
...Haiii.....
.......
.......
.......
...Happy Reading✨...
Setelah tiga hari berlalu sejak Gatha sadar, Echa dan Raya kembali mengunjungi Gatha di Rumah Sakit. Sore hari ini, dengan kepadatan jalan raya yang lumayan padat dipenuhi kendaraan, suara klakson yang saling bersautan, bau asap polusi yang tercium jika kaca mobil dibuka. Di tengah kemacetan lalu lintas perkotaan yang disebabkan karena jam pulang kerja ini, terdapat dua orang wanita seumuran yang berada di dalam mobil.
"Ray, kayaknya kita perlu beliin sesuatu deh. Masa kita gak bawa apa-apa," tukas Echa saat mobil yang dikendarai Raya berhenti di sebuah lampu merah.
"Bener juga, yaudah, itu di depan kan nanti ada toko kue. Kita mampir aja beliin kue kesukaan dia," sahut Raya menyetujui.
"Kenapa gak seblak? Dia kan suka banget seblak," ujar Echa pura-pura polos.
"Chaaa!! Dia tuh sakit magh, masa mau lo kasih seblak?!" Geram Raya, yang dibalas kekehan oleh Echa.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan setelah lampu lalu lintas kembali hijau. Raya dan Echa melipir sejenak dari kemacetan itu untuk berhenti di sebuah toko kue --yang dimaksud Raya tadi-- terdekat.
"Eh bentar! Gue mau pake masker sama topi dulu," ujar Raya dan buru-buru memakai topi dan maskernya untuk penyamaran.
"Gausah sok ngartis deh lo," sinis Echa meledek.
"Ck, Bukan gitu! Poster film gue kan udah keluar, gue takut aja ada yang ngenalin gue," jelas Raya.
"Lebayyy.." ledek Echa, yang langsung turun duluan dari mobil.
***
"Mba, mau cinnamon roll nya dua kotak yah," ujar Echa menyebutkan salah satu kue kesukaan Gatha.
"Baik, sebentar ya kak," balas si mba penjual, yang langsung menyiapkan pesanan Echa.
... ...
"Cha, tadi di samping ada toko buah. Apa beliin sekalian aja kali ya?" Tawar Raya.
"Iya boleh," jawab Echa sambil mengangguk.
"Yaudah gue kesana dulu ya," ucap Raya yang kemudian keluar menuju toko buah tersebut.
Akhirnya Raya masuk ke toko buah yang berada tepat di sebelah toko kue tadi. Ia membeli berbagai macam buah yang dibentuk menjadi seperti sebuah hampers.
__ADS_1
... ...
"Udah Ray?" Tanya Echa, yang baru saja masuk ke toko buah dengan membawa satu papperbag besar ditangannya.
"Tuh lagi dibungkus," jawab Raya menunjuk dengan dagunya.
Kemudian Echa melihat-lihat sekitar dan menemukan ternyata di sebrang terdapat sebuah toko bunga besar.
"Ray, di sebrang ada toko bunga tuh. Sekalian aja yah gue beliin dia karangan bunga?" Lawak Echa menunjuk toko bunga di sebrangnya.
"Ck! Cha, gak sekalian lo beli aja toko bunganya?" Sinis Raya menyipitkan kedua matanya.
"Hihihhi..." tawa Echa dengan cengiran yang puas menggoda Raya.
"Bucket bunga aja cukup. Lo pikir dia lagi berduka lo kasih karangan bunga?? Sumpah semenjak lo deket lagi sama Sakka dan berubah kayak dulu, lo jadi ngeselin dan receh lagi tau gak?!" Cerocos Raya.
"Kann, kann.. Gue pendiem salah, gue bawel juga salah. Hayati lelah kakakkk.." canda Echa menjahili Raya lagi.
"CHAAA!!" Greget Raya, capek dengan perlakuan Echa.
"Hahahahhah.." tawa Echa pecah lagi. Ia senang sekali melihat orang yang kesal karena ia jahili. Ia senang bisa berubah seperti dulu lagi. Akhirnya, Echa benar-benar berubah kembali seperti dulu.
"Yaudah yaudah, nih kuenya lo yang bawa ke mobil. Gue mau ke sebrang dulu," titah Echa sambil memberikan papperbag yang dibawanya kepada Raya.
Setelahnya, Echa pun berjalan menyebrangi jalan raya. Tepatnya ke toko bunga tersebut.
"Bu, saya mau bunga ungu yang ini yah. Dijadiin bucket bunga yang paling cantik ya bu, makasih," tutur Echa setelah melihat-lihat bunga ungu yang kira-kira disukai Gatha.
... ...
"Iya, sebentar ya mba," balas sang penjual bunga tersebut.
"Iya bu," sahut Echa yang kembali melihat-lihat bunga yang menarik perhatiannya.
Saat masuk ke dalam Echa terkejut, karena tak hanya bunga ternyata yang ada di toko ini. Namun, juga ada beberapa boneka lucu di dalamnya. Seketika mata Echa tertuju pada tiga buah boneka menggemaskan yang terletak di pojok ruangan. Pas sekali ada tiga, seperti melambangkan persahabatan mereka. Maka dari itu, Echa memutuskan untuk membelinya.
"Bu, boneka ini dijual?" Tanya Echa memastikan dan berharap.
... ...
"Dijual kok mba," jawab sang Ibu penjual.
Echa bernapas lega. Ia sangat ingin membeli ketiga boneka menggemaskan ini.
"Kalo gitu, saya mau beli sekalian sama yang ini ya bu," tukas Echa dengan senyum sumringah.
__ADS_1
"Siap mba," sahut sang Ibu penjual.
Setelah selesai membayar semuanya, Echa kembali menyebrangi jalan dengan membawa semua barang belanjaannya tersebut. Namun, ketika ia hendak berjalan mendekati mobilnya, ia terlihat mulai kesusahan saat membawa semua barangnya itu. Tapi tiba-tiba, ada sebuah tangan seseorang yang membantunya.
"Mas Gilang??" Kaget Echa membelalakan matanya dibalik bucket bunga yang di bawanya.
"Hehehehe.." kekeh Gilang dengan cengiran khasnya sambil membawa kantung yang berisi ketiga boneka yang ia ambil dari Echa tadi untuk membantunya.
"Kok Mas Gilang bisa ada disini?" Heran Echa menatap Gilang.
"Aku lagi beli kue untuk mamah di toko itu. Terus tadi ngeliat kamu kesusahan bawanya, yaudah aku samperin aja," jelas Gilang seraya menunjuk toko kue yang Echa dan Raya masuki tadi.
"Ohh gitu.." gumam Echa sembari mengangguk. "Btw, makasih ya Mas Gilang udah bantuin," lanjut Echa.
"Sama-sam--" kalimat Gilang terpotong oleh suara perempuan dari belakangnya.
"Cha, lama banget dahhh.." ujar Raya yang hanya memakai topi dan tak memakai maskernya dari belakang Gilang. "Loh, ini siapa?" Tanya Raya menunjuk Gilang saat ia berada di sampingnya.
"Oh iya, kenalin ini Mas Gilang, temen kecil gue yang dulu pernah gue ceritain ke lo sama Gatha," kata Echa memperkenalkan Gilang ke Raya.
"Anda--?" Gumam Gilang terbata-bata dengan mengerutkan keningnya sambil menatap Raya intens. "Anda Araya Carolline kan? Pemeran utama film Cinta dan Rahasia?" tebak Gilang seraya menunjuknya.
Echa dan Raya sama-sama kaget. Mereka tak menyangka kalo Gilang yang --notabenenya pengusaha sukses-- sudah pasti selalu sibuk, mengetahui dunia selebritas.
"Hah? Lo seterkenal itu Ray?" Kaget Echa membulatkan matanya dan menoleh pada Raya.
"E-emm... Mas Gilang j-jangan kenceng-kenceng ngomongnya," panik Raya terbata-terbata. Ia takut ketahuan bukan karena sombong. Namun, saat ini ia sedang buru-buru perjalanan ke Rumah Sakit untuk menjenguk sahabatnya.
"Bener ternyata?" Tanya Gilang memastikan.
"I-iya bener, saya Araya," jujur Raya, diakhiri dengan ringisan kecilnya dan membenarkan letak topinya agar lebih menunduk.
"Saya tau anda karena mama saya nge-fans banget sama anda, boleh minta fotonya?" izin Gilang terlihat girang sekali.
"Ee-- boleh boleh," sahut Raya membolehkan.
Kemudian Gilang mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi kamera, dan menyerahkannya pada Echa.
"Cha, tolong fotoin yah," mohon Gilang pada Echa.
"What?! Hhh..oke," kemudian Echa terpaksa memotret sahabat dan tunangannya tersebut. Ups tunangan?? Bukankah Echa belum menyetujui hal itu?
***
Tbc.
__ADS_1
a/n :
Jangan lupa vote dan komen nya yaaa. Terimakasiii.