
Sudah seminggu ini Sakka rawat jalan di rumah. Dan Echa tak pernah terlihat menemaninya hingga saat ini. Siang ini Sakka tengah duduk di teras depan rumahnya sambil memainkan ponselnya. Namun, nyatanya ia hanya menggulir-gulir layar ponselnya tanpa membuka aplikasi apapun. Ia terlihat seperti ingin menghubungi seseorang, namun ragu-ragu.
"Eh Sak, lo udah sembuh? Kapan balik?" Tanya Tania yang baru saja datang menghampiri Sakka dan pura-pura tak tahu.
"Minggu kemarin," jawab Sakka cuek.
"Yaelah, kusut amat tuh muka. Galau ya? Masalah cewe?" Tebak Tania mengejek.
"Gausah sok tau," balas Sakka jutek.
"Udah ketebak wlee.." Ledek Tania seraya menjulurkan lidahnya.
"Undang dia makan malam nanti, sekalian kenalin ke bokap lo," kata Tania tiba-tiba.
"Emang ada acara apaan?" Tanya Sakka heran.
"Peresmian butik gue, acaranya sih sore. Tapi dia undang ke pertemuan keluarga aja, di malam hari. Baru pertama kali dikenalin kan soalnya?" Ucap Tania memberitahu.
"Lah itu mah lo yang ngundang bukan gue, gimana sih?!" Sewot Sakka mengernyitkan alisnya.
"Ya kalo bukan karena ada suatu acara emang dia mau? Nggak kan?" Ucap Tania telak.
"Yaa..makanya itu gue bingung," ujar Sakka murung.
"Udah lo nurut aja sama gue. Lo udah gue anggep adek gue sendiri. Dan gue gak mau ngeliat lo patah hati lagi," kata Tania serius.
"Huekk, geli banget kak gue denger omongan lo!" Ujar Sakka sambil pura-pura ingin muntah.
"Yeeuu.. Kurang ajar lo!" Kesal Tania sambil ingin memukul Sakka.
"Heheheh.. Tapi makasih kak lo udah mau care sama gue," ucap Sakka tulus.
"Tipi mikisi kik li idih miwi kir simi giwi... Hilih! Tadi aja," sinis Tania pada Sakka kemudian cemberut.
"Hahahah.. Bercanda," balas Sakka.
"Gue udah atur semuanya. Nanti biar tim gue yang ngirimin undangan resmi nya ke dia. Kalo dia gak hubungin lo duluan, lo hubungin dia h-1 acara biar dia pasti dateng."
Prok..
Prok..
Prok...
Sakka bertepuk tangan seakan terkagum dengan semua rencana yang telah diberitahu oleh Tania.
"Waww...keren lo ka! Ada maunya ni pasti? Mau apa lo ka?" Ujar Sakka dengan muka menantangnya.
"Suudzon." Judes Tania sambil menoyor kepala Sakka.
"Hmm oke, gue percaya deh lo emang baik," pasrah Sakka.
"Nah gitu, udah ah gue balik dulu," sahut Tania.
"Hmm, ati-ati lo." Balas Sakka.
***
Wanita yang tengah fokus pada layar laptop di depannya itu mengerang kecil dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya.
__ADS_1
"Fyuhh.." lenguh Echa seraya melihat jam dinding di ruangannya yang tepat menunjukan waktu makan siang.
Tutt! Echa menekan tombol telepon kantor agar terhubung dengan seseorang.
"Halo pak, tolong pesenin saya makan siang di cafe depan ya. Makasih," titah Echa pada seorang office boy yang bekerja di kantornya.
"Baik bu, tunggu sebentar ya," sahut office boy tersebut.
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan Echa.
Tok..tok..tok...
"Masuk," teriak Echa dari dalam.
"Permisi bu, saya ingin mengantarkan pesanan Bu Meysha." Ujar Aurel memasuki ruangan dan meletakan makanan di meja dekat sofa.
"Kok kamu yang nganterin? Kan saya nyuruh OB tadi," tanya Echa heran.
"Iya ini sekalian saya ingin mengantarkan undangan untuk Bu Meysha." Jawab Aurel seraya memberikan undangan pada Echa.
"Undangan? Dari siapa?" Tanya Echa mengernyitkan kening ketika menerima undangan itu.
"Disitu tertera dari model bernama Mrs. Tania Lorenzi bu," jelas Aurel.
"Tania Lorenzi? Who's that? Saya ngerasa gak mengenalnya," kata Echa ketika membaca undangan yang ada ditangannya tersebut.
"Top model bu. Yang namanya sekarang lagi lumayan naik daun," sahut Aurel lagi.
"Undangan makan malam opening butiknya? Kenapa beliau mengundang saya? Apa perusahaan kita sedang kerjasama dengannya?" Tanya Echa beruntun.
"Belum ada sih bu. Tapi sebaiknya ibu menghadiri undangan tersebut, karena kemungkinan kita bisa bekerjasama dengan model tersebut," tutur Aurel pada Echa.
"Baik bu akan saya cari, nanti saya kirimkan informasinya ke ibu. Kalo gitu saya permisi dulu bu." Pamit Aurel, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Echa.
Echa masih terdiam menatap heran undangan tersebut. Ia merasa tak mengenali nama Tania Lorenzi itu. Bahkan ia tak pernah mendengar nama itu sepertinya. Maka dari itu, Echa harus mengetahui asal usul mengapa undangan itu bisa sampai padanya untuk berjaga-jaga.
***
"Baik, kita selesaikan meeting kita hari ini. Terimakasih semuanya." Ucap Echa menutup pertemuan kali ini. Kemudian langsung meninggalkan ruangan tersebut.
"Bu Meysha," panggil seseorang yang juga ikut keluar dari ruang meeting.
"Ya?" Sahut Echa menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Saya sudah menemukan beberapa informasi yang ibu minta tadi," ujar orang itu memberitahu.
"Baik, langsung kirim ke email saya saja," titah Echa.
"Siap bu," sahut wanita itu.
"Terimakasih aurel," kata Echa pada seseorang yang tadi memanggilnya.
"Sama-sama bu," balas Aurel.
Echa langsung meninggalkan Aurel dan pergi ke ruangannya untuk segera mengecek email dari Aurel, sang sekretarisnya itu.
***
Hari telah sore. Di saat orang-orang mulai pulang ke rumah masing-masing. Echa masih setia di kantornya untuk membaca beberapa email. Termasuk email dari Aurel yang membuatnya penasaran sejak tadi.
__ADS_1
Wanita berusia 21 tahun itu masih fokus membaca rentetan informasi yang tertera di laptopnya yang menyala. Sampai tiba-tiba ia membaca satu nama yang tak asing baginya.
Abian Sakka Ivander.
Deg.
Jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia tak pernah menyangka dan mengira akan membaca nama lengkap itu lagi. Nama yang seminggu ini telah ia hindari karena tak ingin merasakan sakit hati lagi.
Kemudian Echa mengernyitkan keningnya. Mengapa dunia seperti sempit sekali? Tania sang model yang mengundangnya itu sepupu Sakka? Ada apa sebenarnya?
Tania menangkap sebuah kecurigaan. Apakah ada yang mereka rencanakan atau hanya kebetulan semata?
***
Drrttt.. Drrtt..
Getaran ponsel di saku Sakka mengalihkan lamunannya. Sakka pun melihat siapa yang menelponnya malam-malam begini.
'Halo, siapa ya?'
'Aku,'
Deg. Deg. Deg.
Bibir Sakka langsung merekah seketika dan jantungnya berpacu dengan cepat. Ia tak bisa berbohong bahwa ia sangat senang mendengar suara itu lagi. Namun, ia ingin memastikan lagi dengan melihat nama kontak sang penelpon.
My boo.
Nama kontak yang dari dulu tidak pernah Sakka ubah. Ternyata nomer Echa masih sama. Harusnya sejak kemarin ia tak perlu ragu untuk menghubungi Echa. Karena, Sakka pikir nomer Echa pasti telah ganti, namun nyatanya tidak.
'Emm... Echa?'
'Hm,'
'Jutek banget'
'Aku to the point ya,'
'Tentang?'
'Undangan yang kamu kasih, maksudnya apa?'
' Undangan? Aku gak ngirim undangan apa-apa,'
'Undangan. Makan malam. Peresmian butik. Tania. Lorenzi. Kamu kenal kan nama itu?'
'Hufftt..oke, kita ketemuan besok pagi di Taman Kota. Kebetulan aku mau sekalian terapi jalan di outdoor'
'Ck, apa hubungannya sih?!'
'Gausah marah-marah. Besok aku jelasin, makanya kamu dateng besok pagi, jangan telat!'
'Tapi Sak.. Sak! Sakka!!'
Tut..tutt..tuttt
Sakka menutup telponnya sepihak. Biarkanlah Echa marah padanya malam ini. Ia hanya ingin menjelaskan lebih detail secara langsung dan tidak ada yang ditutupi.
***
__ADS_1
Tbc.