
"Dokter kesini jam berapa?" Tanya Echa datar.
"Kayaknya sekitar lima belas menit lagi," jawab Sakka seraya melihat jam dinding di ruangannya.
Echa hanya membalasnya dengan anggukan sembari duduk di kursi sebelah Sakka.
"Gimana harinya? Ada cerita apa?" Tanya Sakka memecah keheningan.
Echa membeku. Suara itu. Kalimat itu. Yang dulu seringkali ia dengar setiap harinya berakhir. Namun, sudah beberapa tahun terakhir ini tak lagi ia dengar.
Echa merindukan suara itu? Ya, ia sangat merindukannya. Ia rindu menceritakan keluh kesahnya pada lelaki itu. Ia rindu bagaimana cara lelaki itu mendengarkan sambil menatapnya. Ia rindu mengekspresikan dirinya yang dulu kembali.
"Hey," tegur Sakka menyadarkan Echa.
"Ha?? K-kenapa?" Gugup Echa menoleh pada Sakka.
"Aku tadi nanya, ada cerita apa hari ini?" Tanya Sakka lagi sambil tersenyum tipis.
"Emm?" Gumam Echa seraya menaikkan kedua alisnya gugup.
"Gak ada." Singkat Echa lagi seraya menggeleng lalu mengalihkan pandangannya.
Sakka yang melihat itu, berusaha memaklumi. Kini Echa-nya telah berubah. Bukan lagi Echa yang akan menceritakan harinya pada Sakka. Bukan lagi Echa yang manja dan cerewet padanya. Ada rasa ingin mengubah Echa kembali pada diri Sakka. Namun, bisakah ia mengubahnya? Padahal ia sendiri yang membuat Echa seperti itu.
***
Tok.. Tok...
Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.
"Sore Mas Sakka," sapa dokter yang baru saja memasuki Ruangan Sakka bersama suster dibelakangnya.
"Sore dok," balas Sakka ramah.
"Ehh.. Ada mbak yang kemarin lagi disini? Apa kabar mba?" Ramah sang dokter menyapa Echa.
"Baik dok," singkat Echa dengan senyum tipisnya.
"Permisi ya mas, kita lakukan pemeriksaan dulu baru setelah itu kita mulai terapinya," ujar sang dokter lelaki itu.
"Oke dok," sahut Sakka.
Dokter pun memeriksa keadaan Sakka yang dibantu oleh suster juga yang berada disana. Sedangkan Echa yang telah berdiri pun ikut memperhatikan kegiatan di depannya.
"Baik, pemeriksaannya semua ternyata sudah bagus. Tinggal dilancarkan saja jalannya. Ayo Mas Sakka kita mulai terapinya," jelas sang dokter setelah memeriksa keadaan Sakka.
Sakka yang akan dibantu untuk berdiri oleh suster menahannya dan berucap.
"Biar dia aja sus," ujar Sakka sambil menoleh ke arah Echa.
"Hm? Oh iyah, sini sus biar saya aja." Kata Echa dan langsung membantu Sakka.
Sakka pun akhirnya melakukan terapi berjalan seperti biasa. Perlahan namun pasti langkah Sakka sudah bisa seimbang tanpa tongkat kali ini. Perkembangan Sakka sangat jauh membaik. Setelah selesai terapi, dokter berkata pada Sakka.
__ADS_1
"Wahh, alhamdulillah Mas Sakka. Diluar prediksi saya, perkembangan Mas Sakka ternyata pesat sekali. Apa karena ada mba nya ini ya? Heheheh.." ucap sang dokter meledek.
Sakka dan Echa pun saling melirik, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu diledeki seperti itu oleh sang dokter.
"Kalau begitu, saya rasa Mas Sakka sudah boleh pulang. Tapi dengan catatan yaitu, obat-obatannya tetap harus diminum dan tetap berlatih berjalan setiap hari seperti disini," ujar sang dokter.
"B-baik dok," singkat Sakka yang tiba-tiba kecewa mendengar pernyataan sang dokter.
Saat sampai di Ruang Rawat Sakka, Echa sedari tadi diam-diam memperhatikan wajah Sakka yang tiba-tiba lesuh dan tak bersemangat. Seharusnya Sakka senang karena sudah diperbolehkan pulang. Lantas mengapa ia malah terkesan sedih?
"Kenapa?" Tanya Echa yang sejak tadi menatap Sakka yang murung.
Sakka hanya menoleh pada Echa sebentar lalu menghela napasnya berat.
"Kenapa daritadi murung kayak gitu?" Tanya Echa lagi.
"Gapapa," dingin Sakka.
"Kan udah dibolehin pulang, itu tandanya kamu udah sehat. Kok gak seneng?" Heran Echa.
"Dan itu tandanya kamu akan menghilang lagi dari hidup aku," kata Sakka datar.
Deg.
Echa tertegun. Ternyata itu yang sejak tadi Sakka pikirkan, sampai membuatnya murung seperti ini.
"Iya kan?" Tanya Sakka melirik Echa.
Echa hanya bisa terdiam. Bingung ingin menjawab apa. Dan Sakka pun masih setia menunggu jawaban Echa. Setelah lama terdiam, Echa memberanikan diri untuk menjawab.
"Karena, kalo aku udah pulang dari sini itu tandanya kan janji kamu udah selesai. Dan kamu pasti gak akan mau ketemu aku lagi kan?" Ujar Sakka.
"Nggak juga," jawab Echa ragu-ragu.
"Maksudnya?" Tanya Sakka heran seraya menaikkan alisnya.
"Engg.. gak tau sih," balas Echa gugup.
"Aku seriusss Meysha Arabella Carollina," kata Sakka gregetan sama Echa.
Echa terdiam lagi sejenak. Memikirkan semoga yang akan ia ucapkan ini adalah keputusan yang benar.
"Yaa..kita mungkin bisa kok ketemu lagi," kata Echa mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Beneran? Emang kamu mau kalo aku minta ketemu terus kamu langsung dateng?" Tanya Sakka berharap.
Echa menoleh tak suka pada Sakka.
"Aku bukan jin yang dipanggil tiga kali namanya langsung dateng," sinis Echa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ahahahah...kamu lucu banget sih. Udah pinter ngelawak ya sekarang?" Ujar Sakka gemas ke Echa.
"Aku gak lagi ngelucu," sinis Echa lagi.
__ADS_1
"Heheh..oke oke, tapi aku serius. Beneran kamu mau ketemu aku lagi?" Tanya Sakka memastikan.
"Hmm," deham Echa cuek.
"Janji?" Tanya Sakka lagi.
"Gak janji," jawab Echa singkat.
"Kok gitu?" Protes Sakka.
"Takut gabisa nepatin," balas Echa.
"Hemm..oke," pasrah Sakka.
***
Keesokkan paginya, setelah Sakka berdebat dengan Echa tentang kepulangannya. Sakka akhirnya memutuskan untuk pulang hari ini. Namun, tidak dengan ditemani Echa. Karena, Echa masih sibuk di kantornya. Dan Sakka hanya ditemani oleh papah, tante dan om-nya, juga adik perempuan Sakka.
"Udah izin sama dokter pah?" Tanya Sakka pada papah nya yang baru memasuki ruangan.
"Udah, katanya udah bisa pulang sekarang," jawab Ivan, Papah Sakka. Yang dibalas anggukan kepala oleh Sakka.
"Yaudah berarti tante beresin sekarang ya barang-barang kamu," ujar Viona, Tante Sakka.
"Ehh, iya tan. Makasih banyak ya tan. Maaf ngerepotin," ucap Sakka tak enak.
"Iya makasih loh Vi kamu udah mau bantuin," ujar Papah Sakka.
"Apansi bang, orang gak repot." Balas Tante Sakka, adik dari Papah Sakka. Yang dibalas anggukan juga oleh suaminya.
"Ohiya..kemaren pas aku kesini sendirian, ada yang nemenin Sakka loh bang," goda Tante Viona seraya melirik Sakka sambil tersenyum.
Sakka yang mendengar itu pun langsung terlihat panik bercampur malu. Dan tau apa yang akan tante nya bicarakan.
"Apansi tannn..gada," sahut Sakka cemberut.
"Siapa emang? Cewe?" Tanya Papah Sakka penasaran.
"Iya cewe. Dia sih bilangnya temen, tapi kayaknya demen heheh.." ledek Tante Viona melirik Sakka.
"Wahh..udah mau dapet mantu nih Van kayaknya," sahut Om Bram, suami Tante Viona.
"Gak tau nih, orang belom dikenalin." Balas Papah Ivan ikut melirik Sakka.
Sakka hanya memutar bola matanya malas, pura-pura tak mendengar mereka. Sedangkan adik perempuannya yang sedari tadi diam, masih asyik memainkan ponselnya sambil duduk di sofa.
***
Fyi, saat dulu Sakka dan Echa masih berpacaran. Sakka belum pernah memperkenalkan Echa ke keluarganya. Hanya Echa yang memperkenalkan Sakka ke keluarganya, itu juga tidak sengaja sebenarnya. Dan Echa hanya tau alamat rumah Sakka saja.
Karena, saat masih pacaran Sakka orangnya sangat tertutup tentang kehidupannya. Maka dari itu, sekarang Echa heran mengapa Sakka sangat mudah jujur padanya. Padahal dulu Echa yang bucin. Tapi mengapa sekarang sepertinya Sakka yang bucin pada Echa? Apakah itu karma?
***
__ADS_1
Tbc.