
Setelah melihat Sakka telah terlelap. Echa keluar dari kamar rawat Sakka menuju kamar rawat Gatha. Untuk menemani sang ibu sahabatnya itu tentunya.
"Assalamualaikum," ujar Echa saat memasuki ruangan.
"Waalaikumussalam nak Echa," ramah Ibu Gatha yang terlihat tengah duduk santai.
"Maaf ya bu Echa kelamaan," ujar Echa seraya meringis kecil.
"Gak apa-apa Echa, sini ibu udah siapin tempat tidurnya buat Echa."
"Ya ampun bu, gausah repot-repot harusnya. Echa jadi gaenak kan, maaf ya bu ngerepotin," kata Echa merasa tak enak.
"Ngga, gapapa. Malah ibu yang jadi gaenak, Echa sampe mau nginep disini nemenin ibu," balas Ibu Gatha tersenyum.
Saat telah sampai duduk disamping Ibu Gatha, entah kenapa Echa melamun dan murung seketika.
"Emm..bu, maafin Echa ya. Gatha kayak gini karena Echa. K-kata Raya, Gatha nungguin Echa kan sampe akhirnya penyakit gerd Gatha memburuk dan tiba-tiba koma. Dan i-itu semua karena Echa gak dateng-dateng jengukin dia. Hiks..E-Echa jahat banget ya bu, tolong maafin Echa ya bu..hikss," jelas Gatha terbata-bata sambil terisak dan menundukkan kepalanya.
"Ehh?? Udah nak Echa.. Jangan salahin diri sendiri kayak gitu, ini mungkin udah takdir Gatha seperti ini. Echa cukup doain Gatha supaya cepet sembuh." Hibur Ibu Gatha mengelus punggung Echa.
"Pasti! Karena Echa pengen banget Gatha cepet bangun. Echa pengen minta maaf langsung ke Gatha. Kalo Gatha udah sadar, Echa janji akan nurutin kemauan Gatha," kata Echa sendu, yang dibalas senyuman oleh Ibu Gatha.
"Oiya, Ibu mau nanya keliatannya kamu sama Raya lagi berantem ya? Ibu perhatiin kayaknya kalian diem-dieman gitu, apa itu gara-gara Gatha?" Tanya Ibu Gatha.
Echa menanggapinya dengan senyum getir dan menceritakan semuanya secara jujur.
"Hmm...Raya marah karena Echa gak jengukin Gatha. Bahkan awalnya Echa gak percaya kalo Gatha masuk Rumah Sakit. Apalagi pas tau tiba-tiba Gatha koma, jadi Raya tambah marah. Tapi itu wajar, wajar banget. Echa tau Echa yang salah. Echa pun kalo jadi Raya mungkin akan ngelakuin hal yang sama," sendu Echa bergeming menatap ke depan
"Hemm..kalo kamu sadar itu kamu yang salah, berarti kamu cepat minta maaf sama Raya. Kalian gaboleh marahan kayak gini, harusnya kalian bersama mendukung supaya Gatha cepet sembuh. Kalo Gatha tau kalian marahan kayak gini, pasti dia sedih kan nanti," ujar Ibu Gatha menasehati.
"Iya bu, insyaallah Echa akan minta maaf sama Raya. Tapi Echa bingung gimana cara minta maaf nya? Dan apa Raya akan maafin Echa?" Bimbang Echa.
"Raya pasti maafin Echa. Kamu omongin baik-baik sama dia, dan perlihatkan ketulusan kamu melakukan itu, pasti Raya mau baikkan sama kamu lagi kok." Tutur Ibu Gatha mengelus rambut Echa.
__ADS_1
"Makasih ya ibu. Gak salah Gatha bisa sebaik itu, karena ibu nya juga baik banget," puji Echa seraya tersenyum tipis.
***
Kini Echa tengah berada di ruang rawat Sakka sejak pulang dari kantor tadi sore. Ia masih menepati janjinya untuk merawat Sakka atau kadang hanya menemaninya. Dan sesekali Echa juga menjenguk Gatha pastinya.
"Kenapa bengong?" Tanya Sakka yang melihat gadis itu hanya diam sedari tadi.
"Ha?? Gapapa," balas Echa kaget, lalu menormalkan kembali ekspresinya.
"Serius! Ada masalah di kantor?" Cecar Sakka memegang tangan Echa.
"Gak, cuma lagi kepikiran aja gimana caranya biar bisa baikkan sama Raya," jelas Echa menatap lurus jendela Ruangan Sakka.
"Kalian marahan?" Tanya Sakka mengerutkan keningnya.
"Heem, semenjak Gatha koma." Jawab Echa seraya menganggukan kepalanya.
"Hei," sahut Sakka memegang dan menolehkan pipi Echa ke arahnya.
"Kamu yang paling tau Raya gimana orangnya, jadi kamu pasti bisa bikin kalian baikkan lagi. Kamu cuma perlu jadi diri kamu sendiri dan aku yakin Raya pasti mau baikkan sama kamu lagi," kata Sakka menatap manik mata Echa dalam.
Echa terhanyut oleh tatapan itu. Tatapan yang dari dulu selalu membuatnya nyaman, dan sepertinya masih hingga sekarang.
Echa masih bergeming dan balas menatap Sakka dalam. Walaupun dengan ekspresi datarnya. Echa pun tertegun ketika menyadari Sakka tengah tersenyum saat ini. Ia mengerjapkan matanya dan memandang lurus jendela lagi.
"Kamu bener. Jam segini kayaknya Raya lagi jenguk Gatha, aku pamit dulu yah. Sampai ketemu besok," ujar Echa melihat jam tangan yang melingkar di tangannya seraya berdiri keluar.
"Cha!" Panggil Sakka saat Echa selangkah lagi membuka pintu, Echa pun menoleh pada Sakka dan menaikkan alisnya.
"Semangat!" Kata Sakka mengangkat tangannya seraya tersenyum menyemangati, dan dibalas oleh gumaman Echa yang berucap 'makasih' tanpa bersuara seraya mengangguk tersenyum. Lalu menghilang dibalik pintu.
***
__ADS_1
Saat Echa menuju ruangan Gatha, ternyata Raya belum datang menjenguk Gatha hari ini. Echa akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman rumah sakit untuk sekedar menghirup udara segar.
Saat di perjalanan ke arah taman, Echa tiba-tiba berpapasan dengan Raya. Mereka saling menatap, namun dengan tatapan yang berbeda. Echa menatap Raya dengan penuh harap walaupun terkesan dingin. Sedangkan Raya menatap Echa dengan tatapan tak peduli nan santai.
"Ray, gue mau ngomong sama lo," Echa akhirnya memberanikan diri berujar duluan.
"Nanti. Gue mau jenguk sahabat gue dulu," dingin Raya, dan berlalu melewati Echa.
"Oke," sahut Echa seraya mengangguk dan mengikuti Raya ke Ruang Rawat Gatha.
***
Echa pun akhirnya menunggu Raya di depan Ruang ICU Setelah Raya terlihat keluar dari ruangan itu, Echa langsung berdiri menghampiri Raya.
"Bisa ngobrol sekarang?" Tanya Echa, yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Raya.
Kini mereka berdua berada di Taman Rumah Sakit disertai angin yang sejuk di sore hari. Namun sejak tadi, keduanya hanya terdiam. Akhirnya Raya lah yang memecah keheningan tersebut.
"Hhh..mau ngomong apa?" Tanya Raya setelah menghela napasnya.
Echa bergeming sejenak menatap langit berawan di hadapannya, menyiapkan kata-kata yang pas untuk diucapkan.
"Lo tau gue sekarang gak pinter basa basi," ujar Echa, dan Raya pun masih menunggu Echa untuk menyelesaikan kata-katanya.
"Gue akuin, gue jahat. Bukan cuma salah tapi gue udah jahat banget sama sahabat gue sendiri. Bukan cuma ke Gatha tapi ke lo juga. Gue udah gak percaya sama omongan lo waktu itu, gue bodoh. Dan sekarang gue bener-bener minta maaf. Gue mau kita baikkan lagi Ray. Gue minta maaf atas semua sikap gue y-yang udah keterlaluan. S-sejak ulang tahun gue yang gue ng-gebentak lo dan menjauh dari kalian setelahnya bahkan sampai detik ini. Gue minta maaf banget R-Ray!" Echa berusaha tak mengeluarkan air matanya saat ini, alhasil ia berucap dengan terbata-bata menahan sesak di dadanya dan menghela napas berulang kali seraya menoleh ke Raya.
Raya yang terdiam memperhatikan Echa sedari tadi, akhirnya langsung memeluk Echa erat dan tiba-tiba meneteskan air matanya seraya menganggukan kepalanya.
"Gue udah maafin lo," Raya pun sebenarnya tak mau marahan dengan sahabatnya itu. Apalagi disaat sahabatnya yang lain sedang kritis saat ini. Harusnya mereka berdua memberi semangat pada Gatha. Tapi entahlah, mungkin ego keduanya sangat tinggi.
Dan hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini. Kedua sahabat itu akhirnya berbaikan, disaksikan oleh senja yang muncul di langit sore yang indah ini.
***
__ADS_1
Tbc.