Nikah Sama Mantan

Nikah Sama Mantan
35. "Kenapa harus dia?"


__ADS_3

...Happy Reading✨...


"Gimana dok anak saya?" Sergap Ibu Gatha.


"Anak ibu..." kata sang Dokter menggantung ucapannya.


Dokter menatap semua pasang mata di hadapannya dengan sendu. Terlihat jelas dari mimik wajahnya bahwa ia tak tega ingin mengatakan hal ini. Sang dokter pun menghela napasnya.


"Maaf pak, bu, pasien bernama Agatha... Telah tiada."


Deg.


Dua kata dari sang dokter yang mampu meruntuhkan hati semua orang yang mendengarnya. Telah. Tiada.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun sepertinya, detak jantung pasien telah berhenti beberapa detik sebelum masuk ke ruangan ini," jelas dokter lagi.


Semua orang yang mendengar penjelasan dokter itu pun sangat terkejut. Mulut semua orang terbuka seakan tak percaya apa yang dikatakan dokter itu. Rasanya seperti tak ada oksigen disana. Napas mereka terasa mencekat di kerongkongan dan tak ada seorang pun yang mengeluarkan suaranya. Hanya air mata yang terus berkucuran yang dapat menggambarkan betapa sedihnya mereka.


Setelah sang dokter pergi, Echa seketika terkulai lemas dan jatuh terduduk di kursi. Ia menangis dalam diam, terlihat dari punggungnya yang bergetar hebat dan tangan yang menutupi wajahnya telah basah oleh air mata. Sedangkan Ibu Gatha yang tak terima bahwa kini anak satu-satunya itu telah tiada, sudah meraung-raung yang masih ditenangi oleh Bapak Gatha.


Malam itu, rasanya dunia Echa telah runtuh. Ia pikir hari ini akan menjadi hari terbahagianya karena dapat berkumpul lengkap bersama kedua sahabatnya dan melihat prestasi Raya. Rasanya baru saja beberapa jam yang lalu senyum menghiasi wajah mereka. Namun, mengapa semuanya berubah secepat ini?


***


Kepulangan Gatha ke rumah duka tengah disiapkan saat ini. Kini, Echa dan Sakka tengah berada di Taman Rumah Sakit. Sejak tadi Echa hanya bergeming menatap lurus kedepan dengan helaan napas yang terus terdengar dan air mata yang terus mengalir di pipinya. Sakka yang masih terus menemani disisinya itu terus menggenggam tangan Echa untuk menguatkan.


"Kenapa harus dia Sak? Kenapa? Kenapa harus sahabat aku? Kenapa tuhannn??" Rintih Echa tersedu-sedu.


Sakka pun langsung memeluk erat gadisnya itu. Ia tahu rasanya kehilangan seperti apa. Dan tak cukup jika hanya diberi kalimat-kalimat menenangkan. Maka dari itu ia memberi pelukan hangat untuk menguatkannya dan membiarkan Echa menumpahi semua kesedihannya pada dirinya. Karena, Sakka pun tak terasa sakit melihat gadisnya terpuruk seperti ini.


Setelah melihat Echa cukup tenang, Sakka baru mau mengeluarkan suaranya.


"Kamu gak mau kabarin Raya?" Tanya Sakka pelan.


Echa menghela napasnya untuk kesekian kali sebelum menjawab.


"Aku gak sanggup Sak, buat ngabarin dia, hiks.." lirih Echa seraya melipat bibirnya ke dalam untuk menahan isakannya.


"Aku bingung Sak. Dia harus have fun untuk acaranya sekarang. Tapi kalo gak dikabarin, pasti dia bakal marah besar,"


"Mau aku aja yang ngabarin Raya?" Tawar Sakka.


Echa terdiam sejenak untuk berpikir. Sampai akhirnya ia mengangguk.


"Yaudah," putus Echa mengiyakan.


***


Drttt.. Drttt..


Suara getaran ponsel Raya yang berdering di atas meja.


"Hp lo bunyi tuh Ray," kata lawan main Raya yang duduk tak jauh darinya.


"Eh iya, bentar ya gue angkat telepon dulu," Ucap Raya sambil berjalan menjauhi kerumunan.

__ADS_1


'Halo Cha, kenapa?'


'Ray, ini gue Sakka,'


Perasaan Raya yang sejak tadi sudah gelisah menjadi semakin tak enak saat suara Sakka yang terdengar. Mengapa Sakka yang berbicara padanya?


'Iya Sak? Kenapa? Echa kenapa? Kok elo yang jawab?'


Terdengar helaan napas ragu di seberang sana.


'Lo disitu lagi sama siapa?'


'Masih rame sih. Gue masih di tempat premiere. Abis ini mau wawancara. Kenapa emang?'


Disisi lain, Sakka yang sedari tadi me-loud speaker suara telponannya pun menatap Echa. Ia meminta persetujuan pada gadisnya itu lewat tatapannya. Echa yang mengerti maksud Sakka pun menggeleng.


'Engg.. Gajadi deh Ray, nanti aja gue kabarin lo lagi,'


'Nggak nggak, gue mau nya lo ngomong sekarang. Pasti ada yang lo sembunyiin kan tentang sahabat gue,'


Raya mengecek ponselnya yang ternyata masih terhubung panggilannya.


'Sak? Sakka jawab! Lo jangan bikin gue panik!' kata Raya karena tak ada balasan suara apapun dari sebrang sana.


'Maaf Ray, gue yang ngasih tau ini karena Echa gak sanggup buat ngasih tau lo'


'Ngasih tau apasih Sak?'


'Gatha... Gatha udah gak ada Ray,'


'M-maksud lo?'


'Lo yang kuat ya Ray, maaf gue harus ngasih tau ini saat lo masih ada acara penting,'


'Jangan bercanda ya Sak! Bercanda lo gak lucu! Please bilang sama gue kalo lo bercanda! Sakka!!'


'Sekarang jenazah Gatha lagi dalam proses ke rumah duka Ray. Besok pagi lo dateng yah untuk nganterin dia ke tempat peristirahatan terakhirnya,'


Kali ini bukan suara Sakka yang menyahut, melainkan suara Echa yang terdengar parau dan lirih itu. Kemudian, Echa langsung menutup telponnya sepihak karena tak sanggup mendengar suara tangis Raya nantinya.


Air mata Raya pun akhirnya telah membasahi pipi cantiknya saat mendengar suara pilu salah satu sahabatnya itu.


"Ray," panggil seseorang dari belakangnya.


Raya pun buru-buru menghapus air matanya dan berbalik badan.


"Kenapa?" Tanya Raya.


"Sepuluh menit lagi wawancaranya dimulai, kita disuruh kesana sekarang," jelas lawan main Raya.


"Emm.. Gue ke toilet dulu ya. Lima menit lagi gue kesana," Ujar Raya yang langsung berjalan cepat menuju toilet wanita.


***


Lima menit kemudian, Raya datang dengan mata merah dan wajah sembabnya. Walaupun sudah ditutupinya dengan makeup tetapi masih bisa terlihat jika orang memerhatikannya.

__ADS_1


Raya berjalan cepat ke tempatnya sambil menunduk untuk menghindari tatapan orang-orang.


"Sorry gue telat," singkat Raya pada pemain lainnya.


"Enggak kok, ayo Ray," ajak lawan mainnya.


Wawancara pemeran utama film tersebut pun dimulai. Kini, Araya dan teman lawan mainnya yang lain tengah dikerubungi oleh banyak wartawan yang akan mengajukan beberapa pertanyaan.


Walaupun hatinya sudah terasa banjir akan tangisan kesedihannya, Raya tetap profesional untuk tetap berusaha tersenyum di depan publik.


Namun, ditengah wawancara Raya tak bisa lagi menahan rasa sedih yang menjalar dihatinya. Sampai membuat ia memperlihatkan wajah murungnya dan kehilangan konsentrasi saat menjawab beberapa pertanyaan.


"Ray," Tegur David --pemeran utama lelaki-- sambil menepuk paha Raya.


"H-hah?" Gumam Raya kaget.


"Itu jawab,"


"Emm..tadi pertanyaannya apa ya sorry?" tanya Raya berusaha merubah mimik wajahnya lagi.


"Araya kenapa mukanya sedih gitu ya? Kan ini premiere filmnya, Apa lagi ada masalah?" Tanya salah satu wartawan yang sadar akan perubahan mimik wajah Raya tadi.


"Hah? E-enggak kok, enggak, gak ada," ujar Raya sambil tersenyum kecut.


"Next question please," ucap salah satu pemain lain untuk mengalihkan.


Saat para wartawan tengah memberikan pertanyaan pada pemain lain, Raya berbisik pada David yang duduk di sebelahnya..


"Vid, gue boleh pinjem kacamata hitam lo itu gak?" Bisiknya seraya menunjuk kacamata yang tergantung di tengah baju David.


"Boleh kok boleh," sahut David.


Akhirnya Raya memakai kacamata yang dipinjamnya dari David untuk menutupi mata sembabnya.


Setelah wawancara selesai, para pemain kembali lagi ke sebuah ruangan private tadi untuk bersiap pulang.


"Lo lagi ada masalah Ray?" Tanya David seraya sedikit menunduk untuk melihat wajah Raya lebih jelas.


"Hm? Enggak kok, gue gapapa," jawabnya.


"Really? Are you okay?" Tanya David lagi sambil memegang pundak Raya untuk lebih memastikan.


"Beneran gue gapapa, lo tenang aja," sahut Raya seraya tersenyum pilu.


"Kalo lo butuh tempat cerita, jangan sungkan untuk cerita gue, okey?" Ujar David seraya mengusap punggung Raya untuk menguatkan gadis itu.


Raya yang diperlakukan seperti itu pun hatinya terasa menghangat. Ia membalasnya dengan tersenyum tulus sambil mengangguk.


"Makasih yah," balasnya.


***


Tbc.


a/n: jangan lupa vote dan komen. Makasiii.

__ADS_1


__ADS_2