
Pagi harinya, Echa sudah siap dengan pakaian semi formal-nya dan berangkat ke Rmah Sakit untuk menjenguk Gatha dan, menepati janjinya pada Sakka.
tok..tok..tok
Echa mengetuk pintu kamar rawat inap Sakka. Echa terlebih dahulu ke Ruangan Sakka karena Jam besuk ruangan ICU Gatha belum diperbolehkan.
"Masuk," terdengar suara Sakka dari dalam membolehkan masuk.
"Assalamualaikum, sak?" Sapa Echa ketika menampakkan dirinya di depan Sakka.
"Echa?" Kata Sakka sumringah, dan tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Echa.
Echa perlahan melangkah mendekati brankar Sakka. Saat telah sampai di dekat Sakka, Echa berdeham menghilangkan rasa gugupnya.
"Ekhem, gimana keadaan kamu?" Tanya Echa.
"Ternyata kamu beneran nepatin janji kamu, aku kira--" ujar Sakka masih sambil tersenyum.
"Aku bukan orang yang suka ingkar janji," potong Echa dengan suara yang dingin.
"Iyah, aku tau." Senyum Sakka luntur seketika mendengar suara Echa yang dingin dan ketus baginya.
"Udah makan?" Tanya Echa cuek.
"Belum, paling bentar lagi suster dat--" ucapan Sakka terpotong dengan Suster yang datang memberi makanan.
"Pagi mas sakka, ini makanannya dan obatnya di minum seperti biasa 3 x sehari. Apa perlu bantuan?" Ujar sang suster.
"Ngga sus, makasih ya." Ucap Sakka.
"Baik, saya permisi dulu kalo gitu. Nanti dokter akan kesini sekitar setengah jam lagi. Mari mba," ujar suster ramah kepada Echa, yang hanya dibalas dengan angukan dan senyum tipisnya.
Ketika Sakka hendak mengambil nampan makanannya, Echa mengambil alih nampan tersebut.
"Biar aku aja yang suapin," kata Echa, Sakka pun tak bisa menyembunyikan senyumnya sambil mengangguk.
Echa pun menyuapi Sakka dengan telaten. Dan Sakka yang menerimanya dengan senang hati.
"Kamu kesini sendirian?" Tanya Sakka memecah keheningan.
"Menurut kamu?" Ucap Echa dingin.
"Naik mobil?" Tanya Sakka lagi.
"Hemm," balas Echa cuek.
"Emang ga ngantor?" Tanya Sakka.
"Nggak," jawab Echa singkat.
"Kenapa?" Sakka berusaha membuat Echa berbicara panjang.
__ADS_1
"Bisa berhenti nanya-nanya dan fokus makan aja ga?!" Ujar Echa jutek.
"Kalo ga ikhlas mau ngerawat aku mending gausah cha," kata Sakka sinis, bermaksud menyindir.
"Ikhlas kok," jutek Echa.
"Ikhlas tapi jutek gitu," ucap Sakka mengerucutkan bibirnya.
"People change," kata Echa dingin.
"Gara-gara aku ya?" Ucap Sakka sendu.
"Udah selesai makannya k--" kalimat Echa terhenti karena kedatangan dokter dan seorang suster yang berbeda.
"Pagi mas Sakka..eh lagi ada tamunya, tumben? Cewe lagi," ujar sang dokter yang sudah akrab dengan Sakka.
"Hehe..iya nih dok, alhamdulillah ada penyemangatnya sekarang." Kata Sakka tersenyum sambil melirik Echa.
"Baik, saya periksa dulu ya." Ujar sang dokter, lalu memeriksa keadaan Sakka.
"Alhamdulillah ini tinggal penyembuhannya aja. Tapi masih harus rawat inap ya mas, karena masih harus terapi intens." Jelas sang dokter.
"Baik dok," ujar Sakka.
"Nanti sore mas Sakka ada jadwal terapi ya jangan lupa," titah sang suster.
"Siap sus," balas Sakka.
"Haha..semoga dia mau nemenin ya dok," ledek Sakka melirik echa, pipi Echa pun memerah namun tetap dengan ekspresi datarnya.
"Yasudah kalo gitu saya permisi ya," pamit sang dokter, diikuti susternya.
Setelah pintu tertutup, keheningan tercipta kembali.
"Cha," panggil Sakka.
"Hmm?" Balas Echa cuek.
"Gak pegel diri mulu?" Sindir Sakka.
"Gak, lagian ini juga mau pergi jengukin gatha kok," ucap Echa bersiap pergi.
"Cha," panggil Sakka menahan Echa, Echa pun berbalik dan menaikan alis nya seakan bertanya 'ada apa?'
"Nanti sore mau nemenin aku terapi kan?" Harap Sakka menunggu jawaban Echa.
Echa terdiam sebentar lalu menghela napas dan menjawab pertanyaan Sakka.
"Pegang janji aku," setelah berucap seperti itu Echa langsung berlalu keluar dari ruangan Sakka.
"Maksud- nya?" Sakka tak mengerti ucapan Echa, namun ia berharap kalimat Echa bermaksud bahwa ia akan datang menemani sore nanti.
__ADS_1
***
Kriettt...
Suara pintu yang perlahan dibuka oleh seseorang yang memakai mini dress hitam dan dibalut hoodie crop abu-abu.
Ya! Itu Echa yang tengah memasuki ruang ICU Gatha. Sebelumnya ia telah bertemu dengan Ibu Gatha didepan ruangan dan telah meminta izin untuk masuk menjenguk Gatha.
Mata Echa berkaca-kaca melihat sahabatnya terbaring di kasur rumah sakit, ia menghela napas lalu berucap,
"Hai Tha.." sapa Echa, lalu perlahan cairan bening mulai mengalir dari mata indahnya.
"Sorry karena cuma kata maaf yang bisa gue ucapin. Lo kayak gini gara-gara gue. Gue jahat banget ya tha. Hiks..seandainya ada kata diatas kata maaf, mungkin itu yang bakal gue ucapin sekarang." Echa berusaha menahan sesenggukannya dan melipat bibirnya ke dalam.
"Gue mohon, lo sadar Tha. Gue mau minta maaf secara langsung sama lo. Kalo lo bangun, lo pengen apa aja langsung gue turutin deh. Gue janji. Dan lo bisa pegang janji gue tha. Makanya lo bangun sekarang, gue mohon.." Echa berkali-kali menghela napasnya agar tangisannya tidak terdengar dari luar.
"Gue tinggal ya Tha, karena gaboleh lama-lama kalo lo masih di ruangan ini. Makanya lo sadar tha, lo bangun. Biar kita bisa ngobrol lama kayak dulu. Please, gue mohon Gatha"
Echa pun segera menghapus air matanya sebelum akhirnya keluar ruangan. Dan ternyata sudah ada Raya duduk di samping Ibu Gatha.
"Eh itu Echa udah keluar," ujar Ibu Gatha.
Echa pun menatap Raya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Tatapan merasa bersalah dan ingin meminta maaf, namun takut Raya masih marah dan belum mau bertemu dengannya. Sedangkan Raya menatapnya dengan tatapan sinis dan jutek seakan malas melihat wajah Echa.
"Oh iya, Echa udah makan belum? Kalo belum, kita makan bareng yuk bareng raya juga di kantin rumah sakit," ajak Ibu Gatha.
Sebenarnya Echa ingin sekali mengiyakan ajakan Ibu Gatha. Agar setidaknya ia bisa mendekatkan diri ke Raya untuk berbaikan, walaupun hanya di depan Ibu Gatha. Namun, tiba-tiba ponsel Echa berbunyi.
"Halo?" sapa Echa pada orang di teleponnya.
".........."
"Hm oke, saya akan segera kesana," Echa menutup teleponnya dan berkata pada Ibu Gatha.
"Emm, maaf ya bu.. Kayaknya lain kali aja, soalnya ada urusan mendadak di kantor" ucap Echa tak enak
"Ohh, iya gapapa Echa. Lain kali aja," Ibu Gatha memaklumi.
"Yaudah kalo gitu Echa pamit ya bu," pamit Echa dan salim pada Ibu Gatha. Echa menatap Raya dan senyum sekilas lalu menganggukan kepalanya.
"Duluan Ray," ujar Echa. Raya pun hanya melirik sekilas dan menatap ke arah lain.
Saat Echa sudah menjauh dari hadapannya. Raya menoleh ke arah Echa. Ia pun menghela napas dan melamun sejenak.
"Yuk, nak Raya," ajak Ibu Gatha.
"Eh iya, ayo bu," ujar Raya tersadar dari lamunannya dan pergi makan bersama Ibu Gatha di kantin.
***
Tbc.
__ADS_1