Clara tertidur di sofa.


"Kecapean maen kali," sahut Sakka tak acuh yang masih fokus ke ponselnya.


"Hhh dasar," Sinis Tania, lalu menggendong Zayn dan membangunkan Clara.


Echa yang sedari tadi memperhatikan interaksi kedua sepupu itu dari belakang Tania, dikagetkan oleh Sakka yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Ngobrol apa aja tadi?" Tanya Sakka menatap Tania teduh.


Echa hanya membalasnya dengan menaikkan kedua bahunya dan memalingkan pandangannya dari Sakka.


Sakka mengernyit heran. Kenapa Echa tiba-tiba seperti marah padanya? Apa Tania mengatakan yang aneh-aneh pada gadisnya itu?


***


Sakka yang sejak tadi gelisah pun ragu untuk memulai percakapan dengan Echa. Namun, ia juga sudah tak betah dengan keheningan yang ada. Setelah menghembuskan napas panjang sejenak, Sakka melirik Echa.


"Ekhem," deham Sakka memecah keheningan.


Echa belum mau menoleh, dan tetap melihat ke luar jendela.


"Kamu gamau cerita apa aja yang udah diobrolin tadi sama Ka Tania?" Tanya Sakka to the point.


Echa menggelengkan kepalanya pelan.


"Pemandangan di luar jendela lebih asik yah daripada aku?" Kata Sakka lagi, berusaha memancing Echa berbicara padanya.


Echa lagi-lagi belum mau menoleh, dan hanya menaikkan kedua bahunya.


"Setau aku, Echa yang sekarang orangnya suka yang to the point deh," pernyataan skakmat yang Sakka lontarkan mampu membuat Echa menoleh akhirnya.


"Oke!" Kata Echa melirik Sakka sinis.


"Kamu kenapa tadi bilang gitu ke keluarga kamu?" Tanya Echa emosi.


"Bilang apa?" Ucap Sakka bingung.

__ADS_1


"Bilang kalo aku CALON ISTRI kamu," kata Echa meninggikan suaranya dan menekankan kalimat 'calon istri'.


"Emang salah?" Tanya Sakka dengan polosnya.


"Ya--, ck.. Tau lah. Aku capek!" Ketus Echa memalingkan wajahnya lagi.


"Jawab pertanyaan aku dulu!" Tegas Sakka ikut terbawa emosi.


"Besok, jangan sekarang." Sahut Echa dingin.


Sakka tertegun seketika dan melirik heran ke Echa. Ia kira Echa akan membalas ucapannya lagi dengan lebih membentak. Namun, dugaannya salah. Mendengar nada suara Echa seperti itu, membuat Sakka akhirnya menurut dan diam.


Setelah sampai di depan rumah Echa, Sakka menghentikan mobilnya. Echa pun hendak turun dari mobilnya. Namun, Sakka keburu menahan lengannya.


"Kamu lagi pms ya?" Tanya Sakka hati-hati.


Mendengar pertanyaan random dari Sakka. Echa memutar kedua bola matanya dan menatap Sakka malas.


"Nggak. Aku cuma capek. Maaf dan makasih buat hari ini. Besok aku jawab pertanyaan kamu," jawab Echa datar.


"Emm...okey, besok ketemuan dimana?" Ujar Sakka seraya menganggukan kepalanya.


"Nanti dikabarin," datar Echa, yang dibalas dengan angguk-anggukan kepala dari Sakka.


"Udah kan?" Heran Echa menatap Sakka


"Udah," polos Sakka.


Echa pun melirikkan matanya ke arah tangannya yang masih Sakka genggam.


"Kenapa?" Tanya Sakka mengernyit heran pada Echa.


"Ck, tangan!" Sentak Echa.


"Tangan aku baik-baik aja," ucap Sakka sambil mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya. Dan memutar-mutar tangannya sembari memperhatikannya dengan intens.


"Lepasin tangan kiri lo atau gue gamau ketemu lo besok!" Bentak Echa menatap Sakka.


Sakka tersentak dan reflek melepas genggamannya pada Echa.


"E-eh? Heheh..aku gak sadar kita masih pegangan daritadi," Cengir Sakka sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.


Echa membalasnya dengan lirikkan sinis.


"Lagian kan kamu bisa lepas sendiri juga tadi Cha," ujar Sakka yang membuat Echa semakin naik pitam.


"Ck! Seterah lo," Ketus Echa, kemudian berlalu keluar dari mobil Sakka dan memasuki rumahnya.


Sakka mengernyitkan keningnya. Ia heran, mengapa cewek mudah sekali berubah-ubah mood nya? Padahal tadi ia benar-benar lupa bahwa ia masih menahan tangan Echa. Karena ia tengah memikirkan pakai baju apa saat bertemu Echa besok.


***


Tbc.

__ADS_1


a/n:


Jangan lupa vote and coment nya yaa makasiii :D


__ADS_2