
Setelah kemarin menangis seharian, Echa langsung tertidur. Dengan harapan, pagi ini ia akan bangun seperti biasa dan mendapati semua hal yang terjadi kemarin hanyalah sebuah mimpi.
Namun, takdir tidak bisa berbohong. Karena, pada kenyataannya semua itu nyata. Bahkan Echa tidak diberi ketenangan sedikit pun pagi ini.
Pagi ini ia di kagetkan dengan pernyataan pahit lainnya. Bahwa, kedua orangtuanya telah menjodohkannya dengan Gilang. Lelaki yang merupakan tetangga lamanya dulu. Yang biasa ia panggil, Mas Gilang.
"Bun..." panggil Echa pada Bunda nya yang sedang memasak di dapur.
"Apa?" Tanya Bunda.
"Echa ga mauuu.." rengek Echa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah makanya jelasin, kamu itu kemarin kenapa? Ngamuk-ngamuk ga jelas," cerca Bunda.
"Emang kemarin belum ada yang cerita sama Bunda?"
"Belum, kan pas Gatha mau cerita kepotong sama teriakan ga jelas kamu itu," ledek Bunda.
"Iiii Bundaaa... Yaudah lah gausah dibahas," kata Echa bete.
"Berarti kamu mau ya dijodohin sama Gilang?"
"Yaa ga mau jugaa.."
"Ya makanya jelasin dong," kata Bunda.
Bukannya Echa tidak mau menjelaskan pada Bunda-nya. Namun, Echa belum siap untuk membicarakan hal itu. Ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu untuk saat ini.
"Oh iya, kemarin ada Sakka juga yang dateng kesini. Ada hubungannya sama putusnya kamu dan Sakka?" Tanya Bunda tepat sasaran.
"Bun! Kan aku bilang gausah dibahas lagi," tegas Echa.
"Yaudah kalo kamu ga mau cerita, itu tandanya fix kamu mau dijodohin sama Gilang," putus Bunda.
"Tau ah, Echa mau ke kantor aja," balas Echa dan langsung pergi meninggalkan Bunda. Bunda pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya yang satu itu.
***
"Pagi bu Meysha.." sapa Aurel dengan canggung.
"Hm, pagi." Balas Echa.
Echa yang ingin melanjutkan langkahnya menuju ruangannya, terhenti karena ucapan Aurel.
"Emm..maaf bu! Ada yang menunggu ibu di ruang tunggu," ucap Aurel merunduk takut.
"Siapa?" Tanya Echa dengan jutek.
"Sahabat ibu, Raya dan Gatha." Kata Aurel sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Entah kenapa, saat ini Aurel sangat takut dengan aura Echa yang sangat tidak bersahabat seperti ini.
"Siapa yang suruh mereka Masuk?" Tanya Echa tajam.
"Kita yang maksa Masuk kok Cha," ucap Gatha yang muncul dibelakang Echa.
"Chaa..gue mohon! Maafin gue, Raya, dan Sakka yang udah bikin hari ulang tahun lo hancur," kata Gatha lagi.
"Terutama gue cha. Yang udah berani-berani nya nampar sahabat gue sendiri.. Lo boleh kok balik tampar gue sepuas lo. Asal lo maafin gue," ujar Raya dengan sendu.
"Apa dengan gue nampar lo balik, hal yang kemarin terjadi bakal hilang dalam ingatan gue begitu aja?" Sinis Echa tanpa membalikan badan nya.
Terdengar sedikit isakan kembali dari bibir Raya. Dan jujur, Echa sangat membenci hal itu. Echa benci jika melihat sahabatnya menangis.
"Engga kan? Kalo gitu, gue mohon! Ja.ngan.temui.gue.lagi." Ucap Echa tajam sambil berbalik dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan kekecewaan.
Lalu ia pergi meninggalkan kantor. Namun sebelum itu, Echa memberi perintah pada Aurel.
"Rel, cancel semua meeting hari ini. Dan kirim semua berkas lewat email saya. Mulai besok saya mau kerja dari rumah aja," titah Echa tanpa menghadap ke Aurel dan berlalu pergi.
"Baik bu.." ucap Echa menunduk patuh.
"Tha...hikss..Echa marah banget sama gue..h-hiks...gue merubah Echa jadi lebih parah dari sebelumnya. Gue jahat banget yaa thaa..." tangis Raya pecah ketika Echa pergi.
"Ray..udah, Echa cuma butuh waktu. Kita yang salah, bukan lo doang. Jadi, jangan nyalahin diri lo sendiri ya!" Ujar Gatha menenangkan Raya dengan memeluk nya.
***
Echa pun memutuskan untuk pergi ke Gym langganannya dekat rumah. Gym ini lah yang merubah Echa menjadi tomboy dan dingin setelah putus dari Sakka. Ini adalah tempat pelampiasan Echa selain melihat senja.
Saat sedang di tempat latihan boxing. Echa tidak menyadari bahwa ada seseorang juga disana.
"Arghhhh... Gue benci sama lo!!" Teriak Echa sambil meninju samsak didepan nya dengan sangat keras.
"Benci sama gue?" Ucap seseorang dibelakang Echa.
Echa kaget bukan main, ia pikir ia hanya seorang diri disini. Ia pun menoleh, dan ternyata orang itu adalah..
"Mas Gilang?!" Ucap Echa tercengang.
"Hehe, iya ini aku. Apa kabar cha?" Ujar Gilang ramah dan menampilkan senyum manisnya, yang membuat siapa pun pasti terpanah melihatnya.
"E...emm..baik kok Mas. Kok Mas Gilang bisa ada disini?"
"Aku emang sering kesini kok dan sering ngeliat kamu juga. Cuma mungkin kamu nya aja yang ga pernah liat aku," jelas Gilang.
"Ohh.." ucap Echa dengan muka datarnya.
"Hmm..istirahat dulu yuk, sambil minum di balkon. Mau?" Tawar Gilang yang hanya dibalas anggukan oleh Echa.
__ADS_1
Mereka pun saling terdiam menikmati semilir angin. Namun, Gilang yang tak tahan akan keheningan itu berkata..
"Kamu berubah ya cha," kata Gilang.
"Hmm?" Gumam Echa menengok sambil menaikan sebelah alisnya.
"Yaa beda aja, sama Echa yang dulu aku kenal ramah dan periang. Sekarang kamu jadi pendiam dan sedikit jutek hihihi.." ucap Gilang yang diakhiri dengan kekehan canggungnya.
"People change Mas," kata Echa singkat.
"Hmm..iya juga yah,"
Sebenarnya Gilang ingin menanyakan lebih dalam tentang perubahan Echa. Namun, ia tahu ini bukan waktu yang tepat.
"Oh iyah, kamu.. tau kita dijodohin?" Tanya Gilang dengan berhati-hati.
Damn! Ini adalah pertanyaan dan obrolan yang sangat ingin Echa hindari sejak pertama bertemu Gilang.
"Emm..iya Mas tau kok," balas Echa dengan pandangan yang Masih lurus ke depan.
"Gimana tanggapan kamu?"
"E-eh maaf banget ya Mas, aku lupa aku ada kerjaan yang belum di selesaikan. Aku duluan ya Mas, permisi." Kata Echa terburu-buru.
Gilang pun hanya tercengang. Dan detik kemudian ia pun terkekeh pelan, karena tahu Echa sedang menghindari pembahasan hal tersebut.
***
Echa pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di rooftop cafe sambil melihat senja.
Namun, sesampainya dirumah Echa melihat kedua temannya yang sedang bersandar di kursi teras rumahnya sambil memejamkan mata.
Mereka tidur? - ucap Echa dalam hati
"Ekhem.." Echa berdeham keras untuk membangunkan mereka.
"E-eh? Echa, lo udah pulang?" Tanya Gatha yang Masih mengusap-usap matanya.
"Kalian ngapain disini? Kurang jelas omongan gue tadi pagi? Gue bukan nya mau jahatin kalian. Tapi gue cuma butuh waktu," jelas Echa dingin.
"Tapi sampai kapan Cha?" Tanya Raya dengan suara seraknya.
"Gatau. Gue ga bisa Mastiin. Udah ya, gue capek. Mau istirahat," kata Echa sinis dan melirik mereka sekilas, kemudian berlalu masuk ke dalam.
"Tapi Cha! Tung--" perkataan Raya terpotong karena Echa telah Masuk ke dalam dengan sedikit membanting pintu rumahnya itu.
***
Tbc.
__ADS_1