
"Loh kok Mas Gilang ikut turun dari mobil juga?" Heran Echa saat melihat Gilang turun dari mobil dan mengikutinya ke dalam Rumah Sakit.
"Aku mau sekalian jenguk Gatha juga, gak boleh?" Alibi Gilang, padahal karena ia masih ingin didekat Echa saja.
"Ohh, y-ya boleh sih. Yaudah ayok," ujar Echa.
"Loh kok bukan ke ICU? Katanya Gatha dirawat di Ruang ICU," tanya Gilang saat melihat Echa berhenti di depan sebuah ruang rawat inap yang bertuliskan 'Anggrek 7'.
"Ini ruang rawat inapnya Gatha sebelum masuk ICU," jelas Echa.
"Ohh," balas Gilang mengangguk.
"Aku cuma mau nyapa Ibu Gatha sekalian naro barang doang sih, Mas Gilang mau ikut masuk?" Tawar Echa.
"Enggak deh, kamu aja. Aku tunggu sini aja," Jawab Gilang, lalu duduk di kursi depan ruangan tersebut.
"Assalamualaikum ibu," ucap Echa pada Ibu Gatha yang berada di ruangan itu.
"Waalaikumussalam. Ohh Echa, sini Masuk nak," titah Ibu Gatha ramah.
"Iya bu. Emm bu, Echa nitip taro ini disini dulu yah. Echa mau mampir ke kantin sebentar, ibu udah makan?" Tanya Echa perhatian namun sedikit kaku.
"Udah, baru aja selesai tadi," jawab Ibu Gatha.
"Yaudah kalo gitu, Echa ke kantin dulu ya bu sebentar. Soalnya aku tadi kesini sama abang aku, dia lagi nunggu di depan." Ujar Echa.
"Ohiya gapapa Echa," balas Ibu Gatha.
***
Selesai makan di Kantin Rumah Sakit, Echa hendak mengantar Gilang ke parkiran, namun mereka berpapasan dengan Sakka di lorong Rumah Sakit.
"Sakka?" Kaget Echa dan langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa saja.
"Siapa?" Tanya Sakka sangat datar dan dingin menatap Echa, kemudian beralih melirik Gilang dengan sinis.
"Abang aku," singkat Echa berusaha terlihat santai.
Sebenarnya Echa sangat kaget, rasanya seperti kepergok berselingkuh. Namun Echa langsung berpikir cepat bahwa kini Sakka bukan lagi siapa-siapanya dan segera merubah raut wajahnya sesantai mungkin.
Di lain sisi, Sakka yang terlihat cemburu itu bersikap dingin dan menatap tajam kedua orang yang ada di hadapannya. Terutama seorang lelaki yang ada di samping Echa, yang sepertinya seumuran dengannya. Sakka ingin marah dan mengajak ribut lelaki itu sebenarnya, tapi ia tahan karena ia sadar ia sudah bukan lagi siapa-siapa Echa. Jika dia berbuat seperti itu, ia takut Echa akan semakin menjauh darinya.
Sedangkan Gilang, ia hanya mengamati apa yang sedang terjadi sebenarnya. Walaupun ditatap tajam oleh Sakka, ia memberikan tampang tenang dan cool nya. Namun, saat Echa menyebutnya sebagai 'abangnya', ia sedikit tersentak dan melirik Echa. Entahlah, ada perasaan aneh dihatinya saat Echa hanya mengakuinya sebagai 'abang'.
__ADS_1
"Setau aku kamu gak punya abang," heran Sakka mengernyitkan alisnya.
"Saudara," singkat Echa.
Setelah Echa berucap seperti itu, hanya ada keheningan diantara mereka bertiga. Sakka yang masih betah menatap tajam Gilang. Echa yang gugup dan bingung harus bersikap seperti apa. Dan Gilang yang jengah berada di keheningan ini akhirnya membuka suara.
"Cha, ini udah sore banget. Kalo gitu aku pamit pulang yah," pamit Gilang yang menoleh pada Echa.
"Yaudah kalo gitu, ayo Mas aku anter ke parkiran. Duluan sak," ujar Echa saat melewati Sakka.
"Mas?" Saat mendengar bahwa Echa memanggil lelaki itu dengan sebutan 'Mas', Sakka terbelalak kaget. Ia benar-benar sudah terbakar api cemburu kali ini.
***
"Makasih ya Mas Gilang untuk hari ini. Udah mau ngajak aku jalan-jalan, terus nganterin kesini. Dan yang terpenting udah mau jadi abang Echa seharian ini," ujar Echa dengan wajah sumringah yang belakangan ini jarang sekali ia perlihatkan.
Gilang sedikit tak suka jika Echa hanya menganggapnya sebagai 'abang'. Sebenarnya ia ingin membahasnya dengan Echa dan menanyakan beberapa pertanyaan seperti, siapa lelaki tadi? Dan mengapa ia tak memperkenalkan Gilang sebagai tunangannya? Namun ia tak tega saat melihat Echa yang sangat bahagia sekarang ini.
"Sama-sama. Yaudah aku pulang yah." Balas Gilang seraya mengelus kepala Echa, lalu Masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati Mas Gilang," sahut Echa, yang dibalas anggukan serta senyum tipis dari Gilang.
Echa Masuk kembali ke Rumah Sakit setelah mobil Gilang tak terlihat lagi.
***
"***--" ucapan Echa terpotong ketika pintu didepannya terbuka lebih dulu dan melihat Sakka yang menatapnya datar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Echa.
"Mau ngapain?" Tanya Sakka dingin.
"Ditanya malah balik nanya," ucap Echa memutar bola matanya.
"Mau ngapain kesini?" Ulang Sakka memperjelas, dan dibalas dengan alis yang mengernyit tersinggung oleh Echa.
"Gak boleh?" Sinis Echa.
"Aku mau istirahat," singkat Sakka, lalu masuk ke dalam tanpa menutup pintunya kembali.
"Kalo mau istirahat, kenapa tadi keluar?" Tanya Echa mengikuti Sakka masuk.
Sakka terdiam oleh ucapan telak Echa. Memang sebenarnya ia berniat mencari gadis itu tadi. Sakka masih betah dengan diamnya. Entah karena ia telah kepergok atau ia merajuk karena Echa dengan lelaki lain. Akhirnya Echa lah yang bersuara lebih dulu.
__ADS_1
"Aku kesini mau nepatin janji," ujar Echa.
"Janji apa?" tanya Sakka.
"Ngerawat Sakka," kata Echa menatap Sakka datar.
"Oh," sahut Sakka dingin.
Keaadaan menjadi hening kembali. Keduanya sama-sama hanyut dalam pikiran Masing-Masing. Echa kini tengah duduk di kursi samping brankar Sakka. Sedangkan Sakka sedari tadi Masih memalingkan wajahnya dari Echa.
"Udah makan?" Tanya Echa datar.
Sakka hanya membalasnya dengan anggukan kepala dan tetap memalingkan wajahnya. Echa pun hanya bisa menghela napasnya.
"Hhh...tadi itu Mas Gilang. Temen Masa kecil aku," jelas Echa, yang dibalas dehaman oleh Sakka.
"Dia beda empat tahun sama aku, dan lebih tua setahun dari kamu," kata Echa lagi.
Tiba-tiba Echa ingin menjelaskan tentang Gilang pada Sakka. Apakah agar Sakka tak salah paham? Entahlah Echa pun tak tahu.
"Bisa stop ngomongnya? Aku ngantuk," ketus Sakka melirik Echa dengan tatapan dingin.
Echa menghela napasnya pasrah, sepertinya memang Sakka sedang tak ingin bertemu dirinya.
"Hmm, yaudah sorry. Aku keluar kalo gitu," ucap Echa hendak berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
Saat Echa berucap seperti itu, Sakka menoleh dan reflek menahan tangan Echa agar gadis itu duduk kembali.
"Tunggu," sahut Sakka.
"Kenapa? Perlu sesuatu?" Tanya Echa datar.
Sakka menatap manik mata Echa sejenak dengan tatapan sendunya, lalu berucap.
"Aku emang ngantuk, tapi bisa gak temenin dulu sampe aku beneran udah tidur?" Ujar Sakka manja.
Echa memalingkan wajahnya sejenak, dan berdeham. Ahh, mengapa Sakka menjadi manja seperti ini?
"Oke," sahut Echa singkat tanpa menoleh ke Sakka.
Sakka akhirnya memiringkan tubuhnya menghadap Echa seraya memegang tangan Echa untuk dipeluknya. Echa sedikit tersentak, namun tetap membiarkan Sakka melakukannya. Dan seketika tanpa sadar pipi Echa memerah karena perlakuan Sakka.
***
__ADS_1
Tbc.